Hello WORLD..still remember Mr Kennedy?got killed by sniper.Now Mr Obama rewrite the history again.may be He will get shot by sniper.dont believe me here one victim already.history and human always repeat it self.thats mean we R all stupid .wanted to be intelligent.

October 9, 2008 at 1:30 am (Uncategorized) (, , , , , , , , )

A

 

 when the gunman confronted him and glared at the top, which carries an image of the Democrat US presidential candidate underneath the legend ‘Believe’.

 

The man then launched into a tirade of racist slurs, shouting ‘I f***ing hate n*****s’ and urging 36-year-old Mr Egwuatu to leave the shop with him.

The man then left the shop but when Mr Egwuatu re-emerged, the attacker was waiting for him in broad daylight with a threatening-looking dog and holding a gun behind his back.

Realising what had sparked the increasingly violent assault, the terrified Mr Egwuatu zipped up his jacket to cover the image of Mr Obama and walked to his car.

But the shaven-headed man, who was white,  followed Mr Egwuatu and after pulling open the passenger door pointed the gun at him.

After pleading with the man to leave him alone, the married former street warden put the keys in the ignition and turned the engine on.

The attacker then fired the gas-powered ball-bearing pistol three times, hitting the civil servant in the face, hand and shoulder.

Fearing for his life and bleeding heavily, Mr Egwuatu raced away in his car and found somewhere safe to call for help.

He was taken to hospital and later sent to have a piece of metal removed from his jaw.

Mr Egwuatu, a data analyst with Croydon Council, said: ‘The venom in his voice was frightening.

‘He was telling me that he was going to kill me.

‘I couldn’t believe it was happening – and just because I was wearing an Obama T-shirt. He was trying to make me walk somewhere quieter, saying: ‘I’ve got something for you,’ and ‘I’m going to kill you.’

He added: ‘Obama inspires me, his educational track record alone is quite unbelievable – that is why I was wearing the T-shirt.

‘I did not think for one minute it could stir up such powerful feelings of hatred and I never said a word to him.’

Mr Egwuatu’s wife, Angela, 35, said neither of them had experienced anything like it during their childhood in Nigeria.

Mrs Egwuatu, an immigration officer, said: ‘At first my feelings were pure horror and now it is pure anger.

‘If he had been carrying a real gun I would have been a widow. It is just ridiculous.

‘I don’t know how a person’s mentality works. Why would a T-shirt get you to the point where you want to shoot someone.’

To the untrained eye, ball-bearing guns like the one used in the attack look every bit like a real firearm.

The potentially lethal weapons are often converted by criminals to fire real bullets, and can be bought easily in high-street shops and on websites.

The Met said it was investigating the incident, which took place in South Norwood, and that police searched a nearby house which the attacker was seen going into.

No one has been arrested.

Permalink Leave a Comment

Surat terbuka kepada Presiden SBY.Indonesia is The Best RECORD on HUMAN RIGHT ABUSED

October 8, 2008 at 9:50 am (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , )

 

Dalam rangka peringatan Hari HAM tanggal 10 Desember yad, berbagai
organisasi dan perseorangan dari berbagai tempat di Indonesia, yang
memperjuangkan hak-hak para korban 65 mengirimkan surat terbuka kepada
Presiden SBY. Surat terbuka tersebut mengingatkan tentang masih belum
diselesaikannya, sampai sekarang,  banyak persoalan yang dihadapi para
korban rezim Orde Baru. Isi surat terbuka ini menunjukkan bahwa Republik
Indonesia, yang sekarang ini menduduki sebagai Ketua Komisi HAM PBB,  perlu
mengadakan langkah-langkah untuk memperbaiki  perlakuan terhadap para korban
65, supaya  tidak dituduh  telah terus-menerus melanggar prinsip-prinsip
Deklarasi Universal HAM PBB.
 

Surat terbuka itu lengkapnya berbunyi sbb :

SURAT TERBUKA

KEPADA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

(tentang pengembalian hakhak ekonomi, sosial dan kebudayaan

korban tuduhan terlibat G30S dan tuduhan PKI)

Bahwa kami yang bertanda tangan di bawah ini adalah warga negara Indonesia
yang telah diakui hak-hak dasarnya dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945,
baik sebelum amandemen maupun sesudah amandemen, meminta kepada Presiden
Republik Indonesia (RI), Bapak Susilo Bambang Yudoyono, agar segera
mengambil tindakan pengembalian hak ekonomi, sosial dan budaya terhadap
korban tuduhan/cap/stigma terlibat G30S dan tuduhan PKI, berupa:

1.        Mencabut seluruh peraturan perundang-undangan yang termasuk dalam
kewenangan Presiden (Keputusan Presiden, Peraturan Pemerintah, Instruksi
Presiden, dll) yang menghambat penghormatan, pemenuhan, penegakan dan
perlindungan hak-hak azasi manusia khususnya hak ekonomi, sosial dan budaya
terutama pengaturan-pengaturan terkait dengan G30S dan PKI dan menggantinya
dengan peraturan perundang-undangan yang menghormati dan melindungi hak-hak
ekonomi, sosial dan budaya warga negara;

2.        Memerintahkan seluruh instansi/lembaga/badan pemerintah dan swasta
untuk mendata, menginventarisir kemudian mengembalikan dan membayar ganti
rugi terhadap korban tuduhan/cap/stigma PKI setidaknya sesuai dengan inflasi
rupiah atau harga emas dari tahun ke tahun;

3.        Meluruskan sejarah G30S secara obyektif, dengan mempertimbangkan
saksi-saksi yang masih hidup, literatur-literatur dari berbagai pihak serta
mensosialisasikan hasil pelurusan tersebut ke dalam kurikulum pendidikan
nasional;

4.        Meminta maaf kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada para
korban dengan mengakui adanya kesengajaan dan kelalaian dari pejabat negara
pada tahun 1965 yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan diluar Komando
Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yaitu Presiden RI
Ir. Soekarno;

Bahwa tuntutan di atas berdasarkan pertimbangan kemanusiaan, keadilan dan
kebenaran dari sebuah sejarah yang telah dibengkokkan. Adanya G30S, telah
merubah kehidupan sebagian warga negara untuk ikut mengisi kemerdekaan baik
di masyarakat maupun dalam pemerintahan. Tanpa ada proses hukum yang
memiliki kekuatan tetap sebagian masyarakat yang menjadi korban tuduhan
terlibat G30S dan tuduhan PKI telah kehilangan hak-hak kewarganegaraannya
dalam pekerjaan, pendidikan, budaya dan penguasaan harta benda pribadi
termasuk pengakuan terhadap hak veteran. Dengan menangkap, memenjarakan,
menyiksa, memperkosa dan memfitnah, Negara melalui komando Mayjen Soeharto
telah melahirkan sejarah kelam bangsa ini;

Bahwa sebanyak 3 (tiga) juta orang dibunuh, 2 (dua) juta orang ditahan dan
jutaan lainnya, dengan kekhawatiran yang sangat tinggi bersembunyi dari
kejaran tuduhan terlibat G30S dan tuduhan PKI. Kesemuanya dilakukan tanpa
mempertimbangkan prinsip-prinsip kemanusiaan yang telah ditanamkan bersama
di dalam prinsip-prinsip penyelenggaraan berbangsa dan bernegara. Tanpa ada
rasa persamaan, persaudaraan dan kemanusiaan sebagian masyarakat Indonesia
telah menjadi korban kebiadaban dari sebagian orang yang berjubah
kepahlawanan. Akibatnya, korban berjatuhan pun tidak hanya berasal dari
warga negara yang aktif di kepengurusan PKI tetapi anak, cucu dan sanak
saudaranya serta warga negara yang tidak tahu menahu harus menanggung resiko
kehilangan hak-hak atas kewarganegaraannya;

Bahwa bangsa dan Negara Indonesia telah sepakat pada 17 Agustus 1945 untuk
memerdekakan diri dari penjajahan kolonial Belanda. Serta sepakat UUD 1945
dijadikan dasar berbangsa dan bernegara sampai pada akhirnya, walaupun
pernah diganti, diberlakukan kembali pada 5 Juli 1959 melalui Dekrit
Presiden RI. Akan tetapi, pada kenyataannya penghargaan atas hak-hak warga
negara yang diatur dalam UUD 1945 sama sekali tidak diperhatikan oleh
sebagian pejabat-pejabat Negara pada tahun 1965 untuk melindungi segenap
bangsa Indonesia menjadi lebih adil dan beradab;

Bahwa penjahat yang berjubah Negara telah merampas hak-hak warga negara
selama bertahun-tahun sampai pada akhirnya terjadi pergantian Presiden pada
tahun 1998, 2000, 2001 dan 2004. Selama hampir dua dekade pemerintahan
berlangsung, sebagian warga negara tetap mengalami masa yang teramat sulit.
Dengan stigma yang melekat, korban tuduhan terlibat G30S dan tuduhan PKI
masih dikucilkan dalam kebijakan ekonomi, politik, sosial, hukum, keamanan
dan budaya. Pada akhirnya kerugian materil dan immateril dirasakan sepanjang
tahun sampai saat ini dan stigma pun berubah menjadi hantu di masyarakat.
Stigma PKI pun berubah menjadi sangat menakutkan dan dapat menghancurkan
karakter setiap warga negara lain yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan
pemerintah;

Bahwa akankah bangsa ini menakuti hal-hal yang sebenarnya tidak perlu
ditakuti? Ada pepatah indah mengatakan bahwa ketakutan yang harus ditakuti
ialah ketakutan itu sendiri. Ketakutan masyarakat akan PKI selama
bertahun-tahun merupakan kesengajaan pemerintah untuk menyalahkan sekelompok
yang tidak bersalah. Pemerintah secara sengaja telah memenjarakan pemikiran
politik sebagian warga negara melalui regulasi-regulasi dan todongan
senjata. Padahal keyakinan politik yang berhaluan kanan atau kiri pada
prinsipnya tidak membahayakan warga negaranya. Justru yang membahayakan
warga negara datang dari pemimpinnya sendiri, misalnya Jerman dengan
Hitlernya, Cile dengan Pinochetnya dan Indonesia dengan Soehartonya. Ketiga
pemimpin ini bertangan besi dan berdarah dingin telah membunuh
manusia-manusia yang tak berdosa. Melalui kepemimpinan yang sangat opresif,
warga negara menjadi tidak bebas berhaluan politik dan takut menentang
kebijakan dari pemerintahan berkuasa. Oleh karena itu pemerintahan sekarang
berkewajiban memulihkan, bukan saja warga negara yang mendapat tuduhan
terlibat G30S dan tuduhan PKI, tetapi juga mengumumkan kepada masyarakat
akan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya;

Bahwa dalam pasal 28 I ayat (4) UUD 1945 Amandemen Keempat telah mewajibkan
kepada negara dan terutama pemerintahan untuk melakukan perlindungan,
pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi warga negaranya. Pasal ini
menunjukan betapa hak-hak warga negara sepenuhnya menjadi tanggung jawab
negara, terlebih hak-hak asasi dari korban tuduhan terlibat G30S dan tuduhan
PKI. Jadi Presiden yang memimpin jalannya pemerintahan sekarang tidak perlu
ragu dalam mengambil tindakan pengembalian hak-hak kewarganegaraan dari
sebagian warga negara yang pernah dirampas;

Selengkapnya pasal 28 I ayat (4) UUD 1945 Amandemen Keempat berbunyi:

“Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab negara, terutama pemerintah”

Bahwa presiden RI sekarang tidak perlu segan-segan mengambil kebijakan untuk
memulihkan harkat dan martabat warga negaranya yang telah dirampas
sebelumnya. Perintah UUD 1945 Amandemen Keempat tersebut diatas telah
dikuatkan oleh pasal sebelumnya yang menjelaskan kewajiban dari Presiden
untuk menjalankan kekuasaannya harus berdasarkan UUD. UUD 1945 Amandemen
Keempat telah memberikan tanggung jawab perlindungan, pemajuan, penegakan
dan pemenuhan hak asasi manusia kepada pemerintah yang seharusnya dijalankan
oleh Presiden selaku Kepala Pemerintahan. Sebagaimana hal ini disebutkan
dalam pasal 4 ayat (1) UUD 1945 Amandemen Keempat yang berbunyi:

“Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut
Undang-Undang Dasar”

Bahwa Presiden RI telah diberikan hak prerogatifnya untuk mengambil
tindakan-tindakan terhadap warga negara yang mengalami perlakuan
diskriminasi, termasuk korban tuduhan terlibat G30S dan tuduhan PKI
merupakan lingkup tanggung jawab Presiden. Hak prerogatif ini berupa
rehabilitasi yang ditujukan kepada warga negara yang menjadi korban
kesewenang-wenangan. Hak ini harus dipergunakan, agar bangsa ini menjadi
lebih adil dan beradab dibandingkan dengan proses penyelenggaraan negara
sebelumnya, terutama terhadap warga negara yang mendapat tuduhan terlibat
G30S dan tuduhan PKI. Dasarnya adalah UUD 1945 Amandemen Keempat pasal 14
ayat (1) yang berbunyi:

“Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan
Mahkamah Agung”

Semoga surat ini dapat menambah keyakinan Presiden RI untuk mengambil
tindakan pengembalian harkat dan martabat warga negara yang menjadi korban
tuduhan terlibat G30S dan tuduhan PKI, termasuk meluruskan sejarah yang
telah dibengkokan. Masyarakat akan lebih dewasa dan bangsa ini akan semakin
besar karena penghargaan terhadap hak asasi manusia;

Demikian, dan terima kasih.

Jakarta, 24 November 2004

Hormat kami,

WARGA NEGARA INDONESIA UNTUK

PEMULIHAN HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA

KORBAN TUDUHAN TERLIBAT G30S DAN TUDUHAN PKI

 

Permalink Leave a Comment

ORANG-ORANG JAKARTA dan putra Batak islam/kristen DI BALIK TRAGEDI MALUKU.jendralSilalahi putra Batak berlumuran darah dan dosa hak azasi manusia di ambon dan masih banayak putra batak yg ikut terkontiminasi dosa dan korupsi besar di Indonesia as you can see any christian batak took the job in Indonesia they had to wear islam hat to show the obidient to the islam and javanese system.

October 6, 2008 at 3:47 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , , , , )





ORANG-ORANG JAKARTA DI BALIK TRAGEDI MALUKU

George J. Aditjondro

Pengantar
---------
Tragedi kerusuhan sosial di Maluku, menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas
Indonesia, Ichsan Malik, dalam dua setengah tahun terakhir telah menelan lebih dari 9000
korban jiwa. Ia menyebutnya sebagai 'tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia'
belakangan ini (Kompas, 30 Maret 2001).

Pandangan umum yang beredar di Indonesia adalah bahwa konflik itu murni timbul karena
persaingan antara kedua kelompok agama - Kristen dan Islam - di Maluku, atau karena ulah
'sisa-sisa kelompok separatis RMS' di sana. Berbeda dengan pandangan umum itu,
penelitian kepustakaan dan wawancara-wawancara penulis dengan sejumlah sumber di Maluku
dan di luar Maluku menunjukkan bahwa tragedi itu secara sistematis dipicu dan dipelihara
oleh sejumlah tokoh politik dan militer di Jakarta, untuk melindungi kepentingan mereka.

Dalam makalah ini, penulis akan menggambarkan bagaimana konflik itu dipicu dengan bantuan
sejumlah preman Ambon yang didatangkan dari Jakarta, lalu mengalami eskalasi setelah
kedatangan ribuan anggota Lasykar Jihad dari Jawa. Intensitas konflik dipelihara oleh
satu jaringan militer aktif dan purnawirawan, yang terentang dari Jakarta sampai ke
Ambon. Selanjutnya, penulis juga akan mengungkapkan agenda militer dalam memelihara
kerusuhan-kerusuhan itu.

Akhirnya, dalam kesimpulan penulis akan mengajukan beberapa usul untuk penyelesaian kasus
Maluku.

Jaringan Preman Ambon
----------------------
Pada tahun 1980-an, seorang preman Ambon beragama Kristen di Jakarta, Ongkie Pieters
membangkitkan rasa hormat dan ketakutan di kalangan kaum muda Ambon, tanpa menghiraukan
agama mereka. Meskipun penghidupan mereka didapatkan lebih dengan menggunakan otot
ketimbang otak, para preman Ambon di Jakarta masih menghormati tradisi pela
(persekutuan darah antara kampung Kristen dan kampung Islam). Kalau berkelahi, mereka
sering memakai ikat kepala merah, yang lebih merupakan simbol ke-Ambon-an yang berakar
dalam kultur Alifuru ketimbang lambang agama Samawi yang mereka anut. Hal ini secara
radikal berbeda dengan makna yang kini diberikan terhadap 'merah' sebagai simbol Kristen
dan 'putih' sebagai simbol Islam. Tidak berapa lama, seorang preman Ambon yang lain,
Milton Matuanakotta muncul ke tengah-tengah gelanggang. Ia memiliki banyak pendukung di
kalangan kaum muda baik di kalangan Ambon Kristen maupun Muslim, dan dengan cepat
menjadi lebih populer di kalangan preman Ambon di Jakarta daripada pendahulunya. Pada
saat itu, orang-orang Ambon Muslim beranggapan perlu memiliki 'pahlawan' mereka sendiri,
maka mereka memilih Dedy Hamdun, seorang Ambon keturunan Arab. Figur ini agak
kontroversial, sebab di satu sisi ia aktif berkampanye untuk PPP, tetapi di sisi lain
suami artis Eva Arnaz itu juga bekerja untuk membebaskan tanah bagi bisnis properti
Ibnu Hartomo, adik ipar bekas Presiden Soeharto.

Entah karena aktivitas politik atau bisnisnya, di awal 1998 Deddy Hamdun diculik bersama
sejumlah aktivis PRD, Aldera, dan PDI-P oleh satu reguKopassus bernama Tim Mawar yang
berada di bawah komando Jenderal Prabowo Subianto, menantu Presiden Soeharto waktu itu.
Hilangnya Hamdun setelah 3 1/2 bulan dalam tahanan Tim Mawar (Siagian 1999: 20-21)
mengubah peta politik preman Ambon di Jakarta. Kepemimpinan pemuda Muslim Maluku
diambilalih oleh Ongen Sangaji, seorang preman Maluku Muslim yang juga anggota Pemuda
Pancasila.

Secara ironis, dalam bersaing untuk loyalitas di kalangan kaum muda Maluku di Jakarta
kedua pemimpin preman itu juga bersaing dalam mendapatkan akses ke bisnis keamanan
pribadi anak-anak Soeharto. Milton memperoleh akses ke mereka melalui Yorris Raweyai,
wakil ketua Pemuda Pancasila yang berasal dari Papua Barat dan dekat dengan Bambang
Trihatmodo. Selain itu, Milton adalah ipar Tinton Soeprapto, pimpinan arena pacuan mobil
milik Tommy Soeharto di Sentul, Bogor.

Sementara itu, Ongen lebih dekat ke Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut melalui Abdul
Gafur, bekas Menteri Pemuda dan Olahraga di zaman pemerintahan Soeharto. Anak buah Ongen
terutama berasal dari desa-desa Pelauw dan Kalolo di Haruku.

Menjelang Sidang Istimewa MPR November 1998, ketika B.J.Habibie berusaha mencari mandat
untuk melegitimasi kepresidenannya, sejumlah politisi, jendral dan usahawan menciptakan
kelompok paramiliter baru untuk menangkal aksi-aksi demonstrasi mahasiswa yang
menentang pencalonan kembali Habibie.

Kelompok Pam Swakarsa ini antara lain terdiri dari preman-preman Ambon Muslim yang
direkrut oleh Ongen Sangaji. Dukungan keuangan untuk kelompok ini berasal dari keluarga
Soeharto dan seorang pengusaha keturunan Arab, Fadel Muhammad, yang dekat dengan
keluarga Soeharto.

Sementara dukungan politis untuk kelompok itu berasal dari Jenderal Wiranto, Menteri
Pertahanan waktu itu, Mayor Jenderal Kivlan Zein, Kepala Staf KOSTRAD waktu itu, Abdul
Gafur, Wakil Ketua MPR waktu itu, dan Pangdam Jaya Mayjen Djadja Suparman.

Untuk meningkatkan militansi para milisi yang miskin dan berpendidikan rendah itu, mereka
diindoktrinasi bahwa para aktivis mahasiswa adalah "orang-orang komunis" yang didukung
oleh jendral dan pengusaha Kristen. Dengan demikian banyak anggota PAM Swakarsa
beranggapan bahwa mereka ber'jihad' melawan "orang kafir". Kenyataan bahwa bentrokan
yang paling sengit antara para mahasiswa dan tentara terjadi di kampus Universitas
Katolik Atmajaya, hanya karena kedekatan kampus itu dengan gedung parlemen, memberikan
kesan kredibilitas dari propaganda sektarian dan anti komunis ini.

Dalam kerusuhan Semanggi menjelang Sidang Istimewa MPR itu, empat orang anak buah Ongen
yang berasal dari Kailolo (Haruku), Tulehu dan Hitu (Ambon), dan Kei (Maluku Tenggara),
dibunuh oleh penduduk setempat yang berusaha melindungi para aktivis mahasiswa dari
serangan kelompok milisi Muslim itu.

Maka terbukalah peluang untuk menghasut preman-preman Ambon Islam itu untuk melakukan
balas dendam. Konyolnya, balas dendam itu tidak diarahkan terhadap para aktivis
mahasiswa, tetapi terhadap sesama preman Ambon yang beragama Kristen. Kesempatan itu
timbul ketika terjadi kerusuhan di daerah Ketapang, Jakarta Pusat, pada hari Minggu dan
Senin, 22-23 November 1998.

Apa yang dimulai adalah percekcokan antara para satpam Ambon Kristen yang menjaga sebuah
pusat perjudian dan penduduk setempat segera berkembang menjadi kerusuhan anti Kristen
di mana lusinan gereja, sekolah, bank, toko, dan sepeda motor dihancurkan.

Ternyata, kekuatan-kekuatan dari luar dikerahkan untuk mengubah konflik lokal itu menjadi
konflik antar-agama. Kekuatan-kekuatan luar ini mencakup sekelompok orang yang mirip
orang Ambon, yang menyerang lingkungan Ketapang pada jam 5.30 pagi. Mereka dibayar Rp
40.000 ditambah makan tiga kali sehari untuk menteror orang-orang Muslim setempat.
Meskipun salah seorang dari mereka yang tertangkap adalah orang Batak yang kemudian
disiksa dan dibunuh oleh penduduk setempat, namun mayoritas preman ini adalah orang
Ambon anggota PAM Swakarsa bentukan Gafur. Mereka yang menyerang semua penduduk
setempat yang terlihat melintas di sekitarnya dan membakar semua sepeda motor yang
diparkir di depan mesjid setempat yang menyebabkan jendela-jendela mesjid itu pecah.

Dipicu oleh kabar angin bahwa sebuah mesjid telah dibakar oleh 'orang-orang kafir',
penduduk Muslim setempat balik menyerang orang-orang luar tadi dengan dukungan para
anggota Front Pembela Islam (FPI) yang didatangkan dari berbagai tempat di Jakarta.
Selama kerusuhan ini, enam orang meninggal korban main hakim sendiri oleh penduduk
Muslim setempat dan para anggota FPI. Tiga orang dari korban itu adalah orang-orang
Kristen dari Saparua dan Haruku.

Memang tidak jelas apakah rangkaian pembunuhan terhadap para preman Ambon di Senayan dan
Ketapang itu telah dipersiapkan oleh sekutu-sekutu politik Soeharto. Yang jelas,
kerusuhan di Ketapang mengukuhkan monopoli sebuah pusat perjudian lain di jalan Kunir,
Jakarta. Pusat perjudian itu dikelola oleh Tomy Winata, mitra bisnis Bambang
Trihatmodjo dan teman dekat Yorris Raweyai dari Pemuda Pancasila.

Terlepas dari motif di balik pembakaran pusat perjudian di Ketapang, pembunuhan terhadap
para preman Ambon Muslim dan Kristen itu mengakibatkan kedua kelompok itu bertekad
melakukan balas dendam terhadap satu sama lain di kampung halaman mereka di Maluku.

Dengan menggunakan kerusuhan Ketapang sebagai alasan, aparat keamanan di Jakarta
menangkap semua orang Maluku yang tidak memiliki KTP, dan menaikkan mereka ke kapal
penumpang sipil maupun Angkatan Laut yang berlayar ke Ambon. Menurut seorang sumber
penulis yang berlayar dengan KM Bukit Siguntang ke Ambon pada bulan Desember 1998,
sekelompok preman Ketapang yang menumpang di geladak kapal dengan suara keras
menggembar-gemborkan niat mereka untuk membalas dendam terhadap musuh mereka di Ambon.

Di mata orang awam, langkah-langkah aparat keamanan ini tidak tampak mencurigakan, karena
banyak orang Ambon Kristen pulang ke kampung halamannya untuk merayakan Natal, sementara
banyak orang Ambon Muslim juga merencanakan untuk melalui bulan puasa dan liburan Idul
Fritri bersama sanak keluarga di kampung mereka. Baru kemudian tersebar berita bahwa
antara 165 dan 600 pemuda Ambon telah berlayar pulang ke Ambon selama akhir tahun 1998.
Di antara mereka terdapat preman Ambon Kristen yang terlibat dalam serangan fajar di
Ketapang, maupun Sadrakh Mustamu, kepala keamanan di pusat perjudian Ketapang. Ongen
Sangaji dan Milton Matuanakotta juga termasuk preman Ambon yang pulang ke Ambon pada
akhir tahun 1998, untuk menyulut kerusuhan di sana.

Preman Ambon yang datang dari Jakarta, segera melebur ke dalam kalangannya masing-masing.
Di kotamadya Ambon yang berpenduduk hampir 350 ribu jiwa itu, dunia preman dikuasai oleh
dua orang tokoh yang berbeda kepribadiannya, Berty Loupati yang masih muda lebih
merupakan seorang preman profesional, serta Agus Wattimena yang tua, seorang penatua
(anggota Majelis Gereja) yang juga jago berkelahi.

Berty Loupati adalah pemimpin kelompok 'Coker' yang didirikannya awal 1980-an di daerah
Kudamati dekat RS Dr. Haulussy setelah ia pulang dari "berguru" ilmu kriminalitas kelas
teri (petty crime) di Surabaya. Kelompok ini adalah hasil peleburan kelompok-kelompok
preman yang lebih kecil di Ambon, seperti Van Boomen, Papi Coret, Sex Pistol. Anggota
kelompok preman gabungan itu kurang lebih seratus orang, Nasrani maupun Muslim.

Walaupun anggotanya ada juga yang perempuan, Coker semula merupakan kepanjangan dari
"Cowok Keren" ('Handsome Boys'), walaupun kemudian ada yang mempelesetkan arti Coker
menjadi Cowok Kerempeng ('Skinny Boys'), karena kebanyakan anggotanya memang kurus
kerempeng. Di kemudian hari, setelah konflik antar-agama mulai berkecamuk di kota Ambon,
majalah mingguan Tajuk (April 1999) mengubah arti Coker menjadi 'Cowok Keristen'
('Christian Boys'). Singkatan "Cowok Kristen" itu kemudian dipopulerkan oleh media massa
yang mendukung kehadiran Lasykar Jihad di Maluku.

Di luar struktur Coker, Agus Wattimena mendirikan Lasykar Kristus, khusus dibentuk untuk
berperang melawan kelompok milisi Islam asli Ambon sertaLasykar Jihad yang datang dari
luar Ambon. Jagoan yang sering menyandang pistol Colt kaliber 45 mengaku punya 60 ribu
anak buah (Hajari 2000).

Tidak jelas seberapa jauh kebenaran klaim Agus itu. Yang jelas, adanya dua kelompok yang
sama-sama mengklaim membela kepentingan masyarakat Ambon Kristen menimbulkan rivalitas
yang sangat tajam antara Berty dan Agus, apalagi setelah beredar kabar burung bahwa
Berty mulai condong ke kepentingan penguasa dari Jakarta. Tidak lama setelah nama Agus
Wattimena diumumkan sebagai "Pimpinan Akar Rumput" (Grassroots Leader ) Front Kedaulatan
Maluku (FKM), yang diproklamasikan oleh dokter Alex Manuputty dan kawan-kawannya pada
tanggal 18 Desember 2000, riwayat Agus tampaknya sudah tamat.

Hari Selasa malam, 20 Maret 2001, Agus Wattimena tewas tertembak di rumahnya sendiri,
dengan dua lubang tembakan di jidat dan lengan kirinya (Jakarta Post, 22 Maret 2001).
Menurut sumber-sumber Lasykar Jihad (Laskarjihad.or.id, 21 Maret 2001), "Agus ditembak
oleh pesaingnya, Berty Loupatty, kepala geng Coker (Cowok Kristen), yang satu daerah
dengan Agus. Berty dan Agus memang akhir-akhir ini sudah tidak akur dan pernah terlibat
baku tembak melibatkan seluruh anak buah mereka di kawasan Kudamati beberapa bulan
lalu".

Namun melihat pola adu domba antara sesama kelompok sipil yang semakin sering dilakukan
oleh kelompok-kelompok militer di berbagai penjuru Nusantara, bisa saja Agus Wattimena
ditembak mati oleh seorang sniper profesional. Soalnya, ia baru dibunuh setelah
melibatkan diri secara langsung dalam sebuah organisasi yang terang-terangan
memperjuangkan kedaulatan rakyat Maluku yang diproklamasikan oleh RMS tahun 1950. Jadi
saat itu ia bukan lagi sekedar panglima satu kelompok milisi yang semata-mata
memperjuangkan keselamatan separuh penduduk kota Ambon yang beragama Kristen.

Kendati demikian, buat kebanyakan orang Ambon yang beragama Kristen, kematian laki-laki
setengah ompong berumur 50 tahun itu tetap dihargai sebagaimana layaknya gugurnya
seorang pahlawan. Ia dikuburkan di tengah-tengah 400 orang anakbuahnya yang telah
meninggal terlebih dahulu di kota Ambon. Kematiannya tidak hanya diperingati di kota
Ambon, tapi juga oleh masyarakat Ambon Kristen di Jakarta, dihadiri oleh sejumlah artis
terkenal.

Sementara itu, Ongen Sangaji dan Milton Matuanakotta sudah sama-sama bersembunyi untuk
menghindarkan diri dari kemarahan masyarakat Ambon di Jakarta. Ongen kabarnya telah
bersumpah untuk tidak akan terlibat lagi dalam proyek kerusuhan di tempat-tempat lain di
Indonesia, sedangkan Milton kabarnya disembunyikan atas perintah Jenderal (Purn.)
Wiranto, yang peranannya akan dibahas kemudian dalam makalah ini.

Eskalasi dua tahap
-------------------
Setelah dipicu oleh para preman Ambon dari Jakarta, konflik di Maluku dapat dibagi dalam
dua tahap. Tahap pertama mulai Januari 1999 sampai dengan akhir April 2000, dan ditandai
oleh saling menyerang antara penduduk Kristen dan Muslim yang sebagian besar menggunakan
senjata primitif buatan sendiri, termasuk bom rakitan. Ada keseimbangan kekuatan antara
kedua belah fihak. Selanjutnya, fase kedua mulai dari bulan Mei 2000, yang ditandai oleh
kedatangan orang non-Maluku, yang sebagian besar adalah orang Muslim dari Jawa,
Sulawesi, dan Sumatera, yang dikenal sebagai Lasykar Jihad.

Mereka membawa senjata modern dan bersekutu dengan personil militer Muslim yang berjumlah
80% dari pasukan yang ditempatkan di kepulauan rempah-rempah itu. Perkembangan ini
secara total menghancurkan keseimbangan sebelumnya, dan menciptakan perimbangan kekuagan
yang menguntungkan orang Muslim.

Selama tahap pertama, ketika secara relatif jumlah orang yang terbunuh masih sedikit dan
tingkat kebencian antaragama belum mencapai klimaksnya, maka operasi intelijen
direncanakan secara cermat untuk mengkondisikan kedua komunitas menerkam leher satu sama
lain, segera setelah kerusuhan sosial dipicu. Operasi-operasi intelijen ini mencakup
penyaluran pamflet-pamflet provokatif di kalangan penduduk dan penyaluran handie-talkie
di kalangan pemimpin kelompok-kelompok setempat agar kerusuhan dapat dipicu secara
simultan dalam jangkauan yang luas.

Beberapa pamflet tanpa nama yang disebarkan di Ambon menjelang kerusuhan bulan Januari
dan Februari 1999, memperingatkan kedua belah pihak, bahwa pihak lain sedang
merencanakan untuk membakar rumah-rumah ibadah mereka, dan memperingatkan sebuah
kelompok etnik bahwa kelompok etnik lain sedang merencanakan untuk membinasakan mereka.

Pamflet-pamflet serupa disebarkan di kalangan kaum Muslim di Maluku Utara, menjelang
kerusuhan bulan Agustus dan November 1999. Ditandatangani oleh para pemimpin gereja
Protestan di Ambon, isi pamflet-pamflet itu mendesak orang Kristen untuk membinasakan
semua orang Muslim. Salah satu pamflet jatuh ke tangan aparat desa di Tidore. Sebuah
pertemuan diadakan dan ketika pendeta setempat, Ari Risakotta, tidak muncul untuk
menjelaskan isi surat itu, ia diserang dan dibunuh di rumahnya. Mengingat bahwa
pertarungan yang masih berlangsung di Ambon, rasanya sangat tidak mungkin bahwa ada
pemimpin gereja menginginkan konflik itu merambat ke daerah lain di kepulauan itu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pamflet-pamflet ini dibuat oleh para agitator yang sangat
profesional, yang mengenal masyarakat Maluku Utara dengan sangat baik.

Akhirnya, setelah perang saudara berlangsung beberapa bulan dan kedua belah fihak telah
banyak saling membunuh, seruan jihad dikumandangkan oleh organisasi-organisasi militan
Muslim yang didukung oleh sejumlah politisi Muslim dalam tablig akbar pada tanggal 7
Januari 2000 di Lapangan Monas Jakarta, yang menjadi platform untuk memobilisasi
kekuatan-kekuatan Lasykar Jihad, untuk dikirim ke Maluku.

Sepintas lalu, semua perkembangan ini tampak berlangsung secara spontan. Tetapi di bawah
permukaan, ada dua jaringan yang saling berhubungan, yakni jaringan militer dan jaringan
Muslim militan, yang masing-masing punya agenda sendiri, tetapi dipersatukan oleh tujuan
bersama untuk menyabot tujuan pemerintah untuk menurunkan kekuasaan militer dan untuk
menciptakan masyarakat yang terbuka, toleran, dan bebas dari dominasi suatu agama.

Jaringan Militer
------------------
Jaringan militer yang menjembatani kedua tahap itu terentang dari Jakarta sampai ke
Ambon, dan terdiri dari perwira-perwira aktif maupun purnawirawan yang bekerja keras
untuk memprovokasi orang-orang Muslim dan Kristen untuk bertarung. Mereka termasuk dalam
faksi militer yang dengan kuat menentang pengurangan politik dan kepentingan bisnis
militer, atau ikut dalam jaringan ini untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dari
sorotan dan kemungkinan pengadilan atas pelanggaran hak-hak asasi manusia serta
kejahatan melawan kemanusiaan.

Dua orang jendral purnawirawan, tiga orang jendral aktif, dan seorang pensiunan perwira
TNI/AU, terlibat dalam jaringan ini. Mereka terdiri dari Jendral (Purn.) Wiranto, Mayor
Jenderal Kivlan Zein, Letjen (Purn.) A.M. Hendropriyono, Letjen Djadja Suparman, Letjen
Suaidy Marasabessy, Mayjen Sudi Silalahi, dan Mayor TNI/AU (Purn.) Abdul Gafur.

Wiranto adalah Penglima Angkatan Bersenjata yang bertanggungjawab atas pestapora
kekerasan dan kehancuran pasca referendum di Timor Lorosa'e pada bulan September 1999,
dan juga bertanggungjawab atas pecahnya kekerasan di Ambon, delapan bulan kemudian.

Nama Kivlan Zein, pernah dikemukakan sekali oleh Abdurrahman Wahid, walaupun dengan
secara agak tersamar, yakni "Mayjen K" (Tempo, 29 Maret 1999: 32-33). Menurut informasi
yang saya peroleh, Kivlan Zein, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Staf KOSTRAD,
memang ditugaskan oleh Wiranto untuk mengamankan Sidang Istimewa MPR bulan November
1998. Tugas itu antara lain dilaksanakan dengan pembentukan PAM Swakarsa, yang sebagian
besar beragama Islam.

Untuk melakukan tugas-tugas counter-insurgency semacam itu, Kivlan Zein punya satu
sumber dana yang luarbiasa, yakni kelompok perusahaan Tri Usaha Bhakti (TRUBA), di mana
ia duduk sebagai komisaris (Kompas, 3 November 2000). Awal November tahun lalu, anggota
Komisi I DPR, Effendi Choirie dari Fraksi Kebangkitan Bangsa mendesak Departemen
Pertahanan dan Markas Besar TNI agar secara serius menindaklanjuti hasil auditing BPK
(Badan Pemeriksa Keuangan) terhadap sejumlah yayasan milik TNI, yang baru saja
dilaporkan ke DPR. Di situ termasuk bisnis Yayasan Kartika Eka Paksi, pemilik seluruh
saham TRUBA itu. Sayangnya, seruan politisi PKB itu tidak ditanggapi oleh pemerintah
maupun para anggota DPR yang lain.

Djadja Suparman adalah Pangdam Jaya yang ikut bertanggungjawab atas pembentukan PAM
Swakarsa. Setelah dipromosikan menjadi Pangkostrad, ialah yang memerintahkan pasukan
Kostrad di Makassar untuk terbang ke Ambon, hanya satu jam setelah bentrokan antara
seorang pengendara angkutan umum Ambon Kristen dan seorang penumpang Bugis Muslim pecah
di Ambon pada tanggal 14 Januari 1999.

Belakangan ini ada sinyalemen di Jakarta, bahwa korupsi sebesar Rp 173 milyar di
lingkungan yayasan-yayasan Kostrad ketika kesatuan militer elit itu masih berada di
bawah Djadja Suparman (Tempo, 24-30 April 2001, Laporan Utama), ada hubungan dengan
kerusuhan di Maluku. Sebagian dana itu digunakan untuk membiayai pelatihan dan
pengiriman 6000 orang anggota Lasykar Jihad ke Maluku. Paling tidak, begitulah yang
dipercayai oleh para anggota Kongres AS, yang menolak normalisasi kerjasama militer
antara AS dan Indonesia.

Seperti yang telah disinggung di depan, Abdul Gafur yang mantan Menteri Pemuda dan
Olahraga di bawah Soeharto itu ikut terlibat dalam pembentukan pasukan PAM Swakarsa
tersebut, khususnya kelompok preman Maluku Muslim yang diketuai oleh Ongen Sangaji.

Di kalangan orang Maluku di Jakarta, ia dikenal sangat tekun berusaha memecah-belah
masyarakat Maluku berdasarkan garis agama. Pada 15 Mei 1995, ketika komunitas Ambon di
Jakarta memperingati pemberontakan Pattimura melawan Belanda pada tahun 1817, Gafur
memboikot perayaan orang Maluku di Gedung Joang di lingkungan Menteng di mana dua pemuka
agama -- Kristen dan Muslim -- memanjatkan doa mereka. Ia sebaliknya mengorganisir
perayaan eksklusif bagi orang Maluku Muslim di Taman Mini Indonesia Indah dengan
mengorganisir lari membawa obor. Pada kesempatan lain, Gafur mengatakan bahwa Pattimura
beragama Islam, bertentangan dengan pandangan umum bahwa pahlawan nasional itu, yang
sesungguhnya bernama Thomas Matulessy, beragama Kristen.

Setelah kerusuhan meletus di Ambon, dan propinsi Maluku dipecah dua menjadi Maluku Utara
dan Maluku, Gafur yang beradarah campiran Ternate dan Acheh itu segera berkampanye untuk
menjadi kandidat Gubernur Maluku Utara, memanfaatkan koneksi-koneksi Golkarnya. Ketua
DPP Golkar yang juga ketua DPR-RI, Akbar Tanjung, mendukung pencalonan Gafur oleh
Golkar, yang menguasai kursi terbanyak di DPRD Maluku Utara (Gamma, 17-23 Jan. 2001, hal.
39; Mandiri, 28 Febr. 2001), namun sejumlah cendekiawan asal Maluku Utara menentang
pencalonan orang yang selama ini sangat bersikap menjilat pantat Soeharto dan
keluarganya.

Tidak lama setelah kerusuhan meletus di kota Ambon, mulai beredar kabar-kabar burung
bahwa kerusuhan itu didalangi oleh orang-orang Maluku Nasrani, yang ingin menghidupkan
kembali 'Republik Maluku Selatan' (RMS) yang pernah dicetuskan di Ambon pada tanggal 25
April 1950, dan meneruskan perjuangan mereka lewat gerilya bersenjata di Pulau Seram
hingga tahun 1964. Tuduhan itu, di mana cap 'RMS' selanjutnya dipelesetkan menjadi
'Republik Maluku Serani', yang akan dibahas tersendiri di bagian ini, sejak dini ikut
disebarluaskan oleh Letjen (pur) A.M. Hendropriyono, mantan Menteri Transmigrasi dalam
pemerintahan Habibie. Dalam sebuah pertemuan publik pada tanggal 19 Maret 1999 dengan
gubernur Maluku, para pemimpin agama dan informal lain, serta para mahasiswa dan pemuda
di Ambon, Hendropriyono melontarkan tuduhan itu. Seorang jendral purnawirawan lain,
Feisal Tanjung, yang pernah menjadi Pangab dalam kabinet Soeharto, segera
menggarisbawahi tuduhan Hendropriyono itu.

Hendropriyono, memang punya kepentingan praktis untuk menyebarluaskan tuduhan itu.
Soalnya, setelah Soeharto dipaksa turun dari takhta kepresidenannya, peranan
Hendropriyono dalam tragedi Lampung yang menewaskan sekitar 250 jiwa - termasuk
perempuan dan anak-anak - pada tanggal 7 Februari 1989, mulai dibongkar oleh berbagai
kelompok hak asasi manusia di Indonesia. Kolonel Hendropriyono waktu itu adalah
Komandan Korem 043 Garuda Hitam Lampung yang memimpin operasi gabungan tentara, polisi,
dan Angkatan Udara, ke sebuah perkampungan para migran dari Jawa, yang dicap sebagai
Islam fundamentalis (Awwas 2000).Cap itu, oleh berbagai pengamat, telah dianggap terlalu
berlebihan. Sebab konflik antara pemerintah dan perkampungan Islam itu, lebih berakar
pada permasalahan pembebasan tanah, yang lebih jauh lagi berakar pada sejarah pembukaan
daerah Lampung oleh Belanda untuk kepentingan para transmigran dari Jawa (Wertheim 1989)

Dengan mengalihkan perhatian ke Maluku, dengan cara-cara yang seolah-olah merangkul
kepentingan umat Islam, Hendropriyono untuk sementara waktu berhasil mengurangi sorotan
para korban tragedi Lampung.

Suaidy Marasabessy, seorang veteran dari perang Timor yang kemudian menjadi Pangdam
Hasanuddin di Sulawesi Selatan, yang menyetujui pengiriman pasukan Kostrad dari Makassar
ke Ambon, kendati mereka secara emosional berpihak untuk menentang Ambon Kristen dan
membela para migran Bugis dan Makasar di Ambon, karena didorong oleh solidaritas etnik.
Sebagai konsekuensinya Marasabessy dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat dan
dipromosikan menjadi Kasum TNI oleh Presiden Abdurahman Wahid.

Baik promosi Marasabessy maupun Djadja Suparman didasarkan pada rekomendasi dari Wiranto,
waktu itu masih menjadi Menko Polkam. Wiranto kemudian mengangkat Marasabessy untuk
mengepalai Team 19 yang terutama terdiri dari para perwira Maluku untuk mengadakan
investigasi latar belakang dari kekerasan di Maluku dan menyarankan cara-cara
penyelesaian persoalan itu.

Selama kedua fase konflik itu, Sudi Silalahi menjadi Pangdam Brawijaya di Jawa Timur, dan
telah bertanggungjawab atas pengiriman pasukan Brawijaya - berdampingan dengan pasukan
Kostrad - yang ikut meningkatkan kekerasan antaragama di Maluku. Dalam kapasitasnya
sebagai Pangdam Brawijaya, ia juga membiarkan ribuan anggota Lasykar Jihad untuk
berlayar dari Surabaya ke Ambon, meskipun Presiden Wahid menghimbau kepada seluruh
jajaran TNI dan Polri untuk menghalanginya.

Harap diingat bahwa di awal bulan-bulan kekerasan, seluruh Kepulauan Maluku masih berada
di bawah Kodam Trikora yang bermarkas di Jayapura, Papua Barat. Berarti sebenarnya
Wiranto dapat mengirim pasukan Trikora dari Papua Barat ke Ambon, ketimbang mengirim
pasukan dari Jawa dan Sulawesi Selatan, yang kebanyakan beragama Islam, untuk menghadapi
kerusuhan di Maluku.

Baru pada tanggal 15 Mei 1999, setelah puluhan batalion tentara tersebar di Kepulauan
Maluku, status Korem Pattimura ditingkatkan menjadi Kodam.

Di Maluku sendiri, dua orang kolonel yang waktu itu berkedudukan di Ambon ikut mengipas-
ngipas api kebencian antara orang Kristen dan Islam. Asisten Teritorial Pattimura, Kol.
Budiatmo, memupuk hubungan dengan para Preman Kristen, khususnya Agus Wattimena, untuk
mempertahankan kemarahan mereka terhadap para tetangga mereka yang Muslim, sementara
Asisten Intelijen Kodam Pattimura, Kol. Nano Sutarmo, menjaga agar api tetap menyala di
kalangan perusuh Muslim.

Dua orang kolonel itu, yang sudah ditempatkan di Ambon ketika Suaidy Marasabessy menjadi
Komandan Korem Pattimura, juga memiliki teman-teman di kalangan atas di Jakarta.
Saudara laki-laki Nano Sutarno, Brigjen Marinir Nono Sampurno, adalah komandan pengawal
keamanan Wakil Presidan Megawati.

Ini membuat Megawati secara praktis "tertawan" oleh agenda militer, meskipun ia justru
adalah orang yang ditugaskan Presiden Wahid untuk menyelesaikan masalah Maluku. Selain
kedua orang kolonel itu, yang di akhir tahun 2000 telah dipindahkan dari Maluku,
beberapa orang purnawirawan dan perwira aktif dan masih tinggal di Ambon juga memainkan
peran dalam mengipas-ngipas api permusuhan antaragama. Mereka adalah Brigjen (Purn)
Rustam Kastor dan Letkol (Pur) Rusdi Hasanussy.

Lahir di Ambon pada tanggal 9 Juli 1939, Rustam Kastor adalah mantan Komandan Korem
Pattimura, mantan Kepala Staf Kodam Trikora (Papua Barat), dan telah ditempatkan di
Markas Besar di Jakarta. Barangkali dialah yang paling tepat dijuluki sebagai 'bapak
ideologis' dari kekerasan Maluku.

Ia memberikan pembenaran 'pseudo-ilmiah' untuk mengundang Lasykar Jihad ke Maluku, konon
untuk menyelamatkan orang Muslim dari pembinasaan yang dilakukan oleh orang-orang Maluku
Kristen, dengan menuduh orang-orang Kristen mencoba menghidupkan kembali pemberontakan
'RMS' tahun 1950 s/d 1964. Tidak hanya Gereja Protestan Maluku, tetapi juga PDI-P
Megawati Sukarnoputri cabang Maluku dituduh terlibat dalam pemberontakan itu, yang
bertujuan untuk menciptakan negara Maluku yang berasas Kristen, di mana tidak ada tempat
bagi orang Maluku yang beragama Islam, menurut buku Rustam Kastor (2000) yang menjadi
best-seller di kalangan pendukung Lasykar Jihad di Jawa.

Sesungguhnya, teori konspirasi ini pertama kali dikemukakan pada 28 Januari 1999 dalam
konperensi pers yang diorganisir oleh dua organisasi militan Muslim, KISDI (Komite
Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) dan PPMI (Persatuan Pekerja Muslim Indonesia).
Teori konspirasi ini segera disebarluaskan oleh Letjen (pur) A.M. Hendropriyono, seperti
yang telah dijelaskan di depan. Seorang jendral purnawirawan yang lain, Feisal Tanjung,
bekas Pangab dalam kabinet Soeharto dan terakhir menjabat sebagai Menko Polkam dalam
kabinet Habibie, ikut menggarisbawahi tuduhan Hendropriyono.

Teori ini kemudian menyebar seperti api yang membakar ranting-ranting kering setelah
disiarkan oleh sebagian media massa di Indonesia, di mana singkatan RMS diplesetkan
menjadi 'Republik Maluku Serani'. Plesetan itu mendistorsi kenyataan seolah-olah semua
orang Ambon Kristen mengambil bagian dalam mendirikan gerakan kemerdekaan ini, dan
seolah-olah orang Ambon Islam semuanya menolak pemberontakan itu.

Disertasi Richard Chauvel tentang pemberontakan itu (1990) menunjukkan ketidakbenaran
pelesetan 'Republik Maluku Serani', dan bahwa RMS bukan bertujuan membentuk negara
Kristen. Chauvel jelas-jelas membeberkan bagaimana salah seorang pemimpin RMS yang
diperiksa oleh TNI setelah pemberontakan di Ambon berhasil ditumpas adalah Ibrahim
Ohorella. Raja (kepala desa) Tulehu itu malah menjadi tuan rumah rapat-rapat persiapan
proklamasi RMS, mengerahkan sebagian besar warga desanya untuk menghadiri proklamasi RMS
di alun-alun kota Ambon yang dihadiri sekitar 9000 orang, dan memasok kebutuhan sagu
senilai Rp 25 ribu (waktu itu) untuk makanan para serdadu Angkatan Perang RMS sebelum
Tulehu diduduki oleh TNI.

Sebaliknya, masyarakat Kristen di Ambon serta orang Ambon Kristen di luar Ambon juga
tidak sepenuhnya mendukung proklamasi RMS. Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) sendiri,
bersikap netral terhadap proklamasi itu.

Seorang tokoh Ambon di Jakarta yang kemudian menjadi Wakil Perdana Menteri, Dr. J.
Leimena, dipercayai oleh Sukarno untuk berunding dengan pencetus RMS untuk mengakhiri
gerakan mereka.

Setelah hampir setahun disebarkan oleh berbagai media di Indonesia, teori ini diabadikan
oleh Rustam Kastor ke dalam bentuk buku (2000), yang telah menjadi paling laku, tidak
hanya di lingkungan Muslim tertentu di Maluku, Jawa dan Sulawesi. Selain dari bahasa
Provokatifnya tentang orang Kristen, buku itu menuding aksi demonstrasi mahasiswa Ambon
secara besar-besaran pada bulan November 1998, sebagai tahap 'pematangan situasi' bagi
pemberontakan RMS yang didukung oleh GPM dan PDI-Perjuangan cabang Maluku.

Menurut Kastor, demonstrasi itu merupakan upaya yang sadar untuk memperlemah militer,
sehingga mereka tidak akan dapat menghancurkan 'pemberontakan RMS' selanjutnya yang
bertujuan untuk membersihkan Maluku dari penduduk Muslimnya.

Kastor juga menuduh orang-orang Kristen memanipulasi gerakan reformasi yang dipimpin
mahasiswa untuk menghancurkan perekonomian Indonesia, dan dengan demikian mempromosikan
disintegrasi Republik dengan memisahkan provinsi-provinsi yang didominasi Kristen di
Indonesia bagian Timur -- termasuk Timor Lorosa'e --, yang kemudian dapat membentuk
negara baru yang didominasi Kristen dengan sumber-sumber daya alami yang fantastik,
karena negara itu akan meliputi Papua Barat dan provinsi Maluku yang sekarang.

Apa yang diabaikan Kastor dalam bukunya adalah kenyataan bahwa gerakan kemerdekaan Timor
Lorosa'e dan Papua Barat ikut dipimpin oleh tokoh-tokoh Muslim setempat, seperti Mar'i
Alkatiri yang kini menjadi Menteri Ekonomi dan sumberdaya Alam dalam pemerintahan
transisi di Timor Lorosa'e, serta Thaha Mohamad Alhamid, Sekjen Presidium Dewan Papua
yang kini sedang ditahan oleh pemerintah Indonesia di Papua Barat. Alkatiri dan Alhamid
tentu saja tidak berjuang untuk menciptakan suatu aliansi negara Kristen di Timur
Indonesia. Di samping itu, kehendak untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia bukanlah merupakan monopoli Kristen sebagaimana ditunjukkan oleh rakyat Aceh.

Selain menulis buku untuk membenarkan perang antaragama di Maluku, Kastor terlibat aktif
mempersiapkan kedatangan Lasykar Jihad di Maluku, dan memupuk fanatisme mereka melalui
khotbah-khotbah yang membakar.

Tokoh selanjutnya, H. Rusdi Hassanusi, mungkin merupakan satu-satunya perwira polisi
aktif yang memimpin sebuah cabang Majelis Ulama Indonesia. Pada bulan Juli 1999, ketua
MUI Maluku itu pergi ke Makassar untuk merekrut enampuluh orang anggota Muhammadiyah dan
mengapalkan mereka ke Ambon untuk bergabung dengan milisi Muslim lokal (TPG, 1999).
Secara ironis, ia kehilangan anaknya, Alfian ("Eki") Hassanusi (10), sersan polisi yang
secara fatal dilukai oleh penembak gelap pada hari Rabu, 17 Mei, 2000.

Dengan begitu banyak tokoh militer yang terlibat dalam menghasut kekacauan di Maluku,
maka tidaklah mengherankan jika para serdadu itu dapat beroperasi dengan bebas di kedua
provinsi kembar itu, di mana sampai Mei 2000, 70% dari para korban di kedua belah pihak
dibunuh atau dilukai dari tembakan senjata organik militer dan polisi.

Pada dasarnya, tiga kesatuan tentara dan satu kesatuan polisi telah mengambil bagian
dalam pembunuhan besar-besaran itu, yakni pasukan-pasukan Kostrad, Brawijaya, Kopassus
dan Brimob. Keterlibatan Kopassus tidak begitu kentara sebagaimana tiga kesatuan lain,
yang telah didokumentasikan dengan baik oleh para jurnalis asing. Para tentara Kopassus
sering menyamarkan dengan menggunakan jubah Arab dan jenggot palsu sebagai ciri Lasykar
Jihad, atau menggunakan kaos-kaos Lasykar Maluku sebagai ciri dari milisi Kristen.

Beberapa orang dari mereka ditangkap sebelum mencapai Ambon, sebagaimana terjadi ketika
empat orang tentara Kopassus berambut panjang ditahan di atas kapal KM Lambelu, pada 5
Agustus 2000, kira-kira 70 orang perwira Kopassus dilihat oleh para jurnalis dan para
relawan kemanusiaan meninggalkan Ambon dengan menumpang pesawat terbang militer
Hercules, dengan mendorong sebuah peti kayu besar yang berisi perlengkapan mereka ke
dalam pesawat terbang. Mereka memakai seragam loreng, lengkap dengan lencana
Kopassusnya. Kehadiran para anggota Kopassus di Ambon itu sudah diketahui oleh para
jurnalis sejak Januari 1999.

Kehadiran Kopassus di antara Lasykar Jihad dapat disimpulkan dari ketrampilan tempur
mereka yang khas -- seperti menembak dan melempar granat dari dalam drum minyak yang
kosong yang digelindingkan oleh anggota Lasykar Jihad ketika menyerang kampus UKIM
(Universitas Kristen Indonesia Maluku) -- atau dengan kelaziman dari para penembak
gelap, yang sering bertindak secara tenang dan berhati-hati untuk menetapkan jumlah
korban yang setara bagi kedua komunitas, dalam setiap konfrontasi antaragama. Memang
tembakan kepala yang fatal tidak merupakan monopoli anggota Kopassus, dan telah
dikuasai pula oleh pasukan-pasukan khusus Angkatan Darat memiliki waktu dan kesempatan
yang lebih lama untuk mengembangkan keterampilan yang mematikan ini selama masa tugas
mereka di Timor Lorosa'e dan berkat latihan bersama para penembak jitu SAS di Australia.

Tanpa dukungan militer ini, Lasykar Jihad sendiri pada tanggal 21-22 juni 2000 tidak
mungkin menghancurkan markas Brimob di Tantui, Ambon, membakar asrama yang dihuni kira-
kira 2.000 orang anggota Polri dan anggota keluarga mereka, menghancurkan dua gudang
amunisi, dan mencuri 832 pucuk senjata, 8.000 butir peluru, dan lusinan seragam Brimob.

Jaringan Muslim
--------------------
Berbicara tentang Lasykar Jihad membawa kita pada jaringan Muslim militan, yang
bekerjasama dengan jaringan militer yang diuraikan sebelumnya, untuk mengirimkan enam
ribu orang pemuda Muslim ke Kepulauan Maluku diharapkan dapat 'membebaskan saudara laki-
laki dan perempuan Muslim mereka dari para penindas Kristen mereka'.

Kebanyakan pemimpin massa yang direkrut untuk mengobarkan Jihad di Maluku berasal dari
arus kaum militan Muslim baru, yang mengikuti ajaran gerakan Wahhabi. Gerakan
internasional ini bertujuan untuk kembali kepada Islam dari generasi awal yang didanai
oleh para anggota dinasti Saud. Gerakan itu dinamai dengan nama pendirinya, Muhammad
bin Abdul-Wahab (1705-1787), yang ajarannya diterapkan oleh Ibnu Saud, ketika ia
mendirikan monarki Saudi pada tahun 1925.

Di Indonesia, mereka berkembang pesat di luar dua organisasi Muslim yang paling besar --
Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah -- dalam gerakan Tarbiyah, yang membentuk jamaah salaf
di kalangan mahasiswa di beberapa universitas negeri yang bergengsi, seperti ITB.
Tujuannya adalah untuk mendirikan negara Islam, karena itu mereka juga dikenal sebagai
gerakan 'neo-NII', untuk membedakan mereka dari gerakan bawah tanah yang pernah
dihubungkan dengan operasi intelijen almarhum Jendral Ali Murtopo.

Seorang aktivis 'neo NII' adalah Al-Chaidar, berasal dari Aceh, yang mengorganisir
tabligh akbar yang dihadiri antara 40.000 sampai 10.000 Orang di Monumen Nasional
Jakarta pada tanggal 7 Januari 2000. Tabligh akbar yang menghimbau agar orang Muslim
berjihad ke Amdon dihadiri oleh Amien Rais, ketua MPR, Hamzah Haz, mantan menteri dalam
kabinet Wahid, Fuad Bawazier, mantan menteri dalam kabinet Soeharto, serta 22 organisasi
Muslim militan, termasuk KISDI, PPMI, FPI dan Asosiasi Muslim Maluku yang dipimpin oleh
Ongen Sangaji.

Keterlibatan dari tokoh-tokoh politisi Poros Tengah seperti Amien Rais, Hamzah Haz, dan
Fuad Bawazier itu, tidak terlepas dari perbedaan pendapat mereka dengan Presiden
Abdurrahman Wahid soal peranan Islam dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Dirintis
melalui ICMI di bawah pimpinan BJ Habibie, para politisi Islam itu mengkampanyekan
"demokrasi proposional" dalam sistem politik dan ekonomi Indonesia. Maksudnya, karena
umat Islam merupakan mayoritas penduduk Indonesia, maka mereka harus mendominasi
pemerintahan, tentara, parlemen, dan ekonomi Indponesia, yang menurut mereka saat itu
masih didominasi oleh golongan minoritas Kristen dan Tionghoa (Hefner 2000: 141-142.,
147-148. 150, 212).

Sikap itu justru bertolakbelakang dengan sikap politik Abdurrahman Wahid. Makanya ia
menampik tawaran masuk ICMI dan sebaliknya ikut mendirikan Forum Demokrasi (Fordem)
bersama sejumlah cendekiawan non-Muslim (Hefner 2000: 162). Sikap itu dilanjutkannya
setelah dipilih menjadi Presiden dengan dukungan Poros Tengah, Golkar dan militer. Tak
ketinggalan, Wahid pun menganjurkan rekonsiliasi dengan kaum kiri di Indonesia dengan
mengusulkan pencabutan Ketetapan MPR No. 25 Tahun 1966 yang melarang penyebaran faham
Marxisme-Leninisme di Indonesia. Berbagai 'penyimpangan' ini - di mata para politisi
Poros Tengah, Golkar dan militer - mendorong munculnya aliansi untuk mendongkel Wahid
dari kursi kepresidenannya dengan antara lain menggunakan kerusuhan Maluku sebagai
tongkat pendongkel.

Kembali ke mereka yang bergerak di garis depan, patut digarisbawahi bahwa komandan
Lasykar Jihad di Maluku, Ustadz Ja'far Umar Thalib, juga berasal dari gerakan Wahhabi. Ia
adalah imam gerakan Salafi di Indonesia yang berkiblat ke Arab Saudi. Alumnus pesantren
Persis di Bangil itu melanjutkan sekolah ke Maududi Institute di Lahore, Pakistan, dan
dari sana bergabung dengan gerilyawan Taliban di Afghanistan (1987-1989). Keterlibatan
Lasykar Jihad berperang melawan kaum Kristen di Maluku itu karena turunnya sebuah
fatwa, awal 2000 yang lalu, dari salah seorang Imam Salafi di Yaman yaitu Syaikh Muqbil
Bin Had Al Wadi'. Fatwa itu dikeluarkan khusus untuk berjihad di Maluku, tidak di
seluruh Indonesia.

Di Maluku Utara yang dominan Muslim, ada ikatan yang kuat antara Lasykar Jihad dan Partai
Keadilan, melalui ideolog partai itu, Drs. H. Abdi Sumaiti alias Abu Rido. Mantan dosen
agama Islam ITB itu, yang kini Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan, pernah
kuliah di Universitas Madinah, di mana ia bergabung dengan gerakan Wahhabi. Abu Rido
juga menentang sekte-sekte Islam lain yang dirasakannya tidak mengajarkan doktrin yang
benar. Majalah Sabili yang dimulainya ketika gerakan 'neo-NII'-nya masih di bawah tanah,
merupakan salah satu corong Lasykar Jihad.

Sementara itu, dukungan politis bagi Lasykar Jihad di dalam Angkatan Bersenjata tidak
hanya berasal dari faksi Wiranto di TNI/AD. Gerakan militan Muslim ini juga menikmati
dukungan diam-diam dari berbagai faksi di Polri dan Angkatan Laut. Meskipun Presiden
Wahid memerintahkan seluruh jajaran TNI dan Polri untuk mencegah pasukan Lasykar Jihad
meninggalkan Jawa, namun Kapolda Jawa Timur waktu itu, Mayjen Da'i Bahtiar, membiarkan
saja mereka berlayar dengan kapal Pelni, KM Rinjani, dari Surabaya ke Ambon. Ini
barangkali ada hubungannya dengan pernyataan komandan Lasykar Jihad, Ja'far Umar Thalib,
yang mengklaim punya 'hotline' langsung ke Panglima TNI, Laksamana Widodo (Fealy 2001).

Kenyataannya, para anggota Lasykar Jihad juga dibiarkan mengapalkan senjata mereka dengan
kapal lain, KM Tanto Sakti, yang disembunyikan dalam kotak-kotak sabun dalam 200 buah
peti kemas, yang mencapai Ambon setelah kedatangan pasukan itu. Di Ambon, aparat
keamanan membiarkan saja peti-peti kemas penuh senjata itu diturunkan di pelabuhan Yos
Sudarso yang dikuasai komunitas Muslim di Waihoang, bukan di pelabuhan Angkatan Laut di
Halong.

Agenda Militer
---------------
Dilihat dari langgengnya pembunuhan antaragama di Kepulauan Maluku, penyebaran Lasykar
Jihad yang cepat di kedua provinsi kembar itu, keberfihakan sejumlah besar anggota TNI
dan Polri dengan fihak-fihak yang bertikai, serta ketegaran para perwira dari faksi
Wiranto, di mana tidak seorang pun telah diajukan ke pengadilan atau bahkan diselidiki
keterkaitannya dengan konflik berkepanjangan di Maluku, orang tidak dapat lagi
mempercayai retorika resmi di Indonesia bahwa yang terlibat hanyalah "oknum-oknum
pembangkang" (rogue elements). Makanya, penjelasan mengenai kerusuhan yang
berkesinambungan di Kepulauan Maluku harus ditemukan dalam kepentingan-kepentingan
militer yang lebih sistemik.

Dengan menganalisis data dan mengkaji cara berfikir dan operasi militer, dapatlah
dikatakan bahwa ada lima agenda militer dalam melanggengkan konflik di Maluku. Agenda
yang pertama dan paling langsung adalah membalas oposisi para mahasiswa terhadap
dwifungsi ABRI dengan mengalihkan konflik vertikal menjadi konflik horisontal; agenda
yang kedua adalah mempertahankan konsep Wawasan Nusantara; agenda yang ketiga adalah
mempertahankan struktur teritorial TNI, khususnya Angkatan Darat; agenda yang keempat
adalah mempertahankan kepentingan bisnis militer; sedangkan agenda yang kelima yang
tidak kalah pentingnya ketimbang semua agenda di atas adalah mencegah pemeriksaan dan
peradilan para perwira tinggi dan purnawirawan ABRI yang dituduh terlibat kejahatan
korupsi serta pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Pertama-tama, pemicuan konflik horisontal di Maluku dan di tempat-tempat lain di
Indonesia sengaja dilakukan oleh militer untuk membelokkan perhatian jauh dari tuntutan
para mahasiswa untuk penghapusan dwifungsi ABRI. Ini telah dicapai, tidak hanya dengan
penghancuran dua kampus di mana para mahasiswanya berada di front depan dalam gerakan
reformasi di Maluku, tetapi juga dengan menimbulkan perpecahan agama antara para
mahasiswa Muslim dan Kristen di provinsi itu, dan dalam tingkat tertentu, di Indonesia
pada umumnya.

Kedua, penarikan diri aparatur negara Indonesia secara terpaksa dari Timor Lorosa'e telah
meninggalkan satu lubang yang rawan dalam rantai pertahanan di wilayah Indonesia timur.
Menurut doktrin pertahanan TNI yang dikenal dengan istilah Wawasan Nusantara, pulau-
pulau berpenduduk berfungsi untuk membentengi laut pedalaman (territorial sea), dalam
hal ini Laut Banda.

Maka, dengan lepasnya Timor Lorosa'e, di mata TNI rantai kepulauan untuk pertahanan
negara di kawasan timur Indonesia telah diperlemah secara serius. Maluku, yang terletak
di sebelah utara Timor Lorosa'e, secara langsung berhadapan dengan ancaman potensial
dari Selatan, khususnya ancaman yang dirasakan oleh TNI dengan kehadiran ribuan pasukan
PBB, yang didominasi oleh angkatan bersenjata Australia, di Timor Lorosa'e.

Selain dari putusnya rantai pertahanan geo-strategis akibat lepasnya setengah pulau Timor
dari wilayah NKRI, sebagian besar penduduk Kristen di Maluku dipandang kurang dapat
dipercaya di mata militer untuk mempertahankan sisi Tenggara NKRI, karena diyakini bahwa
mereka mungkin memiliki kecenderungan separatis yang sama sebagaimana rakyat Timor
Lorosa'e yang mayoritas beragama Katolik.

Dari sudut militer perlu penyesuaian demografik strategik di Maluku berupa pengiriman
ribuan anggota Lasykar Jihad yang akhirnya diharapkan menetap di kepulauan itu dengan
membawa keluarga mereka dari Jawa dan pulau-pulau lain. Pertukaran penduduk Maluku itu
diharapkan dapat mencegah Maluku dari mengikuti contoh Timor Lorosa'e untuk memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Agenda militer yang ketiga, yakni mempertahankan struktur teritorial TNI, dapat
ditunjukkan dari keputusan Jendral Wiranto meningkatkan Korem Pattimura menjadi Kodam,
sehingga dengan demikian membenarkan penempatan pasukan yang lebih banyak di Maluku.

Untuk mengklarifikasi hal ini, kita perlu memahami struktur territorial Angkatan Darat,
di mana garis komando terentang dari Kepala Staf Angkatan Darat ke Panglima Kodam,
dengan komandannya adalah jendral berbintang dua.

Setiap Kodam terdiri dari empat sampai enam Korem yang dikepalai oleh seorang kolonel. Di
bawah Korem adalah Kodim yang dikepalai oleh letnan kolonel. Setiap Kodam memiliki
sejumlah batalyon yang mewakili spesialisasi pelayanan yang berbeda-beda di dalam
Angkatan Darat. Batalyon-batalyon yang dikomandani oleh seorang mayor atau letnal
kolonel itu merupakan tulang punggung struktur teritorial Angkatan Darat. Akhirnya, di
samping unit-unit yang berdasarkan wilayah ada batalyon-batalyon dengan kemampuan tempur
khusus, yakni Kopassus dan Kostrad.

Di bawah Panglima Angkatan Bersenjata Jendral Wiranto, Angkatan Darat merencanakan untuk
membangun kembali tujuh belas Kodam, yang oleh pendahulunya, Jendral Benny Murdani,
telah dikurangi menjadi sepuluh. Menurut rencana Wiranto, selain dari menghidupkan
kembali Kodam Pattimura yang lama, Kodam-Kodam lain yang pernah ada antara tahun 1958
dan 1985 juga akan dihidupkan kembali.

Untuk menemukan dasar pemikiran dalam menciptakan kembali komando-komando daerah militer
yang terbengkalai perlu ditunjukkan bahwa pasukan-pasukan itu dibutuhkan untuk
menghadapi keresahan di wilayah-wilayah itu. Lalu, setelah pasukan itu disebarkan,
mereka perlu ditempatkan secara permanen di sana. Dengan kata lain, untuk membenarkan
kehadiran para pemadam kebakaran itu, maka kebakaran harus ditimbulkan.

Pentingnya struktur teritorial ini tidak dapat diremehkan, karena inilah tulang punggung
militer untuk melaksanakan fungsinya sebagai kekuatan politik, di samping fungsinya
sebagai kekuatan pertahanan, yang dikenal dengan doktrin 'dwifungsi ABRI'.

Struktur teritorial ini sejajar dengan struktur pemerintah, semacam negara di dalam
negara, di mana instruksi mengalir dari puncak (ibu kota nasional) ke dasar
(kecamatan), sementara uang suap untuk memudahkan promosi sebaliknya mengalir dari dasar
ke puncak.

Berbicara tentang uang suap adalah berbicara tentang agenda keempat dalam melanggengkan
kekerasan di Maluku, yakni untuk mempertahankan kepentingan ekonomi militer. Ada
perwira aktif maupun purnawirawan yang merasa terancam oleh prospek desentralisasi. Jika
rencana otonomi daerah dan pembangian pendapatan daerah mulai diwujudkan tahun ini, maka
parlemen-parlemen daerah akan memiliki kekuasaan untuk membatalkan atau menolak untuk
memperbaharui kontrak yang menguntungkan perusahaan yang didukung militer di bidang
perikanan, kehutanan dan pertambangan. Kerusuhan-kerusuhan di daerah akan menunda
kerugian-kerugian semacam itu.

Maluku sesungguhnya sarat dengan kepentingan bisnis militer, yang sebagian besar
diperoleh dari konglomerat yang beroperasi di Maluku. Kepentingan ekonomi ini juga tidak
terbatas pada Angkatan Darat, tetapi juga pada Angkatan Laut dan Angkatan Udara. PT
Green Delta, adalah sebuah Perusahaan yang dimiliki oleh Angkatan Udara, yang memasok
kayu glondongan dari konsesi mereka seluas 74.000 hektar di pulau Morotai untuk
penggergajian perusahaan Barito Pasific di pulau lain di Maluku Utara.

Memang, Maluku bukan satu-satunya wilayah yang sarat kepentingan bisnis militer, karena
ini merupakan fenomena yang berlingkup nasional. Soalnya, sekitar 75 persen dari
pengeluaran militer diperoleh dari bisnis Militer dan cara-cara lain. Kegiatan
penghimpunan dana ini biasanya tidak Tunduk pada penelitian publik yang cermat: para
komandan militer memiliki Akses terhadap sejumlah besar uang yang dapat digunakan untuk
membiayai manuver-manuver politik di masa depan. Skandal korupsi Rp 189 milyar rupiah
di Yayasan Dharma Putera Kostrad, yang berhasil dibeberkan oleh Letjen. Agus
Wirahadikusumah, hanyalah merupakan puncak gunung es. Setelah membeberkan skandal itu,
Wirahadikusumah serta merta digeser dari jabatannya sebagai Pangkostrad.

Celakannya bagi rakyat kecil di Maluku, ketika kekerasan di sana sudah memperoleh
momentumnya sendiri, pasukan yang tersebar di Maluku mulai menemukan caranya untuk
mengeruk keuntungan bagi dirinya sendiri. Di Ambon, para serdadu memberikan 'jasa
perlindungan' bagi pengusaha dan orang-orang yang harus melewati rute-rute berbahaya,
misalnya melalui desa-desa yang sedang berperang atau dari dan ke pelabuhan udara dan
pelabuhan laut.

Anggota Batalyon 321 Kostrad dilaporkan menyerang tiga bank di Ambon pada hari Minggu, 16
Juli, 2000, dan menganiaya satpam bank-bank itu, ketika mereka tidak diberi kunci tempat
penyimpanan uang kontan. Di Maluku Utara, serdadu Brawijaya mencuri kelapa dari para
petani Muslim, dan memaksa para pekerja Kristen untuk mrmproduksi kopra yang akan
diekspor oleh para serdadu ke Manado. Dan di kedua provinsi, militer menjadi sumber
utama mengenai persenjataan dan amunisi bagi kedua belah pihak yang berperang. Mereka
juga menjadi penembak bayaran bagi siapa yang memberikan upah paling tinggi.

Akhirnya, agenda militer yang kelima didasarkan pada observasi bahwa pertempuran di
Maluku sering berkobar kembali manakala interogasi terhadap mantan Presiden Soeharto
mengenai korupsinya, atau interogasi terhadap mantan Jendral Wiranto mengenai perannya
dalam kekerasan pasca referendum di Timor Lorosa'e sedang dijalankan.

Celakanya, militer tidak tampak ingin mengurangi peran mereka. Sebaliknya, Pangdam
Pattimura, Brigjen I Made Yasa secara terbuka menyatakan bahwa TNI sedang
mempertimbangkan untuk membentuk Kodim-Kodim baru untuk dua kabupaten baru di Buru dan
Maluku Tenggara Barat.

Kesimpulan & Saran-saran
-------------------------
Kekerasan antaragama yang berkesinambungan di Kepulauan Maluku dimatangkan dan
dipertahankan oleh jaringan militer yang didukung oleh sebagian politisi Poros Tengah.
Jaringan militer dan kaum militan Muslim yang jalin-menjalin ini mengeksploitasi etno-
religius yang membara di Maluku, dengan menggunakan preman Ambon untuk memicu kekerasan
komunal, dan kemudian menyebarkan ribuan militan Muslim setelah pertempuran internal di
Maluku agak mereda. Dalam fase konflik ini, sifat kekerasan beralih dari konflik
antardesa menjadi perang terbuka, di mana desa-desa Kristen harus mempertahankan diri
dari serangan ribuan anggota Lasykar Jihad, yang secara terbuka didukung pula oleh
militer aktif.

Situasi ini paralel dengan perang antara pejuang pro-kemerdekaan dan milisi pro-Indonesia
yang didukung oleh TNI dan Polri, sebelum dan sesudah referendum yang diawasi PBB di
Timor Lorosa'e. Sementara di Timor Lorosa'e ABRI memilih untuk mendukung kekuatan
paramiliter Timor Lorosa'e yang beragama Katolik, di Aeh mereka berkolaborasi dengan
mantan gerilyawan Aceh, sedang di Maluku militer memilih untuk bekerjasama dengan kaum
militan Muslim yang didatangkan dari Jawa dan kepulauan lain.

Kerusuhan sosial di Maluku memenuhi beberapa tujuan strategis dari ABRI, yang pada
akhirnya bermaksud mengkonsolidasikan kekuasaan politik dan ekonomi mereka, yang sedang
terancam oleh gerakan reformasi serta desentralisasi politik ke daerah-daerah.

Mungkin sekali bahwa Lasykar Jihad dan para politisi pendukung mereka di DPR menyadari
sifat 'sementara' dari aliansi taktis mereka dengan tentara, dan sedang mencoba untuk
memanfaatkan aliansi ini demi keuntungan mereka, dengan menggunakan keresahan di Maluku
untuk memperlemah kemampuan pemerintahan Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri.
Namun sesungguhnya, kartu terakhir masih berada di tangan militer, sebagaimana
dibuktikan dalam Sidang Tahunan MPR di mana jangka waktu fraksi TNI/Polri bukannya
diperpendek, melainkan diperpanjang lima tahun lagi.

Dengan mempertimbangkan bahwa rezim di Jakarta telah dibajak oleh kekuatan yang menolak
mengakhiri kekerasan di Kepulauan Maluku, tampaknya tidak ada pilihan lain selain
menggunakan tekanan internasional terhadap Pemerintah Indonesia -- khususnya terhadap
ABRI dan para pendukung mereka di DPR -- oleh PBB dan semua badan terkait, termasuk
Komisi HAM di Jenewa dan Dewan Keamanan di New York, untuk mengakhiri penderitaan rakyat
di provinsi kembar Maluku dan Maluku Utara.

Tekanan politik ini harus dibarengi dengan tekanan terhadap sumber-sumber keuangan
militer Indonesia, untuk mengurangi kemampuan ABRI mengadudomba rakyat sipil di wilayah-
wilayah yang jauh dari Jakarta, dari Acheh sampai ke Maluku dan Papua Barat.

Kepustakaan
-------------
Aditjondro, George J. (2001a).
"Guns, pamphlets and handie-talkies: how the military exploited local
ethno-religious tensions in Maluku to preserve their political and economic
interests."

Dalam Ingrid Wessel & Georgia Winhoefer (eds). Violence in Indonesia.
Hamburg: Abera, hal. 100-129. ---------- (2001a).
"Di balik asap mesiu, air mata dan anyir darah di Maluku."
[Behind the smoke, tears and blood in Maluku].

Dalam Zairin Salampessy & Thamrin Hussein (eds).
Ketika semerbak cengkeh tergusur oleh asap mesiu, air mata dan anyir darah.
Jakarta: Team Advokasi Penyelesaian Kasus (TAPAK) Ambon, pp. 78-108.

Awwas, Irfan S. (2000). Trauma Lampung berdarah: Di balik manuver
Hendro Priyono. Yogyakarta: Wihdah Press.

Fealy, Greg (2001). "Inside the Laskar Jihad." Inside Indonesia,
Januari-Maret, hal. 28-29.

Hajari, Nisid (2000). "A wasteland called peace." Time, 24 Januari,
hal. 36-37.

Hefner, Robert W. (2000). Civil Islam: Muslims and democratization in
Indonesia. Princeton: Princeton University Press.

Siagian, F. Sihol (1999). Pius Lustrilanang menolak bungkam: Kesaksian
korban penculikan rezim Orde Baru. Jakarta: Grasindo.

Wertheim, W.F. (1989). "The Lampung affair: A personal perspective."
Inside Indonesia, April, hal. 20-21.

Permalink 4 Comments

ACEH FREE FROM JAVANESE CORRUPTION “BATAK FREE TOO”but aceh helped by european batak help by who?all batak too busy doing corruption in Indonesia.mungkinkah Batak bisa berdikari dlm kaki sendiri utk mengurus dapur rumah tangga bangso Batak di kemudian hari seperti aceh?kraton solo ?jawabnya TDK mungkin dgn alasan batak itu adalah manusia yg tdk bertanggung jawab dgn perbuatan nya.loyalty and honesty is minus ZERO

October 6, 2008 at 3:34 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , , , , , , )

Showing posts 1 – 2 of 2
Hasibuan

|

Report Abuse

|

Judge it!

|

#1

Saturday
 
Tapanuli Selatan TIDAK selayaknya lagi tunduk pada pemerintahan Indonesia!!! Bangsa kami tidak dianggap sejajar dgn bangsa Jawa!!! Kami tidak suka karakter Jawa yg munafik!!!!!!!!!!

Big_Bano

|

Report Abuse

|

Judge it!

|

#2

3 hrs ago
 
Ya benar gitu. Jawa memang keparat.
Sudah sampai masanya orang Batak menuntut kemerdekaan dari penindasan Jawa sepertimana bangsa Acheh.

Comments

Showing posts 1 – 1 of 1

Hasibuan

|

Report Abuse

|

Judge it!

|

#1

37 min ago
 
Jacqueline pardede ngomong di blognya yang bernama pardedej.multiply.com :
Kepecahaan suatu group atau sesuatu organisasi adalah tidak selalu negatif !,ini juga yang perusahaan harus jalani demi kemajuannnya (reorganisasi). Apalagi generasi baru yang lebih mempunyai mungkin pendidikan yang lebih mantep dari pada generasi yang kuno…masa sih kecerdasan mereka tak boleh di gunakan?
lihat saja apa untungnya setelah yugoslavia dan soviet pecah,semua negara2nya kini mempunyai souvereniteitnya sendiri (berhak mengatur kenegaraanya sendiri yang merdeka dan tak di atur oleh bangsa lain.).
Setelah soviet pecah lihat saja kini,seperti negri ukrain sebentar lagi masuk dalam persatuan eropa. Di indonesia bangsa bali,batak,timor,aceh,ambon,ir ian,dll juga bukan bangsa jawa,saya rasa (yakin) dalam hati mereka pun bakalan lebih ingin berdiri sendiri dan urus diri sendiri dari pada di kuasai oleh bangsa jawa saja…..dan uang pemasukan ekonomi alam yang menikmati hanya bangsa tertentu saja dengan segala korupsi2 dan politik koneksi2 itu?
Aceh,timor sudah di berikan kebebasaannya ,masa bangsa lain tak boleh?
indonesia selama ini tak bakalan pecah karena ABRI kuat dan pemerintah mempunyai marionet-marionetnya (bangsa lain yang berada juga dalam pemerintahaannya), juga media luas masih di kendalikan meluaskan propagandanya pemerintah melalui sensor2nya/bredel dan juga karna belum semuanya penduduk indonesia yang dapat menikmati pendidikan yang luas.
ini juga terjadi seperti dulu di soviet dan yugoslavia,tapi semenjak komunis jatuh…eropa jadi dekat dengan mereka.
Begitu pula dalam kekeluargaan,adalah normal jika seorang anak suatu hari mungkin dapat mendapati gelar sarjana dari pada mungkin orang tuanya yang dulu tak bisa menikmatinya karna situasi/keadaan….dan anak ini jika sudah besar yang mau mengatur dirinya sendiri dan keluarganya sendiri bukan?
bayi juga tak selamanya netek terus pada ibunya bukan?,bayi jadi gede dan mungkin jika dewasa bakalan bisa lebih besar dari pada orqang tuanya …ini juga kan normal bukan?masa sih orang tuanya yang sudah kakek-nenek itu harus terus mengurus masa depan anak-anaknya? suatu hari kan pasti seorang anak akan berdikari(merdeka) dan mencari jalannya sendiri….dan ini tak usah selalu dengan keributan bagi seorang tua yang melepaskan anak2nya berdiri sendiri….(kalau orang tuanya sadar juga yah..).
Yakin deh,suatu hari tak selamanya suatu bangsa dapat di tutupi atau di tindas dengan bangsa lainnya. ini sudah terjadi di seluruh dunia,dan sampai saat ini kitapun lihat di news tak ada satupun bangsa yang mau di jajah/di atur oleh bangsa lainnya.
Memang benar pengelolahannya kadang2(biasanya) di sertai dengan violant/ kekerasaan…..tapi kemerdekaan indonesia juga dulu tanpa violant bakalan tak merdeka bukan?
Di saat ini bukan seperti jaman dulu,dulu pemerintah dapat lama sekali dengan luas menindas/jajah bangsa lainnya yang dalam negrinya sendiri. Kini pemerintah yang sah seperti indonesia tak bisa sembarangan begitu lagi karna U.N ,dan seluruh dunia (U.S.Europe,rusia,dll) mengawasi juga semua negara.

Yah, benar sudah Tanah Batak termasuk Tapanuli selatan TIDAK HARUS masuk ke dalam Indonesia!!!!!!!!!!

BISA KAH BATAK MERDEKA AGAR MEREKA BISA BELAJAR UTK MENGURUS RUMAH MEREKA SENDIRI.?ATAU TETAP BERGABUNG DGN ORG JAWA KARENA MEREKA TDK SANGGUP MENJADI TUAN RUMAH SENDIRI KARENA AKIBAT KETIDAK SANGGUPAN MEMIMPIN NEGARA MEREKA SENDIRI?ATAU BOLEH KITA LIHAT CONTOH BATAK DI HKBP BERADU JOTOS MAU MEREBUT HARTA KARUN DURUNG DURUNG RAKYAT BATAK YG SEMAKIN MISKIN DI KURAS OLEH BANGSO BATAK YG MEMAKAI GEREJA SEBAGAI ALAT BERTEDUH DLM KORUPSI JAHAT NYA?

INI SATU CONTOH BUAT BATAK.ADA GOSSIP TAPANULI MAUJADI PROPINSI TAPI HINGGA SAAT INI BELUM TERJADI.SAMA SEKALI OMONG KOSONG ATAU SIBUK DGN MARGA MARGA YG SEKONGKOL ATAU KERABAT TERDEKAT SAJA?…………………………………..

 

Jacqueline pardede ngomong di blognya yang bernama pardedej.multiply.com :
Kepecahaan suatu group atau sesuatu organisasi adalah tidak selalu negatif !,ini juga yang perusahaan harus jalani demi kemajuannnya (reorganisasi). Apalagi generasi baru yang lebih mempunyai mungkin pendidikan yang lebih mantep dari pada generasi yang kuno…masa sih kecerdasan mereka tak boleh di gunakan?
lihat saja apa untungnya setelah yugoslavia dan soviet pecah,semua negara2nya kini mempunyai souvereniteitnya sendiri (berhak mengatur kenegaraanya sendiri yang merdeka dan tak di atur oleh bangsa lain.).
Setelah soviet pecah lihat saja kini,seperti negri ukrain sebentar lagi masuk dalam persatuan eropa. Di indonesia bangsa bali,batak,timor,aceh,ambon,ir ian,dll juga bukan bangsa jawa,saya rasa (yakin) dalam hati mereka pun bakalan lebih ingin berdiri sendiri dan urus diri sendiri dari pada di kuasai oleh bangsa jawa saja…..dan uang pemasukan ekonomi alam yang menikmati hanya bangsa tertentu saja dengan segala korupsi2 dan politik koneksi2 itu?
Aceh,timor sudah di berikan kebebasaannya ,masa bangsa lain tak boleh?
indonesia selama ini tak bakalan pecah karena ABRI kuat dan pemerintah mempunyai marionet-marionetnya (bangsa lain yang berada juga dalam pemerintahaannya), juga media luas masih di kendalikan meluaskan propagandanya pemerintah melalui sensor2nya/bredel dan juga karna belum semuanya penduduk indonesia yang dapat menikmati pendidikan yang luas.
ini juga terjadi seperti dulu di soviet dan yugoslavia,tapi semenjak komunis jatuh…eropa jadi dekat dengan mereka.
Begitu pula dalam kekeluargaan,adalah normal jika seorang anak suatu hari mungkin dapat mendapati gelar sarjana dari pada mungkin orang tuanya yang dulu tak bisa menikmatinya karna situasi/keadaan….dan anak ini jika sudah besar yang mau mengatur dirinya sendiri dan keluarganya sendiri bukan?
bayi juga tak selamanya netek terus pada ibunya bukan?,bayi jadi gede dan mungkin jika dewasa bakalan bisa lebih besar dari pada orqang tuanya …ini juga kan normal bukan?masa sih orang tuanya yang sudah kakek-nenek itu harus terus mengurus masa depan anak-anaknya? suatu hari kan pasti seorang anak akan berdikari(merdeka) dan mencari jalannya sendiri….dan ini tak usah selalu dengan keributan bagi seorang tua yang melepaskan anak2nya berdiri sendiri….(kalau orang tuanya sadar juga yah..).
Yakin deh,suatu hari tak selamanya suatu bangsa dapat di tutupi atau di tindas dengan bangsa lainnya. ini sudah terjadi di seluruh dunia,dan sampai saat ini kitapun lihat di news tak ada satupun bangsa yang mau di jajah/di atur oleh bangsa lainnya.
Memang benar pengelolahannya kadang2(biasanya) di sertai dengan violant/ kekerasaan…..tapi kemerdekaan indonesia juga dulu tanpa violant bakalan tak merdeka bukan?
Di saat ini bukan seperti jaman dulu,dulu pemerintah dapat lama sekali dengan luas menindas/jajah bangsa lainnya yang dalam negrinya sendiri. Kini pemerintah yang sah seperti indonesia tak bisa sembarangan begitu lagi karna U.N ,dan seluruh dunia (U.S.Europe,rusia,dll) mengawasi juga semua negara.

BISA KAH BATAK MERDEKA AGAR MEREKA BISA BELAJAR UTK MENGURUS RUMAH MEREKA SENDIRI.?ATAU TETAP BERGABUNG DGN ORG JAWA KARENA MEREKA TDK SANGGUP MENJADI TUAN RUMAH SENDIRI KARENA AKIBAT KETIDAK SANGGUPAN MEMIMPIN NEGARA MEREKA SENDIRI?ATAU BOLEH KITA LIHAT CONTOH BATAK DI HKBP BERADU JOTOS MAU MEREBUT HARTA KARUN DURUNG DURUNG RAKYAT BATAK YG SEMAKIN MISKIN DI KURAS OLEH BANGSO BATAK YG MEMAKAI GEREJA SEBAGAI ALAT BERTEDUH DLM KORUPSI JAHAT NYA?

INI SATU CONTOH BUAT BATAK.ADA GOSSIP TAPANULI MAUJADI PROPINSI TAPI HINGGA SAAT INI BELUM TERJADI.SAMA SEKALI OMONG KOSONG ATAU SIBUK DGN MARGA MARGA YG SEKONGKOL ATAU KERABAT TERDEKAT SAJA?…………………………………..

Yah, benar sudah Tanah Batak termasuk Tapanuli selatan TIDAK HARUS masuk ke dalam Indonesia!!!!!!!!!!

Permalink 1 Comment

Media, Terorisme, dan Islam

October 6, 2008 at 12:04 am (Uncategorized) (, , , , , )

Media, Terorisme, dan Islam

28-September-2005

Media, Terorisme, dan Islam
Dr. Tjipta Lesmana

Belum terdapat tanda bahwa aksi terorisme akan meredup, bahkan sebaliknya intensitas dan kualitas terorisme semakin besar. Setiap saat ancaman kelompok teroris datang tiba-tiba dan mengerikan. Konsistensi pemerintah dalam menegakkan hukum dan menindak tegas pelaku kejahatan termasuk penjahat koruptor mutlak diperlukan. Satu hal yang tak kalah penting dalam meredam aksi terorisme adalah peran media massa. Media bukan sekedar bisnis, namun harus punya tanggung jawab terhadap keselamatan dan ketenteraman masyarakat. Berikut hasil wawancara RRI (24/8/2005) dengan Dr. Tjipta Lesmana, pengamat politik nasional, dosen Universitas Pelita Harapan dan mantan Anggota Komisi Konstitusi MPR.

Bagaimana perkembangan terakhir terorisme di tingkat internasional dan nasional?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya kita flash back. Dalam tingkat internasional terorisme tetap ada, bahkan cenderung meningkat. Tapi kita harus bersyukur, di Indonesia terorisme cenderung menurun terutama sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pada era Megawati, tahun 2002 ada bom Bali, 2003 ada bom JW. Marriot, dan 2004 bom di kedutaan Australia. Sekarang ini, bom dahsyat seperti di Bali, tidak terjadi lagi. Meskipun ledakan bom-bom kecil masih ada di negeri ini. Banyak faktor yang menyebabkan terorisme, salah satunya adalah ketegasan sikap pemerintah dan aparat keamanan. Dalam membendung terorisme dibutuhkan ketegasan sikap pemerintah dan keberanian aparat keamanan menindak tegas orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku terorisme. Saya melihat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono kurang tegas dalam menyikapi masalah terorisme.

Apa efek negatif yang ditimbulkan oleh terorisme dalam bermasyarakat?

Terorisme menyebabkan masyarakat dihantui oleh ketakutan sehingga menyebabkan masyarakat takut untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Ekonomi juga akan mengalami kemunduran, para pelaku ekonomi akan was-was ketika mereka mengurusi bisnis mereka. Mereka takut kantor dan pabrik mereka di bom, takut bepergian dan lain sebagainya. Ketika masyarakat tidak maksimal dalam menjalankan aktifitas mereka—karena dihantui rasa ketakutan—akan mengakibatkan kemerosotan ekonomi. Hal ini tentu membawa dampak negatif bagi seluruh lapisan masyarakat. Merosotnya bisnis kerajinan tangan yang dikirim ke Bali secara drastis pasca tragedi Bom Bali, adalah salah satu contoh bagaimana terorisme mematikan pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada masalah perut orang banyak. Oleh sebab itu, memerangi terorisme haruslah melibatkan seluruh komponen bangsa, tak terkecuali media.

 

 
Mengapa di tingkat internasional terorisme cenderung meningkat, apa penyebabnya?

Karena akar masalah dari terorisme internasional belum selesai, yaitu kelompok Alqaeda dan belum tertangkapnya Osama bin Laden. Pemboman di London dan WTC yang terjadi beberapa waktu yang lalu dikaitkan dengan kelompok Alqaeda. Benar atau tidaknya berita ini kita tidak tahu persis, karena sumber berita yang kita dapat hanya dari Barat. Tapi yang jelas, terorisme di dunia internasional semakin meningkat.

Amerika dianggap sebagai sponsor utama dalam memerangi terorisme, bagaimana menurut anda?

Amerika bisa kita katakan “leader” dalam memerangi terorisme dan Amerika juga mengklaim dirinya sebagai “leader” dalam memerangi terorisme internasional. Atas dasar inilah Amerika merasa berhak memberitahukan dan mengajarkan negara lain, bahkan mendikte, bagaimana cara suatu negara memerangi terorisme. Termasuk ketika Amerika menekan Indonesia untuk melakukan hal ini atau hal itu dalam memerangi terorisme di Indonesia. Tapi sayangnya, di sisi lain banyak pihak yang tidak puas dengan Amerika, bahkan mereka benci pada Amerika, contohnya masyarakat Irak. Di Irak bom meledak bisa dikatakan setiap jam, hal ini menunjukkan ketidaksenangan sebagian kalangan masyarakat Irak atas keterlibatan Amerika terlalu jauh masalah negeri Irak.

Bukankah kebijakan George W. Bush di Irak juga ditentang oleh sebagian masyarakat Amerika?

Benar, bahkan seorang senator memperingatkan George W. Bush agar segera menarik pasukan Amerika dari Irak. Menurut senator tersebut, bisa jadi pengalaman buruk kekalahan Amerika di Vietnam akan terulang kembali di Irak. Amerika, kata senator tersebut, ibarat masuk ke dalam lumpur. Semakin bergerak, Amerika akan semakin tenggelam dalam kubangan lumpur.

Tadi anda mengatakan bahwa terorisme di dalam negeri menurun, apa sebabnya?

Salah satu faktornya adalah sikap tegas pemerintah dan adanya upaya-upaya pencegahan dini yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi bom-bom kecil masih terjadi di berbagai daerah, yang menurun adalah bom-bom yang menimbulkan korban jiwa yang banyak, seperti di Bali. Dalam memerangi terorisme selayaknya antara polisi dan TNI dapat bekerja sama dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang dipunyai oleh kedua belah pihak, seperti badan intelijen, yang saya kira sangat efektif sekali untuk mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme. Ancaman terorisme di Indonesia masih sangat potensial, karena belum tertangkapnya Dr. Azhari dan Nurdin M.Top. Selama dua orang ini masih bebas berkeliaran, Indonesia masih belum aman dari ancaman terorisme. Janji yang diucapkan mantan Kapolri Da’i Bachtiar untuk menangkap Dr. Azhari dan Nurdin M.Top dalam program kerja seratus hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ternyata tidak berhasil.
Media mempunyai kepentingan bisnis, yaitu bagaimana mendapat keuntungan dari berita yang dilansir. Bagaimana caranya mensiasati agar kepentingan bisnis media tercapai, tapi tidak melupakan tanggung jawab media untuk memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada masyarakat serta membuat masyarakat dihantui ketakutan ketika memberitakan aksi-aksi terorisme?

Media dituntut hati-hati dan tidak sembarangan ketika menyiarkan sebuah berita. Mengekspos secara besar-besaran aksi-aksi terorisme tidak bagus, karena secara tidak langsung media mengiklankan para teroris. Bisnis is bisnis, boleh saja. Tapi dalam meningkatkan oplah media dituntut menjalankan tanggung jawabnya. Dalam pers kita mengenal sosial responsibility teory of the press (teori pertanggungjawaban sosial pers). Teori ini semakin banyak dianut oleh pers di seluruh dunia. sebenarnya Amerika tidak menganut teori ini. Teori ini mengatakan, “ada keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kepentingan tanggung jawab sosial.” Dalam hal ini pers, menurut saya, mutlak menjalin kerja sama dengan aparat keamanan atau kebalikannya, aparat keamanan harus merangkul media untuk bekerja sama dalam menanggulangi terorisme. Dalam ilmu komunikasi, terutama komunikasi propaganda dan perang urat saraf, diajarkan bahwa pers bisa menjadi teman yang sangat penting dalam hal ini. Pers mempunyai banyak reporter yang bisa dikatakan tersebar di seluruh daerah. Reporter ini secara tidak langsung memainkan peran intelijen.

Jadi reporter dapat digunakan oleh aparat keamanan sebagai intelijen?

Benar, para reporter dapat diberdayakan oleh aparat keamanan untuk menanggulangi masalah terorisme. Ketika seorang reporter mengetahui ada orang yang mencurigakan, jangan langsung diekspos, tapi dilaporkan kepada aparat kemananan. Ini adalah salah satu contoh tanggung jawab sosial pers. Memang sekarang ada kecenderungan media ingin cepat-cepat memberitakannya dan menjadikannya head line untuk meningkatkan jumlah oplah mereka. Akibatnya, orang yang dicurigai tahu bahwa keberadaannya sudah “diendus” oleh masyarakat. Orang tersebut tentulah akan kabur dan aparat keamanan tidak bisa menangkapnya. Jadi kepentingan bisnis hendaklah berada satu tingkat di bawah kepentingan dan keamanan nasional.

Menurut Anda, sudahkah antara pers, polisi, dan bahkan mungkin dengan lembaga intelijen negara, menjalin kerja sama sampai pada tingkat ideal seperti yang telah Anda sebutkan?

Belum, masih sangat jauh dari kondisi ideal. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu faktor yang dominan adalah tidak adanya kepercayaan di kedua belah pihak. Polisi tidak percaya kepada pers dan merasa takut kepada pers, dengan asumsi jika polisi berhubungan dengan pers, maka rahasia mereka akan dibongkar oleh pers. Begitu juga dengan pers, mereka tidak percaya informasi yang mereka sampaikan kepada polisi akan ditindaklanjuti atau hanya diletakkan dalam laci meja. Sikap seperti inilah yang harus dihancurkan dan mulai membangun trust building (membangun kepercayaan) antara kedua belah pihak.
Dengan cara apa kita membangun “trust building” antara pers dan aparat kepolisian?

Dengan mengadakan banyak komunikasi dan dialog. Misalnya, polisi mengajak makan para pimpinan redaksi, yang intinya ingin mengetok hati sanubari insan pers agar membantu polisi. Polisi harus menjelaskan kepada pers bahwa mereka bekerja demi kepentingan bangsa dan negara dan untuk itulah polisi meminta kesadaran dari pers untuk membantu kinerja aparat kepolisian. Saya kira, dengan senang hati pers akan membantu polisi. Sebagai imbalan atas dukungan pers membantu kinerja kepolisian, hendaknya aparat kepolisian juga membantu media dan tidak menghalangi media ketika akan meliput berita. Jadi harus ada kerja sama.

Apa contohnya berita yang dimuat oleh pers memberikan dampak negatif bagi penanggulangan aksi terorisme?

Katakanlah ketika media mencium bahwa polisi sedang mengintai seseorang karena diduga sebagai kelompok teroris, kemudian hal ini di muat di surat kabar atau media elektronik. Media memuat beritanya. Dampak negatifnya adalah jika benar bahwa yang diintai polisi adalah seorang teroris, maka dia akan “ngacir” sebelum aparat sempat menangkapnya. Ini adalah salah satu contoh dampak negatif ketika media memuat berita tanpa bekerja sama dengan aparat keamanan. 

Jadi berita yang dimuat oleh media yang pada dasarnya bertujuan membuat masyarakat waspada menjadi kontra produktif?

Benar, bahkan cenderung berita yang dimuatkan menjadi boomerang efeck. Hal ini disebabkan karena pers terlalu tergesa-gesa dalam memuat sebuah berita, dan payahnya lagi, berita yang dimuatnya belum tentu benar, seperti ancaman bom di gedung-gedung. Hal ini sangat dilematis, ketika media mendengar ancaman bahwa suatu gedung akan diledakkan, media tidak mungkin diam. Media berusaha mengabarkan kepada orang agar berhati-hati dan tidak menjadi korban dari ledakan bom tersebut, tapi ketika berita itu disebarluaskan hasilnya adalah suasana ketakutan yang melanda di masyarakat. Dalam hal ini media secara tidak langsung turut membantu para teroris mencapai tujuan, yaitu membuat ketakutan dan kecemasan di masyarakat untuk satu tujuan politis. Para teroris tentu akan sangat senang sekali, sebab meskipun mereka tidak meledakkan bom, tujuan mereka telah tercapai dengan bantuan media. Jadi insan pers harus bijak menyikapi hal ini, hendaklah ancaman peledakan suatu gedung tidak dijadikan head line, tapi cukup berupa kolom kecil di halaman belakang karena ancaman tersebut selama ini hanyalah isapan jempol semata.

Pengadilan terhadap pelaku bom Bali, yang dimuat oleh media, seolah-olah menggambarkan sosok innocent (tanpa dosa) dari para tersangka bom Bali. Pers menyiarkan gambar para teroris saat mereka tersenyum. Hal ini tentu saja menarik simpati hati masyarakat pada mereka. Dalam hal ini bagaimana seharusnya peran media mengarahkan opini masyarakat secara objektif?

Kalau saya menjadi pimpinan redaksinya, saya akan meng-cut hal tersebut, karena akan menimbulkan simpati di kalangan masyarakat terhadap teroris, terutama masyarakat yang masih awan dan rendah pengetahuannya. Kenapa di saat mereka tersenyum dan tertawa diekspos oleh media, sehingga menggambarkan seolah-olah mereka tidak bersalah dan berdosa. Justru kebalikannya, ketika para teroris diekspos dengan wajah tersenyum dan tertawa, mereka akan dianggap oleh masyarakat adalah pahlawan. Inilah salah satu contoh kekurangan tanggung jawab sosial media, dan ini sangat berbahaya sekali karena bisa menjadikan seorang teroris menjadi pahlawan.

Apa penyebab terjadinya terorisme internasional?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita melihat ke belakang. Salah satu penyebab pokok akar masalah terorisme internasional adalah konflik berdarah di Timur Tengah tidak pernah kunjung usai, konflik ini telah terjadi selama puluhan tahun, antara kaum Yahudi dan warga Palestina. Adanya ketidakadilan politik bagi warga Palestina merupakan pemicu terorisme. Sebenarnya Amerika menyetujui seratus persen bahwa Palestina adalah negara merdeka yang mempunyai wilayah dan pemerintahan sendiri. Tapi sayangnya, orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat ekstrim, mereka menentang secara mati-matian berdirinya negara pelestina. Banyak orang-orang Islam mendukung sepenuh hati berdirinya negara Palestina, sementara di lain pihak, banyak negara Barat yang memback-up orang-orang Yahudi. Inilah yang menjadi sumber kekecewaan umat Islam kepada Barat secara umum, dan sebagian dari kalangan umat Islam menyampaikan kekecewaannya melalui jalan terorisme.

Bagaimana dengan pendapat sebagian kalangan Barat yang mengidentikkan terorisme dengan Islam?

George W. Bush berkali-kali menyatakan bahwa terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam, bukan Islam yang terlibat. Tapi kebetulan para teroris itu menganut agama Islam. Tugas pemerintah dan aparat keamanan adalah mensosialisasikan bahwa terorisme tidak berhubungan dengan agama Islam, terorism hasn’t nothing to do with Islam (Islam tidak punya kaitan apa-apa dengan terorisme). Terorisme tidaklah pantas disandingkan dengan Islam, karena Islam itu adalah agama damai.

Dalam perkembangan terorisme, kita mengenal istilah state terorism. bisakah anda menjelaskan secara panjang lebar?

State terorism adalah terorisme yang dilakukan oleh suatu negara kepada masyarakat atau negara lain. Pelaku terorisme bukanlah individu atau kelompok, tapi negara juga bisa melakukan tindakan terorisme. Negara yang dituduh sebagai state terorism tentulah kebakaran jenggot dan berusaha menyangkal mati-matian bahwa negaranya tidak melakukan tindakan terorisme kepada negara lain.

Siapakah yang berhak menindak negara yang dikategorikan sebagai state terorism?

Harusnya PBB lah yang melakukan hal ini. Tapi permasalahannya, PBB mampu atau tidak melakukan hal ini. Kalau kita lihat, rupanya PBB belum mampu menjalankan tugas ini akibat dominasi negara-negara Barat yang memegang hak veto di PBB. Sekarang ini banyak kekecewaan yang menumpuk kepada PBB, rakyat Indonesia juga merasakan hal yang sama. PBB dianggap tidak objektif ketika memutuskan suatu masalah. Hal ini dapat kita maklumi karena PBB berhadapan dengan “raksasa-raksasa.” Hal ini sangat dilematis.

Bagaimana terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat?

Terorisme yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, dalam konteks Indonesia, tujuannya bermacam-macam. Ada yang ingin membasmi judi, narkoba, prostitusi dan lain-lain. Sebenarnya hal ini bagus dan harus kita dukung, pemerintah harus juga mendukung hal ini. Tapi permasalahannya janganlah hal itu dilakukan melalui cara-cara kekerasan. Di Indonesia ada juga kelompok masyarakat yang ingin menegakkan syariat Islam. Mereka berpendapat bahwa tujuan mereka adalah tujuan yang suci dan sesuai dengan ajaran Islam, tapi kenapa mereka harus dilarang. Permasalahannya, yang membuat kita tidak setuju dengan mereka, adalah mayoritas bangsa Indonesia sudah menyatakan bahwa masalah ini telah selesai pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang silam. Masalah ini telah diselesaikan oleh para founding father kita, janganlah hal ini diungkit-ungkit lagi karena masalahnya tidak akan pernah habis-habis dan akan menimbulkan masalah baru bagi bangsa ini. Kalau ide tentang penerapan syariat Islam kita ungkit-ungkit lagi, mungkin Sulawesi Utara dan orang-orang Batak akan memerdekakan diri, keutuhan negara kita terancam jika isu penerapan syariat Islam diungkit lagi.

Bagaimana anda melihat peran Indonesia dalam memberantas terorisme internasional?

Indonesia lemah posisinya di mata internasional, kalau Indonesia ingin berperan dalam kancah internasional, Indonesia harus bisa mengurus dirinya sendiri. Selama Indonesia masih belum bisa mengurus dirinya sendiri, seperti masalah keamanan, selamanya Indonesia tidak akan berperan dalam kancah politik internasional. Jangankan di PBB, dalam Asean pun kedudukan kita lemah. Berbeda pada zaman Soeharto, pada zaman itu kita secara tidak langsung dianggap sebagai ketua dari Asean. Hal ini disebabkan karena figur Soeharto yang bisa menciptakan kestabilan politik dan kemajuan ekonomi. Jadi kita harus objektif dalam melihat Soeharto dan Orde Baru. Janganlah kita menganggap bahwa Orde Baru itu buruk semua, ada sisi-sisi positif dari Orde baru yang patut kita hargai dan kita teruskan.  Dalam era Soeharto, Indonesia bisa kita katakan relatif sangat aman. Tidak ada pembakaran masjid dan gereja, berbeda dengan saat sekarang. Hal ini disebabkan karena sikap tegas Soeharto dalam mengelola negara.

Tapi permasalahannya, ketegasan yang dipraktekkan oleh Soeharto cenderung pada otoritarianisme!

Saya selalu teringat dengan ucapan nyonya Indhira Gandhi, mantan Perdana Menteri India dan anak dari Nehru, mengatakan “untuk bangsa yang miskin tidak berpendidikan, demokrasi liberal tidaklah cocok.” Hal ini dikatakan oleh Indhira Gandhi setelah ia memimpin India.

 

Apa sistem yang cocok diterapkan pada bangsa yang miskin dan rakyatnya tidak berpendidikan?

Tetaplah kita menganut sistem demokrasi, tapi janganlah “kran” demokrasi dibuka terlalu lebar. Dalam setiap kesempatan saya mengatakan, demokrasi di Indonesia sudah kebablasan. Lihat misalnya Pilkada, keributan terjadi di mana-mana, hal ini terjadi karena rakyat Indonesia pada umumnya belum bisa menerima kekalahan. Jangankan dalam konteks Pilkada, dalam pertandingan sepak bola kita selalu ribut. Para sporter dari pendukung yang kalah membuat keributan dengan membakar gedung dan merusak fasilitas umum. Ini tandanya bahwa masyarakat kita masih belum bisa menerima kekalahan. Oleh sebab itulah saya mengatakan bahwa masyarakat Indonesia masih belum siap untuk berdemokrasi. Saya sewaktu dalam Komisi Konstitusi dan sebagian besar teman-teman saya mengatakan bahwa Amandemen UUD 45 sudah kebablasan sekali. Demokrasi kita terapkan secara bertahap, tidak sekaligus.

Bagaimana mengembalikan demokrasi yang kebablasan sekarang ini menjadi demokrasi yang cocok dengan kondisi riil masyarakat Indonesia saat ini?

Pemimpin bangsa ini memainkan peranan yang sangat penting, terutama presiden dan wakil presiden serta elit-elit politik. Artinya harus ada ketegasan dari mereka dan hukum harus ditegakkan. Bukan rahasia lagi, bangsa kita adalah salah satu bangsa yang terkorup di dunia dan penegakan hukumnya paling buruk di dunia. Ini berdasarkan laporan khusus Sekjen PBB yang datang empat tahun lalu ke Indonesia melakukan riset mengenai penegakan hukum di Indonesia. Jadi Susilo Bambang Yudhoyono harus tegas dalam menindak orang-orang yang melanggar hukum, kalau hal ini tidak dilakukan, apalah artinya demokrasi. Demokrasi dan penegakan hukum ibarat kakak beradik. Anda tidak bisa bicara tentang demokrasi kalau penegakan hukumnya amburadul. Lemahnya penegakan hukum di Indonesia adalah bibit-bibit yang mengancam keamanan di negeri ini.

Ketika negara menerapkan sebuah kebijakan yang merugikan rakyatnya, apakah bisa kita katakan bahwa ini adalah bentuk terorisme negara terhadap rakyatnya?

Bisa juga, sumber utama terorisme adalah masalah Timur Tengah. Kemudian sumber yang kedua adalah masalah ketidakadilan. Masyarakat yang selalu ditindas dan diperlakukan secara tidak adil secara terus-menerus akan cenderung memberontak. Jangankan manusia, semut pun jika diinjak dia akan memberontak. Karena mereka yang ditindas, setelah sekian tahun lamanya, tidak mempunyai kekuatan untuk secara terbuka menyatakan diri memberontak kepada negara dengan menggunakan kekuatan senjata, mereka akan menggunakan jalan terorisme. Terorisme dilakukan karena segala jalan dan cara untuk menyatakan ketidakpuasaan kepada negara mereka semuanya tertutup dan tidak ada jalan lain kecuali melalui jalan terorisme.

Bagaimana kita menyikapi masalah terorisme ke depan?

Terorisme menyebabkan rasa takut dan tidak aman pada seluruh lapisan masyarakat. Cara menanggulangi terorisme haruslah dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, terutama peningkatan kualitas aparat kepolisian dan intelijen; kerja sama aparat kepolisian dengan badan-badan intelijen; kerja sama polisi dengan media; elit politik tidak hanya memikirkan kursi kekuasaan semata, tapi juga memikirkan nasib rakyat, dan lain sebagainya. Semua ini akan memperkecil peluang bagi lahirnya tindakan terorisme.
Tanya Jawab :

I. Edi (Jakarta Barat).
Apakah pemimpin yang tidak menyiapkan generasi penerusnya bisa kita katakan baik, seperti Soeharto dan Soekarno?

Yang perlu saya tegaskan, tadi saya tidak dalam memuji Soeharto. Tapi saya ingin katakan adalah bahwa pemerintahan Soeharto tidak semuanya jelek. Dan menurut saya pemimpin yang tidak menyiapkan generasi (regenerasi-red) penerusnya adalah pemimpin yang jelek. Tapi saya kira Soeharto sudah menyiapkan generasi penerusnya, yaitu Habibie, tapi karena keenakan duduk di kursi kepresidenan dia menjadi lupa diri. Kelemahan Soeharto yang paling parah adalah merebaknya virus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di negeri ini. Semua anak-anak Soeharto menguasai seluruh jalur bisnis di negeri ini. Kemudian tentang Soekarno, sebenarnya Soekarno telah menyiap secara diam-diam Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan darat Waktu itu, tapi sayangnya hal itu tidak kesampaian karena meletusnya peristiwa berdarah yang kita kenal dengan sebutan G 30 S PKI.

II. Kade Karyana ( Bali ).
Saya setuju dengan statement Anda yang menyatakan bahwa Islam tidak boleh dikaitkan dengan terorisme. Tapi sangat disayangkan, para pengacara yang menjadi pembela tersangka Bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dkk, menamakan diri mereka sebagai “Tim Pembela Muslim”. Itu yang saya tidak setuju. Kemudian yang menjadi pertanyaan kami, sebagai masyarakat Bali, kapan eksekusi mati dilakukan kepada mereka para pelaku Bom Bali? Karena kami masyarakat Bali merasa jengah dengan statement mereka yang menyatakan bahwa mereka sah saja melakukan pembunuhan di Bali karena membunuh musuh mereka, yaitu Amerika. Tapi kenapa harus Bali? Yang menjadi korban adalah orang-orang Bali, bukan orang Amerika. Bahkan korban dari Bom Bali ada juga yang Muslim. Yang patut disayangkan juga, tidak ada tokoh agama (Islam-red) yang menetralisir ketika Imam Samudra meneriakkan suara yang berdimensi agama (allahu akbar-red) yang membuat seolah-olah tindakan mereka dibenarkan oleh agama, kecuali Amien Rais yang menyatakan bahwa mereka adalah kurang ajar.

Lembaga yang disebut Lembaga Pembela Muslim (Tim Pembela Muslim-red) banyak dikecam orang pada waktu itu karena membawa nama Muslim, padahal terorisme tidak ada hubungannya dengan orang-orang Islam. Kemudian tentang masalah tidak ada tokoh agama yang secara tegas mengecam terorisme, memang saya kira ini kurang sekali. Tidak banyak tokoh-tokoh agama yang secara tegas, di antara tokoh NU dan Muhammadiyah yang tampil ke muka mengecam masalah terorisme. Kalau di Muhammadiyah mungkin yang maju mengecam terorisme adalah Amien Rais dan dari NU Abdurrahman Wahid. Padahal NU dan Muhammadiyah, yang kita kenal sebagai organisasi moderat, sebenarnya bisa memainkan peran yang penting dengan mengecam para pelaku tindakan teorisme. (Sebenarnya tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah pernah mengeluarkan pernyataan besama yang mengecam terorisme, bahkan Muhammadiyah beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mengecam aksi terorisme, ada yang berbentuk pernyataan dan ada yang berbentuk dokumen tertulis-red)

III. Seno ( Yogyakarta ).
Dalam hukum fikih dikatakan bahwa memberontak kepada negara adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah Swt, maka saya menghimbau kepada orang-orang Aceh (GAM) untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Marilah kita jaga keutuhan republik ini dan selayaknya pemerintah memperlakukan sama setiap suku dan agama, tidak ada diskriminasi karena perbedaan suku dan agama. Berbicara mengenai Islam dan terorisme, Islam adalah agama damai dan mengajarkan perdamaian, ia tidak menganjurkan pemeluknya untuk membunuhi orang. Saya kira orang yang mengatasnamakan Islam ketika melakukan aksi terorisme mereka sebenarnya tidak mengetahui esensi dari ajaran Islam. Bagaimana menurut Anda?

Dalam konsep negara kesatuan, jika ada suku yang disakiti semestinya semua suku yang lain merasakan hal yang sama. Inilah yang dinamakan dengan wawasan nusantara, bahwa orang Aceh merasa memiliki Irian Jaya, Sumatera, Jawa dan lain sebagainya. Begitu juga dengan masyarakat lain, mereka merasa memiliki daerah di Indonesia yang terbentang luas. Jadi saya tidak berkomentar banyak karena pada dasarnya saya setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Seno, Islam tidak boleh diidentikkan dengan terorisme.

IV. Bagindo ( Jakarta ).
Saya berpendapat bahwa kehancuran Indonesia saat ini karena ulah Soeharto, bahwa Soeharto berniat mau menghancurkan negara ini selama tiga puluh dua tahun. Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah bagaimana menyelematkan pulau-pulau Indonesia agar tidak mau memerdekakan diri sebagaimana yang dilakukan oleh GAM di Aceh, karena diperkirakan tahun 2020 Indonesia akan hilang.

Saya tidak sependapat kalau dikatakan bahwa Soeharto mau menghancurkan negara ini. Tapi kalau Soeharto mempunyai kelemahan dalam bidang HAM dan KKN, hal itu memang bukan rahasia lagi. Kalau tadi dikatakan bahwa tahun 2020 Indonesia akan hilang, saya sedikit banyak sependapat. Saya pernah menulis yang mempertanyakan eksistensi NKRI sepuluh tahun mendatang. Kalau menurut saya, prediksi yang menyatakan bahwa Indonesia akan hilang di tahun 2020 bukan karena Soeharto, tapi karena diri kita sendiri yang setelah era reformasi kita lepas kendali. Saya teringat nasehat salah seorang tokoh di Cina kepada Mikhail Gorbachev. Mikhail Gorbachev pada bulan Juni tahun 1989 datang ke Beijing dan bertemu dengan tokoh tersebut. Tokoh Cina tersebut kira-kira memberikan nasehat seperti ini, “tuan, jangan kran demokrasi dibuka seluas-luasnya, bertahaplah. Yang jelas kami tidak mau mengikuti negara anda”. Ternyata betul, membuka kran demokrasi selebar-lebarnya, dari negara yang diktator komunis menjadi negara yang menerapkan demokrasi liberal. Hasilnya, dalam jangka waktu beberapa tahun Uni Soviet telah lenyap dari peta dunia. Uni Soviet digantikan dengan 16 negara berdaulat. Saya khawatir Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan Uni Soviet jika demokrasi dibuka selebar-lebarnya (sedangkan masyarakat Indonesia masih belum siap untuk berdemokrasi-red). Saya tertarik dengan wawancara Bapak Amien Rais di Metro TV. Dia memberikan warning kepada pemerintah agar berhati-hati dengan Aceh dan masalah MOU yang dibuat di Helsinki, Aceh jangan sampai lepas. Kalau Aceh sampai lepas, akan berlaku teori “Domino”. Hampir bisa dipastikan, jika Aceh lepas dari pangkuan republik, berikutnya adalah Papua. Sehari setelah MOU Helsinki di buka, di Papua terjadi demontrasi yang menyatakan “Otsus no, referendum yes”. Jadi dampak politisnya akan terasa dari Sabang sampai Merauke, mudah-mudahan pemerintah berusaha mempertahankan mati-matian NKRI.

V. Arifin ( Jakarta ).
Saya kira bapak bagindo tadi terlalu berlebihan dalam menilai Soeharto. Soeharto tidaklah sejelek itu, dunia menghargai Soeharto, ia sempat datang ke Bosnia di tengah berkecamuknya perang. Dan hal itu dianggap sebagai keberanian yang luar biasa dari Soeharto. Soeharto juga berjasa bagi bangsa ini, kemajuan ekonomi yang telah dibangunnya hendaklah jangan kita lupakan begitu saja. yang ingin saya tanyakan di sini adalah bagaimana pandangan Anda atas masalah Aceh, adakah konspirasi internasional di sana?

Saya termasuk orang yang sangat khawatir setelah membaca isi MOU tersebut. Misalnya, Aceh berhak menentukan suku bunga sendiri dan semua perjanjian yang dibuat oleh pusat harus ditinjau kembali atas persetujuan legislatif Aceh. Jadi saya melihat isi MOU tersebut banyak bertentangan dengan prinsip-prinsip dari negara kesatuan. Tapi janganlah kita terlalu khawatir, kita percayakan saja kepada pemerintah. Mengenai adanya konspirasi internasional dalam masalah Aceh, memang bangsa Indonesia harus berhati-hati. Sebab negara-negara Barat tidak senang kalau Indonesia menjadi negara yang kuat. Kalau Indonesia kuat, maka merupakan ancaman bagi negara-negara tertentu, yang tidak dapat kita sebut namanya di sini. Kenapa, karena Indonesia sangat potensial menjadi negara yang sangat kuat, sumber alam kita melimpah ruah. Jadi Indonesia mempunyai sumber untuk bisa menjadi negara yang kuat. Kalau negara kita kuat, ada ketakutan dari negara-negara Barat karena mayoritas penduduk bangsa Indonesia adalah Muslim. Kemungkinan adanya konspirasi internasional memang ada, dan di sinilah dituntut kehati-hatian pemerintah. Mengenai Soeharto, saya kira kita harus objektif melihat dia. Kita harus menghargai sisi baiknya tapi juga kita jangan lupakan sisi negatifnya.

VI. Oskar ( Jakarta ).
Dalam Panca Krida disebutkan, Krida kelima, menyempurnakan dan membersihkan aparatur negara. Apakah ini benar-benar dilaksanakan atau tidak? Yang kedua masalah hutang luar negeri kita. Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh bapak bagindo tadi, bahwa penyebab ambruknya ekonomi Indonesia dimulai dari zaman Soeharto di mana hutang luar negeri lebih besar dari jumlah pembangunan di negeri ini. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Masalah yang menimpa Indonesia belum kunjung selesai, saya kira karena kita tidak terlalu serius membenahi aparat pemerintahan kita agar bersih dari KKN. Di samping itu juga masalah yang kita hadapi saat ini sangat rumit dan ruwet akibat dari akumulasi masalah-masalah yang tidak diselesaikan dari tahun ke tahun. Masalah Indonesia sudah berkarat sehingga susah sekali ditanggulangi, seperti pemberantasan korupsi yang mudah diucapkan tapi sangat susah dipraktekkan. Dalam masalah utang luar negeri, pada tahun 2001, saya dan Sri Mulyani, yang sekarang menjadi Ketua Bappenas, berbicara di depan peserta kursus di Lemhannas. Pada waktu itu Sri Mulyani mengatakan bahwa selama dua puluh tahun lagi pun Indonesia tidak bisa melunasi hutang. Setelah lengsernya Soeharto mengeluarkan SUN (Surat Utang Negara). SUN kalau kita lihat, kita ibaratnya gali lobang tutup lobang. Total hutang Indonesia sekarang ini berjumlah tujuh ribu triliun. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Bapak Oskar, kita “aneh bin ajaib” karena total hutang kita lebih besar dari nilai total pembangunan kita. Hal ini terjadi karena banyak diantara pemimpin bangsa ini menjadi pencuri kelas tinggi. Saat ini kita hanya mampu membayar bunga hutang kita, sehingga anak cucu kita yang akan terus menanggung hutang yang dibuat oleh kita. Inilah fakta yang sangat memprihatinkan kita. bagaimana menyelesaikan hal ini, saya kira tidak ada orang yang dapat menjawab dengan singkat dan ini membutuhkan penelitian yang sangat mendalam.

Terima kasih Bapak Tjipta Lesmana sudah meluangkan waktu bersama kami, mudah-mudahan dilain waktu dan kesempatan kita dapat berjumpa kembali.

Sama-sama, sampai ketemu lagi

Permalink 1 Comment

Surat Terbuka Buat orang Batak (semua Batak..agar mereka tahu apa yg terjadi)

October 5, 2008 at 11:50 pm (Uncategorized)

SURAT TERBUKA KEPADA OKNUM PARHALADO HKBP

Josua Manurung's picture

Kepada yang sungguh tidak terhormat, 

OKNUM PARHALADO HKBP

yang tidak tahu Malu!!! 

 

Parhalado ataupun Majelis Gereja adalah salah satu jabatan kunci yang memegang peranan penting dalam kehidupan Gereja beserta pelayanannya kepada dunia. Kehidupan dan keaktifan jemaat banyak bergantung pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil oleh Sidang Parhalado yang terhormat.

Tolong dicamkan itu! Ingat baik-baik! Sebagai tua-tua Gereja bukan berarti kalian yang paling bijaksana… kalian yang paling pintar ataupun penuh pertimbangan…. kalian menjadi lupa diri… dan gila hormat… aktualisasi diri Maslow yang keliru… kalian seperti keledai yang berbangga diri ketika orang-orang mulai bersorak dan memuji…. kalian tidak sadar kalian sedang ditunggangi TUHAN YESUS… segala pujian dan hormat hanya bagi KEMULIAAN BAPA saja…. jangan curi Kemuliaan TUHAN… semuanya… SEMUANYA untuk TUHAN YESUS…. untuk apa semuanya itu… bukankah untuk menyenangkan Hati TUHAN…  bukan untuk menyenangkan hati kalian sendiri… karena kalian tidak sadar dan lupa…. kalian terkecoh iblis dengan LATE, ELAT dan TEAL..  IRI, BENCI,DENGKI… buat apa semuanya itu dipertahankan….

Kepada oknum PARHALADO… lalu apakah dengan gelar sampai mati itu… St. ( Sintua ) itu karena hasil belajar setahun…  kalian merasa bangga? Duduk petantang-petenteng di Ruang Konsistori…. Datang terlambat… Komplain jika teh manis kurang manis… AC ruangan kurang dingin… vokal sevokal-vokalnya… sampai ada oknum PARHALADO yang berani berkata kurang ajar dan ingin menjedutkan kepala Bapak Pendeta ke kursi…. BANGSAT KALIAN!!! Pendeta itu pilihan ALLAH yang Hidup! Bahkan Daud tidak berani membunuh Saul… walaupun dia tahu dia yang akan menjadi raja Israel nantinya…. Daud hanya memotong ujung jubah Saul ketika Saul tertidur… karena Daud menganggap… Saul sudah diurapi TUHAN ALLAH…. Jadi jika Pendeta salah, ajak ngobrol empat mata tidak perlu sebarkan kertas pengumuman fitnah kemana-mana… kalian seharusnya tahu itu! Tapi kalian seperti orang-orang Farisi dan Saduki yang hanya ingin menang sendiri… dan menjatuhkan orang lain tanpa ada hati…..

Jika ada masalah, mari selesaikan dengan kepala dingin… bukankah titel-titel kalian sudah PROF. DR. Ir… MM, MH… tidak diajarkan apa di kampus dulu… atau yang belinya gelar kalian itu…. malu aku melihat kalian bertengkar… bahkan sampai masuk TV… pakai jas, pakai dasi… dorong-dorongan di pagar dan saling mencaci…. yang di hutannya kita… sedangkan si tarzan sama monyet-monyetnya di hutan saja tidak seliar itu… APA NANTI KATA DUNIAA???

Seharusnya syarat-syarat menjadi Parhalado/Majelis diperketat… Gideon saja menentukan syarat… tidak hanya orang yang  mau terbeban saja… atau meluangkan waktu saja… atau mencari kegiatan sampingan saja…. tapi mempunyai hati yang bersungguh-sungguh melayani TUHAN dan sesama…  seperti orang Samaria yang baik hati…. seperti Simon dari Kirene… seperti  Janda dari Sarfat…. seperti Rahab di Yerikho…. TULUS MURNI!  Kalau tidak bisa… ya di rumah saja… nonton TV  dan sinetron-sinetron gombalnya atau ke LAPOTUAK… minum bir dan tuak, bernyanyi dan main kartu sampai pagi… daripada menjadi Oknum Parhalado yang  tidak dewasa,  tidak  bijaksana dan berpolitik praktis di Gereja….

 

Sungguh, jangan anggap gampang posisi PARHALADO/MAJELIS… ! 

Peringatan keras bagi para Oknum Parhalado!

 

still…

BIG GBU! 

hai hai's picture

Kemarahan Yang Penuh Kasih

Setelah membaca tulisan ini, saya jadi ingat kisah Tuan Yesus ngamuk di Bait Allah. Kemarahan yang penuh kasih. Saya ikut sedih dengan apa yang terjadi di gereja HKBP. Walaupun tidak tahu pasti apa yang menjadi inti keributan itu, namun menurut saya semuanya harus diselesaikan dengan cara yang lebih bijaksana.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

JANGAN SOK PINTAR

Dear manurung,

Jangan sok pahlawan kamu amang, kamu pikir dengan menyebar tulisan itu disini kamu sudah berbuat baik? siapa bapak mu?
menepuk air didulangan, dasar dasar = tempurung! menepuk air didulangan.

BERKACA DULU KAMU!!!!!

erick's picture

Amang uda,

Amang uda,

Setahu ku parhalado itu sekumpulan orang, bukan nama perorangan.

Sedangakan Manurung itu marga, kalau kamu panggil dia disini dengan sebutan marganya, maka kamu memanggil semua marga manurung!, apa lagi pakai Amang segala. Tia-ati!!!!! Keturunan batak memiliki pertalian marga yang kamu tidak bisa sembarang panggil. Amang uda nanti dimarah marga Manurung baru tahu rasa.

Jangankan Admin, blogger disini bisa liat IP kamu.

Kalimat terakhir amang uda sangat kasar:

BERKACA DULU KAMU!!!!!

Kalau amang uda menjabat sebagai seorang dari parhalado, pasti amang uda terkena sanksi dari peraturan dan aturan HKBP.

Darimana kata kasar itu?

Hargailah orang lain. Disini kamu harus menghargai Josua Manurung sebagai seorang yang menulis diblognya.

Blog itu milik dia!

Apa dasar kamu komen sekasar ini?

Orang kristen itu berdamai dengan orang lain.

 

istifar

Saya cuma bisa ngelus dada, istifar…istifar

Doa untuk permurnian kembali apa itu gereja Yuk!

JM menulis:

Kepada oknum PARHALADO… lalu apakah dengan gelar sampai mati itu… St. ( Sintua ) itu karena hasil belajar setahun… kalian merasa bangga? Duduk petantang-petenteng di Ruang Konsistori…. Datang terlambat… Komplain jika teh manis kurang manis… AC ruangan kurang dingin… vokal sevokal-vokalnya… sampai ada oknum PARHALADO yang berani berkata kurang ajar dan ingin menjedutkan kepala Bapak Pendeta ke kursi…. BANGSAT KALIAN!!! Pendeta itu pilihan ALLAH yang Hidup! Bahkan Daud tidak berani membunuh Saul… walaupun dia tahu dia yang akan menjadi raja Israel nantinya…. Daud hanya memotong ujung jubah Saul ketika Saul tertidur… karena Daud menganggap… Saul sudah diurapi TUHAN ALLAH…. Jadi jika Pendeta salah, ajak ngobrol empat mata tidak perlu sebarkan kertas pengumuman fitnah kemana-mana… kalian seharusnya tahu itu! Tapi kalian seperti orang-orang Farisi dan Saduki yang hanya ingin menang sendiri… dan menjatuhkan orang lain tanpa ada hati…..

(Satu yang selalu mama bilang ke anak-anaknya, “Gereja adalah orangnya”. Orang yang ada di dalam gereja, berdosa)

Doa untuk permurnian kembali apa itu gereja Yuk!

Ulah's picture

OH ….. OKNUM PARHALADO HKBP

Ini masih menggambarkan bagaimana kepemimpinan itu terjadi. Jabatan gerejawi masih merupakan posisi yang perlu mendapat fasilitas, dan bukan menjadi fasilitator. Tidak hanya di HKBP saja…. saya masih sering temukan juga adanya “oknum pendeta” yang menganggap vikaris atau evangelis sebagai “saingan” dan bukan sebagai rekan sekerja. Inilah sebagian potret kekristenan di Indonesia yang perlu di”pertobat”kan.

anakpatirsa's picture

Mungkin ini tidak nyambung

Waktu duduk di sekolah dasar, beberapa kali aku ikut menonton teman-teman berkelahi. Biasanya perkelahian tidak akan terjadi di kelas, tetapi terjadi di hutan kecil di belakang sekolah. Perkelahian bisa dilakukan waktu jam istirahat, atau sepulang sekolah — tergantung perjanjian.

Biasanya kami membentuk lingkaran, lalu kedua anak yang akan berkelahi akan saling berhadapan di tengah-tengah kami. Tidak banyak variasi dalam perkelahian. Adu tinju hanya akan berlangsung sebentar, karena keduanya akan saling memegang dan menjatuhkan. Dalam beberapa detik pertandingan tinju akan berubah menjadi pertandingan gulat — tanpa wasit dan tanpa senjata tajam.

Hanya sekali aku melihat seseorang berbuat curang, ia menggosokan minyak angin di mata lawannya. Perkelahian langsung berhenti ketika anak yang matanya kena minyak angin menangis sekeras-kerasnya. Lalu anak yang main curang ikut mengangkat lawannya ke sungai. Anak yang matanya tidak bisa dibuka ini kami ceburkan supaya matanya yang pedih sembuh. Lalu kami menghabiskan waktu berenang di sungai, termasuk kedua anak yang tadinya berkelahi.

Sampai sekarang aku kadang-kadang suka melihat orang berantem. Sepertinya merupakan sebuah hiburan tersendiri. Itulah mungkin penyebab kenapa aku menyukai film laga.

Kemarin, ketika sedang menontont televisi sambil dipijat, ada sebuah berita di televisi. Berita tentang dua kelompok jemaat yang saling dorong-mendorong di pintu pagar gereja. Sebuah pemandangan yang menurutku cukup asyik. Sudah lama tidak melihat orang benar-benar berantem.

Aku tidak terlalu memperhatikan apa penyebab acara saling mendorong di depan gereja ini. Sepertinya kelompok yang ada di dalam gereja tidak memperbolehkan kelompok yang di luar untuk masuk. Sekilas aku mendengar kalau kelompok di luar akhirnya menyanyikan lagu gereja di luar. Tetapi akhirnya mereka diijinkan juga untuk masuk. Lalu pembaca berita di televisi berkata kalau kebijaksanaan ini malah tidak membuat keadaan lebih baik, karena suasana makin ricuh.

Cukup asyik juga melihat orang-orang berjas dan berdasi saling mendorong pagar gereja. Satu pihak mau membuka gereja supaya bisa masuk, satu pihak ingin menguncinya supaya orang yang mau masuk tidak boleh masuk.

Menonton orang berantem di depan gereja merupakan hiburan tersendiri bagiku. Aku jadi ingat waktu masih SD, ketika sebuah persoalan harus diselesaikan dengan bogem mentah. Sebuah hiburan tersendiri.

jesusfreaks's picture

RISE OF MARTYRS

Dear Brother Josua,

kebetulan gw hkbp juga…
bokap gw guru huria (one of my role model atau salah satu teladan gw gitu), dari pagaran sampai jadi ressort.
lalu pindah ke pagaran kecil lagi, mungkin ada benarnya yang lo bilang, sehingga bokap gw mulai secara “tersirat” mundur dari pelayanan. kalau dapat jatah pelayanan, dia masuk gereja hkbp tersebut, kalau tidak dia pergi ke gereja lain. dan semua parhalado & jemaat tahu itu. tentu saja dengan harapan kita semua intropeksi diri.

gw baca 2 buku tentang martyr, ada 2 hal yang buat gw salut mengenai cara hidup mereka.
1. kata-kata mereka yang beresiko tapi penuh kasih
2. tindakan mereka yang beresiko tapi penuh kasih

gw setuju dengan pernyataan lo, tapi jangan digeneralkan.
lagian hkbp itu ladang yang besar loh, untuk dituai, dengan asumsi mereka “disesatkan” oleh kelakuan parhalado ataupun pdt ataupun jemaat.

gw juga yakin di gereja lain terjadi penyelewengan2, hanya saja bentuknya lebih halus, tidak vulgar.

gw salut dengan sikap lo ini, gw harapkan lo bisa jadi the next marthin luther.
ini usul gw,
1.`lo kumpulin orang yang sepaham dengan lo, dimulai dari warga hkbp. (gw boleh lah lo rekrut)
2. lalu bekerja sama membuat dalil-dalil yang menentang doktrin ataupun kelakuan para parhalado & jemaat. (minta bantuan hai-hai, John A, dennis s juga boleh, mereka ahlinya)
3. berdasarkan dalil-dalil tersebut lo buat surat terbuka yang penuh kasih ke semua gereja hkbp didunia. tentu saja atas nama lo dan teman-teman lo. biar kalau di keroyok, sakitnya gak sendirian.
4. konsisten sampai titik darah penghabisan. ngeri ya… tapi worthed.
5. mungkin ini saatnya suatu gerakan baru lagi…, namanya apa ya… usul : MARTYR
6. gw tunggu koordinasi lo…

Jesus Freaks,
“Live X4J, die as a martyr”

hai hai's picture

Perbarui HKBP, Perbarui Jemaatnya Dulu

Saya bukan anggota HKBP, walaupun waktu di Yogya dulu sering ikut kebaktiannya, terutama pada saat saksang tersedia melimpah. Saya bukan orang Batak, walaupun ada sebuah keluarga yang menganggap saya layak mencantumkan marga keluarga itu.

Apa yang sedang terjadi di HKBP? Kita tahu, semuanya dimulai karena tidak sepakat ketika memilih siapa untuk duduk di mana. Namun nampaknya itu bukan masalah sebenarnya. Menurut saya, masalah sebenarnya ada pada kebudayaan dan cara berpikir para jemaatnya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada saudara-saudara kita di HKBP, bahkan JesusFreaks sudah menceritakan kisah bokapnya. Itulah yang menjadi inti permasalahannya. Dalam pemikiran kebanyakan jemaat HKBP, mereka menganggap sekali mendaki ke atas tidak boleh turun lagi.

Apa yang harus dilakukan oleh generasi muda HKBP untuk mengatasi masalah di gerejanya adalah dengan mengubah cara berpikirnya. Kongzi (551-470) mengajarkan:

Kongzi berkata, “Seorang Junzi menetapkan hati untuk tiga hal; Waktu muda ketika jiwa raganya (xieqi) belum stabil, ia tidak membiarkan diri terjebak dalam asmara. Ketika dewasa, jiwa raganya membaja, ia tidak membiarkan diri terjebak masalah kekuasaan, di usia tua, jiwa raganya mulai lemah, ia tidak membiarkan diri menjadi tamak. Lunyu XVI:7 – Li Shi

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

OKNUM PARHALADO BERMASALAH

Saya setuju sekali dengan perkataan saudara Josua, walaupun tidak semua Parhalado yang “bermasalah”.
Tapi seperti halnya di tempat saudara Josua, di Gereja saya juga yang berada dikota Bogor mengalami kejadian yang serupa. bukan hanya Parhalado tapi semua ini disebabkan oleh seorang Pendeta (PENDETA RESORT).
Pada awalnya kejadian ini sudah mucul semenjak 1-2 tahun yang lalu, tapi lama kelamaan hampir semua huria/jemaat tidak menyukai sifat dan perilaku Pendeta tersebut yang tidak bijaksana, egois, serakah, dan lain sebagainya.
Misalnya aja
1. Kendaraan operasional gereja yang seharusnya digunakan untuk misi gereja tapi digunakan untuk keperluan pribadi anak pendeta tersebut. sedangkan Ina (ibu-ibu) yang mau menggunakan untuk kunjungan (melaksanakan misi gereja) tidak pernah diperkenankan untuk menggunakannya.
2. Pendeta hanya mau berkotbah/memimpin kebaktian ditempat yang lebih besar “hamulateon”nya (“ucapan terima kasih”).
Dan masih banyak lagi kejadian yg membuat Jemaat gereja kami muak dengan Pendeta tersebut. Tetapi pendeta tersebut tidak ambil pusing dikarenakan ia di”bekingi” (dilindungi) oleh seorang Parhalado yang merasa PALING KAYA diantara Jemaat Gereja kami.
Akhirnya pada bulan Agustus 2007, sebagian parhalado dan tua-tua digereja kami mengajukan kepada pusat untuk memindahkan Pendeta tersebut dari gereja kami.
Tapi dikarenakan pengaruh yg kuat dr Parhalado (yg merasa paling kayak itu), Mutasi Pendeta kami itu tidak pernah terlaksana dikarenakan belum ada keputusan dari EPHORUS HKBP.
Puncaknya pada tanggal 25 Desember 2007… setelah kami melaksanakan PERJAMUAN KUDUS, kami mengadakan rapat dengan seluruh jemaat yang kebetulan dihadiri oleh Bpk Pareses (saya ga tau namanya).
Namun karna semua jemaat meminta kepada Pareses supaya Mutasi Pendeta tersebut segera dilaksanakan, Parhalado yg merasa paling kayak itu malah memulai membuat keributan dan sempat terjadi perkelahian dengan Jemaat (tua-tua) yg lain. untung para Naposo masih bisa menahan kesabaran dan berusaha memisahkan kedua belah pihak.
NAmun apa yg dikatakan Pareses melihat kejadian itu…. “Karena saya tak punya kekuatan, semua masalah ini akan saya tampung dan saya bicarakan dengan Pusat. Jsdi semua ini akan kita pending dulu. (dengan menggunakan Bahasa Batak).
Lalu selama ini… Pareses kemana aja? apa sebelumnya (dr Bulan Agustus) ga pernah dibicarain dengan Pusat?
Perlu untuk diketahui. Akibat kehadiran dari Pendeta ini:
1. Setiap kali Pendeta itu mau memimpin kebaktian di gereja kami, sebagian besar Jemaat (100% NHKBP) tidak ada yg datang/hadir. yg masuk hanya orang2 tua bgt yg ga tau lagi kmana mereka akan beribadah kalo ga disini karna mereka hanya bisa bhsa batak & orang2 pendatang (cuma sekali-sekali) yg ga tau menau dengan masalah ini.
2. Guru Minggu yang awalnya berjumlah 7 orang, berkurang menjadi 1 orang (itu juga karna dia “anak buahnya” Parhalado yg merasa paling kayak itu).
3. Sebagian anak sekolah minggu pindah gereja.
4. Jemaat yg berkompeten digereja kami (pemimpin koor) pada mengundurkan diri dari gereja kami.
LALU… APA YG HARUS KAMI LAKUKAN COBA?????
Bagi yg ingin mengetahui keadaan kami lebih jelasnya, e-mail saya di “edu_ard_13@yahoo.com”
Terima kasih.
GBU

Josua Manurung's picture

Lihat TUHAN… jangan lihat mukanya…

Jangan mundur dari kebaktianmu…
katakan padaku…
untuk siapa kau pergi ke Gereja…
untuk mendengarkan Firman Tuhan Yang Hidup
bukankah kita harus mengasihi musuh kita?
saya sendiri saksinya…
saya tetap menyalami
setiap parhalado yang vokal….
karena saya tahu…
mereka juga ada dalam Rencana TUHAN
ke arah yang lebih baik…
bukankah hidup kita juga sebuah proses?

BIG GBU!

Jemaat HKBP

Segala sesuatunya ada waktu, demikianlah kita sbg jemaat gereja yang didengungkan gereja terbesar, sehingga kita dininabobokkan oleh hembusan Ac, bahkan keinginan untuk mendengar khotbah yang selalu membuat kita besar, sehingga kita lupa Tuhan itu hidup dan maha bisa dan berkuasa, bila menurut kita ada banyak masalah ditubuh HKBP, sebagai jemaat jangan terlalu asyik tidurnya mari berkarya, mengemban tugas kita sebagai jemaat, jangan hanya menunggu pelayanan tetapi jadilah pelayan, menimal melayani para pelayan melalui doa, agar Allah yang kita sembah menerangi dan memberi petunjuk bahkan kekuatan buat para pak Pendeta HKBP, bahkan mempersembahkan waktu kita dan tenaga kita untuk menyingsikan lengan baju didalam kekudusan, sehingga HKBP akan diberkati dan memberi buah yang lebih manis lagi, kepada bangsa pilihan Allah bahkan juga dapat memanggil orang-orang yang belum percaya, teimakasih atas peransertanya, membuat surat terbuka ini, semoga perhatian kita ini memperlihatkan kecintaan kita kepada HKBP sebagai rumah Allah, dan biarlah apa yang kita buat ini, diberkati menjadi pohon yang menghasilkan bah demi kemuliaan nama Tuhan kita, amin.

Mari mencari akar permasalahan

Tuhan…. apa rencanaMu bagi kami jemaat HKBP, sehingga engkau memberi jemaat yang dapat melihat karakter parhalado/ Pendeta yang bagaikan harimau yang mengaum ? apakah ini pertanda engkau mengasihi orang batak ? aku tahu yang Tuhan Elat, late, teal, toal, hosom sulit untuk kami lepaskan, seakan sifat itu sangat mencintai kebatakan kami, bahkan kami sering melihat selumbar dimata orang lain namun kami tidak melihat tiang besar dimata kami ?, sehingga penglihatan kami itu seakan menjadi cermin bagi kami ? bila itu ya Tuhan kami bersyukur kepadaMU… karena saya tahu Tuhan ingin menyadarkan kami, karena bila parhalado/Pendeta terlihat demikian bagi kami, berarti sebesar tiang ingin engkau tunukan bagi kami, itu wujud kecintaanMu bagi kami, kami tahu engkau tidak menghendaki orang batak semakin jatuh kelobang kenistaan, berilah kami kekuatan, bahakn pakailah kami sebagai alatMu, sehigga melalui kami engkau dapat bercahaya, sehinga kematianMu bagi kami tidak siasia, bagi pembaca yang budiman, kalau kita mencintai rumah Tuhan janganlah sekaLI-KALI MENINGGALKANNYA, karena pada saat ruwet Tuhan inginkan kita melakukan sesuatu demi kebaikan, janganlah habis manis sepah dibuang, karena murka Tuhan akan hadir bagi kita, terimakasih.
kami tidak menginginkan gambaran masalah digereja yang kita cintai ini, dimanapun gereja itu berdiri, tetapi marilah memperbaikinya, melalui perbuatan yang tulus dan kudus, bahkan minimal didalam doa, karena ada perkataan “kita bukanlah untuk menceritakan kekurangan siapa-siapa karena kita bukanlah pemberita iblis tetapi ceritakanlah sesuatu yang dapat membuat orang bertemu dengan Allah, karena kita diutus dan disuruh untuk memberitakan berita sukacita/Injil keseluruh dunia demi kemuliaan Allah. terimakasih Tuhan memberkati kita, amin.

jesusfreaks's picture

PERGILAH BERIBADAH DI TEMPAT LAIN !!!

Dear ALL HKBP mania,

saya masih jemaat HKBP walaupun tidak beribadah di HKBP.
ayah saya sekarang mantan Wakil Guru Huria.
ayah saya pernah merintis satu gereja dari mulai di rumah hingga menjadi ressort. bahkan gereja saya itu pencetus Pendeta Ressort pertama wanita.

saya tidak bisa menyalahkan seseorang, entah itu parhalado, bahkan jemaaat sekalipun bisa berulah di HKBP. semua tergantung hati masing-masing dihadapan TUHAN.

orang tua saya, batak totok, hkbp mania. pokoknya kalau gak gereja di HKBP kayaknya gak ke gereja.

tapi selama digereja di HKBP selalu bersungut-sungut dengan tingkah si inilah si itulah. saya bilang buat apa ke gereja kalau tidak damai, buat apa ke gereja kalau tidak menikmati hadirat TUHAN.

sampai akhirnya saya usulkan untuk gereja ke HKBP lain atau gereja lain.
awalnya berat, tapi lama-kelamaan mereka lebih enjoy.
memang sih, harus meninggalkan pelayanan. kami tetap terdaftar dalam HKBP tersebut dan membayar semua kewajiban. tapi kami condong beribadah ditempat lain.

kesimpulan :
jikalau Anda jemaat di gereja yang bermasalah, siapkan diri Anda untuk tetap beribadah, tanpa sungut-sungut, tanpa hilang kedamaian, tanpa kehilangan hadirat TUHAN.

jikalau Anda bersungut-sungut, atau hilang kedamaian, atau hilang kenikmatan hadirat TUHAN.
PERGILAH BERIBADAH DITEMPAT LAIN.

IBLIS BEKERJA DENGAN CARA HALUS UNTUK MEMBUAT PENYEMBAHAN KITA TIDAK DALAM ROH DAN TIDAK DALAM KEBENARAN

PENYEMBAHAN DENGAN SUNGUT-SUNGUT TIDAK BERKENAN DIHADAPAN TUHAN.
PERGILAH BERIBADAH DI TEMPAT LAIN!!!
PENYEMBAHAN TANPA KEDAMAIAN TIDAK BERKENAN DIHADAPAN TUHAN.
PERGILAH BERIBADAH DI TEMPAT LAIN
PENYEMBAHAN TANPA KENIKMATAN HADIRAT TUHAN TIDAK BERKENAN DIHADAPAN TUHAN.
PERGILAH BERIBADAH DI TEMPAT LAIN!!!

Orang tua saya, saya & keluarga sudah melakukannya.
DAN SUNGGUH LUAR BIASA, KAMI MENYEMBAH DENGAN PENUH SUKACITA.

Jesus Freaks,
“Live X4J, die as a martyr”

JF pindah gereja ?

Wah,

JF kayaknya oma kurang setuju dengan saranmu untuk pindah ke gereja lain, jika menghadapi masalah digereja tempat kita beribadah.

Oma juga sering mengalami hal seperti yang kamu alami, misalnya gak cocok sama si anu, atau si itulah, pindah kemanapun lama-kelamaan kita akan ketemu lagi sama orang yang kita tidak cocokin.

Sekarang sebenarnya siapa yang perlu dibenahi?, diri kita, hati kita, karakter kita, atau tempat kita? Masak kita ikut Tuhan hanya kalau ada sukacita saja, jadi inget kotbah ” muda foya2, tua kaya raya, mati masuk surga” atau ” hidup didunia yang sehat walafiat dan diberkati dengan harta, mati juga tetep masuk surga”

Jadi kesannya kalau yang enak2 dan baik2 aku menyembahmu Tuhan, kalau sulit, susah, menderita, aku pindah tempat dulu ya Tuhan. Lha apa gunanya Tuhan Yesus menderita dikayu salib, para murid n para rasul menderita agar banyak orang beroleh keselamatan, sesuai dengan Amanat Agung T Yesus.

Maaf ya JF,

Oma memang bukan berasal dari HKBP, tapi oma juga ada di gereja yang pelayannya sering ruwet, kalau oma gak pindah gereja karena oma sadar bahwa ikut Tuhan Yesus itu memang banyak tantangannya, betul2 harus mengosongkan diri, membuang harga diri, biarkan Tuhan yang memimpin setiap langkah kita.

Oma pernah menangis berhari-hari karena pelayanan oma dicela, diremehkan, digosipkan, bahkan oma seolah disingkirkan karena seseorang yang mengincar pelayanan oma.

Untuk sementara oma tidak melayani, tapi tetap datang ke gereja tsb untuk menyembah Tuhan dengan mengabaikan tatapan bertanya-tanya, dari para hamba Tuhan atau sdr2 seiman yang lain, kalau mereka bertanya kenapa tidak lagi melayani? oma jawab “istirahat dulu”.

Tapi sekarang oma sdh bisa melayani lagi. Dan Tuhan mengembalikan semuanya bahkan lebih dari yang kita harapkan. Jadi segitu saja dulu ya JF, semoga kamu dan keluarga mau kembali untuk memperbaiki yang kurang di gereja yang lama.

Tuhan Yesus Memberkati.

jesusfreaks's picture

Wah OMA gak baca syarat pindahnya…

Dear OMA,

oma sepertinya hanya membaca sekali blog saya ya.
ayo oma baca sekali lagi, bukankah ada syaratnya untuk beribadah di tempat lain.

saya juga tidak bicara soal pindah gereja, saya bicara soal pindah IBADAH.

ayo oma baca lagi…

Oma kan tidak bersungut-sungut, oma kan tetap merasa damai, oma kan tetap menikmati ibadah. NGAPAIN PINDAH IBADAH ?

maksud saya, kalau oma bersungut-sungut, kalau oma merasa gak damai, kalau oma merasa tidak menikmati ibadah. MENDINGAN PINDAH IBADAH SAJA ?

ayo oma renungkan lagi, maafkan cucumu yang lancang mengajarimu.

Jesus Freaks,
“Live X4J, die as a martyr”

Ya, JF . . . Sebenarnya

Ya, JF . . .

Sebenarnya oma sdh baca semua, tapi oma terlalu fokus ke pergilah ibadah ditempat lain” itu idem dengan pindah gereja” he . . he . . he,  kebetulan  oma bacanya agak terburu-buru takut terlambat pergi, maaf ya JF.

Hal ini oma takutkan mempengaruhi pengunjung awam untuk seenaknya saja pindah2 gereja, oma agak alergi dengan orang yang tidak setia.

Mudah2 an jawabanmu meluruskan kesalah pahaman ini.

Gpp kok oma memang seneng belajar, jadi kalau diajarin lebih seneng lagi, apalagi kalau yang ngajarin anak2 muda yang energik.

Makasih JF, oma sering membaca tulisanmu, n sangat memberkati, memberi warna yang beda.

GBU sungguhan ya.

Josua Manurung's picture

banyak tukang bubur ayam…

banyak tukang bubur ayam… dengan rasanya yang berbeda-beda dengan pelayanan-nya yang berbeda-beda…. dengan ramai tidaknya pembeli… tapi saya selalu kembali ke tukang bubur ayam langganan saya di pojok pasar Klewer…. karena di situlah rumah saya…
seperti kata YESUS… tidakkah kalian tahu Aku harus berada di Rumah Bapa-KU…

selamat Pra-Paskah…

BIG GBU!

yth anak2 Tuhan (josua manurung)

seharusnya tegoran anak2 Tuhan bukan begitu caranya sayang,sebelum membuat suatu langkah/tindakan harap berdoa terlebih dahulu,mohon petunjuk dari Dia agar hasilnya sungguh bijaksana,mari bicara langsung dgn parhalado yg bersangkutan yg sepantasnya hrs bagaimana,sebab parhalado tsb adalah ciptaan Tuhan juga siapa tahu dia hilap,gumulkan dlm doa sebab tiada yg mustahil bagi-Nya,jgn sekali-kali andalkan diri/pikiran maupun kekuatan bahaya pasti hasilnya tdk baik dan buat kamu tdk akan ada hasilnya,malah merugikankan untuk itu andalkan Tuhan selalu dlm setiap langkah maupun tindakanmu. selamat ber-aktivitas Tuhan Yesus memberkati.

jesusfreaks's picture

PRINSIP KASIH

Pertama-tama cintailah ALLAHmu,
selanjutnya cintailah dirimu & orang lain.

demikianlah prinsip cinta.

jika kamu harus memilih cinta mana yang harus didahulukan antara ALLAH dan dirimu/orang lain.

Dahulukanlah cinta kepada ALLAH.

Jesus Freaks,

“Live X4J, die as a martyr”

Josua Manurung's picture

Parhalado yang sebenarnya…

Kepada Parhalado Yth,

Semoga anda tidak menjadi salah satu oknum parhalado yang seperti saya sebutkan di atas…
Jika Parhalado ingin disebut sebagai orang suci di Gereja… lebih baik tidak usah repot-repot menjadi Parhalado… karena semua jemaat itu namanya parhalado… cuma yang ada di konsistori itu namanya Parhalado Partohonan…

masalah bapak saya tidak usah ditanya… tanyakan saja pada rumput yang bergoyang…

Lalu Gereja kita ingin membangun Gedung pertemuan seharga 6 milyar… bukan saya pesimis bapak parhalado yang terhormat… tapi bukankah YESUS sendiri berkata kita harus sehati dan sepikir… baru semuanya jadi…

bagaimana mau sehati-sepikir… kalau dalam rapat Parhalado yang didengarkan hanya yang oknum itu-itu saja… senioritas tinggi… yang muda yang tidak didengarkan… lalu sekarang kalian mau menutup Kebaktian sore… dengan alasan Tarif Dasar Listrik akan naik… dengan alasan jemaat yang datang tidak samapi seratus… sehingga uang kolekte tidak bisa menutupi uang listrik dan ac… BUSSEEETTT… kalian ini berpikir secara “Parhalado” atau BusinessMan ?

bagaimana mau sehati-sepikir… jika ada yang mengeluarkan pendapat akan dikritik habis-habisan sampai bisa berkelahi… parhalado antar parhalado… itu bukan rahasia umum lagi di Gereja kita toh… lalu apa solusinya….

Inilah solusi dari saya:
1. Harus ada Guru Huria seperti dahulu yang memimpin dan membimbing para Parhalado…

2. Setiap Parhalado yang hanya memberikan waktu sisa-sisa nya saja lebih baik cuti atau tidak usah mencantumkan nama… itu bisa dilihat dari daftar kehadiran dan keterlambatan…

3. Parhalado sebagai JANTUNG Gereja wajib mempunyai pelayanan di luar lingkungan Gereja… agar mengerti apa itu pelayanan yang sesungguhnya… misalnya… ikut ke Bantar Gebang melayani anak-anak pemungut sampah di sana, mengajak naposo atau remaja untuk berpelayanan di panti asuhan, panti werda atau membuat bakti sosial…

4. Keluarga-keluarga yang ada dalam pengasuhan Parhalado per wilayah wajib diketahui, dikunjungi dan dibantu permasalahannya… misalnya… keluarga mau bercerai, anaknya terlibat narkoba, anaknya putus sekolah, jemaat jarang ke Gereja… bukankah Parhalado itu sudah dibagi per wilayah… jadi kenapa jemaat kita hanya tahu kalau mereka meninggal saja…

5. Repot… ?

Tidak usahlah jadi Parhalado kalau tugas-tugas diatas satu nomerpun tidak terpenuhi…
Jadi parhalado biasa saja seperti saya… orang-orang di balik layar yang berusaha menyukseskan setiap acara-acara Gereja dengan baik… tanpa perlu dipermuliakan atau disanjung-sanjung… ada lagunya itu:

DIA harus semakin bertambah
ku harus semakin berkurang…
Nama YESUS saja disembah
ku di tempat paling belakang
Bila Yesus ditinggikan dan Salib-Nya diberitakan
pasti DIA menarik semua orang
datang kepada-Nya sekarang…

Selamat menjadi Parhalado yang sesungguhnya…

SELAMAT PASKAH SEMUANYA….

BIG GBU!

Permalink Leave a Comment

Sejarah HKBP

October 5, 2008 at 11:39 pm (Uncategorized) (, , , , , , , , , , )

 

 

.: History

 Sejarah HKBP

HKBP sebagai salah satu gereja dengan jemaat terbesar di Asia dan merupakan wadah persekutuan umat Kristen dari suku Batak yang memiliki dinamika di dalam sejarah perkembangannya dari masa ke masa. Dengan berakhirnya krisis HKBP dan penyatuan kembali jemaatnya kiranya dapat menjadi pemacu untuk pelaksanaan pelayanan dan pekabaran Injil bersama-sama dengan jemaat Tuhan lainnya, agar semua suku, kaum dan bangsa yang berada di wilayah Indonesia dan di seluruh dunia mendapat baptisan di dalam nama
Allah Bapa, PuteraNya Yesus Kristus dan Roh Kudus.
 

1825 – 1829

Perang Bonjol : Tuanku Rau menyerang bangsa Batak

1834

Datangnya Pdt. Munson dan Pdt. Lyman utusan Kongsi Zending Amerika (Boston), tetapi mereka berdua tewas terbunuh di Lobupining. 

1840

Junghun, seorang antropolog datang ke tanah Batak. Melalui kedatanagannya orang Eropa dapat mengenal orang Batak.

1824

Penginjil yang pertama datang ke tanah Batak, yakni Burton dan Ward

1849 

Tuan Van der Tuuk dari Amsterdam – Belanda, utusan Kongsi Bible Netherland yang merupakan pembuka (perintis) jalan untuk pelayanan zending kepada suku Batak. Beliau menterjemahkan sebagian isi Alkitab ke dalam Bahasa Batak, menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak – Belanda beserta cerita-cerita rakyat. 

1853

Akibat perlakuan yang tidak simpatik dari suku Banjarmasin terhadap pendeta, maka Dr. Fabri  pimpinan  dari Rheinische Zending – Belanda memutasikan para pendeta dari Banjarmasin ke Tanah Batak, setelah membaca surat yang datang dari Tanah Batak tentang pekabaran Injil yang baru dirintis di Tanah Batak.

1857 

Pdt. Van Asselt dari Ermelo-Belanda, utusan Ds. Witteveen, melakukan pelayanan di Tapanuli di Desa Pardangsina (Selatan)

31 Maret 1861

Sebagai tanda diterimanya pekabaran Injil di Tanah Batak dimulai dengan adanya baptis perdana yang dilakukan oleh Pdt. Van Asselt terhadap dua orang suku Batak (Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar) di Sipirok.

7 Oktober 1861

Pelayanan Rheinische Mission dari Jerman dimulai di Tanah Batak dan merupakan hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris, Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt membicarakan pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.

1862

Berdirinya Jemaat di Sarulla dan Pangalaon Pahae

20 Mei 1864

Pdt. I. L. Nommensen membangun gedung di dusun Dame I yang terletak di Desa Saitnihuta Ompu Sumurung, kemudian dinamakannya Godung Huta Dame.

29 Mei 1864

Pdt. I. L. Nommensen mengadakan kebaktian minggu pertama di Godung Huta Dame, dan meresmikan gereja pertama yang dibangunnya di Tanah Batak, yaitu HKBP Saitnihuta (Huta Dame Saitnihuta) dan HKBP Pearaja (Kedua gereja ini satu kepanitiaan dalam merayakan Pesta Jubileum. Pada tanggal 20 Mei 1964, HKBP Pearaja merayakan Pesta Jubileum ke 100 tahun, tetapi untuk selanjutnya, tanggal 29 Mei merupakan tanggal resmi Pesta Jubileum yang akan dilakukan oleh kedua gereja ini).

25 Des 1864

Pembaptisan Pertama kepada 3 orang di Gereja Sipirok, yaitu Thomas Siregar, Pilipus Harahap dan Johannes Hutabarat.

27 Agustus 1865

Pembaptisan Pertama kepada 13 orang  di Silindung

1867

Berdiri jemaat HKBP Pansurnapitu

1868

Berdiri Sekolah Guru di Parau Sorat Sipirok: Murid pertama berjumlah 5 orang, yaitu: Thomas, Paulus, Markus, Johannes dan Epraim. Guru mereka adalah Dr. A.Schreiber dan Leipold

1870

Permulaan berdirinya Jemaat di Sibolga dan Sipoholon

1872

- Berdiri Sekolah Normal Pemerintah di Tapanuli Selatan

- Berdiri Jemaat di Bahal Batu

1877

Berdiri Seminarium di Pansurnapitu, jumlah murid pertama 12 orang

1878

- Pdt. I. L. Nommensen menerjemahkan Injil ke Bahasa Batak dalam aksara Batak dan aksara Latin.

- 306 Desa di Lembah Silindung masuk dalam pemerintahan Kolonial Belanda

1879

Pdt. Dr. A. Schreiber menterjemahkan Perjanjian Baru kedalam bahasa Batak Angkola

1881

- Diresmikan HKBP di Balige.
– Penyusunan Aturan Dasar dan Aturan Rumah Tangga HKBP, dan 
Pdt. Dr. I. L. Nommensen diangkat menjadi Ephorus HKBP

1883

Sekolah Pendeta Pertama dibuka dan 4 orang putera Batak pertama untuk Sekolah Pendeta, yaitu : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution dan Johannes Sitompul. Tetapi, Johannes Sitompul wafat sebelum menyelesaikan studinya. 

19 Juli 1885

Pemberkatan Pendeta Batak yang pertama di HKBP Pearaja, yakni : Johannes Siregar, Markus Siregar, Petrus Nasution.

13 Juli 1889

Diutus RMG Nona Hester Needham (23 Januari 1885 – 12 Mei 1897) melayani kaum ibu dan wanita. Ini menjadi awal pelayanan kepada kaum wanita dan anak-anak di Tanah Batak. Pelayanan Nona Hester Needham dibantu oleh Nona Thora di Silindung dan Nona Nieman di Toba.

1 Jan 1890

Terbit Surat Parsaoran Immanuel (Jurnal Gereja)

8 Januari 1890

Dimulai Nona Hester Needham melayani anak-anak, kaum perempuan di Pansurnapitu, serta turut membimbing murid-murid Sekolah Pendeta di Seminari Pansurnapitu.

1893

Sekolah Zending mendapat subsidi dari Pemerintah

1894

Perjanjian Lama di terjemahkan ke dalam Bahasa Batak oleh  Pdt. P.H. Johannsen

16 Juli 1895

Nona Hester Needham ditemani seorang gadis Mandailing, Domi, mengadakan perjalanan ke Muarasipongi Kotanopan.

3 Mei – 26 Juli 1896

Nona Hester Needham melayani di Malintang, menginjili di tengah-tengah penganut agama lain di Mandailing Nametmet.

Juli, Nona Hester Needham melayani di Maga hingga akhir hayatnya, serta di makamkan di tanah yang telah dibelinya sebelumnya.

1898

Terbit untuk pertama kalinya Kalender Gereja

1899

Dimulai “Pardonaion Mission Batak” yang didirikan orang Kristen Batak serta dipimpin Pdt. Henock Lumbantobing menginjili di daerah yang belum disentuh Injil, yakni: Pulo Samosir, Simalungun dan Dairi.

1900

Berdiri Sekolah Anak Raja dengan pengantar Bahasa Belanda di narumonda Toba. Guru Pohing dan Pdt. Otto Marcks. Sekaligus berdiri di tempat yang sama Sekolah Tukang.

2 Juni 1900

Berdirinya Rumah Sakit di Pearaja, yang di tahun 1928 pindah ke Tarutung (RSU Tarutung Sekarang)

5 Sep 1900

Berdiri Perkampungan penderita Kusta di Huta Salem Laguboti.

1901

Seminari Pansurnapitu pindah ke Sipoholon

1903

- Pemberitaan Injil ke Tanah Simalungun dimulai.

- Sekolah anak Raja di Narumonda menjadi Seminarium

- 7 Oktober Pesta Peringatan Kekristenan yang pertama di Tanah Batak.

1907

Berdiri Jemaat di Pematangsiantar

27 April 1908

Hari lahirnya Jemaat di Sidikalang.

1911

Berdiri Distrik di HKBP, yakni : Tapanuli Selatan (dh. Angkola), Silindung, Humbang, Toba (termasuk Samosir), Sumatera Timur (Simalungun – Ooskust).

1912

Pendeta HKBP Pertama di tempatkan di Medan

1917

“Hatopan Christen Batak” berdiri di Tapanuli sebagai organinasi masyarakat.

23 Mei 1918

Pdt. Dr. I.L. Nommensen meninggal dunia di Sigumpar

1918

Pdt. V. Kessel menjadi Pejabat Ephorus hingga tahun 1920

1919

Holland Inland School (HIS) Zending berdiri di Narumonda

1920

Pdt. Dr. J. Warneck  dipilih menjadi Ephorus HKBP.

1922

- Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Jakarata

- Guru Jemaat HKBP pertama di tempatkan di Padang

-  20 Juni: Sinode Agung (Sinode Godang) I di HKBP

3 Des 1923

- Dimulai pelayanan diakonia di Hepata

1927

- Berdiri MULO Kristen di Tarutung

- Pelayanan kepada kaum Muda yang dipimpin Dr. E. Verwiebe. Pada Juni 1952 dalam rapat Pemuda di Sipoholon ditetapkan menjadi NHKBP, dan menjadi awal minggu kebangkitan NHKBP (Parheheon)

1930

Berlaku Aturan Gereja (AD dan ART) yang baru.

11 Juni 1931

HKBP diakui pemerintah dengan Badan Hukum (Rechtperson) No. 48, yang tertulis di Staatsblad Tahun 1932 No. 360

1932

Pdt. P. Landgrebe dipilih menjadi Ephorus.

1934

-Berdiri Sekolah Tinggi Teologia di Jakarta, utusan HKBP yang pertama adalah : T.S.   Sihombing, K. Sitompul, O. Sihotang dan P.T. Sarumpaet.

- Pendeta HKBP pertama di tempatkan di Kutacane, Tanah Alas.

-Berdiri Sekolah Bibelvrouw (Penginjil Wanita) di Narumonda yang dipimpin Zuster Elfrieda   Harder. Tahun 1938 Sekolah ini pindah ke Laguboti.

1935

Pentahbisan Bibelvrouw yang pertama

1936

Pdt. Dr. E. Verweibe dipilih menjadi Ephorus.

1940

- 10 Mei semua Pendeta Jerman yang melayani di HKBP dipenjarakan Pemerintah Belanda

- Bulan Mei s/d Juli Ds. de Kleine menjadi Pejabat Ephorus.

- 10-11 Juli : Sinode Godang, Pdt. K. Sirait dipilih menjadi Voorzitter (Ephorus ) yang pertama dari Pendeta Batak.

1942

- Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi Ephorus.

- Tanggal 25 Nopember berdiri Distrik Samosir

- Distrik Jawa Kalimantan berdiri

1945

Kemerdekaan Republik Indonesia

1946

- 2 Februari : Berdiri Distrik Dairi.

- Sekolah Guru Huria (SGH) dibuka kembali  di Seminarium Sipoholon

1947

Berdiri kembali Sekolah Pendeta di Seminarium Sipoholon

1950

- 4 Nopember : Berdiri Sekolah Teologia Menengah di Sipoholon

- Pdt. Justin Sihombing dipilih kembali menjadi Ephorus HKBP dan Ds. K. Sitompul menjadi Sekretaris Jenderal melalui Sinode Godang.

1951

- Universitas Bonn menganugerahkan gelar “Doktor Honoris Causa” kepada Pdt. J. Sihombing.

- 29 Nopember : Beridiri Distrik Sibolga dan Medan Aceh.

- Ditetapkan Sinode Godang Konfesi HKBP

- Berdiri Percetakan HKBP di Pematangsiantar

1952

- Berdiri SMA dan SGA di Tarutung

- HKBP menjadi Anggota LWF (Lutheran World Federation)

1954

- Pdt. B. Marpaung diutus Zending Batak menginjili di Pulau Mentawai

- 7 Oktober : Peresmian Universitas Nommensen di Pematangsiantar, sekaligus perpindahan Pendidiakan Teologia dari Seminarium Sipoholon ke Pematangsiantar.

- Nopember : Berdiri Distrik Toba Hasundutan.

- 15 Desember Penyerahan Rumash Sakit HKBP dari Pemerintah  ke HKBP.

1955

- 13 Februari :  Berdiri Panti Asuhan Elim di Pematangsiantar

- 25 Agustus :  Berdiri Sekolah Puteri di Sipoholon

1957

- 17 Maret :  Kirchentag (Kebatian Raya) di Pematangsiantar

1959

Pdt. Justin Sihombing dipilih menjadi kembali Ephorus HKBP dan Ds. T.S. Sihombing menjadi Sekretaris Jenderal. .

1961

-Berdiri Sekolah Tekhnik di Pematangiantar

- 7 Oktober : Jubileum 100 tahun HKBP di Tarutung

1962

- 3-7 Oktober :  Sinode Godang Istimewa di Seminarium Sipoholon

- Ds. T.S. Sihombing dipilih menjadi Ephorus dan  Ds. G.H.M. Siahaan menjadi Sekretaris Jenderal.

- Ditetapkan Aturan Peraturan (Ad & ART) yang baru.

1963

- Konferensi Kerja HKBP yang pertama.

- 1 September : HKBP Melepaskan HKBP Simalungun menjadi Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS).

- Awal dari Penginjilan di Sakai Kandis Riau.

- Kursus kaum Ibu yang pertama di Sipoholon.

1965

- 7 Februari : Peresmian Asrama Diakones HKBP “Kapernaum” di Rumah Sakit HKBP Balige.

- 9 April : Asrama Bibelvrouw di Sinaksak Pematangsiantar dimulai pemakaiannya, dan diresmikan tanggal 9 Juli 1967.

1966

- 6 Februari : Peresmian  Youth Center “Jetun Silangit”

1967

- 2 April : Peresmian Asrama Pniel di Rumah Sakit HKBP Balige

1968

- 19 Februari : Peresmian Gedung-gedung di FKIP Universitas HKBP Nommensen di Pematangsiantar.

1971

- 17 Mei : Pendidikan Diakones dibuka di Balige.

- 17 Mei : Pembaptisan pertama kepada orang Rupat (daerah Penginjilan) sebanyak 136 orang yang dilayankan oleh Pdt. A.B. Siahaan, dkk.

- 11 Desember : Peresmian Asrama Bethel dan Betania di Rumah Sakit HKBP Balige.

1972

- 28 Mei : Peresmian Perkampungan Pendeta Pensiun dan Kantor Departemen Diakonia Sosial di Pematangsiantar.

- Ditetapkan Aturan Peraturan (ADT & ART) yang baru

- 30 Desember: Berdiri Distrik Tanah Alas

1974

- Universitas Wittenberg menganugerahkan gelar “Doktor Hanoris Causa” keda Pdt. T.S. Sihombing.

- 31 Juli : Berdiri Distrik Asahan Labuhan Batu

- Pdt. G.H.M. Siahaan dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. Dr. F.H. Sianipar menjadi Sekretaris Jenderal.

- 2-3 Nopember :  Jubileum 75 tahun Zending HKBP.

1976

- 27 Januari: Peresmian Pendidikan Diakones HKBP di Balige

- 2 Agustus: HKBP memandirikan HKBP Angkola.

1978

- 23-27 Januari: Sinode Godang Istimewa di Simanare Sipoholon

- Fakultas Theologia Universitas HKBP diputuskan menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STT) HKBP.

- Pdt. P.M. Sihombing, MTh terpilih  menjadi Sekretaris Jenderal HKBP

1979

- 24 Juni: Peresmian Distrik Simarkata Pakpak

1980

- 11 Juni: Kursus Ketrampilan Pria berdiri di Parparean Porsea

- 11 Agustus: Kursus Ketrampilan Wanita berdiri di Doloksanggul

1983

- 24 Februari: Persemian Distrik Tebing Tinggi Deli

- 28 Agustus: Penahbisan Diakones Pertama di HKBP Balige

1985

- Februari: Peresmian Distrik Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel)

1986

- 27 Januari: Peresmian Auditorium HKBP di Seminarium Sipoholon

- 27 Juli: Penahbisan Pertama Pendeta Wanita di HKBP, Pdt. Norce P Lumbantoruan, STh

- 14 Agustus: Peresmian Kantor Induk HKBP di Pearaja Tarutung

1987

- 27-31 Juni: Sinode Godang ke 48

- Pdt. Dr. S.A.E. Nababan, LLD. dipilih menjadi Ephorus HKBP dan Pdt. O.P.T. Simorangkir, SmTh.  menjadi Sekretaris Jenderal.

1988

- 23 Mei: Berdiri Distrik Humbang Habinsaran

- 10-15 Nopember: Sinode Godang Ke 49 menetapkan Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan (GBKPP) HKBP

1990

- 20 – 9 Juli: Perkemahan Kerja Pemuda HKBP di Sipirok

- 10 – 15 Juli: Konferensi Pemuda di Sipirok

- 18 – 21 Juni: Konsultasi Teologia di Parapat

1991

- 9 – 12 April: Sinode Godang Ke 50

1992

- 23 – 28 Nopember: Sinode Godang Ke 51.  Ada 3 agenda di Sinode Godang ini, yaitu; Penyelesaian Kemelut HKBP, Periode Fungsionaris dan menetapkan Aturan Peraturan (AD dan ART) HKBP untuk tahun 1992 s/d 2002. Sinode berhasil memutuskan: Tim Penyelesaian Kemelut dan Aturan HKBP 1992 – 2002 (AD) tanpa Peraturan (ART). Pemilihan Fungsionaris HKBP tidak terlaksana, terjadi keributan dan perpecahan di tubuh HKBP hingga tahun 1998. 

1993

- 11 – 13 Februari: Sinode Godang Istimewa di Medan melalui undangan Pejabat Ephorus. Di Sinode ini terpilih Pdt. Dr. P.W.T. Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt. Dr. S.M. Siahaan sebagai Sekretaris Jenderal.

1994

- 29 September – 1 Oktober: Sinode Godang ke 52 menetapkan Aturan Peraturan (AD & ART) tahun 1994 – 2004.

- 23 Oktober: Peresmian HKBP Distrik Indonesia Bagaian Timur (IBT)

1995

- 16 – 17 Juni: Sinode Godang Penyatuan HKBP Simarkata Pakpak Otonom dan GKPPD

- 6 agustus: HKBP memandirikan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)

- 24 September: Peresmian HKBP Distrik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta (Jabartendy)

1996

- 17 – 22 Nopember: Sinode Godang ke 53 membicarakan Konfesi HKBP

1998

- 26 Oktober – 1 Nopember: Sinode Godang ke 54 di Pematang Siantar / Balige.

 Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpilih sebagai Pejabat Ephorus dengan tugas menyelenggarakan rekonsiliasi selambat-lambatnya enam bulan.

- 17 Nopember: Pernyataan bersama yang ditanda tangani Ephorus Pdt. D. Dr. S.A.E. Nababan, LLD dan Pejabat Ephorus Pdt. Dr. J.R. Hutauruk di Gereja HKBP Sudirman Medan, menentukan rekonsiliasi melalui Sinode Godang Rekonsiliasi tanggal 18 – 20 Desember.

- 18 – 20 Desember: Sinode Godang HKBP di Kompleks FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Pdt. Dr. J.R. Hutauruk terpeilih sebagai Ephorus dan Pdt. W.T.P. Simarmata, MA terpilih sebagai Sekretaris Jenderal

2000

- 26 Juli: Konfrensi Nasional HKBP di Convention Center Jakarta

- 21 – 24 Nopember: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon nemetapkan ” Kebijakan Dasar Pendidikan HKBP” (KDP-HKBP)

2002

- 30 September – 1 Oktober: Sinode Godang di Seminarium Sipoholon menetapkan Aturan Peratutan (AD&ART) yang baru, berlaku 1 Januari 2004, dan Distrik : Jakarta 2, Kepulauan Riau, Jakarta 3, Riau, Langkat, Wilayah Tanah Jawa, Jambi.;

 

 
 

home | about | organization | partnership | kerohanian | interaksi | resources
2003 © HKBPChurch.org – All rights reserved.
 

Permalink Leave a Comment

All about crazy Batak people.whether in religion or in in real life

October 5, 2008 at 11:33 pm (Uncategorized) (, , , , , )

By Jhon Sihotang | October 21, 2007

Saya sangat tergerak untuk menyampaikan himbauan kepada kita semua kristiani khususnya jemaat HKBP dimanapun berada untuk meluangkan sedikit dari waktunya mamanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam hal perdamaian kedua belah pihak di yang bertikai HKBP Bandung Jl.Riau.

Pesan khusus saya kepada yang bertikai, mungkin kita harus lebih mengkoreksi apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini. Kalau itu sudah saudara/i pahami, niscaya hala-hal duniawi dan segala macamnya yang membuat saudara/i bertikai tidak akan pernah terjadi.

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007

/bulan/10/tgl/21/time/133859/idnews/843073/idkanal/10

Horas!!
Jhon Sihotang
-Dulu pernah bergereja di HKBP Riau sewaktu mahasiswa

Topics: Batak, Christian, HKBP, Indonesia |

17 Responses to “Berdoa untuk HKBP Bandung Riau”

  1. ruben Says:
    October 22nd, 2007 at 4:51 pm

    Saya setuju dengan pertanyaan Bapak John Sihotang tentang tujuan hidup kita di dunia ini. Kita bergereja untuk membuat Tuhan Yesus senang. Tapi kalau pertikaian terjadi siapa yang senang. Anda tahu pasti jawabannya adalah IBLIS. Kalau anda terus bertikai berarti membuat IBLIS Senang. Saya pikir kedua belah pihak merasa diri benar dan mencari ‘kambing hitam’. Padahal kita tahu bahwa kita pengikut Kristus hanya dibenarkan oleh iman. tidak lain. Bukan upayamu membuat kamu benar. ingat itu. Kemudian saya ingin mengingatkan semua jemaat khususnya di HKBP Bandung yang sedang bertikai, Jangat kasih kesempatan pihak pihak lain memancing di air keruh. Kalau pun belum bisa bersatu yah cobalah berpisah sementara untuk mencari jalan penyelesaian yang baik. Bagi yang ingin mengalah, percayalah bahwa anda akan semakin diberkati. Jalan-jalan pelayanan yang mungkin tidak anda sangka-sangka akan ditunjukkan kepada mu. Pelayanan anda akan semakin bertumbuh di dalam Tuhan, dan anda akan semakin berbuah lalu sekelilingmu akan menikmati buahnya. Bukankah untuk itu kamu dipanggil?

  2. jsihotang Says:
    October 23rd, 2007 at 2:36 pm

    Benar sekali bos..malu kita dilihat orang lain. Ingat, masih banyak orang lain di luar sana yang bahkan tidak punya gereja. Sementara saudara sudah bagus-bagus bergiliran (kalau memang tidak mau bersama) masih komplain.

    Ingat, kedamaian kristiani mulai diusik lagi oleh orang-orang yang tidak menghendakinya..tapi saudara bahkan bangga melakukannya (

    Horas,
    -J

  3. suraja Says:
    October 23rd, 2007 at 5:50 pm

    Pertama-tama saya mengucapkan salam kenal dari Indo.

    Mengenai pertikaian tersebut memang sangat disayangkan, bahkan saya lihat di tipi pertikaian mereka makin hebat. Sayang sekali akhirnya kejadian ini benar2 terekspos ke luar.

    Seharusnya mereka malu, bahkan sangat malu dengan sikap mereka. Ntah dasar moral apa yang mereka pakai untuk membenarkan sikap mereka.

  4. Mama-nya Rachael Says:
    October 25th, 2007 at 2:10 pm

    Aku mau kasih sedikit comment mengenai pertikaian – pertikaian yang terjadi di HKBP, bukan hanya HKBP Bandung tapi semua HKBP yang pernah bertikai. HKBP bukan satu – satunya gereja yang bersifat kedaerahan atau tradisional, tapi ada banyak lagi gereja yang serupa seperti GKP ( Gereja Kristen Pasundan ), GKJ ( Gereja Kristen Jawa ), GKJW ( Gereja Kristen Jawi Wetan ), GPM ( Gereja Protestan Maluku ), GKPB ( Gereja Kristen Protestan Bali ), GKS ( Gereja Kristen Sumba ), dan banyak lagi yang lainnya, tapi kenapa hanya HKBP saja yang selama ini sering terdengar bertikai, padahal ada juga GBKP ( Gereja Batak Karo Protestan ) dan GKPS
    ( Gereja Kristen Protestan Simalungun ) yang sama – sama berbasis bangsa Batak. Itu pertanyaan besar sebenarnya bagi HKBP.

    Apakah mungkin ini ada pengaruhnya dengan falsafah yang dimiliki orang batak yaitu 3H yang salah satunya adalah Hasangapon atau kehormatan yaitu suatu kebanggan kalau seserorang dihormati, disegani, ditakuti dan mempunyai tempat dan kedudukan yang tinggi dalam suatu perkumpulan atau organisasi, sehingga kalau KEHORMATAN TERINJAK maka PARANG PUN BERTINDAK. Padahal ajaran utama agama Kristen adalah KASIH, bahkan Yesus mengajarkan Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu, jadi kemanakah kasih di HKBP yang bertikai itu, katanya orang Kristen ( mungkin itu juga yang menjadi pertanyaan orang2x diluar Kristen ) ???

    Sebenarnya siapakah HKBP, apakah kita orang – orang Batak yang Kristen, artinya kita lebih mendahulukan ke-Batakan kita daripada ke-Kristenan kita atau orang – orang Kristen yang Batak yang artinya sebaliknya, kalau kita mengaku sebagai orang Kristen yang Batak apakah kita sudah dan masih memiliki kasih, apakah kita sudah merendahkan diri kita di hadapan sesama manusia dan terutama Tuhan ? Karena ada tertulis dalam Lukas 14:11 ” Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. ” dan ada juga tertulis dalam Matius 18:4 ” Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. ”

    Jadi tinggal pilih, mau jadi yang terbesar di kerajaan dunia ini atau di Kerajaan Sorga, dan ingat ” Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan ?. ”

    Kita sama – sama berdoa semoga pertikaian – pertikaian di HKBP manapun tidak akan terjadi lagi dan kalo bicara soal malu, aku pikir kita harus lebih malu sama DIA yang di atas sana.

    Gbu,
    DiCSi

  5. Asido Says:
    October 27th, 2007 at 12:40 am

    Wow…cukup serius juga neh tulisan..hehehe… Ga salah kalo terpilih jadi calon majelis gereja…
    Bener banget tuh…mari kita mendoakan mereka biar cepet akur.

  6. jsihotang Says:
    October 27th, 2007 at 11:17 am

    Thanks Mama Rachel buat komentarnya…BENAR seharusnya kita malu sama TUHAN yang di atas. Thanks untuk koreksinya ;)

    Mengenai 3H (hamoraon, hagabeon dan hasangapon), sedikit koreksi, itu bukan merupakan falsafah orang Batak Toba. Yang merupakan falsafah suku Batak Toba adalah Dalihan Natolu (somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru). Pemahaman yang benar dan pemakaian dalam kehidupan sehari-hari dari konsep Dalihan Natolu tersebut merupakan nilai yang positif dari adat Batak Toba yang mampu menjaga existensi masyarakat Batak di dunia ini..

    Salam berbagi…

    Jhon

  7. Mama-nya Rachael Says:
    November 4th, 2007 at 11:04 pm

    Ito Jhon, aku bukan mau mengoreksi sebenarnya, cuma menambahkan aja, bahwa kita harus lebih malu sama Tuhan karena kita datang ke rumah Nya kan mau ” silaturahmi ” supaya hubungan kita dengan Dia semakin dekat, ehh… koq ini malah bikin keributan. kalo malu sama ” tetangga “, itu udah pasti.

    Jadi sebenarnya apa sih yang kira – kira selalu jadi pemicu keributan di HKBP, oke lah 3H itu bukan falsafah hidup orang batak Toba, tapi mungkin ngga itu ada pengaruhnya ? Dulu waktu masih di luar HKBP, aku sih take it for granted aja, tapi sekarang setelah mulai masuk, jadi curious, kenapa..kenapa..kenapa..?

  8. Jhon Sihotang Says:
    November 10th, 2007 at 3:22 pm

    Ibu Dian…!

    Sebenarnya aku tidak bermaksud mengatakan 3H itu bukan faktor perusak hubungan anggota jemaat HKBP atau bahkan sesama komunitas batak (toba). Moreover, aku hanya meluruskan suatu pameo/anggapan umum yang berlaku saat ini yang mengatakan bahwa itu adalah falsafah batak toba which is absolutely wrong.

    Aku juga condong untuk menyetujui bahwa apapun itu sebutannya (mengenai 3H tadi) salah satu penyebabnya.
    Contoh:
    1. Hamoraon=> ada kecenderungan melebih2kan atau menonjolkan kekayaan yang menyebabkan orang lain mengambil sisi negatifnya dengan menunjukkan iri dan menjauh (komunitas terkotak-kotak).
    2. Hagabeon => aku tidak bisa menunjukkan contohnya
    3. Hasangapon => adanya “tuntutan” dari orang-orang tertentu untuk lebih dihormati walaupun pada perinsipnya dari tingkah laku nya tidak menunjukkan sesuatu yang patut dihormati (ini banyak kejadian).

    Faktor lain aku juga cenderung mengatakan management (lack of leadership) dari organisasi HKBP itu sendiri (dalam hal ini pengurus pusat HKBP). Mungkin perlu dilakukan pembenahan dan system pemilihan tampuk pimpinan di tubuh HKBP kalau memang kita semua sepakat bahwa kejadian-kejadian tersebut merupakan suatu masalah kita. Kalau memang sebaliknya, sampai kapanpun tidak akan bisa terbenahi..beginalah jadinya HKBP itu, sedikit demi sedikit jemaatnya akan berpaling ke gereja lain dan masyarakat umum memberikan label “perusuh” bagi kita.

    Salam berbagi
    Jhon

  9. Hotman Says:
    November 12th, 2007 at 3:27 am

    Horas dan salam dari bandung.

    Beberapa poin yang ingin saya kemukakan tentang kekisruhan di HKBP Bandung:

    1. Jemaat Pro dan Anti Status Quo
    Saya bisa kemukakan bahwa jemaat HKBP Bandung dari kedua belah kubu secara tidak disadari terkungkung dalam dua pihak. Masih banyak ditemukan jemaat yang pro Status Quo yaitu jemaat yang masih mencintai kemapanan yang dulu: selalu tunduk terhadap pimpinan, para birokrat (baik yang telah pensiun) masih berlagak seperti pimpinan dan ingin dihormati walaupun harus membeli kehormatan tersebut dalam gereja dengan sejumlah uang yang cukup signifikan, para jemaat yang pas-pasan secara finansial sebaiknya hormat pada jemaat ‘namora’, memanjakan (menyogok ?) para pendeta demi kehormatan dalam gereja, tidak menyukai perubahan baik tata ibadah yang dibawakan kaum muda, dll. Sementara jemaat yang anti status quo sangat berkeinginan membawa perubahan dalam segala hal dalam gereja.

    2. Sulit Menerima Perbedaan Pendapat

    Hal ini juga tentu tidak lepas dari poin diatas dimana para jemaat yang pro status quo tidak menginginkan ada perbantahan di dalam gereja. Misalnya SK yang diterbitkan oleh Ephorus harus mutlak diterima, sementara yang anti status quo masih menginginkan ada ruang untuk beda pendapat. contoh lain, masih sulit diterima dalam 1 gedung gereja ada 2 ressort/pihak, walaupun ressort tersebut telah memiliki huria pagaran. Hal yang lain yang sudah terjadi, di HKBP Jl. Jakarta terdapat 2 management/pihak dalam 1 gedung gereja dan mereka sepakat untuk menggunakan gedung gereja secara bergiliran dan kedua pihak ini sudah membeli lahan untuk membangun gedung gereja baru (izin belum didapat). Sebagai catatan, Gereja Batak Karo GBKP jl. lombok diisi oleh 3 sektor/pihak/manajemen dengan menggunakan gdung gereja secara bergiliran.

    3. Manajemen Kantor Pusat HKBP yang Amburadul

    Mungkin kita sudah tahu bagaimana bobroknya Kantor Pusat HKBP saat ini:
    – Kantor pusat HKBP masih merasa bahwa mereka adalah penguasa layaknya pemerintah pusat negara Indonesia dimana setiap pengaduan yang data dari daerah selalu mengutamakan pihak yang membawa ‘pinggan panungkunan’ sementara pihak yang hanya modal ‘ngos-ngosan’ cenderung diabaikan dan hal ini juga salah satu pemicu kekisruhan di HKBP Bandung.

    - Sesama pejabat HKBP Kantor Pusat tidak Kompak
    Dari beberapa surat keputusan yang diterbitkan HKBP Pusat cenderung bergaya single fighter pimpinan dimana tidak ada tandatangan atau paraf Sekjen dalam beberapa SK yang memicu kisruh di HKBP Bandung. Contoh lain, dalam siaran pers Ephorus HKBP Bandung mengatakan bahwa kisruh di HKBP Bandung adalah kisruh internal (internal conflict) sementara ada kepala departemen justru menyarankan agar HKBP Bandung Riau tetap memperjuangkan ressortnya.
    – Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap pemilihan Ephorus, masing-masing kubu selalu memiliki tim sukses. Dikemudian hari apabila jagoannya sukses maka para tim sukses ini akan menuntut jath penempatan di daerah basah/kota besar. HKBP Bandung Riau dan HKBP Martadinata terpaksa menerima para pendeta ressort yang baru dengan latarbelakang tim sukses Ephorus tanpa melihat qualifikasi pendeta tersebut. Hal ini juga menjadi pemicu kisruh di HKB Bandung tersebut.

    - Apabila peleburan 2 ressort di HKBP Bandung berhasil maka keberhasilan ini akan merupakan nilai jual yang baik untuk Ephorus pada pemilihan berikutnya dan juga merupakan ajang promosi buat praeses (HKBP Bandung tergabung dalam distrik JABARTENGDIY) dan pendeta ressort hasil peleburan. Hal ini merupakan preseden yang buruk di tubuh HKBP dimana para pejabatnya akan sesuka hati untuk melebur atau menghilangkan ressort.

    - Budaya diktatorisme juga melanda kepemimpinan HKBP dimana setiap pendeta yang tidak turut kepada perintah pimpinan akan ditindak. Hal ini telah terjadi dimana adanya seorang pendeta di HKBP Banda Aceh yang dipenjarakan akibat tidak tunduk perintah HKBP Pusat untuk menyerahkan bantuan tsunami, sementara Ephorus sendiri tidak berani menindak pendetanya (praeses Medan Aceh) yang melakukan pelecehan seksual terhadap pendeta perempuan yang diperbantukan, hanya karena pendeta tersebut adalah teman akrab (?) dari ephorus.

  10. nuel Says:
    November 12th, 2007 at 10:00 pm

    Horas Pak Hotman,

    Punya bukti-bukti yang signifikan utk semua keterangan yang Pak Hotman berikan? Apakah Pak Hotman jemaat HKBP Bandung? Kalau iya, Pak Hotman pro status quo atau pro perubahan? Terima kasih sebelumnya, dan kalau ada perkembangan baru tentang HKBP Bandung, tolong dibagikan lagi tapi kalau bisa disertai dengan bukti.

    Semoga kedua pihak di HKBP Bandung bisa menemukan jalan keluar yang adil, dan semoga mereka bisa menghindari tindak-tindak kekerasan.

  11. albeth Says:
    November 25th, 2007 at 9:50 am

    horasssss……
    Wah rame juga ya….

    Menurut saya,

    ……………..MANAJEMEN HKBP YANG BURUK, YANG MENGAKIBATKAN SEMUA INI TERJADI…………………..

    PIMPINAN YANG DIKTATOR….

    PENDETA YANG LEBIH MEMENTINGKAN KEKUASAAN…..

    KESOMBONGAN JEMAAT…..

    DAN…….UANG…..UANG…UANG…..UANG………..UANG….

    Semua itu harus dirubah, untuk HKBP yang lebih baik lagi. Supaya tidak terjadi lagi perpecahan di HKBP ini.

    ………..PERUBAHAN DI HKBP ADALAH MUTLAK……..

    HORASSSS…..

    GBU.

  12. ruben Says:
    November 26th, 2007 at 5:51 pm

    Hallo boss administrator,

    Saya pikir kolom ini untuk memberikan dorongan ke arah perbaikan right…? Jadi siapa saja boleh memberikan pandangan dan sebaiknya juga memberikan solusi demi perbaikan bersama.

    Horas semoga HKBP Bandung cepat pulih. Jangan biarkan Iblis dan antek anteknya terus tertawa melihat kita yang bertikai. GBU All……

  13. Jhon Sihotang Says:
    November 26th, 2007 at 9:08 pm

    Horas!

    Benar, kolom ini memang ditujukan untuk hal tersebut..

    TAPI…kita juga harus dalam tatanan komunikasi/diskusi yang baik dan terarah…pendapat2 sebaiknya disertai dengan bukti2 yang mendukung, dan kalau bisa lebih gampang dicerna maksud dan tujuannya.

    Sebaiknya kita (terlebih kepada jemaat HKBP) tidak bertindak sebagai “pengamat” akan tetapi bisa menjadi “solution maker”, yang artinya kita bukan hanya menjabarkan kebobrokan saja seperti layaknya pengamat biasanya lakukan, akan tetapi comment/posting sebaiknya disertakan dengan solusi-solusi yang membangun. That’s the goal of this forum being made!!!.

    Dengan demikian, kita bisa harapkan posting2 di sini menjadi referensi bagi HKBP untuk memperbaiki posisinya sebagai lembaga gereja.

    Terimakasih,
    – Tim admin -

  14. Amaniako Says:
    January 8th, 2008 at 6:32 am

    Saya mencintai HKBP sebagai Gereja yang diberkati Tuhan bagi orang Batak. Budaya, karakter dan semangat, kelemahan dan kekuatan orang Batak pasti mempunyai kekhasan dan berikut nilai kurang dan lebihnya. Dalam hal perseteruan di Gereja, nilai-nilai tersebut akan akan muncul secara menonjol. Akan tetapi hendaknya nilai iman, kasih dan pengharapan lebih menguasai semua kepentingan.
    Dalam kasus HKBP Bandung, saya memahami bahwa persoalan ini dipicu oleh Pimpinan HKBP yang bertindak kurang dewasa dan tidak dengan hati nurani yang murni menyikapi luka-luka di HKBP selama ini. Bagi semua persoalan gereja dibutuhkan keberanian untuk menyatakan kebenaran (Ibrani 4:16) namun kearifan rohani dengan memenangkan Kristus di atas semua kepentingan, bukan memaksakan nafsu kekuasaan dan keserakahan.
    Seharusnya Ephorus, Sekjen, para Kepala Departemen, Praeses, seluruh Pendeta dan Majelis serta Umat HKBP di mana saja harus bertobat, sehingga ada KERENDAHAN HATI mengaku dosa, dan keberanian meminta pengampunan, sehingga Visi dan Misi HKBP sebagai gereja milik Tuhan dapat menjadi garam dan terang.
    Meskipun demikian, marilah kita sungguh-sungguh mendoakan Pimpinan HKBP pada semua aras supaya takut akan Tuhan. Dan biarlah Sinode Godang HKBP tahun 2008 ini berhasil mendapatkan Pimpinan HKBP yang penuh Roh Kudus, Pendamai, Cakap, Takut Akan Tuhan, Dapat Dipercaya dan Benci kepada Suap (Kel 18:21). Shalom.

  15. Jemaat HKBP Says:
    January 11th, 2008 at 4:06 pm

    Bagi pembaca di situs ini, kami ingin menyumbang pengalaman dan pengamatan pribadi kami tentang apa yang kami mengerti dan alami selama bergereja di HKBP:

    A. Pengalaman dengan Para Pendeta:

    Kami mengalami sendiri bahwa banyak Pendeta HKBP tidak takut berdusta kepada jemaat asalkan tidak kehilangan jabatan atau supaya ditempatkan di tempat basah atau supaya statusnya bisa berubah dari calon pendeta menjadi pendeta penuh.

    Penekanan terjadi di institusi HKBP dari pendeta yang lebih senior ke pendeta junior yang nota benenya gaji si pendeta junior didapat bukan dari para pendeta senior atau dari pusat Pearaja tapi dari persembahan atau kolekte para jemaat.

    Kami pernah mencoba mengerti apa sebenarnya yang terjadi dalam institusi ke pendetaan ini… Saya, istri dan anak mencoba mengundang sang calon pendeta makan keluar, mencoba bicara secara kekeluargaan supaya dapat mendalami lebih jauh mengapa si calon pendeta begitu gamang dan tidak mau lebih terbuka bersikap atas kesalahan si senior nya.. Kami usahakan suasananya tenang dan kami bawa sang calon pendeta makan di salah satu hotel ternama. Cerita punya cerita, Saya dan istri sangat terkejut ketika medengar dari sang calon pendeta berkata: “Tangis nama inong di huta molo gagal ahu menjadi pendeta penuh. Alana habis do hami amang dohot hamu inang sampai seratus juta rupiah (Rp 100 Juta) untuk pendidikan”.

    Aneh juga ya … ternyata mahal juga tuh biasa sampai tamat pendidikan pendeta… Waktu pendidikan kita ga tau kemana itu si Rp 100 Juta leong.. Dan setelah tamat, jemaat yang bertanggung jawab atas biaya hidup sang pendeta..

    Para calon pendeta juga mengetahui bahwa mereka harus hati hati kepada para seniornya yaitu pendeta resort karena si Pendeta resort memiliki hagogoon untuk menentukan bahwa seorang calon pendeta dapat di promosikan menjadi pendeta penuh. Walau dalam kotbahnya para pendeta ini selalu menekankan bahwa holan Jahowa do na marhuasa di hita jolmaon.. —

    Akhirnya Saya dan Istri berpikir Holan hata sambing do i hape ate..

    Penyelewengan uang juga bukan barang baru bagi sebagian pendeta HKBP. Setidaknya pernah kami saksikan bahwa calon pendeta dengan mudah nya menutup mata atas penyelewengan pendeta senior karena mungkin si calon pendeta mengerti kemana arah penggunaan uang tersebut oleh pendeta senior.

    Persekongkolan dan ketidakmauan menindak orang yang bersalah juga berlaku di HKBP yang penting asalkan rajin datang dengan somba somba ke preses, hal yang lumrah di HKBP. Pernah kami mengalami dimana seorang preses tidak menindak anak buahnya karena setahu saya si pendeta resort rajin menyenangkan hati sang preses. Termasuk membawa somba somba pada waktu pesta ulang tahun sang preses.

    Semangat korps juga cukup mengagumkan.. Pernah sekali kami mencoba berdiskusi dengan seorang pendeta resort yang kebetulan semarga dengan saya tentang kesalahan yang dilakukan pendeta resort dimana dulu kami bergereja.. Tapi yang kami dapat adalah sikap enggan si pendeta untuk memberi pendapat atau berbicara atas kesalahan temannya tersebut.. Dan ini berlaku sampai tingkat preses.. Kami juga mencoba mencari tahu pendapat seorang preses di Tapanuli atas kesalahan pendeta resort kami dulu. Kebetulan sang preses memiliki hubungan kekeluargaan (pariban) dari istri saya… Adalah lumrah kalo kami sekeluarga menyediakan akomodasi sang preses kalo lagi datang berkunjung ke huria tempat kami bergerja dulu. Hitung hitung selain masih terhitung pariban dari istri, saya mengingat pesan orang tua bahwa alangkah baiknya kalo kita berbuat apa saja yang kita dapat perbuat demi perkerjaan Tuhan. Cukup mengejutkan ketika kami dapat response bahwa itu adalah wewenang preses dimana si pendeta resort bertugas.. Mungkin berlaku juga pepatah sesama bus kota dilarang saling mendahului ..

    Disamping itu.. bukan rahasia lagi bahwa Ephorus yang sekarang agak haus uang.. Pernah sekali sang Ephorus datang mengunjungi jemaat nya dan tidak malu malu nya menerima uang dan langsung memasukkan uang tersebut ke kantung jas nya. Uang pemberian tersebut terhitung cukup besar jika dibandingkan dengan tingkat penghidupan para jemaat yang nota benenya terdiri dari para perkerja biasa, buruh dan supir. Anehnya jumlah uang yang diberikan tersebut juga adalah hasil rekayasa dan pemaksaan si pendeta resort yang membawahi huria tersebut. Kami berpikir kalau lah sang Ephorus mau bertimbang dalam hati waktu itu, alangkah baiknya dan indah nya kalau dia menolak pemberian uang tersebut mengingat tingkat kehidupan para jemaatnya di gereja yang dia kunjungi. Tapi apa boleh buat… uang masih lebih bersinar dari kasih yang selalu kita dengungkan itu.

    Kesombongan juga tidak jauh dari sang Ephorus… Pernah suatu saat sang Ephorus di undang oleh jemaat di satu tempat untuk datang… Sesampai nya sang Ephorus ditempat langsung berkomentar: Las si bual buali ma antong di bahen hamu mamboan ahu… hape tingki sian Jerusalem naik pesawat na denggan di sediahon na marholong ni roha to hami… Wah… keren juga nih sang Ephorus… Selidik punya selidik ternyata yang dimaksud dengan si bual buali itu adalah low fare airlines.. Yang menurut saya okey cuga kok. Terbukti anak saya sering memakai jasa penerbangan ini kalo lagi pulang ke tempat sekolah nya setelah berlibur mengunjungi kami orang tuanya..

    B. Pengalaman dengan Para Jemaat dan Sintua:

    Bukan menjadi rahasia bahwa banyak jemaat yang tidak jujur dan tidak setia membantu pekerjaan di ladang Tuhan. Dalam beberapa kesempatan saya memperhatikan banyak masyarakat Batak datang ke gereja dengan kenderaan bagus, perhiasan bagus tapi pada waktu persembahan todak segan manetekkon parsaribuan.. Sangat ironis … dan bagaimana ya sekiranya Tuhan juga berbuat sama seperti yang mereka lakukan terhadap gereja ?

    Akibatnya adalah gereja terpaksa terjerat di tangan para sekelompok orang kaya sebab mereka inilah yang menjadi tulang punggung gereja walaupun terkadang uangnya berasal dari hasil korupsi.. Bukan rahasia bahwa di gereja HKBP banyak koruptor yang dengan pongah nya menyumbang gereja khususnya waktu lelang. Semua dilakukan demi nama dan harga diri.. Mungkin lupa bahwa menyumbang gereja dari hasil korupsi sama buruknya dengan melakukan pengotoran terhadap kesucian gereja.

    Suatu ketika kami pernah berhasil mendekati seorang pendeta supaya pada waktu berkotbah berani menyinggung betapa buruk nya korupsi di mata Tuhan dan di mata Jemaat. Tapi apa yang terjadi… seminggu berikutnya si pendeta curhat kepada saya dan istri bahwa ada beberapa sintua menasihatkan agar jangan terlalu vocal. Itu kan rejeki masing masing … kata sang sintua..

    Disamping itu juga sebagian masyarakat HKBP sudah sangat menyenangi status quo dan sebagian lagi masa bodoh dan senang menjadi penonton.. dan bukan aneh kalau dibanyak gereja HKBP terjadi pengelompokan antara kelompok kaya dengan kelompok pengunjung biasa yang datang ke gereja karena mengingat hubungan ke Batakan tetap datang beribadah ke HKBP.

    Pernah saya dan istri mencoba masuk ke dalam kelompok elit di salah satu gereja HKBP di salah satu provinsi di Sumatera.. Mula mula sih ramah ramah aja … mungkin karena mereka yang didalam berpikir… Parhepeng do naroon.. dalam beberapa kesempatan kami masih mencoba mengkuti aliran percaturan di dalam.. mulai juga lah ikut lelang, menjadi donatur waktu pesta parheheaon, rapat pendeta, rapat sintua, dsb.. Pikir pikir keluar sekian setiap bulan ga apalah asal bisa tau lebih dalam tentang apa yang terjadi di gereja. Hitung hitung juga perpuluhan kami.. sebab saya dan istri sadar bahwa kurang lah baiknya kalo kita tidak memberi gereja..yang mana di anak tirikan oleh pemerintah. Bukan rahasia lagi bahwa kalo bukan kita yang menyumbang untuk kegiatan gereja, yah siapa lagi ?

    Lama kelamaan (walau dengan mengeluarkan uang yang cukup banyak karena aktif dalam acara acara yang membutuhkan uang) saya dan istri berhasil mempelajari apa yang terjadi.. Rupanya hepeng dohot parhepeng do na lebih berkuasa di HKBP on…

    Perlahan lahan kami menarik diri dari riuh rendah nya suasana di HKBP karena kami sadar bahwa tidak baik tahu terlalu banyak tentang apa yang terjadi di HKBP ini. Kami takut kalau hal yang tidak baik ini di ketahui anak kami dan bisa bisa membuat nilai gereja di mata mereka sebagai generasi muda tercoreng..

    C: Pendeta Lundu Herbert Mardosroha Simanjuntak dan salah seorang sintua di HKBP Bandung:

    Sekarang … melihat kejadian di HKBP Bandung Riau.. Saya tidak terkejut sama sekali.. Datangnya Pdt Lundu Simanjuntak ke sana yang jelas dengan ciri ciri brewokan. kebetulan saya mengenal cukup banyak pendeta satu ini.. tukang makan uang, menjilat kepada Ephorus dan diktator pastilah bukan membawa kedamaian tetapi akan membuat HKBP di Bandung makin kacau.

    Disamping itu saya agak kaget juga melihat di berita ternyata sintua yang membacakan SK Ephorus pada waktu terjadi keributan di gereja HKBP Bandung adalah seorang sintua yang beberapa waktu lalu dilaporkan melarikan uang sejumlah lebih dari Rp 700 juta.. Sampai sekarang berita tersebut masih bisa di search di internet..

    Jadi klop lah sudah … Dari pengalaman pribadi yang saya tuturkan diatas dan siapa siapa yang sedang berperan di permasalahan HKBP… jangan lah kita berharap bahwa HKBP khususnya gereja HKBP Bandung akan berjalan dengan damai kecuali kita semua warga HKBP mau menyediakan waktu dan tenaga untuk:

    1. Berkata TIDAK kepada Status Quo, aktif dalam pekerjaan gereja.. dan berkata TIDAK kepada para koruptor yang secara pongah berdiri di depan.

    Cukuplah sudah beberapa puluh tahun gereja HKBP dikotori para Koruptor dan pencuri uang negara. Sekarang saatnya kita berbicara kepada para koruptor tersebut untuk bertobat dan jangan lagi mengangap uang mereka bisa mengatur gereja sebab gereja berdiri atas dasar Iman ke kristenan dan bukan atas dasar materi.

    2. Berkata TIDAK kepada para Pendeta kotor dan yang tidak mendahulukan kebenaran tetapi sebaiknya mementingkan materi dan jabatan.

    Mari kita ingatkan para pendeta atas semboyan mereka: Haru pidong nadi langit disarihon Debata… Dengan tegas dan bahasa yang sopan kita yakin kan mereka bahwa jika gereja bertumbuh maka Tuhan akan memberikan berlimpah lebih dari apa yang dapat dibayangkan manusia.

    Bagi saya jabatan sebagai pendeta sudah cukup agung … tidak perlu harus menjadi preses, Ephorus, dsbnya.. Sebab bagi saya ukuran seorang pendeta di tentukan berapa banyak jiwa yang telah di sadarkan supaya mengikuti jalan Tuhan… bukan dari jumlah orang yang datang setiap minggunya ke gereja atau berapa koor dan punguan yang berhasil dibentuk selama masa pelayanannya di satu gereja.

    3. Turut serta memonitor performance dan tingkah laku para pendeta di tempat kita masing masing.

  16. hotman Says:
    January 18th, 2008 at 5:19 am

    Horas..dan Selamat Tahun Baru, moga-moga belum telat untuk mengucapkannya.

    Sebenarnya website ini saya ketemukan melalui search di google dengan meng-insert kata hkbp bandung riau dan saya tertarik untuk memberi komentar seputar kekisruhan di HKBP Bandung Riau.

    Buat saudara Nuel yang mengomentari komentar saya..terus terang saya ini adalah jemaat dari satu pihak di HKBP Bandung Riau dan saya sudah mengikuti permasalahan ini mulai saya ikut naposo hingga saya sudah berkeluarga. Pertikaian sudah beberapakali pecah tapi untuk yang kali ini, saya coba merenung dan tidak untuk membenci kelompok atau pihak yang satu lagi. Buat saya kedubelah pihak adalah sama-sama jemaat yang ingin berkebaktian di dalam gereja. kekesalan dan kebencian saya hanya fokus kepada para pemimpin di HKBP dan oknum-oknum tertentu di HKBP Bandung Riau. Buat saya kolaborasi antara para manajemen HKBP dengan oknum-oknum tertentu di HKBP Bandung Riau adalah penyebab hancurnya HKBP Bandung Riau. Wujud kolaborasi tersebut adalah SK peleburan kedua ressort; HKBP Bandung Riau dengan HKBP Martadinata dengan nama baru HKBP Ressort Bandung Riau Martadinata. Para pemimpin HKBP hanya berkeinginan menyatukan “nama” resort tanpa memperdulikan apakah kedua jemaat mau disatukan dengan nama tersebut. SK yang dikeluarkan akhirnya beralih fungsi menjadi alat untuk “marbada” dan benturanpun terjadi antara kedubelah pihak. Akhirnya benturan ini sudah berlangsung 3 bulan.

    Kekisruhan di HKBP Bandung sebenarnya sudah sampai persoalannya di KOMNAS HAM dan KOMNAS HAM sudah melayangkan surat ke Kapolda Jabar mempertanyakan netralitas polisi dalam menangani kasus HKBP Bandung Riau (catatan: salah satu Kapolres di jajaran polda Jabar pernah menarik jubah pendeta di dalam gereja saat kebaktian dan kejadian ini ditayangkan di beberapa channel TV di Indonesia dan beberapa hari setelah kejadian ini Kapolres tersebut meminta maaf kepada pendeta tersebut. Kapolres tersebut sudah dipindahkan 1 beberapa minggu yang lewat). Surat tersebut sudah harus dijawab Kapolda sebelum tanggal 18 januari ini (masa 1 bulan setelah surat dilayangkan) dan ternyata 2 hari yang lewat SK pergantian Kapolda Jabar sudah terbit dan Kapolda tersebut akan dipindahkan ke Lemhanas.
    Surat Komnas Ham juga sudah dilayangkan ke kantor pusat HKBP dengan masa jawab 1 bulan. Ketika salahseorang sintua HKBP bandung Riau singgah ke kantor pusat HKBP di pearaja tarutung, salah seorang ketua departemen HKBP mengaku belum mengetahui surat Komnas tersebut dan akhirnya amang sintua tersebut menyerahkan 1 copy yang telah disiapkannya.

    Kekukuhan Pemimpin HKBP terhadap SK yang telah diterbitkannya juga harus disayangkan, padahal beliau sendiri sudah beberapakali melihat di TV bentrok HKBP Bandung akibat SK yang diterbitkannya dan belum mengambil tindakan (corrective action) sama sekali.
    Yang menjadi keheranan saya hingga saat ini masih banyak jemaat yang mengatakan bahwa tunduk kepada SK pemimpin HKBP merupakan syarat mutlak apabila jemaat akan berkebaktian didalam gedung gereja hKBP Bandung. Seolah-olah SK Ephorus lebih tinggi daripada panggilan di Alkitab untuk ‘bergereja’. Fanatisme jemaat satu pihak terhadap SK inilah akhirnya saya katakan bahwa SK Ephorus adalah SK untuk “marbada”.
    Sebagai catatan dan pembanding terhadap beberapa SK Ephorus yang ‘macet’, contoh: SK mutasi pendeta situngkir ke HKBP Semarang, mutasi HKBP semarang ke Rajawali Jakarta, mutasi HKBP Rajawali Jakarta ke ‘hita-an-an’ dan SK mutasi yang di/hita-an’ tidak jalan. Alasan yang saya dengan pendeta yang dari Rajawali-Jakarta tidak mau dimutasikan ke ‘hita-an’. Jadi ada 4 SK yang ‘macet’ dan tidak ada jemaat yang gontok-gontokan seperti di HKBP bandung. Benang sari yang saya ambil SK tidaklah segalagalanya. SK tidak boleh digunakan seperti tiket untuk menonton bioskop seperti yang terjadi di HKBP Bandung.

    Perkembangan yang bisa saya informasikan di HKBP Bandung, HKBP non-SK masih berkebaktian di trotoar depan gereja (dilayani oleh Pdt. Saut Sirait) dan HKBP-SK berkebaktian di dalam gereja dipimpin oleh Pdt. Lundu. Korban yang ada sudah 4 orang (1 dipenjara). Akibat seringnya jemaat HKBP Bandung berkunjung ke polresta bandung tengah baik sebagai pelapor maupun yang dilaporkan, maka 1 ressort hkbp muncul di bandung yaiutu hkbp bandung tengah (istilah ini muncul dari polisi di bandung tengah).
    Korban yang paling parah yang jatuh adalah marga gultom (dan yang disinyalir memukul adalah notabene dongan tubu mertua si gultom ini…he..he..he..memang nunga sega hami on adong simatua mamukul helana).

    Saat komentar ini saya buat adalah hari jumat, dan bila besok sabtu tiba artinya jantung ini mulai berdetak lebih keras..aha do namasa sogot minggu di gereja).
    Selama pertikaian terjadi, pintu gereja selalu dijaga oleh “private security” hingga akhir-akhir ini dijaga oleh pemain pencak silat dari Puragabaya. Ah..sadia godangma hepeng i naung bolong ate….tu pengamanan..tu aparat…tu ruas na manjaga malam gereja. Saya duga ratusan juta sudah melayang selama pertikaian 3 bulan ini.
    Salah seorang jemaat dari HKBP Dayuhkolot yang gerejanya ditutup akibat diintervensi oleh FPI pernah berujar ke saya..Sayang nai hepeng i ate, coba molo hepeng naung ambolong i dipangke mangurus ijin HKBP di dayuhkolot, nunga aman hami ate.

    Sebagai catatan buat phareses JABARTENGDIY, hatop do phareses on molo mangojakkon gereja na baru alai tung sotarida do amanta on molo ro FPI mangaroro gareja songon namasa tu HKBP Lembang dan dayuhkolot.

    Inilah dulu yang bisa saya sampaikan, khususnya buat lae Nuel yang mempertanyakan status saya di tulisan saya sebelumnya apakah saya ini pro status quo atau anti status quo di HKBP Bandung, saya pikir lae sendirilah yang menilai dari tulisan saya ini.
    Horas..Vai Com Deus..Tuhan memberkati.

  17. HKBP New York Says:
    January 18th, 2008 at 5:35 pm

    Salam dalam nama Yesus Kristus.

    Sepertinya topik yang satu ini sangat bagus untuk di diskusikan bersama untuk membangun kehidupan kristiani kita khususnya HKBP sebagai lembaga gereja.

    Untuk itu, agar lebih terorganisir, kami memindahkannya ke forum HKBP New York yang bisa saudara klik di sini:

    http://www.hkbpnewyork.org//index.php?option=com_fireboard&Itemid=195&func=view&catid=4&id=61#61

    Apabila saudara ingin memberikan pendapat, silahkan klik menu “REPLY”.

    Terimakasih

Permalink Leave a Comment

BATAK CRAZY IN BANDUNG AGAIN.

October 5, 2008 at 11:28 pm (Uncategorized) (, , , , , )

15/10/2007 05:24 HKBP
Dua Kelompok Jemaat HKBP Bentrok

Liputan6.com, Bandung: Unjuk rasa umat Huriah Kristen Batak Protestan di Bandung, Jawa Barat, Ahad (14/10), berakhir ricuh. Kejadian bermula saat jemaat yang menamakan diri HKBP Bandung Riau berdemonstrasi sambil membawa spanduk bertuliskan Setia Sampai Akhir. Ketika itu sebagian jemaat HKBP lainnya tengah berada di dalam gedung gereja di Jalan Riau, Bandung. Lantaran tak dapat masuk jemaat HKBP Bandung Riau langsung menggelar orasi.

Tidak lama kemudian tiba-tiba terjadi keributan. Situasi akhirnya bisa diamankan setelah datang polisi. Satu orang diangkut ke truk polisi untuk dimintai keterangan. Diduga orang ini bukan anggota jemaat Gereja HKBP. Setelah itu jemaat HKBP Bandung Riau bisa masuk ke gereja untuk beribadah.(IAN/Patria dan Taufik Hidayat)

6 Responses to “Dua Kelompok Jemaat HKBP Bentrok”

  1. jentar Says:
    October 29th, 2007 at 2:58 am
    kesatuan dan persatuan itu perlu dibina untuk mrnjaga kerukuran umat bergama dalam konteknya jemaat HKBP.sebaiknya cari solusi yang indah untuk menatap masa depan bangsa indonesia,bahwa perseturuan itu tidak mempunyai suatu keuntungan malahan kerugian yang dicari,bahwa persolan bangsa kita masih menumpuk,mengapa harus menambah persoalan,bila Tuhan bisa memaafkan yang bersalah,mengapa sesesama kita tidak bisa, yang penting dalam dirikita perlu ketulusan dan keiklasan dalam perbutan.horas
  2. St.T.R.Manurung Says:
    November 5th, 2007 at 12:31 am
    Anggota Jemaat yang bertikai di Bandung,
    Sesungguhnya tidak ada gunanya kita beribadah di gereja jika kita masih menyimpan kesalahan orang lain di hati kita, karena kasih tidak ada pada kita masing masing.
    Allah adalah kasih.Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih/1 Yoh.4:8.Persembahan kita saja tidak akan diterima Allah jika kita masih punya perselisihan dengan orang lain.Sebab itu,jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu(Mat.5:24+25). Sayang sekali kita pergi ke Gereja dan memberi persembahan tetapi kebencian dan pertengkaran masih bersemayam dalam hati kita. Semua jadinya sia-sia.Saya berdoa ” Tuhan Yesus tolonglah saudara-saudaraku ini agar mereka tahu, sadar dan menyesali semua perbuatan mereka yang sia sia itu dan berikan kepada mereka hati yang sadar dan bertobat,Amin”.
  3. Hotman Silalahi Says:
    November 8th, 2007 at 2:40 am
    Buat warga HKBP sedunia,terulangnya pertikaian HKBP di bandung membuktikan tidak sensitifnya (nengel) HKBP Pusat terhadap warga HKBP “arus bawah”. Gereja perlu diorganisasi dengan baik (well organized), tapi apa akibatnya kalau gereja hanya sekedar organisasi. Penyelesaian persoalan HKBP Bandung oleh HKBP Pusat hanya mengandalkan pendekatan organisasi dimana dua pihak yang bertikai akan bersatu dengan menyatukan kedua organisasi pihak yang bertikai (HKBP Ressort Bandung dan HKBP Ressort Bandung Riau) menjadi HKBP Ressort Riau Martadinata.
    Kejadian yang ada di bandung juga telah membagi jemaatnya terhadap kelompok jemaat yang ‘Status Quo’ dan ‘Reformis’, dimana kelompok yang status quo hanya menginginkan kemapanan digereja seperti kondisi dahulu HKBP dengan tidak menginginkan 2 ressort dalan 1 gedung gereja, tetapi kelompok yang reformis masih dapat menerima 2 ressort dalam 1 gedung gereja dengan penggunaan gedung gereja secara bergiliran sebagaimana yang terjadi di HKBP Bandung Timur. Bahkan apa yang terjadi di gereja GBKP jl. Lombok Bandung, gedung gereja digunakan secara bergiliran (pengaturan waktu yang disepakati setiap kebaktian minggu) oleh 3 pihak dengan manajemen masing-masing.
    Dengan bertambahnya ruas HKBP di kota besar sementara izin pembangunan gereja sangat sulit digunakan, apakah HKBP belum siap bila dalam 1 gedung gereja terdiri lebih dari 1 ressort? Mungkin kaum status quo tidak akan bisa menerima ide ini.
  4. andre Says:
    November 28th, 2007 at 12:33 pm
    saya ingin menanyakan beberapa hal atas nama pribadi !!
    1. Apakah kita tidak malu dengan menggembor gemborkan masalah ini ke media masa ?
    2. Apakah Kita pikir, kita adalah satu-satunya agama yang ada di INDONESIA ?
    3. Knapa masalah ini terus-terusan terjadi ?

    Saya disini sebagai Naposo salah satu NHKBP yang bertikai, dan baru 2 bulan aktif lagi di gereja!
    saya hanya ingin memberikan suatu tanggapan saya terhadap kejadian yang ada di HKBP secara pribadi
    1. Menurut saya, masalah ini tidak akan pernah beres jika orang-orang yang masih punya dendam pribadi masih ikut dalam masalah ini!!
    2.Ada keinginan beberapa orang yang merasa dirinya penting sehingga dapat menghimpun masa untuk melakukan hal-hal yang kurang bercermin pada Norma Agama!!
    3. Bandung adalah salah satu kota pelajar, bayangkan saja ITB, UNPAD, UNPAR dan beberapa universitas lainnya. Tapi dimana pikiran kita untuk menyelesaikan masalah ini??
    4. Kenapa Tulisan SSA harus dibawa bawa kembali kepermukaan ?? (setahu saya Pusat HKBP saja sudah bersatu dan tidak akan lagi membuka-buka AIB terdahulu)

    Maaf jika ada kata kata saya yang kurang berkenan di atas, dan boleh untuk di perjelas kembali supaya saya tahu lebih jelas yang sebenarnya terjadi ( maklum anak baru lahir )
    “Gunakan Hati,Iman kita untuk bertindak!!”

  5. anak na jogi,sian nadao. Says:
    June 6th, 2008 at 12:39 am
    Horas ma di hita saluhutna.sai anggiat ma rohatta di patiur amanta Debata, namula jadi nabolon.

    Sebenarna ahu dang pantas dohot di barita on ,alai alana ahu pe halak batak do ,gabe targorat rohak ku ,manurat saotik di son, boasa ma hita na sa rumpun gabe marbadai,jala sada Tuhan,nian hita ma na gabe sitiruon ni suku lain, alana gareja ta do na unggodang di indonesia on,/HKBP.nian hita na sagareja ikkon masitukkol tukkolan ma songon suhat na rubean i. alana ido na di ajar bapak ku sabagai halak batak,jala anak ni TUHAN JESUS………

    Actually i am live in United Kingdom and grow up,but i speak ‘ BAHASA BATAK ‘because i proud sebagai halak.
    batak…………..

    horas ma dihita saluhut na

  6. S. Hutabarat Says:
    June 9th, 2008 at 7:43 am
    Cuma beberapa pertanyaan,
    1. Mengapa sebenarnya kita ke Gereja
    2. Mengapa kita harus punya Gereja kalau kita merasa Tuhan Yesus ada dimana kita berada.
    3. Masih ada kah kasih dari Tuhan Yesus di dalam hati kita.
    4. Apakah Gereja dan agama itu hanya sebagai simbol dalam kehidupan kita sehari-hari tapi dari kelakuan kita jauh dari itu semua.

    Kalau dari semua pertanyaan itu kita punya jawaban ‘Iya ‘dan mengacu ke pengakuan bahwa kita orang yang beragama dan menjadikan gereja sebagai rumah Tuhan Yesus dimana kita bisa bertemu saudara seiman dan bersama-sama memuji Tuhan Yesus, kita orang-orang munafik yang semestinya kita malu di depan Tuhan Yesus.

Permalink Leave a Comment

HKBP BATAK BLOOD IS GOING TO BE BOILING AGAIN?WAIT AND SEE.CRAZY BATAK PEOPLE

October 5, 2008 at 11:22 pm (Uncategorized) (, , , , , )

Tarutung (SIB)
Ephorus HKBP Pdt DR Bonar Napitupulu mengakui bahwa pada awal-awal dan pertengahan pelaksanaan Sinode Godang HKBP ke-59 yang dilaksanakan 1-7 September 2008 di Auditorium Seminarium Sipoholon ada kekhawatiran apakah sinode tersebut dapat berjalan lancar dengan damai atau malah harus menelan pil pahit.
Tetapi yang terjadi adalah, sinode godang terutama agenda pemilihan pucuk pimpinan berlangsung dengan lancar dan penuh damai yang merupakan anugerah Tuhan yang paling besar kepada HKBP.
Hal itu disampaikan dalam kata bimbingannya, usai dilantik sebagai Ephorus HKBP periode 2008-2012 di Gereja HKBP Pearaja Tarutung, Minggu (7/9).
Pdt DR Bonar Napitupulu mengharapkan, ke depan ketakutan dan kekhawatiran warga jemaat HKBP setiap menjelang pelaksanaan Sinode Agung tentang kemungkinan akan terjadinya keributan di antara sinodestan yang bisa berdampak kepada seluruh jemaat, kiranya harus menjadi suka cita di tengah para jemaat.
Diminta kepada seluruh pucuk pimpinan HKBP yang dilantik pada hari itu, untuk melaksanakan tugas pelayanan dengan baik, bukan hanya kepada pemilihnya tetapi harus kepada seluruh jemaat HKBP karena diyakini bahwa yang memilih para pucuk pimpinan HKBP tersebut adalah Tuhan.
Pelantikan pucuk pimpinan HKBP dilaksanakan dalam suatu acara ibadah yang diikuti ribuan jemaat HKBP dan dihadiri para kepala daerah yakni Bupati Taput Torang Lumbantobing, Bupati Humbang Hasundutan Drs Maddin Sihombing dan Bupati Tobasa Drs Monang Sitorus, masing-masing didampingi istri serta unsur pimpinan daerah (Uspida) Taput terdiri dari Dandim 0210/TU Letkol Arhanud Ramses Lumbantobing, Kajari Tarutung Mangasi Situmeang SH LLM, Kapolres Taput AKBP Drs Edy Napitupulu MSi dan Ketua PN Taput Gerchad Pasaribu SH beserta sejumlah kepala dinas antara lain Kadis Pendidikan Dra Mariani Simorangkir MPd, Kadis Sosial Rosdiana Manurung SE, Kabag Humas dan Protokoler Benny Simanjuntak SSos.
Banyaknya jemaat yang mengikuti ibadah pelantikan tersebut yang berjumlah hingga ribuan orang tidak mampu lagi ditampung di dalam gereja HKBP Pearaja sehingga harus berkebaktian di luar gedung gereja pada tenda-tenda yang telah disiapkan panitia dan dilengkapi dengan layar TV monitor.
Ephorus HKBP Pdt DR Bonar Napitupulu dilantik pendeta tertua di HKBP Pdt Syarif Nababan STh ditandai dengan pengambilan janji dilanjutkan pemberkatan dalam nama Allah Bapak, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Selanjutnya, pucuk pimpinan HKBP lainnya terdiri dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pdt Ramlan Hutahaean MTh, Kepala Departemen Koinonia Pdt DR Jamilin Sirait, Kepala Departemen Marturia Pdt DR Binsar Nainggolan dan Kepala Departemen Diakonia Pdt Nelson F Siregar STh dilantik Ephorus HKBP Pdt DR Bonar Napitupulu dengan pengambilan janji dan selanjutnya diberkati.
Berikutnya Ephorus melantik para praeses yang terpilih yang berjumlah 26 orang sesuai jumlah distrik HKBP yaitu Pdt Esron Tampubolon, Pdt Marolop Sinaga, Pdt Rich Janson Simamora, Pdt Debora br Sinaga, Pdt Diapari Simangunsong, Pdt Piter Hutapea, Pdt Rahman Tua Munthe, Pdt Rafles Lumbanraja, Pdt SMP Marpaung, Pdt Efendi Purba, Pdt Pasu Nainggolan, Pdt Bonar Nababan, Pdt Mori Sihombing, Pdt Parulian Sibarani, Pdt Armada Sitorus, Pdt Elieser Siregar, Pdt Tendens Simanjuntak, Pdt Dr Lukman Panjaitan, Pdt Tionggar Nababan, Pdt BDF Sidabutar, Pdt Togar M Hasugian, Pdt SM Silitonga, Pdt Marudur Tampubolon, Pdt Victor Sihotang, Pdt David Sibuea, Pdt Saur Simanjuntak.
Usai pelantikan para pucuk pimpinan HKBP tersebut, Ketua Umum Panitia Pelaksanaan Sinode Godang HKBP ke-59 Pdt WTP Simarmata MA (Sekjen HKBP periode 2004-2008) dalam sambutannya mengatakan Sinode Godang yang diikuti begitu banyak peserta tapi dapat berjalan dengan damai dalam bingkai persatuan dan kesatuan adalah berkat penyertaan dan anugerah Tuhan.
Simarmata yang juga calon Ephorus namun tidak terpilih mengucapkan selamat dan bangga kepada pucuk pimpinan HKBP yang terpilih melalui Sinode Godang HKBP ke-59 yang berlangsung 1-7 September 2008 di Seminarium Sipoholon.
Kepada seluruh “parhalado” dan jemaat diminta untuk satu doa agar kepada pucuk pimpinan HKBP diberikan kekuatan dalam menjalankan tugas-tugas pelayanan terutama dalam menyongsong Jubileum 150 tahun HKBP pada tahun 2011 mendatang.
Berbagai program pelayanan yang harus terus ditingkatkan adalah menjadikan HKBP sebagai sumber berkat bagi seluruh masyarakat sekitar, bangsa dan Negara Indonesia. “Tetaplah kita utuh sebagai Huria Kristen Batak Protestan (HKBP),” himbaunya.
Bupati Taput Torang Lumbantobing dalam sambutannya menyebutkan kekhawatiran pemerintah daerah dan jemaat HKBP akan kemungkinan terjadinya keributan di Bona Pasogit sekaitan dengan pelaksanaan Sinode Godang HKBP ke-59 telah dijawab para sinodestan dan pimpinan HKBP dengan pelaksanaan yang penuh damai hingga berakhir.
‘Harapan kita ke depan, jangan lagi ada perpecahan dan sekat-sekat di tengah-tengah HKBP sebagai tubuh Kristus. Biarlah kejadian-kejadian yang dulu hilang dari ingatan semua jemaat HKBP,” sebutnya.
Turut memberikan sambutan yakni dari yang mewakili jemaat HKBP yaitu Berman Lumbantobing dan yang mewakili peserta sinode adalah seorang jemaat HKBP Tebet dan mewakili undangan PO Pakpakan.
Sedangkan ibadah pelantikan dipimpin Liturgis Pdt Ramlan Hutahaean MTh (Sekjen HKBP terpilih) dan pengkhotbah Ephorus terpilih Pdt DR Bonar Napitupulu yang mengambil nats 2 Tessalonika 3 ayat 10-13.
Dalam khotbahnya disampaikan bahwa sering tidak disadari bagaimana tingginya nilai kehidupan manusia yang membedakannya dari mahluk lain ciptaan Allah. Dalam perbedaan dari mahluk lain tersebut, sebagai firman Tuhan maka manusia diminta harus tekun bekerja yang mempunyai arti harus menghargai waktu yang diberikan Tuhan karena walau setinggi apapun pengetahuan manusia tentang teknologi, tapi waktu tidak akan dapat diciptakan.
Dalam hal ini katanya, pemahaman orang Batak tentang waktu lebih tinggi dari bangsa-bangsa lain karena orang Batak mempunyai semboyan “Arga do Tingki” sedangkan bangsa lainnya baru mengakui bahwa waktu itu adalah uang.
Usai ibadah pelantikan dan acara umum untuk sambutan, dilanjutkan dengan salam-salaman untuk mengucapkan selamat kepada pucuk pimpinan HKBP yang dilantik dan acara makan bersama dengan seluruh undangan dan jemaat. (PR3/d)

Permalink Leave a Comment

« Previous page · Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.