GETTING TO KNOW ABOUT MR “OLO PANGGABEAN”

Olo Panggabean
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Olo Panggabean (lahir di Tarutung pada 24 Mei 1941)[1] adalah ketua Ikatan Pemuda Karya, sebuah organisasi pemuda di Sumatera Utara yang didirikan pada tahun 1964. Panggabean sering disebut sebagai seorang “raja perjudian” yang berpengaruh[1][2][3] di kawasan tersebut, meskipun tuduhan terhadapnya belum dapat dibuktikan pihak berwajib.[2] Keterlibatannya dalam bidang ini diawali pada tahun 1973 saat ia masih merupakan anggota Pemuda Pancasila, sebuah organisasi pemuda lainnya. Kala itu ia membuka kim, sejenis permainan bingo berhadiah uang di arena Medan Fair.

Sejak jabatan Kapolri disandang Sutanto pada tahun 2005, kegiatan perjudian yang dikaitkan dengan Olo telah sedikit banyak mengalami penurunan.[1] Panggabean pernah beberapa kali terlibat masalah dengan pihak kepolisian. Pada tahun 1999, rumah Olo di Medan Barat pernah diberondong anggota Brigade Mobil atas perintah Sutiyono, Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara saat itu. Pada pertengahan 2000, ia menerima perintah panggilan dari Sutanto (saat itu menjabat sebagai Kapolda Sumut) terkait masalah perjudian namun panggilan tersebut ditolaknya dengan hanya mengirimkan seorang wakil sebagai penyampai pesan.

=======================00000=====================000000===================000=

Nama : pemerhati lingkungan
Kota : Medan
Pesan : Aksi premanisme yang semakin menjadi-jadi sehingga seseorang yang tidak dikenal membawa-bawa nama Olo Panggabean sebagai temannya yang mungkin hanya mengaku-ngaku saja. Bahkan orang tersebut mengancam akan menghubungi anggota Olo Panggabean untuk berbuat anarkhi. Nama Olo Panggabean tentu saja sudah tidak asing lagi di kota Medan dan sekitarnya. Olo Panggabean disebut-sebut sebagai Ketua Perhimpunan OKP dan Penyelenggara perjudian yang ada di kota Medan. Dengan itu saya menghimbau kepada seluruh jajaran kepolisian yang ada di Indonesia dan Medan khususnya untuk menghapus premanisme dan memenjarakan Olo Panggabean karena telah menakut-nakuti seluruh masyarakat kota Medan.
From : anti_premanisme@yahoo.co.id Thu, 2005-28-07 10:35:41

=================00000==================00000================00000=======

Medan businessman Olo Panggabean paid for the machine as well as the children’s treatment.

Herna Hospital in Medan will care for the twins in an emergency.

Dr Tan said there was at least $100,000 left over from Mr Olo’s donation and this would be used to pay for further operations.

===================00000================00000============00000=======

More details emerged yesterday of the twins’ Indonesian sponsor, Mr Olo Panggabean, who turns 64 today.

He has helped at least five other Indonesian children with severe disabilities or illnesses from poor families to get treatment here, reported Shin Min Daily yesterday.

Mr Olo, who is single, is an Indonesian tycoon with fishing and trading businesses in Medan and Aceh, said his assistant in Singapore who wanted to be known only as Mr Huang.

When told about the successful operation over the weekend by his assistant, Mr Olo, who is in Europe, was reported to have said: ‘This is the best birthday present I’ve ever received.’

================0000=================00000=================00000======

L] NENGSHA – Belitan Naga Sampai ke JenderalFrom: apakabar@saltmine.radix.net
Date: Tue Jan 15 2002 – 14:44:50 EST

——————————————————————————–

From: “O’sama bin Titan”
To: apakabar@radix.net
Subject: JUDI: Antara Olo Panggabean, Tommy Winata, Jenderal Tengik dan MUI
Date: Tue, 15 Jan 2002 17:09:49 +0700

Belitan Naga Sampai ke Jenderal

Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk
pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat.
Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian
larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun,
beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja “panas” dan berdenyut. Sebuah siklus
sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah “mati” dari kehidupan
malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.
Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat.
Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di
Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di
tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan
sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk
sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam.
Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya.
Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan
pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan
cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5
miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka,
tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan.
Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta. Riwayatnnya memang sudah
ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi
pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut
ajaran agama tergolong haram jadah.
Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di
beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta
Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia
keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi.
Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain
memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut
membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari
Yan Darmadi.
Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur
DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan
mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh
Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad
di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi
perjudian. Mereka membentuk satuan “pengamanan” yang mengikutsertakan jasa
centeng amatir sampai jenderal profesional.
Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari
kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap
(togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di
setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan,
Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah
gesit.
Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di
Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa
bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David
berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta
maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum
pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta
wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar
per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke
seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau
per minggu.
Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa
disebut sebagai jaringan “Sembilan Naga” tadi. Selain Tomy Winata, Engsan,
Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di
Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar,
Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah,
dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam.
Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan
Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada,
Jakarta Pusat. Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong
hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di
Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat,
serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai
membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik
Rp 10 miliar per malam.
Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston,
Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian
kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata,
Arief, dan Cocong.
Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua
di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang
belum akrab dengan “kaki tangan” pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan
pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul.
Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino
memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan
berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola
kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam
tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang
angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang.
Selain jaringan “Sembilan Naga” yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas
judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan
tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam,
Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan
dan Aceh), dan Firman (Semarang). “Mereka inilah yang menguasai jaringan
mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk
dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura,” kata sumber FORUM di
Markas Besar Polri.
Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di
Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa
masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai
sistem “kartu anggota”.
Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi.
Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di
Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5
miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan,
Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan
tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya,
bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan
judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon
melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran,
Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.
Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari
pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan “aman” lagi. Pernah sekali
waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden
Abdurrahman Wahid–waktu itu masih berkuasa–menuding Tomy Winata sebagai
dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik
melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki,
adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal
pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu.
Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa
mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang
didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang
sekali disimpan di Indonesia. “Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung
mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri,” kata sumber FORUM di
Bursa Efek Jakarta.
Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah
riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik
Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama
(era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali
Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan
pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan.
Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah
tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan
Abah. Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang
Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan
sendiri, adalah generasi ketiga. “Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di
Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan,” kata Anton Medan. Sedangkan
Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris
generasi keempat.
Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke
mancanegara.
Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja.
Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang,
Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido
Star, yang bermarkas di Singapura.
Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia,
bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di
Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting
Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di
Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara.
Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?

Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias
beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri
atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai
partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana
operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak
adalah dari sektor 303 ini.

Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda
DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303
ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau
dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung
mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin
secara alamiah pula. “Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak
pernah makan duit judi,” kata Anton.
Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.

Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar.
Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5
miliar. Begitulah seterusnya. “Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam
bentuk barang seperti mobil dan komputer,” ujar sumber di Mabes Polri.
Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton,
upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas,
berkisar Rp 200-500 juta per bulan. “Yang berat itu kan dari kalangan
aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya
lumayan besar,” kata salah seorang bandar kepada FORUM.
Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya.
Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas.
Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan
Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing
judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja
di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering
yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat
banyak khususnya yg miskin.

Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga.
Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????

—– End of forwarded message from O’sama bin Titan —–

===============================00000====================000000============================000000=====

doddy.a at …
Guest

Posted: Tue Jun 01, 2004 4:46 am Post subject: WIRO NAN HEBAT Wiranto: Hukum Mati Koruptor Kakap

——————————————————————————–

Soal wiranto terkait mafia,
di Medan ada kepala Bandit namanya Olo Panggabean. Dia mempunyai organisasi
“kepemudaan” yang bernama Ikatan Pemuda Karya (IPK), yang lahan kerjanya
bersinggungan dengan lahan kerja Pemuda Pancasila (PP) yaitu: prostitusi,
judi, extortion, debt collector dan lain-lain. Kedua organisasi ini (IPK &
PP) adalah underbow Golkar. Olo Panggabean secara tidak resmi merupakan
penguasa Sumatera Utara. Front Pembela Islam (FPI) pernah coba-coba masuk
kota Medan dan hasilnya adalah puluhan anggotanya luka-luka, beberapa mobil
dan sepeda motor rusak berat karena mereka berniat untuk “merazia”
lokasi-lokasi tertentu di Medan. Setelah kejadian ini FPI tidak pernah
kedengaran lagi kabarnya di kota Medan (barangkali menunggu waktu yang tepat
untuk bangun lagi hehehe). Nah sekitar 2 (dua) tahun yg lalu, Olo
mengundurkan diri dari jabatan ketua Organisasi IPK ini dan menjadi
Penasehat Organisasi. Sebagai ketua IPK ditunjuk Amani Moses Tambunan (Amani
Moses = Bapaknya si Moses, karena menurut tradisi orang batak orang yang
sudah menikah dan punya anak tidak boleh disebut namanya lagi jaid
panggilannya diganti dengan nama anaknya yang pertama) bekas tangan kanannya
(yang kerjanya menikam orang kalau nggak nurut) yang menjadi anggota DPRD
Sumatera Utara dari fraksi Golkar. Nah selama mejadi ketua organisasi ini,
Amani Moses bertindak sangat brutal dan kasar “sedikit lain” dengan cara si
Olo beraksi. Setiap ada pemilihan kepala daerah di Sumatera Utara, rumah
pemenangnya pasti akan di datangi oleh Amani Moses dan anggotanya untuk
memalak sang pemenang. Hal ini terjadi sejak beliau menjadi anggota DPRD 10
tahun yang lalu. Tetapi sejak menjadi ketua maka iurannya menjadi lebih
besar. Hal ini meresahkan kalangan Bupati/Walikota dan pemimpin2 lain di
Sumatera Utara dan melaporkan hal tersebut kepada sang Penasehat. Melihat
Sumatera Utara kurang besar Amani Moses kemudia melebarkan sayap organisasi
ke Jakarta. Cabang pertama di buka di Jakarta Pusat sekitar daerah Cempaka
Putih/Proyek Senen/Galur dengan ketuanya Budi Panggabean. Sementara Amani
Moses bekerja keras untuk dirinya sendiri, banyak keluhan2 datang kepada
Penasehat IPK antara lain dari anggotanya sendiri yang tangkapannya menyusut
karena dimakan ketua baru, anggota masyarakat yang bisa jumpa dengan beliau
dan bahkan saudara si Penasehat yang “kurang beruntung” jadi tidak begitu
kaya karena uang yang seharusnya diberikan kepada anaknya pada waktu
ulangtahunnya ditilep oleh ketua baru ini. Konsolidasi dilakukan dan Olo
mulai menempatkan orang-orangnya di sektor-sektor pemerintahan di Sumatera
Utara. Jabatan2 bupati/wakil bupati diambil oleh mereka, antara lain wakil
bupati Nias merupakan anggotanya. Intrik2 untuk melengserkan Amani Moses
juga mulai dilakukan. Merasa gerah karena Penasehat mulai menjadi lawannya
membuat Amani Moses mulai membuka jalur baru untuk mengamankan “jabatannya”.
Untuk itu dia menggandeng Wiranto pada tahun 2003 untuk menjadi salah
seorang “penasehat” organisasi tersebut (IPK). Hal ini membuat marah Sang
Penasehat dan mulai mencari cara untuk mengambil alih kendali kekuasaan dari
Amani Moses ini. Peluang terbuka sewaktu pemilihan Bupati Tapanuli Utara
dimana anggotanya terpilih menjadi Bupati. Seperti biasa Amani Moses datang
ke Tarutung utnuk mengambil upeti dari Bupati yang terpilih. Dan jebakanpun
mulai bekerja. Beberapa koran lokal di Medan mulai meributkan tentang
pemerasan Bupati oleh preman. Dan tidak lama kemudian Amani Moses pun di
lengserkan dan yang menjadi ketua IPK adalah Budi Panggabean bekas ketua di
Jakarta. Dan Wiranto sedikit dilengserkan ke penasehat IPK wilayah Jakarta?
(kurang jelas). Tetapi yang jelas adalah selama Olo Panggabean memegang
kekuasaannya tidak kurang setiap bulan dikirim 2 truk Colt Diesel uang ke
Jakarta sebagai upeti. Kenapa tidak melalui bank? Kan namanya pencucian
uang. Kalau dalam masa2 pemilu maka upeti bisa lebih banyak lagi. Kepada
siapa dikirim, sumber2 terpecaya belum tahu (hahahaa). Semua pejabat2
militer/polisi setiap kali menjabat di Sumatera Utara pasti di service oleh
Olo Panggabean tidak terkecuali Agum Gumelar yang pernah menjadi Kasdam
I/BB.

Catatan penulis.
(kisah ini hanya khayalan, kalaupun ada nama/tempat yang serupa dengan
kenyataan sekarang maka itu hanya kebetulan saja hahahaha)

haris
====================00000================000000===============

Quote:
Originally Posted by copycat
Gwe sih penasaran aje sebenernya, soalnya kan mantan cowonya si Joy baru kawin, loh kok ikut2an kawin.

Joy-Jelita emang gosipnya (ini kan forum gosip) cewe2 bawaannya si Olo Panggabean, jadi udah bukan second lagi kali ye…
Dulu ada cowo marga Hutapea, udah mau kawin, berhubung doi ini mantannya si Jelita, masa nih cowo dikejar2 sampe perkawinan cowo ini gagal. Si Jelita terus terang sama nyokapnya cowo ini, bilang mereka suka buugil bareng di kamar…….. gelo kan.

Tapi sekarang ternyata Jelita ini kawin sama marga Hutapea juga yg sodaraan sama mantan cowonya dulu (yg buugil2an di kamar itu)

Kalo Joy, dulu kan doi pacaran sama Simanjuntak yg kampanye mati2an spy doi menang Indo Idol. Nah kaga disetujui nih sama ortunya Simanjuntak ini, mungkin krn udah denger2 nih kakak adek suka buugil2an di kamar cowo kali ye….

Inilah OKB yg cuma jadi kaya standard mereka doang, jadi maunya nempel sama cowo berduit walaupun disepelekan keluarga…

Boleh tambahin yah, kalau si Joy emang bener bawaannya Olo Panggabean, tapi bukan dalam konteks seksual loh. Si Olo Panggabean ini kan ketua ormas kepemudaan terbesar di Sumatra Utara. Kedok doang sih ormas tersebut padahal sebenarnya preman bayaran, sama beking judi-judi gelap (togel). Untuk ukuran Indonesia, dia udah hampir bisa menyamai Pemuda Pancasila. Bahkan Pemuda Pancasila aja gak berkutik di Sumatra Utara. Si Joy ini emang sering dibawa ama Olo kalau kunjungan ke daerah, jadi bisa sekalian hiburan yah pentas-pentas panggung gitu lah.

Sedikit Out Of Topic yah teman-teman, ada cerita lucu mengenai si Olo ini. Jadi dulu pas Pak Sutanto dilantik sebagai kapolda di Sumatra Utara, si Olo coba nyogok dia. Dia pikir kapolda baru bisa diajak kerjasama seperti kapolda kapolda sebelumnya. Ternyata Pak Sutanto emang anti banget ama yang namanya judi dan orangnya ketat. Jadi si Olo mulai lah diincer sebagai target operasi. Tapi Olo juga gak kalah licik, dia nyuap hampir semua pejabat pemda medan dan juga beberapa pejabat tinggi di Polri. Alhasil Pak Sutanto dimutasikan ke Jawa Timur. Sekarang setelah Pak Sutanto jadi Kapolri, dia kembali jadi target dan sekarang kabur ke Singapura. Usaha dia sekarang mulai dipretelin ama Polisi, dan kasihannya setiap dia mau ke medan dia harus setor dulu ke polda sumut biar mereka pura-pura gak tau kalau dia ada di medan. Di kalangan orang batak sih ini udah jadi bahan candaan.

Oh yah kalau berkunjung ke Medan, coba aja minta dianterin ke “White House” pasti mereka pada tau. Mungkin lo bakalan ngakak, tapi emang beneran dia namain rumahnya White House. Lo gak bakalan harus jelasin alamatnya dimana ke tukang becak, taxi atau angkot di medan. Justru mereka akan tanya lo saudaranya, atau partner bisnisnya.

Eh btw kalau ada 3gp joy atau adeknya bugil, boleh dong di share
__________________

Prolog: Ada yang mengatakan bahwa Olo yang terkenal di Medan itu adalah Tionghoa Pribumi yang membeli marga Panggabean… Benar atau tidak.. paling tidak Pamor Olo di Medan setara dengan Gubernur Sumut.

Sekelumit tentang Olo Panggabean
Rabu, 20 Juli 2005 (riaupos.com)

Si Pak Katua, Keberadaannya Terasa tapi Tak TerabaOlo Panggabean, pendiri Ikatan Pemuda Karya (IPK), sering dianggap sebagai penguasa judi di Medan. Siapa sebenarnya sosok Olo yang kadang terkesan dermawan – mendanai operasi kembar siam Anggi-Anjeli – dan dekat dengan para pejabat ini? Laporan ROBBY EFFENDI, Medan

Terasa, tapi tidak teraba. Itulah kesan wartawan mengenai keberadaan sosok Olo Panggabean yang dulu dikenal sebagai ‘’raja judi” di Medan. Namanya begitu terkenal, tapi sosoknya begitu misterius. Tokoh yang disegani di kalangan ‘’jagoan” Medan ini mempunyai pengawalan berlapis. Hanya orang-orang tertentu yang tahu keberadaannya, apakah di Medan atau di suatu tempat.

Maka, sangat mengejutkan ketika Senin lalu Olo muncul untuk menyambut kedatangan bayi kembar siam Angi-Anjeli yang baru sukses menjalani operasi pemisahan di Singapura. Padahal, beberapa hari sebelumnya, tersiar kabar dia berada di Yerusalem. Beberapa wartawan yang ingin mewawancarainya terkait dengan langkah Kapolri Sutanto memberantas judi juga mendapat kabar bahwa Olo sedang berada di Singapura.

Pemunculannya di Bandara Polonia Medan, Senin lalu tentu tidak disia-siakan wartawan. Namun, saat akan diwawancarai sejumlah wartawan, para pengawal Olo yang tegap langsung membentuk pagar betis. Wartawan pun meneriakkan beberapa pertanyaan dari jarak yang agak jauh. Namun, Olo tak mau menjawabnya dengan satu kata pun.

Kemarin, kejutan kedua terjadi lagi. Tokoh legendaris itu juga hadir saat pelantikan Wali Kota Medan H Abdillah-Ramli. Dia muncul ketika acara sedang berlangsung. Tiba di tempat acara, Olo langsung duduk di kursi kosong di samping Pangdam I/BB Mayjen Tri Tamtomo.

Pemunculan Olo di depan publik itu sontak mendapat perhatian. Baik dari para undangan maupun wartawan. Tak heran, jika kilatan lampu kamera langsung tak henti-henti mengarah kepadanya. Apalagi dia langsung duduk di barisan Muspida, bersebelahan dengan Pangdam dan Ketua DPRD Sumut Abdul Wahab Dalimunthe. Olo tak lama menghadiri acara pelantikan Abdillah-Ramli itu. Sebab, saat dia tiba, acara memang sudah lama berlangsung. Maka, begitu selesai acara memberikan ucapan selamat kepada wali kota baru, Olo keluar ruang rapat paripurna DPRD Medan dengan pengawalan ketat. Enam pria berbadan tegap yang selalu berada di dekatnya terus menempel ke mana pun tokoh pemuda berumur 61 tahun itu pergi.
Semua yang ketat-ketat itu tak lain karena Olo memang selalu dikaitkan dengan dunia perjudian di Medan.

Dia juga dipanggil sebagai ‘’Pak Katua” karena dialah pendiri dan Ketua Ikatan Pemuda Karya (IPK), organisasi kepemudaan yang dirintisnya sejak 1970-an. Pak Ketua juga disebut-sebut sebagai tokoh di balik beredarnya toto gelap (togel) dan KIM, dua varian kupon judi tebak angka yang beromzet miliaran rupiah sekali putaran.

‘’Memang, semua orang menyebut begitu. Tapi, tak ada satu pun yang bisa membuktikan,” ujar Ajib Shah, salah seorang tokoh pemuda yang pernah menjabat ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pemuda Pancasila (PP) Sumut, dalam sebuah wawancara dengan koran ini pada akhir pekan lalu. Maksudnya, belum tentu semua yang dikatakan orang itu benar adanya. Sering juga namanya dipakai para pengelola mesin judi ketangkasan sebagai tameng.
Ajib justru memandang positif Olo Panggabean. ‘’Terlepas orang lain mengecap Olo Panggabean seperti apa, saya pribadi memandang dia itu sebagai tokoh yang punya kepedulian sosial yang sangat tinggi. Siapa pun yang butuh bantuan akan dia bantu. Tanpa memandang suku, agama, maupun golongan,” ungkapnya.

Ucapan Ajib bukan tak berdasar. Hingga sekarang, polisi pun tak bisa berbuat banyak untuk membuktikan bahwa Olo adalah bos judi. Polda Sumut, saat dipimpin Brigjen Pol Drs Sutiyono, bahkan pernah mengeluarkan surat bernomor Pol B/193/I/2000 tertanggal 27 Januari 2000 yang berisi peringatan keras kepada IPK. Lewat surat itu, Sutiyono mengingatkan agar IPK segera menghentikan usaha judinya.

Surat tersebut sebenarnya merupakan balasan surat yang sebelumnya diajukan ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IPK Kota Medan yang saat itu dijabat Moses Bungaran Tambunan. Dalam suratnya tersebut, Bungaran meminta klarifikasi dari Kapoldasu soal peristiwa pemberondongan ‘’Gedung Putih” -kediaman Olo Panggabean di Jalan Sekip, Medan Barat- oleh puluhan anggota Brigade Mobil. Pemberondongan itu terjadi pada akhir 1999.
Melalui surat balasannya itu, Sutiyono secara fair mengakui bahwa pemberondongan ‘’Gedung Putih” tersebut merupakan pelanggaran hukum. Namun, melalui surat itu pula, dia berkesempatan mengeluarkan peringatan keras kepada DPD IPK Kota Medan untuk menutup usaha judinya. Selain itu, DPD IPK diingatkan untuk tidak membiarkan anggotanya melakukan praktik-praktik premanisme. Misalnya, mengancam jiwa orang lain atau bertindak kekerasan.

Tapi, sekali lagi, polisi tetap tidak bisa membuktikan bahwa Olo Panggabean dan IPK-nya telah mengelola usaha perjudian. Surat peringatan yang juga ditembuskan ke seluruh organisasi kepemudaan di Sumut tersebut berlalu bagai angin. Tanpa bekas. Sejumlah kalangan menyebut surat peringatan itu hanya sebuah sensasional.
Moses Bungaran kala itu sempat menantang Poldasu untuk membuktikan tuduhannya. ‘’Keterkaitan antara IPK dan perjudian tersebut tidak benar. Kalau dikatakan demikian, apa bisa dibuktikan?” tegasnya saat itu yang sempat dikutip sebuah harian terbitan Medan.
Nah, pada upaya pemberantasan judi kali ini, aparat Polda Sumut tak lagi menyinggung-nyinggung Olo Panggabean maupun IPK. Bahkan, kantong-kantong IPK yang selama ini diduga sebagai pusat pengelolaan judi tak disentuh sama sekali.
Keberadaan judi di Medan memang mirip ‘’dunia lain”. Bisa dirasakan tapi tidak bisa dilihat. (ade)

5 Comments

  1. GETTING 2KNOW DEEPER “MR OLO PANGGABEAN” « my radical judgement by roysianipar said,

    […] read more roysianipar @ 6:14 am [filed under Uncategorized tagged europe, gambling, holland, JAKARTA, medan, OLOPANGGABEAN, singapore […]

  2. Shohibul Anshor Siregar said,

    Terimakasih tautannya.

  3. avatartamapan@yahoo.com said,

    lae hidup itu enjoy aja.

  4. Anggia said,

    “Sedikit Out Of Topic yah teman-teman, ada cerita lucu mengenai si Olo ini. Jadi dulu pas Pak Sutanto dilantik sebagai kapolda di Sumatra Utara, si Olo coba nyogok dia. Dia pikir kapolda baru bisa diajak kerjasama seperti kapolda kapolda sebelumnya. Ternyata Pak Sutanto emang anti banget ama yang namanya judi dan orangnya ketat. Jadi si Olo mulai lah diincer sebagai target operasi. Tapi Olo juga gak kalah licik, dia nyuap hampir semua pejabat pemda medan dan juga beberapa pejabat tinggi di Polri. Alhasil Pak Sutanto dimutasikan ke Jawa Timur. Sekarang setelah Pak Sutanto jadi Kapolri, dia kembali jadi target dan sekarang kabur ke Singapura. Usaha dia sekarang mulai dipretelin ama Polisi, dan kasihannya setiap dia mau ke medan dia harus setor dulu ke polda sumut biar mereka pura-pura gak tau kalau dia ada di medan. Di kalangan orang batak sih ini udah jadi bahan candaan.”

    biar yang baca ga tersesat, yg lari ke singapura bukanlah Olo Panggabean, tapi GM.Panggabean, yg notabene saat itu bersitegang dengan Olo Panggabean. jadi GM.Panggabean tidak diiizinkan Olo Panggabean kelihatan di Medan pada waktu itu. akhirnya GM.Panggabean meninggal di Singapura karena sakit (mungkin depresi).

  5. morena said,

    hancur holo panggabean???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: