MY CHILD HOOD MEMORY IN BATAK HOME I DID REMEMBER MY FAMILY HUTA WAS PROTECTED BY SOIL WALL MEANS INFLUENCE FROM EARLY HINDU TO ISLAM

Sunday, July 15, 2007

Sisa Kerajaan Buddha di Tapanuli Selatan


Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan
SEJARAH CENDIKIAWAN BATAK
 
Srivijaya Empire, People, places, politics etc.
 

rasibiduk

post Apr 14 2008, 04:48 PM

Post #1

AF Addict
Group Icon
Group: Members
Posts: 524
Joined: 29-July 04

 

Let’s discuss and share anything re: Srivijaya here (and not at Majapahit’s thread (IMG:style_emoticons/default/icon_wink.gif) )This post has been edited by rasibiduk: Apr 14 2008, 04:48 PM Let me start.

Well, I just found this out and I’m very sure not many people has heard about him, but I think one of the unsung hero from Srivijaya is a renown Buddhist scholar whose work has been published even until today. His name is Dharmarak$hita and his work is called ‘Wheel of Sharp Weapons’, a Mahayana doctrine about the law of karma. More about him: Dharmarak$hita in Wikipedia

Go to the top of the page

 

+Quote Post
 <!– ( Go to first unread post ) –>
Start new topic

Replies

rasibiduk

post Apr 24 2008, 10:59 AM

Post #2

AF Addict
Group Icon
Group: Members
Posts: 524
Joined: 29-July 04

 

Great pics Majapahit!

I have a favor to ask, since you’re so good at scouring the virtual world. I am wondering if you have pictures of Candi Portibi in Padang Lawas, Tapanuli Selatan. It is also called Biaro Bahal. It is the remnant of the little-known Kingdom of Panai. From what I can remember reading an article in Suara Pembaruan millenia ago, it is a Buddhist temple complex, specifically of the Vajrayana sect. So it has statues/carving of Heruka in it. Isn’t that intriguing? And architecturally it is somehow more elaborate than the ‘plain’ style of the other Sumatran candis. But I can’t find a decent website about it. Help!

Go to the top of the page

 

+Quote Post

Majapahitans

post Apr 24 2008, 11:21 AM

Post #3

AF Pro
Group Icon
Group: Members
Posts: 2,905
Joined: 12-July 05
From: Javadvipa Jaya

 

QUOTE(rasibiduk @ Apr 24 2008, 10:59 AM) *
Great pics Majapahit!
You’re welcome….
Unfortunaltely the image of Biaro Bahal or Candi Portibi in net is rare. Me myself don’t have opportunity to visit Tapanuli Selatan.
(I recently knew from my Batak friend that the word “Portibi” in Batak language means “World”… cool word…. (IMG:style_emoticons/default/biggthumpup.gif

) )
Let see what can I do….
Your wish is my command, (I’m in my gennie mode… (IMG:style_emoticons/default/embarassedlaugh.gif

) )
Here’s the link:
Horas Madina

QUOTE

Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan

Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Tak tanggung, dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.

Kebanyakan masyarakatnya, selalu menggunakan pakaian yang juga mencerminkan nilai-nilai Islam. Lelaki mengenakan peci, atau sekedar lebai saat duduk di warung-warung kopi, bahkan hingga ke Padang Sidempuan, ibukota Tapsel. Sementara kaum ibu mengenakan kebaya atau kain terusan berikut mengenakan selendang. Padahal, arus modrenisasi juga mendera salah satu dari 25 kabupaten dan kota di Sumut ini.

Di setiap sudut, gampang dijumpai bangunan musholla atau mesjid dengan air untuk wuduk yang berasal dari air pancuran gunung. Maklum saja, sebagian besar dari 11.677 kilometer persegi luas wilayah Tapsel merupakan dataran tinggi.

Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha! Tidak main-main, ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.

Candi Bahal I
Jangan membayangkan candi-candi itu seperti candi Prambanan atau Borobudur yang masih dipergunakan hingga sekarang. Candi-candi di Situs Padang Lawas masa kini hanya sebagai monumen sejarah dan sudah tidak dipergunakan lagi sebagai sarana beribadat. Misalnya Candi Bahal I.

Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Dikitari ilalang, Candi Bahal I terlihat bagai tugu batas desa. Beberapa pohon rimbun serta sebuah pos jaga di depannya sedikit menutupi papan nama candi di dekat gapura. Bangunan purbakala dari bata merah itu semakin memerah disengat matahari.

Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung.

Candi itu memang sepi pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak – Desa Bahal, dengan jarak tempuh sekitar 12 jam.

“Candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, biasanya dikutip Rp 2 ribu per orang. Kalau hari biasa, paling anak-anak muda sekitar kampung, pacaran. Pengunjung dalam sebulan paling banyak 20 orang saja. Kalau turis asing sudah lama tidak ada,” tutur Nashiruddin (28), seorang penduduk setempat.

Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya.

Menghadap Tenggara
Berbeda dengan posisi menghadap barat pada candi-candi di Jawa Timur atau menghadap timur pada candi-candi di Jawa Tengah, Bahal I justru dibangun menghadap Tenggara dengan sudut 135 derajat. Tidak diketahui alasannya.

Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar.

Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 meter.

Sementara bangunan induk candi itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan.

Kilasan Sejarah
Arkeolog asal Jerman F.M Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka.

Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Budha beraliran Wajrayana.

“Diperkirakan pembangunan Candi Bahal I beserta candi-candi di sekitarnya, sejaman dengan pembangunan Candi Muara Takus di Riau sekitar abad ke XII Masehi. Bahkan mungkin sama juga dengan sebuah Komplek Candi Mahligai dan Candi Putri Sangkar Bulan di Kab. Pariaman, Sumatera Barat yang sampai sekarang masih belum direnovasi,” kata Kepala Bidang Muskala, Kanwil Depdikbud Sumut, Syaiful A Tanjung.

Alasannya, kata Tanjung, karena proses pemugaran Candi Bahal masih mengikutsertakan arkeolog saja, sedangkan ahli sejarah tidak. Sehingga belum bisa disimpulkan kapan waktu berdirinya. Proses pemugaran masih berlangsung sampai sekarang.

Penulis yang sempat berkunjung ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, memang melihat ada kemiripan dari segi konstruksi maupun penggunaan batu bata sebagai bahan utama bangunan. Bata juga menjadi bahan bangunan dominan 61 candi di Komplek Situs Kepurbakalaan Muarajambi di Jambi.

Sebenarnya di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) masih berdiri satu candi bata, yakni Candi Indrapuri. Candi Hindu ini berada di Indrapuri, sekitar 25 kilometer arah timur Banda Aceh, ibukota NAD. Setelah berubah jadi Masjid Jami’ Indrapuri, terjadi beberapa perubahan bentuk.

Tembok tebal pemagar masjid merupakan bagian asli candi yang masih tersisa. Candi Indrapuri awalnya merupakan sebuah candi khusus untuk peribadatan kaum wanita. Kerajaan Lamori membangun Candi Indrapuri sekitar abad XII bersama Candi Indrapatra dan Indrapurwa. Namun dua candi terakhir sudah tidak terlihat lagi.

Relief tak Utuh
Satu hal yang agak memprihatinkan mengenai Candi Bahal I adalah pemugarannya, karena tidak begitu berhasil menunjukkan bagaimana ujud candi itu sebelumnya. Misalnya renovasi terhadap relief Yaksa dalam posisi sedang menari, di sebelah kiri pipi tangga candi. Bagian kepalanya sudah hilang.

Batu bata baru terlihat dipasang rata seperti membangun rumah! Tak ada ukiran baru mengikuti garis kepala Yaksa yang telah hilang! Untungnya 3 relief Yaksa di pipi kanan tangga masih asli. Kendati ada sedikit perbedaan pada tatahannya, namun dapatlah menjadi bahan perbandingan.

Sebenarnya relief terdapat pada setiap sisi candi. Ada enam relief singa pada dinding-dinding candi. Namun kini hanya beberapa bagian saja yang masih terlihat. Selebihnya berupa susunan batu bata baru. Ketika diresmikan Gubernur Raja Inal Siregar pada 26 Desember 1991, pemugaran itu tidak berhasil meniru aslinya.

Pemugaran terlihat lebih baik pada bagian dalam atas (atap) candi. Bentuknya lapik tiga lapis berupa susunan 21 batu bata. Berdenah bujur sangkar pada beberapa puluh centimeter pertama dan mengkerucut di bagian dalam. Sedangkan dari luar, atap berbentuk lingkaran. Renovasi keempat perwara tampak lebih baik, mungkin karena tak ada relief yang harus direkonstruksi.

http://khairulid.multiply.com/journal/item/23

I have a favor to ask, since you’re so good at scouring the virtual world. I am wondering if you have pictures of Candi Portibi in Padang Lawas, Tapanuli Selatan. It is also called Biaro Bahal. It is the remnant of the little-known Kingdom of Panai. From what I can remember reading an article in Suara Pembaruan millenia ago, it is a Buddhist temple complex, specifically of the Vajrayana sect. So it has statues/carving of Heruka in it. Isn’t that intriguing? And architecturally it is somehow more elaborate than the ‘plain’ style of the other Sumatran candis. But I can’t find a decent website about it. Help!

Go to the top of the page

 

+Quote Post
Posts in this topic
rasibiduk   Srivijaya Empire   Apr 14 2008, 04:48 PM
tangawizi   More fascinating stuff (but from the Chinese sourc…   Apr 14 2008, 08:09 PM
Bhaskara   Our islands were never fully Hindu or Buddhist at …   Apr 15 2008, 01:58 AM
Majapahitans   @ Tanga Fascinating to learn the link between Tib…   Apr 15 2008, 04:43 AM
dreamhunter   What a beautiful name Dharmakirti is Dharma signif…   Apr 15 2008, 10:24 PM
tangawizi   It seems that the political philosophy for Sri Vij…   Apr 15 2008, 11:04 PM
AwangPembela   Let’s discuss and share anything re: Srivijaya…   Apr 15 2008, 11:19 PM
Betong   It’s good that someone’s started this Sriv…   Apr 17 2008, 03:44 AM
Bhaskara   IMO, Chola was not that strong to invade Srivijaya…   Apr 17 2008, 05:30 AM
Bhaskara   Srivijaya consisted of tributary kingdoms, and not…   Apr 16 2008, 01:01 AM
skyisdalimit   btw what is modern chola? and what is the first re…   Apr 16 2008, 08:16 AM
DutchEastIndiesMan   ^hahahaha thats what i asked as well on another th…   Apr 16 2008, 08:27 AM
Bhaskara   It doesn’t help that in our language we would …   Apr 16 2008, 08:30 PM
tangawizi   So, the empire of Sri Vijaya were a collection of …   Apr 16 2008, 08:55 PM
AwangPembela   I know Srivijaya was a sort of loose federation. B…   Apr 16 2008, 10:16 PM
Bhaskara   But Awang, don’t you think Kedah would have ha…   Apr 17 2008, 01:22 AM
AwangPembela   But Awang, don’t you think Kedah would have ha…   Apr 18 2008, 09:00 AM
kelapa   The history of this archipelago seems to uncover q…   Apr 17 2008, 03:35 PM
Bhaskara   The history of this archipelago seems to uncover q…   Apr 17 2008, 09:01 PM
kelapa   BTW, I’m curious about your theory on why they…   Apr 23 2008, 07:38 AM
AwangPembela   The history of this archipelago seems to uncover q…   Apr 17 2008, 10:21 PM
Bhaskara   The biggest regional power in SEA up to 530 AD was…   Apr 18 2008, 03:17 AM
Majapahitans   Intermarried of royal family within the region was…   Apr 18 2008, 07:47 AM
applepannic   Intermarried of royal family within the region was…   Apr 30 2008, 07:40 PM
Bhaskara   I’ve never heard the theory that it was Palemb…   Apr 18 2008, 10:01 PM
AwangPembela   I’ve never heard the theory that it was Palemb…   Apr 20 2008, 04:58 AM
tangawizi   Well, Bhas, like i said before, the Sri Vijayan ma…   Apr 18 2008, 10:47 PM
AwangPembela   heheh… i just read that chapter in my book – Ear…   Apr 20 2008, 04:57 AM
tangawizi   Langakasuka was the FEDERATION that encompassed Ke…   Apr 20 2008, 07:27 AM
Bhaskara   Wow…. thank you, Tangy. I never knew Palembang e…   Apr 19 2008, 01:10 AM
AwangPembela   That just shows, even when you’re paying tribu…   Apr 20 2008, 05:19 AM
AwangPembela   In the olden days, just as like today, when kingdo…   Apr 20 2008, 06:20 AM
AwangPembela   Well, one can call it what one wishes, Tangy. Cal…   Apr 20 2008, 11:19 PM
AwangPembela   BTW, the concept of concentric circles has also be…   Apr 20 2008, 11:55 PM
Majapahitans   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/49/Cand…   Apr 21 2008, 05:55 AM
AwangPembela   http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/49/Cand…   Apr 23 2008, 01:07 AM
HangPC2   Which brings others to similar sensitive issues: -…   Apr 23 2008, 01:24 AM
tangawizi   Which brings others to similar sensitive issues: -…   Apr 23 2008, 03:40 AM
Majapahitans   Which brings others to similar sensitive issues: -…   Apr 23 2008, 04:26 AM
dreamhunter   Hey… you catch my drift…. -cheers Good…. …   Apr 24 2008, 09:56 AM
Bhaskara   Wow, Majjy, thank you so much for uploading those …   Apr 21 2008, 09:00 PM
Majapahitans   Wow, Majjy, thank you so much for uploading those …   Apr 24 2008, 09:41 AM
HangPC2   You’re welcome…. -cheers How do you know …   Apr 25 2008, 12:54 AM
HangPC2   Sources : http://artmelayu.blogspot.com/ http://b…   Apr 23 2008, 01:21 AM
HangPC2   [b]Lembah Bujang (Kedah) [img]http://www.mybu…   Apr 23 2008, 01:31 AM
HangPC2   [b]Pendapat Abu Zaid 916 TM dan Mas’udi 943 TM…   Apr 23 2008, 01:36 AM
HangPC2   [b]Kedah Sudah Islam Sejak 877 Masihi. Orang-or…   Apr 23 2008, 01:38 AM
HangPC2   [b]Peperangan Seri Rama dan Andanum. Ketika Isl…   Apr 23 2008, 01:41 AM
HangPC2   The Persian Influence Over Ayuthiya (Ayutthaya) …   Apr 23 2008, 01:43 AM
rasibiduk   Great pics Majapahit! I have a favor to ask, …   Apr 24 2008, 10:59 AM
Majapahitans   Great pics Majapahit! I have a favor to ask, …   Apr 24 2008, 11:21 AM

Bhaskara   WUOOOOOOOOWWW!!! -eek Thank you, rasi…   Apr 24 2008, 09:23 PM
HangPC2   “The earliest candi in Lembah Bujang, from th…   Apr 25 2008, 01:12 AM
HangPC2   [b]Muzium Arkeologi Lembah Bujang Merbok [url...   Apr 25 2008, 02:03 AM
HangPC2   Srivijaya Coins http://www.geocities.jp/higenag...   Apr 25 2008, 02:16 AM
Bhaskara   ^Neat pics! Thank you for posting the pics of ...   Apr 25 2008, 03:19 AM
Majapahitans   ^Neat pics! Thank you for posting the pics of ...   Apr 25 2008, 04:33 AM
dreamhunter   So which/where were the kingdoms the ancient Chine...   Apr 25 2008, 05:34 AM
Majapahitans   So which/where were the kingdoms the ancient Chine...   Apr 25 2008, 09:06 AM
Majapahitans   Anyway...., just upload new Map of Srivijaya Empir...   Apr 25 2008, 10:52 AM
rasibiduk   I just want to say Thank YOU to Maja for being a v...   Apr 25 2008, 11:18 AM
Majapahitans   ^^^ You're welcome.... -laugh2 You have 2 mor...   Apr 25 2008, 11:37 AM
HangPC2   [b]Kota Gelanggi, The Lost City in Johor They fo…   Apr 25 2008, 08:40 PM
HangPC2   [b]Lost City of Khmer Empire – Near Tasik Chini – …   Apr 25 2008, 09:00 PM
HangPC2   [b]The makara found rewrites the history of the Ma…   Apr 25 2008, 09:01 PM
Bhaskara   Let’s go with Kirin, sounds way cool -laugh A…   Apr 25 2008, 09:28 PM
Ralf   Wow ! Lost City….. I wanna grab my backpack…   Apr 25 2008, 09:46 PM
rasibiduk   I followed the Kota Gelanggi expedition with much …   Apr 26 2008, 02:02 AM
dreamhunter   I’ve read about ancient Tamil records mentioni…   Apr 26 2008, 09:59 AM
dreamhunter   http://www.malaysia.or.kr/history.htm The extensi…   Apr 26 2008, 04:23 PM
Bhaskara   http://www.malaysia.or.kr/history.htm The extensi…   Apr 27 2008, 10:16 PM
tangawizi   HHAHAHAHAA…. I duno what is it about some male M…   Apr 27 2008, 10:19 PM
dreamhunter   HHAHAHAHAA…. I duno what is it about some male M…   Apr 28 2008, 04:33 AM
Majapahitans   Deluded as always -Talktohand I think he’s n…   Apr 28 2008, 05:14 AM
JoeRagan   …..And using animal name as person name is commo…   Apr 29 2008, 09:31 PM
kelapa   Your thesys that “Gajah” is Malay word i…   Apr 30 2008, 10:43 AM
dreamhunter   Correction: Kebo=munding=water buffalo; Maesa/Mahe…   May 1 2008, 10:45 PM
PerisaiLangkasuka   Actually, guys, I think Dreamhunter was just copy-…   Apr 28 2008, 01:41 AM
kelapa   Confusion. The story predated Majapahit era. It …   Apr 28 2008, 02:48 AM
PerisaiLangkasuka   Confusion. The story predated Majapahit era. It ha…   Apr 28 2008, 04:04 AM
kelapa   BTW, was Dharmasraya the new name of the Malayu ki…   Apr 29 2008, 08:52 AM
PerisaiLangkasuka   Malayu was a name of a river near Batang Hari in n…   Apr 29 2008, 09:42 PM
kelapa   Could it be that Dharmasraya was the personal name…   Apr 30 2008, 10:32 AM
DutchEastIndiesMan   ^ ohh never knew that…. no offence but…Munding…   Apr 28 2008, 08:43 AM
Bhaskara   Heeheehee… Maybe it’s weird if you think abo…   Apr 28 2008, 08:49 PM
dreamhunter   Ha ha ha ha ha ha. -laugh2 Ha ha ha ha ha ha. -l…   Apr 29 2008, 08:43 AM
IndianGuy   Is there still Indian influence on the present day…   Apr 29 2008, 01:04 PM
Bhaskara   Is there still Indian influence on the present day…   Apr 29 2008, 08:55 PM
Bhaskara   But I do believe that Mahish means buffalo -neutra…   May 2 2008, 03:59 AM
kelapa   But I do believe that Mahish means buffalo -neutra…   May 2 2008, 04:25 AM
dreamhunter   Heh, had him worried then didn’t ya, Kelapa? …   May 2 2008, 07:47 AM
Majapahitans   Correction: Kebo=munding=water buffalo; Maesa/Mahe…   May 5 2008, 04:14 AM
AwangPembela   So Mardini means slayer. Now wonder why Paolo Mard…   May 5 2008, 07:31 AM
Bhaskara   Mardini -laugh Are you a Japanese or something?   May 5 2008, 09:31 PM
AwangPembela   Must be that intensive Nihongo class I went throug…   May 5 2008, 11:17 PM
Bhaskara   I believe you don’t have the privilege of sayi…   May 6 2008, 01:44 AM
HangPC2   [b]Kendi lama singkap asal usul Melayu Oleh Hu…   May 14 2008, 10:17 PM
HangPC2   [b]Dakwa miliki kendi prasejarah Melayu Oleh R…   May 14 2008, 10:18 PM
kelapa   @Hang: thank you. In our area, Megalithic, Neolith…   May 15 2008, 03:56 AM
Bhaskara   @Hang: thank you. In our area, Megalithic, Neolith…   May 15 2008, 04:07 AM

4 Pages V   1 2 3 > » 
 

Archive for the ‘Repelita Wahyu Oetomo, S.S.’ Category

LAMURI TELAH ISLAM SEBELUM PASAI

with one comment

Repelita Wahyu Oetomo

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

Lamuri is known as a place in Aceh Besar, which supported by the existence of grave complex and fortress. The result of archaeological activities indicated that the gravestone in Aceh Besar is older than Samudera Pasai.

Kata kunci: Lamuri/Lamreh, benteng, Nisan Plakpling

I. Informasi keberadaan Lamuri

Nama Ramni (Abu Zaid Hasan), Lamuri (Prapanca), Lanpoli (Ma-Huan) dan Lambry (Tome Pires) telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan telah tersebar sampai ke mancanegara yang disebutkan dalam catatan perjalanan bangsa-bangsa asing. Pada masa itu keberadaan Lamuri, Ramni ataupun Lambri telah cukup diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan menjadi mata dagangan yang cukup laku di perdagangan internasional. Letak kerajaan seperti tersebut di atas cukup penting yaitu berada di perairan Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang, penghubung dua pusat kebudayaan besar di Asia. Mengingat peran pentingnya, sangat menarik perhatian petualang-petualang asing yang diabadikan dalam catatan perjalanannya. Keberadaan Lamuri, Lambri, atau yang disebut Ramni pada masa itu dapat disejajarkan dengan bandar-bandar perdagangan terkenal lainnya di Asia Tenggara seperti Barus, Kota Cina, Kampei di Sumatera Utara, Pasai, Singkil di NAD, Tumasik (Singapura), Malaka, dan lain sebagainya.

Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Parsi saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).

Dari masa yang lebih muda keberadaan Lamuri disebutkan dalam Negarakertagama. Disebutkan bahwa Lamuri, merupakan sebuah negeri yang takluk kepada kerajaan Majapahit. Muhammad Said dalam bukunya yang berjudul Aceh Sepanjang Abad menyebutkan tentang Lamuri dalam prasasti Tanjore (1030). Dalam prasasti tersebut disebutkan berita tentang ekspedisi Rajendracola I dari India; Ilamuridecam merupakan daerah taklukan Sriwijaya yang berhasil ditaklukkan Rajendracola pada tahun 1024 M (Nilakantasastri,1940).

Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1998:102-121).

Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, berpendapat bahwa Lambry dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambry terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkup. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehinggga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).

II. Beberapa tinggalan arkeologis di Lamreh

Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Nan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30). Beberapa tinggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut Lamreh. Tinggalan-tinggalan tersebut di antaranya adalah beberapa buah bangunan benteng, kompleks pemakaman dan adanya jejak bekas hunian, yang ditandai dengan adanya sebaran keramik. Beberapa tinggalan arkeologis tersebut di antaranya adalah;

II.1. Benteng Indrapatra

Benteng ini diperkirakan telah beralih fungsi. Beberapa ahli berpendapat bahwa bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi hingga menjadi seperti yang ada sekarang ini. Pendapat tersebut didasarkan pada analisis data bangunan. Di beberapa bagian bangunan masih dijumpai motif-motif bangunan bercirikan pra-Islam. Menurut beberapa sumber bangunan ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Hindu di Aceh yang dibangun oleh Putera Raja Harsya (keluarga raja Hindu di India) yang melarikan diri akibat serangan Bangsa Huna pada tahun 604 M. Latar belakang sejarah mengenai Benteng Indrapatra masih harus ditelusuri lebih jauh.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah IV (1604 M -1607 M) Kerajaan Aceh sedang mengalami ketidakstabilan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Portugis untuk menyusun kekuatan di Benteng Kuta Lubuk. Pada masa itu muncullah Perkasa Alam (Iskandar Muda) keponakan dari Sultan Ali Riayat Syah IV. Penyerangan Iskandar Muda, mendatangkan kemenangan bagi Kerajaan Aceh dan orang-orang Portugis berhasil diusir dari Benteng Kuta Lubuk.

Saat Sultan Ali Riayat Syah mangkat, Iskandar Muda naik takhta. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh diperkuat dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan di sepanjang pantai Selat Malaka, kemungkinan salah satunya adalah dibangunnya Benteng Iskandar Muda.

Sejarah penemuan benteng Kuta Lubuk disebutkan oleh Frederick de Houtman. Dijelaskan bahwa benteng tersebut dibangun oleh orang Portugis yang datang tanggal 15 November 1600 M, sebagai markas orang-orang Portugis untuk berdagang di Aceh disaat hubungan Kerajaan Aceh dengan Portugis terjalin dengan baik (Said,1961:257-330 ).

Dalam buku Tarich Aceh dan Nusantara, terdapat catatan mengenai Sultan Ala Addin Muhammad Syah yang memerintah tahun 1787-1795 M. Dalam suasana damai itu orang-orang Portugis yang mendapat izin berdagang, juga sekaligus mendapat izin dari sultan untuk membangun benteng di Kuta Lubuk.

 

II.2. Benteng Inong Balee

Benteng ini sering juga disebut sebagai Benteng Malahayati, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Almukammil (1589-1604 M). Bangunan ini merupakan benteng pertahanan sekaligus asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pemenuhan konsumsi laskar angkatan perang pimpinan Laksamana Malahayati.

II.3. Nisan Plakpling

Desa Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di desa ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk, dengan Benteng Inong Balee terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra Islam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997:90).

Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.

Nisan 1

Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm. Berbentuk persegi empat berukuran lebar 20 cm, semakin ke atas semakin mengecil (piramid). Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur.

 

 

Nisan 2

Di bagian atas terdapat panil berukir motif flora. Bagian atap/kepala
berbentuk oval, horisontal.

 

Nisan 3

Terbuat dari jenis batuan andesit (batu Kali), dengan motif sangat menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm. Bagian dasar berukuran lebar sekitar 20 cm. pada tiap-tiap sisi terdapat panil-panil dengan kaligrafi. Bagian atas
dihiasi dengan ukiran dengan motif bunga kerawang (tembus). Kepala berbentuk bawang.

Nisan 4

Berbahan dasar batuan andesit (batu kali). Sisi-sisinya berukuran lebar 20 cm. Terdapat panil di tiap sisi, dengan ukiran bermotif
tanjung/lotus atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif lotus yang sedang kuncup.

Nisan 5

Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan. Terdapat panil di keempat sisinya yang berisi kaligrafi dalam kondisi aus. Bagian atas terdapat panil yang berhiaskan sulur-suluran sampai ke bagian atas. Bagian atas berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.

III. Pembahasan

Kebesaran Lamuri (kini disebut Lamreh) ditandai dengan keberadaan bangunan-bangunan benteng diperkirakan merupakan perkembangan selanjutnya atau bahkan bersamaan dengan keberadaan makam-makam tersebut. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa bangunan-bangunan pertahanan yang ada merupakan peralihan fungsi dari bentuk yang ada sebelumnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa jauh sebelumnya, setidaknya telah ada suatu pemukiman yang cukup maju. Pembangunan bangunan-bangunan pertahanan tidak berhenti sampai disitu. Pada masa belakangan, disaat kekuasaan dipegang oleh Sultan Ali Riayat Syah pada sekitar tahun 1604 M terdapat pembangunan benteng yang dilakukan oleh Portugis di Kuta Lubuk, hal ini sangat kontradiktif dengan kenyataan bahwa di dalam benteng tersebut di temukan makam dengan nisan bertipe plakpling yang dibaca oleh Suwedi Montana, yang menunjukkan angka tahun yang jauh lebih tua daripada pembangunan pembangunan benteng tersebut. Pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan adalah sebagai berikut:

….assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir

Tsamaniata wa sita mi’ah

680 H ( 1211 M)

Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kutha Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -yang berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, apabila bangunan benteng tersebut dibangun pada masa belakangan oleh Portugis, untuk apa keberadaan makam tersebut terawetkan di dalam lokasi benteng ?, yang notabene merupakan makam-makam Sultan yang merupakan lawan politiknya. Namun seperti kita ketahui bahwa bangunan benteng tersebut sangat kental dengan unsur barat yaitu dengan adanya bastion di sudutnya. Saat kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda, pembangunan benteng-benteng pertahanan digalakkan kembali untuk menjaga stabilitas dalam negeri dari ancaman bangsa lain. Hal itu ditandai dengan pembangunan Benteng Iskandar Muda dan Benteng Inong Bale.

Nisan bertipe plakpling, di Lamreh menunjukkan bahwa di daerah tersebut terdapat komunitas yang telah memeluk Islam sebelum Samudera Pasai, yang ditandai dengan keberadaan nisan atasnama Sultan Sulaiman, yaitu di dalam Benteng Kuta Lubuk. Tipe-tipe nisan sejenis terdapat di atas bukit berdekatan dengan Benteng Inong Bale. Pembacaan sekilas menunjukkan nisan tersebut juga cukup tua. Beberapa bangunan pertahanan kemungkinan melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya, yaitu melengkapi pemukimannya dengan bangunan-bangunan pertahanan. Sayang sekali tidak ada penelitian yang secara khusus mengungkap keberadaan bangunan-bangunan benteng di daerah tersebut.

Nisan tipe plakpling merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi (kaligrafi). Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan ini mengadopsi bentuk-bentuk phallus/lingga, meru dan menhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Tipe nisan seperti ini memiliki persamaan dengan tinggalan arkeologis lain yang berasal dari masa yang lebih tua, megalithik, yang dikenal sebagai menhir (Ambary,1991:1–21). Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.

Ambary menyebutkan, salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).

Nisan plakpling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.

IV. Penutup

Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa Lamuri pada masa sebelum Pasai merupakan sebuah kerajaan Islam yang cukup besar. Kebesaran Lamuri tidak hanya berlangsung sebentar, keberadaan bangunan benteng pertahanan menunjukkan bahwa Lamuri yang kemudian berubah nama menjadi kerajaan Aceh masa selanjutnya dapat dipertahankan bahkan diperbesar. Puncak kejayaan Lamuri adalah pada masa tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal ini menepis anggapan bahwa Samudera Pasai dengan rajanya Malik as Shaleh merupakan kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Kepustakaan

Akbar, Ali, 1990. Peranan Kerajaan Islam Samudera – Pasai Sebagai Pusat Pengembangan Islam Di Nusantara. Aceh Utara : Pemda Tk II

Ambari, Hasan M. 1991. Makam-makam Kesultanan dan para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 12. Jakarta : Puslitarkenas.

——————–1994. Some Aspects of Islamic Architecture in Indonesia, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 14. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

——————–1996. Makam-makam Islam di Aceh, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta : Puslit Arkenas.

——————–1997. Kaligrafi Islam Di Indonesia, Telaah Dari Data Arkeologi, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 20. Jakarta : Puslitarkenas.

Montana, Suwedi, 1996/1997. Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri Dan Barat (Batu Nisan Abad Ke VII – VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan No 12 th VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hal. 83–93.

Nilakantasastri. 1940. Sri Vijaya. Madras: BEFEO

Oetomo, Repelita Wahyu, 2007. Nisan Plakpling, Nisan Peralihan dari Pra-Islam ke Islam, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol. X No.20. Medan: Balai Arkeologi Medan

Perret, Daniel dan Kamarudin Ab. Razak, 1999. Batu Aceh, Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru : EFEO dan Yayasan Warisan Johor.

Yatim, DR. Othman Mhd, 1988. Batu Aceh, Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Museum Association of Malaysia c/o Muzium Negara.

———————-dan Abdul Halim Nasir, 1990. Epigrafi Islam Terawal Di Nusantara. Selangor : Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka

Said, H. Mohammad, 1961. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada

Written by balarmedan

Juni 18th, 2008 pada 4:49 am

Posted in Repelita Wahyu Oetomo, S.S.

BENTENG TANAH DI PULAU LINGGA

without comments

Repelita Wahyu Oetomo
Balai Arkeologi Medan

Kerajaan Lingga telah dikenal sebagai salah satu kerajaan Melayu pada abad ke-16. Pada masa itu kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka disibukkan dengan dominasi Portugis di jalur perdagangan tersebut. Beberapa kali terjadi perlawanan dari kerajaan pribumi, walaupun akhirnya dapat dipatahkan. Keberadaan Portugis berakhir seiring dengan kedatangan Belanda. Namun hal ini tidak menjadikan keadaan lebih baik, ditambah lagi dengan datangnya Inggris. Perebutan pengaruh antara Belanda dan Inggris terhadap Selat Malaka turut memperkeruh keadaan sehingga mengakibatkan pecahnya kerajaan-kerajaan Melayu. Tidak banyak yang dapat dilakukan kerajaan-kerajan Melayu dalam penentuan kebijakan ekonomi perdagangan pada masa itu akibat politik adu domba yang diterapkan oleh Belanda. Hal inilah yang perlahan-lahan menggerogoti perekonomian kerajaan sehingga akhirnya mengakibatkan keruntuhannya.

Tingginya tingkat konflik di Selat Malaka, mengakibatkan kerajaan-kerajaan harus melengkapi keberadaanya dengan berbagai sistem pertahanan. Sistem pertahanan keamanan yang diterapkan oleh Kerajaan Lingga diantaranya adalah membangun pos-pos pertahanan, yang sampai saat ini masih dapat kita jumpai yaitu berupa tanggul-tanggul tanah yang dilengkapi dengan beberapa meriam untuk menjaga akses masuk ke kerajaan. Tanggul-tanggul tanah itu diantaranya adalah di Pulau Mepar, Bukit Cening, Kuala Daik dan tanggul tanah yang terdapat di Pabean.

Kota Kerajaan Lingga berpusat di Daik, yang saat ini merupakan ibukota Kecamatan Lingga, termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau, Propinsi Riau. Secara astronomis Kelurahan Daik-Lingga terletak antara 00 13’ — 00 14’ LS dan 1040 36’ — 1040 41 BT (Rencana Kota Daik, 1991). Sampai saat ini tinggalan arkeologis di bekas Kerajaan Lingga cukup lengkap, diantaranya adalah beberapa bangunan monumental, seperti; mesjid, makam, bekas istana, benteng-benteng pertahanan, dan tinggalan artefaktual lainnya. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai beberapa bangunan tanah yang merupakan pos-pos pertahanan sebagai bagian dari suatu sistem pertahanan di Kerajaan Lingga.
 
Peta situasi Pulau Lingga, Kec. Lingga, Kab. Kepulauan Riau

1. Benteng Tanah Bukit Cening         

Benteng tanah ini berjarak sekitar 3 km sebelah selatan ibukota Kecamatan Lingga, tepatnya di Kampung Seranggo, Kelurahan Daik. Pada jarak satu kilometer terakhir menuju benteng, merupakan jalan setapak yang hanya dapat dicapai dengan jalan kaki. Benteng ini dibangun di atas bukit, menghadap ke tenggara, dengan pintu masuk berada di sebelah utara. Bagian selatan benteng ini adalah tebing yang menghadap ke Selat Kolombok, sebelah utara tampak Gunung Daik dan Sepincan, baratdaya tampak Pulau Mepar, sedangkan sebelah barat-baratlaut merupakan daratan dan lokasi istana Sultan Lingga. Benteng ini merupakan bangunan tanah yang dibangun dengan meninggikan dan mengeraskan tanah, menyerupai tanggul, berdenah persegi empat, berukuran 32 m X 30 m, tebal sekitar 4 meter dengan ketinggian mencapai 1 – 1,5 m. Disebelah kiri, kanan dan depan benteng ini terdapat parit yang sebagian telah tertutup tanah. Melalui benteng ini pandangan bebas mengawasi daerah sekelilingnya.

Di dalam benteng ini terdapat sebanyak 19 buah meriam yang diletakkan berjajar di sisi selatan. Meriam-meriam di benteng ini dapat diklasifikasikan sebagai meriam berukuran sedang dan besar, dengan ukuran panjang antara 2 — 2,80 meter. Lubang laras berdiameter 8 — 12 cm. Pada meriam-meriam tersebut terdapat pertulisan yang terletak di bagian pangkal atau pada pengaitnya, sebagian dalam keadaan aus. Angka-angka tahun yang terdapat pada meriam itu adalah 1783 dan 1797, sedangkan tanda-tanda lain meliputi huruf P. HB. X. O. F. dan VOC.

2. Benteng Tanah Kuala Daik

Terletak di tepi muara Sungai Daik, sekitar 2 km dari Kampung Cina. Untuk mencapai lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan sampan. Masyarakat menyebut tempat ini sebagai Tanjung Meriam, karena menurut informasi, di tempat tersebut dulu banyak ditemukan meriam. Sisa bangunan yang ada saat ini hanyalah susunan batu yang menjorok ke laut. Keletakan benteng ini sangat strategis, yaitu berada di pintu masuk ke pusat kota yang dapat dilalui dengan menggunakan kapal. Kerusakan benteng tersebut kemungkinan akibat gerusan air laut yang semakin tinggi pada saat pasang, akibat pengendapan Lumpur pada muara Sungai Daik.

3. Benteng Tanah di Pabean

Benteng tanah ini terletak di pusat Kota Kecamatan Lingga, di sebelah utara Kantor Kecamatan Lingga dan tidak jauh dari arah aliran Sungai Daik. Kondisinya saat ini tidak beraturan, hampir rata dengan tanah akibat aktivitas penduduk disekitarnya. Lebar bangunan tanah saat ini mencapai 4 – 6 meter, dengan tinggi tidak lebih dari 1 meter. Berdasarkan sisa bangunan yang ada, benteng tersebut memanjang dari arah timur–barat. Bagian tengah benteng terputus, karena tepat pada bangunan ini digunakan sebagai pintu masuk ke halaman rumah penduduk. Menurut masyarakat, tempat ini merupakan Pabean pada masa lalu, tepatnya berada disekitar belokan aliran Sungai Daik. Pengamatan di lapangan menunjukkan di tempat tersebut permukaan tanahnya lebih rendah dan kondisinya berair. Di sekitarnya banyak ditemukan meriam yang saat ini diletakkan di alun-alun. Dua buah meriam yang terdapat di depan Mess Kecamatan memiliki keistimewaan, berbahan tembaga, berukuran panjang 3,35 m. Di bagian atas terdapat hiasan dan pertulisan / 8 / – O.

4. Benteng Tanah di Pulau Mepar    

Secara administratif Pulau Mepar termasuk dalam wilayah Desa Mepar, Kecamatan Lingga, berjarak sekitar 1 km dari Tanjung Butun. Untuk mencapai pulau ini ditempuh dengan menggunakan sampan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. Pulau tersebut saat ini dimanfaatkan masyarakat sebagai pemukiman dengan pusat aktivitasnya di sekitar dermaga. Di Pulau ini terdapat 5 buah bangunan tanah dan beberapa buah meriam yang saat ini terletak di sekitar perkampungan penduduk.

Tiga buah bangunan benteng terletak di selatan pulau, satu di sebelah barat, dan sisanya berada di utara (lihat gambar). Benteng I terletak di atas bukit, sebelah tenggara pulau. Benteng tersebut dibangun dari tanah yang dikeraskan, terlihat dari susunan tanah dan kerikil. Benteng tanah ini berukuran 25 m X 23 m, tebal dinding antara 2,5 – 3 meter dan tinggi antara 1 – 1,5 meter. Benteng ini dikelilingi oleh parit yang cukup dalam, di bagian pintu masuknya terdapat saluran yang kemungkinan digunakan untuk mengeluarkan air dari dalam benteng. Benteng I menghadap ke baratlaut, di sudut timurlaut dan utara terdapat kelebihan tanah (tonjolan) berukuran 2 – 3 meter, menyerupai bastion. Benteng terletak di tempat lebih tinggi, sehingga memudahkan pengawasan daerah sekitarnya. Melalui benteng I ini dapat diawasi Pulau Lingga yang berada di sebelah utaranya, dan Pulau Kolombok di sebelah selatan.

Benteng II dalam kondisi rusak, berdenah persegi empat, berjarak sekitar 5 meter dari garis pantai dan berada pada ketinggian 3 meter diatas permukaan laut. Benteng seluas sekitar 300 m2 ini, terletak di sebelah selatan pulau. Melalui benteng ini tampak Pulau Kolombok yang berada di sebelah selatannya.
Benteng III terletak di Kampung Hulu, berjarak sekitar 200 meter di sebelah baratdaya benteng II. Bangunan ini berjarak sekitar 20 meter dari garis pantai, dengan ketinggian sekitar 6 meter diatas permukaan laut. Bangunan ini berbentuk segitiga dengan luas sekitar 150 m2. Benteng IV terletak di kampung yang sama dengan benteng III, dengan jarak sekitar 200 meter dari benteng III. Benteng ini berbentuk persegi empat berukuran luas sekitar 300 m2, sedangkan benteng V terletak di kampung yang sama, berjarak sekitar 200 meter dari benteng IV, berbentuk persegi empat. Kondisi benteng-benteng tersebut saat ini rusak dan dipenuhi dengan tanaman liar.        
                                                                                                                                                                                        
5. Sistem Pertahanan di Kerajaan Lingga

Berdasarkan sumber-sumber tertulis Cina abad ke-15, disebut Pulau Lingga adalah karena gugusan gunung-gunung tampak menyerupai gigi naga (dragon teeth). Munculnya kata Ling kemungkinan berawal saat perantau Cina menginjakkan kakinya di Daik, mereka melihat gunung Daik yang bentuknya menyerupai gigi naga. Kemungkinan kedua adalah berhubungan dengan nama Kerajaan Kalingga yang berada di pantai timur India. Adapun kemungkinan ketiga adalah berkaitan dengan puncak Gunung Daik yang menyerupai phallus (alat kelamin laki-laki), yang dalam agama Hindu merupakan simbol Dewa Siwa (Groeneveldt, 1960).

Pulau Lingga terletak pada jalur perdagangan yang ramai. Dibandingkan dengan pulau-pulau lain keberadaan Pulau Lingga lebih menonjol, karena dari jarak yang cukup jauh tampak Gunung Daik. Hal ini memudahkan bagi para pedagang antar pulau yang menggunakannya sebagai sarana navigasi untuk mencapai pusat kota kerajaan. Pelaut menggunakan Gunung Daik sebagai orientasi, karena tepat pada titik 00 jarum kompas, akan dijumpai Muara sungai yang lurus dengan gunung Daik. Dengan mengikuti arah aliran Sungai Daik maka sampailah ke pusat kota Kerajaan Lingga. 

Bentuk dan ukuran benteng tanah di Kerajaan Lingga tidak sebesar atau seluas bangunan benteng yang banyak kita jumpai. Benteng tanah ini lebih tepat disebut sebagai pos-pos pertahanan. Pertahanan keamanan lebih banyak didukung oleh pos-pos, yang merupakan bagian dari suatu sistem pertahanan keamanan pada waktu itu. Pos-pos keamanan ini dirancang untuk saling dukung-mendukung menjaga akses masuk ke pusat kota kerajaan. Kapal-kapal yang akan mencapai Pulau Lingga umumnya berlayar melalui sebelah barat pulau, karena merupakan jalur perdagangan yang ramai, sehingga menjadikan jalur tersebut aman dari perompak. Penyebab lainnya adalah karena jarak pencapaianya lebih dekat dengan ombak tidak seganas Laut China Selatan.

Benteng IV dan III merupakan lapis pertama pertahanan bagi kapal yang menuju ke pusat Kerajaan Lingga melalui Tanjung Butun. Disusul kemudian oleh pertahanan benteng V dan benteng I. Sedangkan bagi kapal yang memilih mengelilingi Pulau Mepar, Benteng III merupakan lapis pertama pertahanan, disusul benteng ke II dan benteng I. Tampaknya Benteng I dan III memiliki peran yang cukup penting mengingat fungsi benteng ini menjaga beberapa sisi pulau. Benteng III didesain berbentuk segitiga untuk menjaga sisi barat dan selatan, sedangkan benteng I berfungsi untuk menjaga 3 sisi yaitu sebelah utara, selatan dan timur Pulau. Keletakan benteng tersebut pada tempat yang tinggi menjadikan benteng I mampu mengawasi beberapa sudut, sehingga tumpuan pertahanan keamanan benteng Pulau Mepar terletak pada benteng I. Melalui benteng I tembakan dapat diarahkan ke Tanjung Butun atau ke Selat Kolombok (lihat peta). Tonjolan tanah di sisi utara dan timur yang menyerupai bastion kemungkinan berfungsi untuk meletakkan meriam khusus, berukuran lebih besar (?). Sudut-sudut tersebut dilengkapi meriam yang diarahkan ke Tanjung Butun atau ke arah kapal yang melintas Selat Kolombok.

Fungsi pertahanan benteng I didukung juga dengan benteng Bukit Cening, yaitu mengantisipasi kapal-kapal yang lolos dari Benteng Pulau Mepar untuk mendekati Kuala Daik. Meriam-meriam yang saat ini terdapat di Bukit Cening menurut informasi ditemukan juga di areal antara Bukit Cening dan Kuala Daik. Apabila kapal telah sampai didepan pintu masuk (Kuala Daik) maka pertahanan dilakukan oleh pos-pos di Kuala Daik. Dan apabila berhasil lolos pertahanan/penyerangan dilakukan dengan meriam-meriam yang ada di sepanjang tepi Sungai Daik. Menurut informasi beberapa meriam yang saat ini terdapat di kantor polisi dan lain-lain diangkat dari pinggiran Sungai Daik. Bahkan beberapa meriam sampai saat ini masih ada yang belum terangkat dari dasar sungai.

Pertahanan terakhir kemungkinan adalah benteng tanah yang terdapat di Pabean. Beberapa meriam yang saat ini berada di sekitar alun-alun menurut informasi ditemukan di sekitar Pabean. Bahkan beberapa buah meriam saat dilakukan penelitian tergeletak di halaman depan rumah penduduk. Meriam-meriam tersebut saat ini diletakkan di sekitar alun-alun, menghadap jalan. Dua buah meriam yang berada di depan Mess Pemda, apabila ditilik dari bentuk, ukuran, dan bahan bakunya tampaknya sangat spesifik. Pada masa Kesultanan Riau Lingga kedua meriam itu selain untuk mendukung pertahanan juga digunakan untuk hal-hal bersifat khusus, misalnya sebagai tanda penobatan raja, upacara penyambutan tamu kehormatan, atau untuk upacara pemakaman raja. Lombard menyatakan bahwa meriam-meriam seperti itu pada masanya dianggap sebagai jimat jenis baru, terutama untuk menampakkan kewibawaan raja (Lombard,2000: 209–212).
   
6. Benteng Tanah Lingga: Sistem Pertahanan Belanda

Sejarah mencatat bahwa kekuasaan para sultan pada akhirnya berada di bawah dominasi Belanda. Perdagangan yang menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan dan hasil-hasil perdagangan yang dilakukan daerah-daerah pada akhirnya harus dijual pada Belanda dengan harga yang telah ditentukan, terutama barang-barang yang bernilai tinggi di pasaran dunia. Para sultan dipaksa menandatangani perjanjian-perjanjian yang memberatkan. Setiap pergantian sultan merupakan suatu kesempatan baru bagi Belanda untuk mengadakan dan memperbaharui perjanjian dengan ikatan-ikatan yang lebih berat. Hal inilah yang mengakibatkan beberapa sultan membangkang.

Tampaknya sistem pertahanan keamanan yang terdapat di Kerajaan Lingga merupakan suatu sistem pertahanan semu. Pertahanan keamanan hanya dipakai oleh kerajaan apabila kedatangan “musuh”, yaitu perompak yang mengganggu perdagangan Belanda, karena pada hakekatnya saat itu sesama Bangsa Melayu merasa memiliki beban yang sama, yaitu mematahkan dominasi Belanda atas jalur-jalur perdagangan di Selat Malaka. Salah satu contoh adalah sikap mendua pasukan dari Kerajaan Lingga yang diperintahkan menyerang Reteh. Pasukan Kesultanan Riau-Lingga yang tergabung dengan pasukan Belanda melakukan penyerangan ke Reteh tidak dengan sepenuh hati, sehingga Belanda terpaksa meminta tambahan pasukan untuk mengganti posisi orang-orang Melayu tersebut (Abrus,1998: 57).

Penempatan benteng-benteng pertahanan di beberapa kerajaan pada masa itu sedikit banyak untuk kepentingan Belanda. Peralatan perang yang didatangkan dari Belanda merupakan salah satu petunjuk bahwa pembelian persenjataan untuk pertahanan keamanan dengan sepengetahuan dan dikontrol oleh Belanda. Sedangkan salah satu bentuk pengawasan terhadap penggunaannya dilakukan dengan menempatkan sepasukan kecil di Pulau tersebut.

Pada masa pemerintahan Sultan Said Mudoyatsyah harus membayar mahal kemenangannya berperang dengan Raja Muda Jumahat yang dibantu Belanda dengan menanda tangani kontrak politik yang dikenal dengan Traktaat Van Vrede en Vriendshap salah satu isinya adalah mengakui hak Pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan benteng-benteng di Indragiri guna melindungi pelayaran, perdagangan, dan pencegahan perampokan laut (Abrus, 1998:36–54). 
Berdasarkan beberapa hal, seperti tersebut di atas, penempatan bangunan-bangunan pertahanan merupakan sebuah sistem pertahanan yang digunakan Belanda untuk membatasi gerak seorang penguasa (sultan). Bangunan pertahanan digunakan untuk mengurung sultan di dalam kota kerajaannya. Penggunaan meriam ataupun peralatan-peralatan perang diawasi oleh Belanda. Salah satu isi perjanjian yang ditanda tangani oleh Sultan Mahmud Muzafar Syah tanggal 10 Juni 1837 adalah: Belanda akan menempatkan suatu pasukan kecil di Lingga (Abrus,1998:54). Pengaturan seperti itu adalah untuk kepentingan keamanan pemerintahan Belanda. Wujud dominasi ini diketahui dari beberapa keputusan Belanda untuk mencopot beberapa sultan yang dianggap membangkang.

7. Masa Pembangunan Benteng Pertahanan Kerajaan Lingga

Menilik bentuk, bahan, dan pola hias meriam yang terdapat di benteng Bukit Cening dengan yang ada di Pulau Mepar menunjukkan bahwa meriam-meriam yang terdapat di Pulau Lingga memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang terdapat di Pulau Mepar. Meriam yang terdapat di Lingga menggunakan bahan yang lebih baik dan memiliki tanda-tanda khusus yang menunjukan bahwa meriam tersebut didatangkan dari Belanda, diketahui dari beberapa pertulisan seperti VOC, HB, X, O dan lain-lain. Sebaliknya pada meriam yang terdapat di Pulau Mepar berbahan kurang baik dan tidak terdapat pertulisan ataupun tanda-tanda lain. Kualitas bahan yang kurang baik mengakibatkan salah satu meriam yang terdapat di Pulau Mepar pecah pada bagian ujungnya akibat panas karena terlalu sering digunakan. Bila dibandingkan dengan yang terdapat di Bukit Cening, meriam di Pulau Mepar lebih kasar, kemungkinan meriam tersebut buatan lokal atau didatangkan dari daerah yang belum maju teknologi pembuatannya.

Menilik angka tahun yang terdapat pada meriam yang terdapat di Bukit Cening kemungkinan meriam itu lebih tua dibandingkan dengan yang ada di Mepar. Pertulisan angka tahun 1783 dan 1797 sejaman dengan pindahnya pusat kota Kerajaan Melayu-Riau ke Lingga. Sedangkan informasi mengenai keberadaan meriam di Pulau Mepar adalah saat diangkutnya perlengkapan perang Kesultanan Melayu dari Pulau Mepar ke Reteh pada tahun 1858, diantara peralatan perang itu adalah meriam-meriam (Abrus,1998:56). Mungkin pada waktu itu meriam-meriam tersebut dalam kondisi baru, sekitar 40–70 tahun lebih baru dibandingkan meriam-meriam VOC.  

Apabila dilihat dari kondisi, bahan maupun pola hias meriam yang terdapat di Bukit Cening, Pabean, serta beberapa yang ditemukan tercecer di Pulau Lingga sebagian besar memiliki persamaan. Dengan demikian kemungkinan masa pembangunan benteng Bukit Cening, Pabean, dan Kuala Daik sejaman. Sedangkan apabila dibandingkan dengan meriam yang terdapat di Pulau Mepar, kemungkinan masa pembangunannya lebih belakangan, tidak berselang jauh dengan penggunaan meriamnya pada saat pertama digunakan.        

8. Kesimpulan

Kerajaan Riau-Lingga merupakan sebuah kerajaan yang dilengkapi dengan sistem pertahanan keamanan, untuk menjaga akses masuk ke kerajaan. Sistem pertahanan keamanan tersebut bertumpu pada keberadaan pos-pos pertahanan yang berupa bangunan-bangunan tanah yang terdapat di Mepar, Bukit Cening, Kuala Daik, dan yang terdapat di Pabean. Benteng-benteng tersebut tersusun secara sistematis sesuai dengan arah perjalanan sebuah kapal untuk mencapai pusat kota kerajaan. Tetapi kuatnya dominasi Belanda atas para sultan mengindikasikan lain. Benteng-benteng tersebut oleh Belanda digunakan untuk “mengurung “ para sultan agar tetap berada di kerajaannya. Penempatan sepasukan kecil tentara Belanda merupakan salah satu bukti bahwa penggunaan benteng-benteng pertahanan berada dibawah pengawasan dan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan Belanda.  

Berdasarkan analisis bahan, didukung dengan data sejarah meriam yang terdapat di Pulau Lingga dan dibandingkan dengan yang terdapat di Pulau Mepar terdapat indikasi bahwa meriam-meriam di Pulau Lingga memiliki persamaan. Meriam-meriam tersebut kemungkinan berasal dari Belanda, sedangkan yang terdapat di Mepar kemungkinan buatan lokal atau daerah yang memiliki teknik pembuatan kurang maju.       
Kepustakaan

Abrus, Drs.H. Rustam, dkk, 1998. Sejarah Perjuangan Panglima Besar Reteh, Tengku Sulung melawan Belanda Tahun 1858. Pekanbaru: Unri Press
Gaffnesia, Dahsyat, 1999. Masa Berakhirnya Kerajaan Riau Lingga, dalam Pola Penguasaan dan Pemilikan Tanah di Riau Kepulauan 1960—1977. Tanjung Pinang: Jarahnitra, hal. 89—129
Geldern, Robert Heine, 1982. Konsepsi Tentang Negara Kedudukan Raja di Asia Tenggara (diterjemahkan oleh Deliar Noer). Jakarta: Rajawali Press
Groeneveldt, WP, 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya. Compiled from Chinese Source. Djakarta: Bhratara
Kecamatan Lingga Dalam Angka, 1966. Tanjung Pinang: Biro Pusat Statistik
Koestoro, Lucas P. dkk,2001. Penelitian Arkeologi Di Pulau Lingga, Kabupaten Kepulauan Riau, Provinsi Riau, dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 5. Medan : Balai Arkeologi Medan
Monografi Daerah Riau, 1980. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan  Departemen Pendidikan RI
Nurhajarini, Dwi Ratna, 1999. Sejarah Kerajaan Tradisional Surakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI
Rencana Kota Daik Ibukota Kecamatan Lingga, 1991/1992-2010/2011 dalam Analisis Pemerintah Daerah Tk. II Kep. Riau. Tanjung Pinang: Pemerintah Daerah Tk.II Kep. Riau
Riyanto, Sugeng, 1994/1995. Morfologi Meriam Kuno, dalam Amerta No. 15 Jakarta: Puslitarkenas, hal.26—35
Syam, H. Azhar dan Sindhu Galba, 1997. Daik Selayang Pandang. Tanjung Pinang: Dinas Pariwisata Tk. II Kep. Riau dan Jarahnitra
Winoto, Gatot, 1993. Mengenal Benda dan Bangunan Bersejarah Peninggalan Kesultanan Riau Lingga di Daik, dalam Buletin Jarahnitra No. 4. Tanjung Pinang: Jarahnitra, hal.1—7

Written by balarmedan

Mei 13th, 2008 pada 4:31 am

Posted in Repelita Wahyu Oetomo, S.S.

 

Karya Tulis Para Peneliti Balai Arkeologi Medan

Just another WordPress.com weblog

MAU KITA BAWA KEMANA INSTANSI PENELITIAN ARKEOLOGI INDONESIA ? (Sekilas Evaluasi Terhadap Tipe /Karakter SDM Para Peneliti Balai Arkeologi Medan)

leave a comment »

Defri Elias Simatupang

Balai Arkeologi Medan

 

I. Pendahuluan    

Mendengar kata Arkeologi, tentunya sudah bukan kata yang langka bagi kita yang bekerja dalam instansi-instansi pemerintah bidang penelitian arkeologi, akademisi, maupun pihak swasta. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masa lampau melalui benda-benda yang ditinggalkannya. Sejalan dengan itu paradigma penelitian arkeologi meliputi upaya-upaya: a. menggambarkan sejarah budaya yang telah berlangsung; b. merekonstruksi cara hidup manusia masa lampau; c. menjelaskan proses budaya yang telah berlangsung. Kemudian nantinya dikembangkan metode dan teknik yang berkaitan dengan pelestarian, pengelolaan, dan pemanfaatan sumberdaya arkeologi.

Perkembangan arkeologi sebagai sebuah ilmu mulai jelas pada abad ke-17 di Eropa. Di Indonesia sejarah arkeologi mulai muncul sejak tahun 1913, dengan berdirinya kantor pemerintahan bidang penelitian arkeologi oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Oudheidkundige Diens yang kemudian pada masa RI disebut Dinas Purbakala. Tugasnya untuk mengatur dan melindungi benda- benda kuno (oudheden) di Indonesia. Perkembangan di bidang kepurbakalaan atau di bidang arkeologi berangsur meningkat secara jelas dalam aspek-aspek tenaga profesinya, sarana dan prasarana kerja serta aspek-aspek teori dan metodologi yang dengan luas mengikuti perkembangan yang berlangsung di bidang arkeologi secara global. Saat ini kantor itu bernama (Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional disingkat Puslitbang Arkenas, dan Balai Arkeologi disingkat BALAR). Keduanya saat ini berada dalam naungan Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata. Puslitbang Arkenas berkedudukan di ibukota negara, sedangkan BALAR berada di wilayah ibukota provinsi (Saat ini instansi Balai Arkeologi terdapat sepuluh kantor tersebar diseluruh Indonesia).

Tulisan ini coba untuk membahas seputar keberadaan kedua instansi tersebut, namun dalam lingkup khusus adalah instansi Balai Arkeologi Medan (Balar Medan) sebagai tempat penulis bekerja. Balai Arkeologi Medan yang berkedudukan di Medan, memiliki wilayah kerja meliputi lima propinsi (Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau). Balai Arkeologi Medan yang memiliki tupoksi antara lain; penelitian, pendokumentasian dan pengkajian ilmiah hasil penelitian, penyebarluasan informasi kearkeologian dan hasil penelitiannya. Kegiatan penelitian meliputi kajian prasejarah, sejarah (Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, prasasti, naskah kuno), maritim, dsb. Pendokumentasian dan pengkajian ilmiah melalui gambar, foto, video serta analisis ilmiah. Kemudian penyebarluasan informasi melalui penerbitan, penyuluhan, seminar, dsb.

II. Pokok permasalahan seputar karakter / tipe para peneliti

Membahas permasalahan apa saja yang ada di instansi Balai Arkeologi Medan sepertinya akan banyak hal dan tidak akan pernah habis untuk dibahas. Namun apabila tujuannya demi perbaikan yang akan selalu harus dilakukan, maka mencari dan menemukan masalah adalah sebuah pekerjaan yang penting. Maka dari itu, tulisan ini coba mengangkat permasalahan dari sumber daya manusia (SDM)nya sendiri. Kiranya apapun permasalahan tersebut pada bagian berikutnya akan coba dikaji dan dievaluasi. Tentunya tidak seimbang bila keunggulan yang dicapai tidak turut diketengahkan.

Permasalahan menyangkut SDM umumnya menyangkut pemahaman para pegawai Balai Arkeologi Medan dalam menjiwai secara luas akan arti tujuan pekerjaannya. Sebagai instansi penelitian murni, yang paling disorot adalah SDM para penelitinya : para arkeolog sebagai ilmuwan bidang kebudayaan. Berbicara tentang “kebudayaan”, berarti membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan “budaya”, yang adalah tak lain dari “sistem nilai manusia” dari kita dan untuk kita. Manusia membuat “ada” nilai-nilai itu dan memberi “makna” pada nilai-nilai yang bersangkutan. Arkeologi secara khusus berusaha mengutarakan “apa-siapa” manusia tersebut berdasarkan fakta. Berkat penggalian dan temuan-temuan disiplin ilmiah arkeologi terungkap betapa pada suatu ketika, di masa yang lalu, manusia telah membedakan dirinya dari makhluk-makhluk sejenis. Dia telah melepaskan diri dari ketergantungannya pada alam, lalu menjajahnya, mentransendennya, bahkan mengubahnya. Dia pula yang menciptakan hidup berpasangan, sistem keluarga dan masyarakat. Juga kekuasaan, cinta kasih, permusuhan, peperangan, perangkat hukum. Mengapa? Untuk apa? Dari mana datang semangat penemuannya, hasratnya pada kekuasaan, khususnya pada pengetahuan, inspirasinya tentang kebudayaan. Demikianlah sekilah hakikat dasar tentang penelitian yang harus dilakukuan oleh para peneliti arkeologi.

Namun sejauh mana penelitian arkeologi itu memiliki sumbangsih terhadap masyarakat publik di masa kini, belum begitu kelihatan. Para arkeolog sebagai seorang PNS (abdi masyarakat) sudah seharusnya turut meyakinkan kepada masyarakat bahwa peneltian arkeologi juga berdaya guna bagi mereka. Tinggal kita dapat melihat motivasi dari para peneliti itu sendiri sebagai seorang arkeolog PNS. Kinerja SDM sangat perlu diamati. Berdasarkan pengamatan saya (meskipun belum mendalam), saya mencoba menggolangkan beberapa tipe Karakter SDM para peneliti. Para arkeolog dengan penggunaan istilah saya. Adapun tipe-tipe para arkeolog adalah :     

1. Arkeolog Kaca Mata Kuda : Arkeolog yang seperti ini maksudnya ditujukan kepada mereka yang melihat arkeologi sebagai sebuah disiplin Ilmu murni, yang tidak wajib dikaitkan dengan ilmu-ilmu yang lain. Penelitian yang dilakukan hanya mencari dan memililih situs penelitian yang kaya akan data arkeologi saja untuk didalami secara sistemastis dan ilmiah. Meskipun terkadang situs itu tidak begitu memiliki banyak potensi untuk dikaji dari sudut pandang ilmu lain. Keunggulan : Hasil penelitian sangat mendalam dan paling bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya dari sudut pandang Ilmu Arkeologi itu sendiri. Kekurangan : Hasil penelitian paling sulit digunakan untuk kepentingan diluar ilmu arkeologi.

2. Arkeolog Kapal Selam : Arkeolog yang seperti ini adalah karakter peneliti yang bekerja tanpa mendapatkan publikasi luas terhadap segala kegiatan penelitiannya. Alasan kurang mandapat publikasi dapat bermacam-macam. Bisa saja karena dia memang tidak suka dipublikasikan atau justru dia malah kurang memahami dan tahu tentang arti penting suatu kegiatan publikasi.                  Keunggulan : Disebabkan banyak yang tidak tahu penelitian apa yang sedang dia kerjakan, maka dia tidak terlalu mendapatkan tekanan dari kepentingan luar sampai penelitiannya selesai. Maka kedalaman berita hasil penelitinya dapat sesuai dengan keinginannya (tapi belum tentu sangat mendalam seperti tipe / karakter arkeolog kaca mata kuda). Namun justru karena itu, suatu saat hasil penelitiannya masih bisa digunakan sebagai acuan data oleh kepentingan para peneliti lain termasuk dari non ilmu arkeologi.              Kekurangan : Karya-karya hasil penelitiannya tidak banyak yang mengetahui apalagi memanfaatkan hasil penelitiannya. Kemungkinan besar tersimpan utuh di ruangannya sendiri atau di ruang arsip / perpustakaan instansi tempat dia bekerja. Kalaupun telah diterbitkan dalam bentuk buku, kemungkinan salah sasaran penyebar-luasan atau diperparah dengan penampilan fisik buku yang tidak menarik dari luar sehingga sangat sulit orang tertarik membaca buku tersebut. Umumnya tipe arkeolog seperti ini kurang terkenal meskipun pada akhirnya dia sampai memiliki gelar tertinggi dalam karier seorang peneliti (Profesor Riset / Ahli Peneliti Utama)

3. Arkeolog Pohon Rindang : Arkeolog yang seperti ini adalah arkeolog yang lebih menganggap kalau profesinya sebagai peneliti di instansi penelitian arkeologi bukan termasuk kategori tujuan utama hidupnya (ada faktor-faktor kebetulan dia dapat bekerja di instansi tersebut). Karena faktor kebetulan tersebut, maka instansi tersebut cenderung sekedar menjadi tempat berteduh saja. Peneliti itu kemungkinan besar tidak menseriusi pekerjaannya sebagai peneliti di instansi penelitian arkeologi. Yang lebih ironis menganggap kalau profesinya sebagai PNS hanya sampingan pemenuhan kebutuhan hidup belaka ditengah-tengah masa kini yang semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan. Maka karakter seperti ini kemudian akan berusaha mencari / menemukan kepuasan bekerja dibidang lain. Tentunya sekalian motivasi untuk mendapatkan penghasilan tambahan selain dari gaji PNS. Kelebihan : Dalam tiap kegiatan penelitian, lebih suka diatur, tidak perlu wajib memikirkan sepenuhnya kegiatan penelitian. Dia tidak terlalu berambisi mengejar karier penelitinya,karena kemungkinan besar dia telah memiliki kesibukan yang lebih dia pentingkan diluar instansi tempat dia bekerja. Maka cenderung dia terhindar bersitegang dengan sesama peneliti. Dapat bekerjasama dalam setiap penelitian sebagai seorang anggota tim (bukan ketua tim). Kekurangan : Paling tidak memiliki kontribusi untuk memajukan penelitian arkeologi. Apabila ada banyak peneliti yang memiliki tipe seperti ini, maka akan semakin cepat instansi penelitian arkeologi dibubarkan oleh pemerintah.

4. Arkeolog Selebritis : Kebalikan dari karakter / tipe arkeolog kapal selam, paling banyak mendapatkan publikasi luas dan dikenal publik. Idealnya terkenal karena profesinya tersebut. Keunggulan : Akibat sering muncul / diberitakan oleh media publik, sehingga sangat membantu dalam kegiatan mempublikasikan ilmu arkeologi itu sendiri. Kekurangan : Dia sering dipublikasikan, mungkin karena dia pintar mengemas berita penelitiannya sehingga menarik untuk dikonsumsi publik. Namun yang ditakutkan apabila lebih mengutamakan performence dari pada kedalaman dan tingkat kebenaran hasil penelitiannya tersebut. Bahkan mungkin segala publikasi tentang penelitiannya (sehingga membuat dia menjadi terkenal) sangat jauh dari kebenaran sesungguhnya. Atau ironisnya, dia menjadi terkenal karena sesuatu publikasi yang tanpa disengaja turut mempublikasikan profesinya sebagai peneliti di instansi penelitian arkeologi.    

5. Arkeolog Multi Talent : Arkeolog yang seperti ini menurut saya adalah tipe / karakter arkeolog idaman. Dia mampu tampil dan menguasai pekerjaan tidak hanya di dalam kepakaran penelitian arkeologi saja. Namun dapat tampil menguasai kepakaran ilmu selain arkeologi yang lain, tentunya dapat dikaitkan dengan ilmu arkeologi tersebut. Sebagai contoh : para peneliti yang memiliki gelar S-1 arkeologi kemudian melanjutkan studi mengambil gelar S-2 di jurusan non arkeologi. Atau sebaliknya bagi peneliti yang memiliki gelar S-1 non arkeologi kemudian mengambil gelar S-2 Arkeologi. Harapannya ketika dia berbicara dalam kapasitas sebagai peneliti yang bekerja di instansi penelitian Arkeologi, dia juga mahir menguasai kepakaran di bidang lain yang memperkaya berita penelitian arkeologi tersebut. Menurut saya, sangat ideal diharapkan apabila di setiap instansi penelitian arkeologi, semua penelitinya memiliki kriteria tipe seperti ini. Maka akan terjadi kerjasama yang saling mengisi dengan aneka macam kepakaran masing-masing, bukan menjadi persaingan akibat berada di bidang kepakaran yang sama.

Kelima karakter / tipe dari peneliti yang telah dijabarkan diatas, dapat dijumpai di Instansi penelitian arkeologi (termasuk Balai Arkeologi Medan), namun tidak sepenuhnya harus sesuai demikian. Variasi gabungan antara beberapa tipe / karakter arkeolog diatas dapat terjadi, menyesuaikan situasi kondisi yang ada pada saat tertentu. Hal itu masih merupakan hal yang alami terjadi. Jadi terkadang kita bisa menjadi arkeolog kaca mata kuda, kemuadian berubah menjadi arkeolog pohon rindang, dan sebagainya. Maka sesuai dengan judul tulisan ini, yang harus dievaluasi adalah apakah kelima tipe / karakter peneliti tersebut ada di dalam Balai Arkeologi Medan ?

Saya melihat menjadi sesuatu yang ideal adalah hal yang baik untuk dipilih, dalam hal ini tipe / karakter arkeologi multi talent sebagai tawaran pilihan yang paling tepat bagi setiap para peneliti di Balai Arkeologi Medan. Multi talent dalam hal ini adalah kesadaran para peneliti Balai Arkeologi Medan, bahwasanya mereka dituntut untuk menguasai lebih dari satu kepakaran ilmu (selain ilmu arkeologi itu sendiri). Seorang arkeolog harus berani mencitrakan dirinya adalah juga sebagai seorang antroplog, geolog, politikus, konsultan, dll. Kebudayaan sebagai objek penelitian para arkeolog akan terlalu sempit bila hanya dikaji dari sudut pandang peniggalan artefak saja. Kita harus membuat tinggalan arkeologis itu banyak berbicara dan berdaya guna untuk kepetingan masa kini. Belum lagi apabila tantangan ilmu arkeologi kedepan adalah pasti akan berubah dengan masa sebelumnya.

III. Evaluasi ketertinggalan SDM para penelti

Ketika negara-negara maju dewasa ini mengalami progres yang meningkat dalam berbagai bidang kehidupan mereka, Indonesia justru mengalami stagnasi. Kemengkalan pengetahuan tentang arti, makna, arkeologi,ditambah kekurangkepahaman tentang tugas dan fungsi arkeologi pada masa kini. Ada kecenderungan bahwa situasi kemengkalan tersebut memang umum di kalangan publik, dan agaknya pula di kalangan para pejabat dari pengatur negara, bahkan pula di kalangan kita sebagai ahli arkeologi dari yang paling senior berimbas kepada yang paling junior. Apakah arkeologi Indonesia kini berada di pinggir atau kemunduran yang sulit diatasi di masa globalisasi dalam kompetisi dengan negara-negara yang mengembangkan ilmu arkeologi ? Dengan penuh kesadaran dan taat pada prinsip-prinsip ilmiah, kita berharap, agar kemajuan dan pengembangan arkeologi di Indonesia dapat dihidupkan kembali. Hal itu terutama dalam masa globalisasi yang akan melanda negara kita dalam segala bidang yang memungkinkan untuk mengadakan persaingan / kompetisi. Solusinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta sarana dan prasarana kerja. Penyempurnaan manajemen kerja lembaga, dan memiliki program serta visi yang positif sebagai anggota masyarakat global tanpa kehilangan jati diri dan arah dalam arus globalisasi yang melanda dunia dewasa ini.

Kurang Interdisipliner

Ketika para arkeolog menemukan situs tengkorak purba. Berapakah umur artefak itu? Apakah Tak ada satu pun arkeolog yang mampu menjawabnya secara mutlak. Mereka terlebih dulu harus meminta bantuan kepada pakar lain. Biasanya untuk mengetahui segala sesuatu dari masa prasejarah, mereka membawa secuil sampel kepada pakar fisika nuklir, untuk menghitung atom C-14-nya yang ada dalam arang tersebut (Pertanggalan Radio Karbon).

Jelas ini merupakan sebuah kelemahan instansi peneliti arkeologi umumnya (Balai Arkeologi Medan khususnya). Karena arkeologi merupakan ilmu yang bersifat interdisipliner, maka perlu diusahakan untuk dapat memperkerjakan para ahli dibidang ilmu bantu arkeologi. Bila perlu kantor Balai Arkeologi Medan harus mempunyai planning untuk suatu saat membangun sebuah lab. untuk analisis ilmu-ilmu eksakta, seperti CT-scan dan Pertanggalan Radio Karbon tadi. Kelompok jabatan fungsional di Balai Arkeologi Medan perlu diisi oleh para peneliti dari latar belakang non arkeologi, seperti geolog, antropolog,penggambaran / rancang bangun, geografi, kimia dan biologi, dsb.Tentunya jabatan fungsional mereka itu sudah harus diplot untuk kepentingan arkeologi. Namun apabila memang sulit untuk mengusulkan ke pihak yang berwenan dalam penerimaan PNS, maka solusiya adalah mendukung sepenuhnya untuk para peneliti sadar dalam menambah kepakaran di bidang ilmu lain, melalui sekolah lanjut (S-2 / S-3).

Perlu adanya keseragaman pemikiran dalam dukungan bersama sesama para peneliti Balai Arkeologi Medan untuk menargetkan kapan semuanya bisa meraih gelar tertinggi dalam tingkat kesarjanaan. Namun masih adanya terdapat paradigma lama yang mengangap seorang peneliti belum pantas meraih gelar tingkat kesarjanaan tertinggi (S-3) apabila belum berusia lanjut. Fenomena para peneliti senior merasa tidak senang apabila para peneliti junior hendak melanjutkan sekolah lagi hingga ke jenjang tertinggi. Padahal di negara-negara Maju, seorang peneliti sudah sangat biasa memiliki gelar S-3 meskipun usianya baru menginjak kepala tiga. Seharusnya yang mejadi paradigma baru adalah gelar kesarjaan tertinggi itu pantas diprioritaskan meskipun jam terbangnya sebagai seorang peneliti arkeologi belum begitu lama. Rasanya akan sangat menguntungkan instansi itu sendiri sebagai instansi penelitian arkeologi, apabila para penelitinya (meskipun jumlahnya tidak banyak akibat sulitnya rekruitmen PNS secara berkala), lebih separoh dari mereka telah menyandang gelar Doktor / PHD. Gelar kesarjanaan tingkat tertinggi itu dapat dijadikan modal awal untuk meningkatkan rasa percaya diri kalau kita bukanlah peneliti asal-asalan. Meskipun bukan berarti seorang Doktor pasti lebih pakar dibanding yang masih bergelar S-1 / S-2.

Di kota Medan, saat ini telah mulai banyak berdiri sekolah pasca sarjana (S-2/ S-3). Kesempatan untuk sekolah tanpa harus meninggalkan pekerjaan di kantor (Balai Arkeologi Medan) sangat terbuka lebar. Ini merupakan kesempatan baik bagi para penelti untuk sekolah lagi. Masalah ketidak adaan jurusan yang diminat (misal S-2 Arkeologi), seharusnya dapat dikompromikan. Pendapat pribadi saya : seorang peneliti dengan gelar S-1 Arkeologi sangat bisa “dikawinkan” dengan S-2 jurusan apapun. Justru dengan mengambil S-2 non arkeologi akan membuat kita seperti tipe / karakter arkeolog multi talent. Karena tanpa harus mengambil S-2 / S-3 arkeologi, seiring dengan waktu kita pantas disebut pakar bidang arkeologi seiring tupoksi pekerjaan kita memang hanya untuk melakukan penelitian arkeologi saja. Justru sebaliknya, apabila kita mengambil S-2 Magister Ekonomi pembangunan (misalkan), maka kedepannya kita dapat peka untuk melakukan penelitian-peneltian arkeologi yang berdaya guna untuk kepentingan pembangunan ekonomi masyarakat sekarang. Contoh lain lagi : S-2 Magister Ilmu Komunikasi, maka kedepannya kita akan memahami seluk-beluk bagaimana cara mengkomuniksaikan ke ruang publik hasil penelitian arkeologi agar benar-benar efektif. S-2 Magister Arsitektur, maka kita diharapkan bisa menjadi konsultan untuk penanganan BCB dead monument menjadi living monument. S-2 Magister Antropologi, maka kita diharapakan dapat menjadi antroplog juga (meskipun beberapa di negara luar menganggap arkeologi sama dengan antroplogi). Dan masih banyak contoh lagi dapat dijabarkan seperti S-2 magister hukum, Linguistik, filsafat, geografi, kimia, fisika, matematika, dsb.

Dilema antara Noneksakta

Terdapat kecenderungan arkeolog-arkeolog Indonesia (Balai Arkeologi Medan) masih enggan membaca atau menelaah karangan-karangan bernuansa eksakta. Hal ini mungkin disebabkan para arkeolog itu tidak atau kurang sekali memiliki pengetahuan ilmu-ilmu eksakta. Mungkin pula latar belakang mereka di sekolah adalah Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Budaya (Sosbud), bukan Ilmu Pengetahuan Alam. Ironisnya dewasa ini gelar sarjana arkeologi adalah S.S (sarjana sastra), yang “kurang menjual” dan terkesan tidak berhubungan dengan ilmu arkeologi yang sangat luas bila dijabarkan. Ilmu sastra hanyalah salah satu unsur dari kebudayaan (arkeologi) itu sendiri. Ketertinggalan arkeolog-arkeolog Indonesia tampaknya sudah semakin jauh. Karena itu perlu upaya untuk meningkatkan keterampilan mereka, terutama yang berkecimpung di bidang penelitian. Dunia iptek semakin maju, arkeolog pun semestinya membekali diri dengan pengetahuan eksakta.

Inkonsistensi dan inkoordinasi

Banyak penelitian masih selalu bersifat eksplorasi. Ironisnya ketika ada tahapan hendak mendalami situs tertentu, terbentur masalah dana. Belum lagi pihak instansi peneliti pusat yang sering mengistilahkan kalau situs penelitian di seluruh wilayah Idonesia yang “berpotensi tinggi” akan selalu digarap oleh mereka sebagai instansi pusat. Seakan-akan pihak balai arkeologi hanya untuk menggarap situs-situs bersifar kedaerahan saja. Ironisnya Puslitbangarkenas terasa semakin “disaingi” oleh balai-balai arkeologi. Terbukti beberapa peningkatan mutu pekerjaan mereka yang kalah dibandingkan “adik-adiknya”. Seperti akreditasi majalah ilmiah, sarana website yang sampai saat ini tidak mereka punya disaat empat balai arkeologi sudah memiliki (termasuk Balai Arkeologi Medan), kaderisasi para peneliti yang tidak berjalan di instansi Puslitbangarkenas. Sehingga wajar banyak orang memprediksikan bahwa umur Puslitbangarkenas tidak akan lama lagi, sebab penelitian arkeologi akan sepenuhnya dikerjakan oleh Balai-balai Arkeologi yang berkedudukan di daerah. Apabila hal itu terjadi, ini merupakan sebuah kerugian besar bagi perkembangan instansi penelitian arkeologi di negara ini. Puslitbangarkenas sangat penting sebagai penjembatani berita penelitian arkeologi nasional. Namun apabila ditubuh instansi tersebut sendiri hanya terkesan cari aman saja, merasa paling terhormat dengan predikat peneliti di instansi pusat, maka dapat berpotensi terjadi inkoordinasi yang tidak baik dan tidak diharapakan.

Reformasi harus konsisten terjadi tidak hanya di Balai-balai arkeologi, tapi juga di tubuh puslitbangarkenas. Hasil dari semacam permuan EHPA haruslah ditindak lanjuti, bukan hanya menjadi sekedar obrolan sesaat sekedar mengisi waktu. Perubahan yang dirasakan menuju perkembangan yang bersifat positif telah terjadi ketika mulai semenjak orde reformasi yang turut memperbaiki kinerja tiap-tiap instansi pemerintahan. Reformasi ini mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan intansi penelitian arkeologi sebagai ilmu pengetahuan yang lazim diterapkan di dunia internasional. Penggabungan struktur arkeologi dengan bidang pariwisata yang keduanya notabene berbeda tugas, fungsi, serta metode kerjanya harusnya menimbulkan peningkatan prestasi dan gairah kerja instansi penelitian arkeologi.

Pintar Menjual Diri

Para Peneliti Balar Medan harus pintar “menjual diri”. Maksudnya karena arkeologi sebagai sebuah ilmu murni penelitian memang bukan masuk kategori primer seperti ilmu Penelitian bidang pertanian untuk membuat butir padi dapat semakin meningkatkan hasil panen demi mencukupkan kebutuhan pangan seluruh manusia. Meskipun tidak primer tapi bukan berati dijadikan kategori ilmu sekedar pelengkap saja (sekunder / tersier). Arkeolog Balar Medan harus selalu berusaha mewacanakan melalui berbagai kegiatan penelitian yang mereka lakukan. Meyakinkan bahwa keutuhan hidup manusia tidak hanya memerlukan makanan saja. Disiplin arkeologi dengan berbagai pengetahuan budaya serta visi spiritual berkat pembawaannya, dapat mengatakan betapa apa kekurangan itu dan sekaligus menunjukkan di mana bisa didapat untuk mengisi kekurangan tersebut. Para Peneliti Balar Medan harus memiliki kemampuan kerja sama yang tinggi secara internal. Maksudnya para peneliti balar medan adalah kesatuan yang utuh dalam menyuarakan hasil penelitian atas nama pribadi dan instansi.Ekspresi dari suatu keraguan, bukan keraguan yang melemahkan, melainkan keraguan yang menggalakkan semangat yang kritis untuk bertanya. Pencitraan Balar Medan sebagai instansi yang memiliki profesionalitas tinggi dalam hubungannya keluar.

IV. Penutup (Refleksi)

Perlu adanya pemahaman akan apa yang hendak diteliti tentang kebudayaan masa lampau itu dan adanya kesadaran disiplin serta semangat ilmiah yang dikandung para peneliti Balai Arkeologi Medan. Maka diharapkan hasil penelitian arkeologi dapat berjalan seiring dengan perubahan-perubahan yang pasti akan selalu terjadi, yang tentunya tanpa harus mengorbankan semua prinsip dan kaidah ilmiah ilmu itu sendiri. Maka sungguh alangkah indahnya bila para Arkeolog Balai Arkeologi Medan kedepannya dapat memberikan sumbangan bagi pemanfaatan baik untuk kepentingan ilmu murni maupun kepentingan lain yang berguna dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

Untuk itu mari kita pertanyakan diri pribadi kita masing-masing, apa saja selama ini yang telah kita perbuat sebegai peneliti bidang kebudayaan. Apakah perbuatan-perbuatan kita itu yang pasti telah menggunakan dana, tenaga dan menguras energi punya makna? Apakah jerih payah kita itu memang melayani kemajuan dan kebaikan warga kita, dalam arti membudayakan bangsa dan negara Indonesia. Atau memang benar, selama ini kita hanya sekadar berpuas diri sebagai PNS yang notabene dikenal sebagai pekerjaan tersantai yang hampir jarang terjadi kehilangan pekerjaan selama negara ini masih ada. Apabila memang demikian, dengan melakukan pekerjaan hanya sekadar, maka kita akan membawa instansi penelitian arkeologi Indonesia berakhir di sebuah jurang yang dalam ?

Written by balarmedan

September 12, 2008 pada 3:20 am

BENTENG INONG BALEE DAN KOMPLEKS MAKAM LAKSAMANA MALAHAYATI DI KABUPATEN ACEH BESAR, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

leave a comment »

Deni Sutrisna

Balai Arkeologi Medan

 

Abstract

 

The complex of Laksamana Malahayati’s grave is in Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. As a symbol of respecting and the meaning of her war, its location is in hilltop and protected by wall. It’s winged and unwinged slab gravestone type with longfeet square. In her life, Laksamana Malahayati was known as a brave admiral when marched against Portuguese and Dutch in Malaka Straits. One of her great contribution was when she formed a single troop consists of some widows (known as Inong Balee and Benteng Inong Balee) fight against the imperialism.

 

Kata kunci: benteng, makam, nisan, Inong Balee

 

I. Pendahuluan

Laksamana Keumala Hayati atau Malahayati adalah wanita pejuang Aceh yang terkenal dalam kemiliteran pada masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604 M). Malahayati diberikan kepercayaan oleh sultan sebagai kepala pengawal dan protokol di dalam dan di luar istana. Saat masih kanak-kanak ibunya telah meninggal dunia, dan selanjutnya diasuh oleh ayahnya sendiri bernama Laksamana Mahmudsyah (Tim, 1998:19). Malahayati kecil sering diajak ayahnya pergi dengan kapal perang. Pengenalannya dengan kehidupan laut itu kelak membentuk sifatnya yang gagah berani dalam mengarungi laut luas.

Selain berkedudukan sebagai Kepala Pengawal Istana, Malahayati juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan. Dalam suatu peristiwa pada tanggal 21 Juni 1599, kerajaan kedatangan dua kapal Belanda, Deleeuw dan Deleeuwin dibawah pimpinan dua orang kapten kapal bersaudara, yaitu Cornelis dan Frederik de Houtman (Tim P3SKA, 1998:19). Maksud kedatangan mereka adalah untuk melakukan perjanjian dagang dan memberikan bantuan dengan meminjamkan dua kapal tersebut guna membawa pasukan Aceh untuk menaklukan Johor pada tanggal 11 September 1599. Peminjaman kapal tersebut ternyata merupakan bentuk tipu muslihat Belanda, karena ketika para prajurit kerajaan menaiki kapal, kedua kapten kapal tersebut melarangnya sehingga terjadilah bentrokan yang tak terhindarkan. Dalam peristiwa itu banyak dari pihak Belanda tewas, kedua kaptennya ditangkap oleh pasukan Aceh yang dipimpin oleh Malahayati. Karena kecakapannya itulah kemudian sultan mengangkatnya menjadi Laksamana. Selanjutnya atas izin sultan dan inisiatif dari Laksamana Malahayati, dibentuk sebuah pasukan yang terdiri dari para janda yang ditinggalkan oleh suaminya karena gugur dalam perang. Pasukan itu bernama Inong Balee di bawah pimpinan Laksamana Malahayati sendiri. Markas pasukan ini berada di Lam Kuta, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar (Tim P3SKA, 1998 :14). Salah satu jejak perjuangan yang masih tersisa hingga kini adalah kompleks makam Malahayati yang berada di puncak bukit dan sebuah benteng yang disebut Benteng Inong Balee di tepi pantai Selat Malaka, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Melalui kedua situs tersebut yang akan dituangkan dalam tulisan ini diharapkan dapat melengkapi sejarah perjuangannya di bidang kebaharian.

II. Armada Inong Balee

Pada zaman Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah tahun 997-1011 H (1589-1604), dibentuk sebuah armada yang sebagian prajurit-prajuritnya terdiri dari janda-janda yang disebut Armada Inong Balee. Armada ini dipimpin Laksamana Malahayati, seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dalam suatu pertempuran laut.

Armada Inong Balee berulangkali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, daerah pantai timur Sumatera, dan Malaya. Seorang wanita penulis asal Belanda, Marie van Zuchyelen dalam bukunya “Vrouwolijke Admiral Malahayati” memuji Laksamana Malahayati dengan armada Inong Baleenya itu, terdiri dari 2000 prajurit wanita yang gagah dan tangkas (Hasjmy, 1975:95). Laksamana Malahayati melatih para janda menjadi prajurit kesultanan yang tangguh di dalam sebuah benteng, yaitu Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati juga diberi wewenang oleh Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil untuk menerima dan menghadap utusan Ratu Inggris Ratu Elizabeth I, Sir James Lancaster yang datang ke Aceh dengan tiga kapal yaitu Dragon, Hector dan Ascentic pada tanggal 6 Juni 1602 dengan membawa sepucuk surat dari Ratu Inggris (Mann, 2004:23).

Pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil yang memerintah dalam tahun 1011-1015 H (1604-1607) keberadaan prajurit wanita itu masih tetap dipertahankan, yaitu dengan dibentuknya Sukey Kaway Istana (Kesatuan Pengawal Istana). Kesatuan Pengawal Istana itu terdiri dari Si Pa-i Inong (prajurit wanita) di bawah pimpinan dua pahlawan wanita: Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun (Hasjmy, 1975:95).

Kedua pimpinan Kesatuan Pengawal Istana itulah yang telah berjasa membebaskan Iskandar Muda dari penjara tahanan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil (Jamil, 1959:114). Setelah pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil berakhir, dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah yang memerintah pada tahun 1016-1045 H (1607-1636 M). Pada masa itu Kerajaan Aceh Darussalam berkembang pesat dan mengalami masa keemasannya. Perhatian sultan kepada para prajurit wanita cukup besar. Sultan memperbesar dan mempermodern Angkatan Perang Aceh, di antaranya membentuk suatu kesatuan pengawal istana yang terdiri dari prajurit wanita di bawah pimpinan seorang jenderal wanita, Jenderal Keumala Cahaya. Dari catatan sejarah kesatuan wanita tersebut sebagian merupakan Kesatuan Kawal Kehormatan yang terdiri dari prajurit wanita cantik. Kesatuan ini bertugas menyambut tamu-tamu agung atau para pembesar baik dari kalangan pembesar kerajaan di nusantara maupun dari luar/asing dengan barisan kehormatannya.

III. Benteng Inong Balee

Secara administratif berada di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Benteng ini disebut Benteng Inong Balee yang pebangunannya dipimpin Laksamana Malahayati, pada masa Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil. Pencapaian menuju Benteng Inong Balee melalui jalan raya beraspal arah Banda Aceh – Mesjid Raya berbelok ke arah kiri berlanjut melalui jalan tanah. Kemudian sekitar 1 km melintasi jalan tanah tersebut maka akan dijumpai benteng yang berada di tepi jurang, dan dibawahnya pantai dengan batuan karang.

Benteng berdenah persegipanjang menghadap ke barat yaitu arah laut/Selat Malaka. Batas tembok di sisi utara berupa tanah landai yang penuh dengan semak belukar, sisi timur juga semak belukar, sisi selatan areal perladangan, dan sisi barat sekitar 10 m adalah jurang. Konstruksi tembok benteng yang masih tersisa kini di bagian barat berupa tembok yang membujur utara-selatan, dan di bagian utara dan selatan membujur timur-barat. Kemudian di bagian timur terdapat struktur pondasi berukuran panjang sekitar 20 m. Bahan bangunan penyusun tembok benteng terbuat dari batuan alam berspesi kapur. Tembok benteng di bagian barat memiliki ukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi 2,5 m, tembok benteng di bagian utara berukuran panjang 40 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Sedangkan tembok di bagian selatan berukuran panjang 60 m, tebal 2 m, dan tinggi bagian dalam 1 m. Pada tembok yang membujur utara-selatan di bagian barat terdapat 4 lubang pengintaian menyerupai bentuk tapal kuda. Tinggi lubang pengintaian bagian dalam sekitar 90 cm, lebar 160 cm, sedangkan tinggi lubang bagian luar sekitar 85 cm dan lebar 100 cm. Posisinya yang mengarah ke Selat Malaka jelas berfungsi untuk mengawasi terhadap lalu-lalang kapal laut. Benteng Inong Balee sering disebut juga Benteng Malahayati. Benteng ini merupakan benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pelatihan militer dan penempatan logistik keperluan perang.

 

Struktur tembok benteng di bagian utara

 

 

 

IV. Kompleks Makam Laksamana Malahayati

Sekitar 3 km dari Benteng Inong Balee dijumpai kompleks makam Laksamana Malahayati yaitu pada bagian puncak bukit kecil. Sekeliling areal makam adalah perladangan penduduk. Pencapaian ke kompleks makam tersebut ditempuh dengan cara menaiki susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Areal makam dibatasi pagar tembok dengan pintu masuk berada di timur. Ada tiga makam yang berada dalam satu jirat dan dinaungi oleh satu cungkup. Jirat berbentuk persegipanjang dari semen yang dilapisi keramik putih. Ukuran tinggi jirat dari permukaan tanah sekitarnya adalah 30 cm.

Berikut adalah deskripsi makam:

- Makam I: berada di sisi barat dilengkapi sepasang nisan tipe pipih bersayap. Bagian kaki berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Bagian bawah badan berhiaskan kuncup bunga teratai. Terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai di tengah badan nisan, hiasan sulur-suluran di bagian sayap nisan. Puncak nisan berbentuk atap limasan.

- Makam II: berada di antara Makam I dan Makam III, tipe nisan pipih tanpa sayap. Kaki nisan berbentuk balok, antara kaki dan badan terdapat pelipit. Pada bagian bawah nisan berukirkan kuncup bunga teratai. Pada bagian tengah badan terdapat 3 panel kaligrafi berbingkai dan motif garis-garis. Bahu kiri dan kanan nisan meruncing ke atas. Di atas bahu nisan terdapat dua susun mahkota teratai yang diakhiri bagian puncak berbentuk atap limasan.

- Makam III: terletak di sisis timur dari Makam II. Ukuran nisan lebih kecil dari Makam I dan Makam II. Bentuk nisan pipih tanpa sayap. Nisan yang berada di bagian utara dan selatan telah patah. Selain nisan aslinya yang telah patah, nisan di bagian utara juga ditandai dengan batuan alam.

Lokasi makam pada puncak bukit, merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dimakamkan. Penempatan makam di puncak bukit kemungkinan dikaitkan dengan anggapan bahwa tempat yang tinggi itu suci. Beberapa kompleks makam di daerah lain yang terdapat di puncak bukit antara lain: Kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri Yogyakarta, makam sunan di Giri, Muria, dan Gunung Jati di Cirebon, Kompleks Makam Papan Tinggi dan Mahligai di Barus.

 

V. Peran wanita Aceh dalam kehidupan bernegara

Dibandingkan dengan sejarah perjuangan wanita di belahan bumi Nusantara yang lain, wanita pejuang Aceh dapat dikatakan dominan terlibat dalam perjuangan fisik melawan imperialisme Portugis maupun Belanda. Ini tentu saja harus dilihat dari latar belakang keterlibatan mereka terutama dari sudut pandang agama, Aceh merupakan tempat pertama kali Islam masuk, ini dibuktikan dengan tinggalan berupa makam Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297 M di Pase, Aceh Utara dari kerajaan Islam pertama Samudera Pasai (Ambary, 1998:42). Sejak itu landasan ajaran Islam di sana dapat dikatakan sangat mempengaruhi perjalanan sejarah peradaban pemerintahan kerajaan-kerajaan di Aceh, bahkan kini landasan hukum berupa syariat Islam berlaku di sana. Dalam masalah jihad (perang di jalan Allah), menurut Islam tidak ada perbedaan pria dan wanita, artinya sama-sama wajib berjihad untuk menegakkan agama Allah, sama-sama wajib berjihad untuk membela tanah air, sama-sama wajib bekerja untuk memimpin dan membangun negara, seperti yang tertuang pada hadist-hadist berikut (Hasjmy, 1976:23):

  • Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dari seorang Sahabat-Wanita, yang mengatakan: Kami pergi berperang bersama Rasul Allah, dimana antara lain tugas kami menyediakan makan dan minum bagi para prajurit; mengembalikan anggota tentara yang syahid ke Madinah (Al Hadist Riwayat Bukhari).
  • Seorang Sahabat-Wanita yang lain berkata: Kami ikut berperang bersama Rasul Allah sampai tujuh kali, dimana kami merawat prajurit yang luka, menyediakan makan dan minum bagi mereka (Al Hadist Riwayat Bukhari).

Dari sumber yang lain, yaitu kitab yang bernama “Safinatul Hukkam” ditegaskan bahwa wanita boleh menjadi raja atau sultan, asal memiliki syarat-syarat kecakapan dan ilmu pengetahuan (Syekh Jalaluddin Tursamy: Safinatul Hukkam, hal 27). Berdasarkan sumber hadist tersebut di atas adalah merupakan hal yang logis kalau sejarah telah mencatat sejumlah nama wanita yang telah memainkan peran penting di Aceh sejak zaman Kerajaan Islam Perlak sampai Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini dapat dilihat dalam buku Risalah Akhlak yang ditulis oleh A. Hasjmy yang diterbitkan oleh Bulan Bintang pada awal tahun 1976. Nama-nama wanita tersebut yaitu (Hasjmy, 1976:24-26):

  1. Puteri Lindung Bulan, anak bungsu dari Raja Muda Sedia yang memerintah Kerajaan Islam Benua/Teuming pada tahun 1333-1398 M.
  2. Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, yang menjadi ratu terakhir yang memerintah Kerajaan Islam Samudra/Pase pada tahun 1400-1428 M.
  3. Laksamana Malahayati, seorang janda muda yang menjadi panglima dari Armada Inong Balee masa Sultan Alaidin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil yang memerintah pada tahun 1589-1604 M.
  4. Ratu Safiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1641-1675 M.
  5. Ratu Naqiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1675-1678 M.
  6. Ratu Zakiatuddin, yang memerintah Aceh pada tahun 1678-1688 M.
  7. Ratu Kamalat, yang memerintah Aceh pada tahun 1688-1699 M.
  8. Cut Nyak Dhien, istri dari Tuku Umar yang meneruskan perjuangan suaminya hingga akhirnya ditangkap dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat hingga wafat di sana.
  9. Teungku Fakinah, seorang wanita Ulama yang menjadi pahlawan, memimpin sebuah kesatuan dalam Perang Aceh dan setelah perang usai Teungku Fakinah mendirikan Pusat Pendidikan Islam yang bernam Dayah Lam Biran.
  10. Cut Meutia, seorang pahlawan wanita yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya di dalam hutan dan mati syahid ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda.
  11. Pocut Baren, seorang pahlawan wanita yang pada tahun 1898-1906 M memimpin perang terhadap Belanda, dan akhirnya tertawan dalam mempertahankn bentengnya karena luka parah pada tahun 1906.
  12. Pocut Meurah Intan, Srikandi yang juga bernama Pocut Biheu, bersama putera-puteranya, Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin berperang pantang menyerah melawan Belanda selama bertahun-tahun. Pada tahun 1904 dalam keadaan luka parah bersama puteranya Tuanku Nurdin, ia ditawan Belanda. Sedangkan puteranya yang lain, Tuanku Muhammad telah syahid pada tahun 1902.
  13. Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri dari seorang ulama besar, Tengku Kahtim atau Tengku Chik Mataie. Cutpo Fatimah bersama suaminya, Tengku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia dan suaminya syahid. Pada pertempuran tanggal 22 Februari 1912 ketika bertempur melawan Belanda keduanya syahid.

Uraian tersebut menggambarkan peran agama dan kebudayaan Islam begitu besar mempengaruhi kehidupan rakyat Aceh sampai pada perjuangan melawan Portugis maupun Belanda. Jiwa keagamaan merupakan landasan pokok, rakyat baik pria dan wanita berjuang untuk mengusir Portugis atau Belanda di Aceh dengan gigih.

Mati melawan penjajah itu berarti mati syahid. Sikap inilah yang melandasi semangat juang Laksamana Malahayati bersama pasukannya untuk melakukan pertempuran dan penangkapan terhadap kapten kapal Belanda, Cornelis dan Frederik de Houtman. Pertempuran lainnya adalah di Laut Aru dengan Portugis yang ingin menguasai daerah pesisir pantai timur Aceh. Keberaniannya dalam memimpin suatu pertempuran yang dilandasi dengan kesetiaan pada kerajaan melambangkan cita-citanya yang kuat untuk mengusir penjajah dari wilayahnya. Karya nyata perjuangannya itu diwujudkan dengan membangun sebuah benteng pertahanan yang khusus bagi para janda untuk mengantisipasi serangan Portugis dari kawasan Selat Malaka, Benteng Inong Balee. Laksamana Malahayati melatih kemiliteran bagi para janda di dalam benteng tersebut. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan kegigihan Laksamana Malahayati dalam mempertahankan wilayah dan eksistensi kerajaannya, maka makamnya diletakan pada suatu puncak bukit di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi NAD.

VI. Penutup

Laut Nusantara telah menyisakan sederet kisah-kisah kepahlawanan yang dapat menjadi teladan bagi kita. Walaupun kisah kepahlawanan Laksamana Malahayati belum sepenuhnya terungkap namun keberadaan tinggalan arkeologis berupa Benteng Inong Balee dan Kompleks Makam Laksamana Malahayati menguatkan bukti sejarah kisah perjuangan, tidak hanya dalam mempertahankan eksistensi kerajaannya saja, lebih dari itu Laksamana Malahayati berjuang juga demi harkat dan martabat kaumnya. Untuk mengenang jasa Laksamana Malahayati, sekitar 560 m arah utara kompleks makam terdapat pelabuhan laut untuk kegiatan bongkar muat barang maupun penyeberangan, yaitu Pelabuhan Malahayati. Nama Malahayati juga dijadikan nama kapal perang TNI AL kawasan timur/Armada Timur yaitu KRI Malahayati.

Kepustakaan

Ambary, Hasan Muarif, 1996. Makam-makam Islam di Aceh dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta: Puslit Arkenas, Depdikbud

——————–,1998. Menemukan Peradaban, Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Puslit Arkenas

Hasjmy, A, 1975. Iskandar Muda Meukuta Alam. Jakarta: Bulan Bintang

——————–, 1976. 59 Tahun Aceh Merdeka dibawah Pemerintahan Ratu. Jakarta: Bulan Bintang

Jamil, M Yunus, 1959. Gajah Putih. Banda Aceh: Lembaga Kebudayaan Aceh

Mann, Richard, 2004. 400 Years And More of The British In Indonesia. London: Gateway Books International

Perret, Daniel dan Kamarudin AB. Razak, 1999. Batu Aceh Warisan Sejarah Johor. Selangor: Yayasan Warisan Johor dan EFEO

Pramono, Djoko, 2005. Budaya Bahari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Soekmono, R, 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Jakarta: Kanisius

Tim, 1978. Adat Istiadat Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah

Tim P3SKA, 1998. Buku Objek Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Aceh. Banda Aceh: Perkumpulan Pecinta Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Aceh (P3SKA).

Tim Penyusun, 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Jakarta: Balai Pustaka, Depdikbud

 

SYEIKH ISMAIL BIN ABDUL WAHAB HARAHAP: MATI DIEKSEKUSI

Nama lengkapnya, Assyahid Fi Sabilillah Syeikh Ismail bin Abdul Wahab Tanjung Balai. Dia dilahirkan di Kom Bilik, Bagan Asahan, pada tahun 1897 daeri seorang ayah bernama H. Abdul Wahab Harahap dan ibu bernama Sariaman. Ayahnya berasal dari Huta Imbaru, Padang Lawas, Tapanuli Selatan.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar dia melanjutkan pendidikan, khususnya, agama ke salah seorang ulama di Tanjung Balai, kepada al-Marhum Syeikh Hasyim Tua serta beberapa ulama lainnya. Tanjung Balai, selain kota pelabuhan yang sangat ramai, juga merupakan pusat pendidikan agama Islam di Kesultanan Asahan. Para mahasiswa dari berbagai negeri menjadikan Tanjung Balai sebagai tujuan pendidikan, seperti, Kerajaan Kotapinang, Kerajaan Pane dan lain sebagainya.

Pada tahun 1925, untuk melengkapi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dia berangkat ke Mekkah, yang menjadi pusat pertemuan intelektual-intelektual Islam sedunia. Di sana dia mengembangkan kemampuannya selama lima tahun sambil menunaikan ibadah haji.

Tidak puas dengan standarisasi ilmu di Mekkah, dia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar di Kairo, Pada tahun 1930. Dia menamatkan berbagai jenjang di antaranya, Aliyah, Alimiyah, Syahadah Kulliah Syar’iyah dan Takhassus selama dua tahun.

Syahadah Aliyah saat itu setingkat dengan sarjana. Alimiyah setingkat dengan master. Syahadah Kulliah Syar’iyah merupakan pendidikan spesialisasi. Takhassus merupakan pendidikan tingkat Doktor sesuai dengan kurikulum Islam saat itu.

Pendidikan yang sangat lama itu tidak memjadi halangan baginya, walau dengan pengorbanan meninggalkan putrinya yang masih kecil, bernama Hindun, yang lahir sesaat sebelum dia berangkat di Mekkah.

Aktvitasnya tidak saja dicurahkan untuk penguasaan ilmu, dia juga aktif dalam politik untuk menentang kolonialisme. Berbagai kegiatan tersebut mengantarnya menjadi Ketua ‘Jamiatul Khoiriyah’, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir.

Perjuangan melawan kolonialisme tersebut diperluas ke segenap puak Melayu yang berada dalam terkaman bangsa kolonial. Diapun terpilih menjadi Ketua Persatuan Indonesia Malaya selama tiga tahun. Selama kepemimpinannya dia berhasil membangun solidaritas dan nasionalisme di jiwa para pemuda Indonesia dan Malaysia yang belajar di Mesir.

Di Tanah Air, gaung nasionalisme tersebut semakin menjalar di kedua negara, sehingga nama Parpindom, akromin organisasi mereka tersebut, memberi harapan yang sangat jelas mengenai nasib bangsa yang terjajah itu.

Kesadaran politik di Indonesia dan Malaysia semakin berkembang pesat, saat beberapa tulisannya terbit di majalah-majalah di kedua negara. Majalah Dewan Islam, Medan Islam dan lain-lain, merupakan corong politik baginya yang menimbulkan kepercayaan diri bagi bangsa pribumu dengan nama samaran di koran; “Tampiras”.

Perjuangan selama tiga belas tahun di luar negeri, membuatnya terkenal saat pulang meninggalkan Port Said, Mesir ke Indonesia via Singapura, sebuah provinsi Malaya saat itu.

Jumat, 28 November 1936, dia kembali ke tanah air melalui Pelabuhan Teluk Nibung tepat pukul 15.45, dengan menumpang Kapal Kampar dari Bengkalis.

Kedatangannya, tanpa diduga-duga telah diketahui oleh masyarakat Tanjung Balai. Sehingga, secara spontan, masyarakat yang rindu dengan jiwa perjuangan tersebut menyambutnya di pelabuhan dengan lagu-lagu perjuangan, Tala’ah Badru Alaina.

Diapit oleh adiknya Zakaria Abdul Wahab Harahap yang menjemputnya di Bengkalis, dia mendekati satu persatu masyarakat yang menyambutnya dengan sebuah kehangatan akan harapan untuk membela harga diri bangsa dari kezaliman penjajah.

Dapat dipahami kedatangannya ke Tanah Air kemudian dipersulit oleh penjajah Belanda, sehingga beberapa persoalan dan kesulitan juga menyambutkan bersama sambutan hangat dan menggebu-gebu dari masyarakat untuk tokoh pergerakan nasional ini.

Namun, kewibaan dan kesabaran yang ditunjukkannya membuatnya dapat bertaham dan kemudian mendirikan sebuah institusi pendidikan dengan nama “Gubahan Islam”. Yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjung Balai. Beberapa tokoh setempat berlomba-lomba menbantunya seperti H. Abdur Rahman Palahan dan H. Abdul Samad.

Beberapa kali insiden yang mengarah kepada kekacauan sosial diciptakan oleh intel-intel penjajah untuk membuat gap antara masyarakat dengan lembaga pendidikan tersebut. Namun setiap kali itu pula si Harahap ini berhasil mengatasinya dengan karisma yang terletak di pundaknya.

Pendidikan yang diterapkannya di perguruan tersebut semakin lama semakin meningkat. Beberapa tahap dan level pendidikan didirikan untuk memenuhi permintaan masyarakat. Level pendidikan umum, dewasa, dan juga pendidikan politik bagi aktivis-aktivis kemerdekaan.

Namun, sebagai seorang pemikir dan intelektual, kegiatannya tidak terpaku pada kegiatan ajar-mengajar. Dia juga terlibat dalam riset dan penelitian demi memajukan sistem sosial masyarakat di Tanjung Balai. Beberapa hasil riset dan pemikirannya tersebut tertuang dalam beberapa buku, antara lain “Burhan al-Makrifah”. Artikel-artikelnya dimuat di hampir semua koran-koran di berbagai kerajaan dan kesultanan, yang sekarang menyatu menjadi Sumatera Utara.

Beberapa kali Belanda mengeluarkan perintah rahasia untuk membungkamnya. Beberapa peraturan baginya dibuat khusus termasuk larangan untuk mengajar.

Paska kemerdekaan RI, nasionalisme di Tanjung Balai mencapai puncaknya. Dia diangkat menjadi Ketua Nasional Kabupaten Tanjung Balai, untuk menegaskan kemerdekaan RI dari belenggu kolonialisme Belanda.

Di Tebing Tinggi, dia menggalang solidaritas sesama ulama se Sumatera Timur pada tahun 1946 dan merumuskan beberapa fatwa untuk membantu ummat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan ibadah yang mereka hadapi.

Maka tidak heran, rakyat di Sumater Timur sangat merindukan kehadirannya saat dengan lantang menunjukkan keberaniannya untuk menurunkan bendera Jepang di Kantor Gun Sei Bu di Tanjung Balai. Sesuatu yang menurut orang banyak sebagai tindakan yang sangat nekat untuk ukuran zaman penjajahan Jepang yang otoriter tersebut.

Di sela-sela tanggung jawab sosial yang diembannya, dia masih bersedia untuk diangkat menjadi Penanggung Jawab sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Nasional “Islam Merdeka” yang kemudian diubahnya menjadi Majalah “Jiwa Merdeka”.

Untuk mengisi kekosongan birokrasi dari kurangnya SDM Sumatera Timur saat itu, Gubernur Sumatera, Mr. T. M Hasan memintanya untuk menjadi Kepala Baitul Mal Jawatan Agama pada tahun 1946, yang berkedudukan di Pematang Siantar.

Paska kemerdekaan Indonesia, Belanda kembali lagi dalam sebuah agresi militer yang dikenal Agresi Belanda I pada tahun 1947. Dia yang menjadi target operasi Belanda akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke Pulau Simardan. Enam hari setelah agresi tersebut dia menungunjungi rumahnya di Jalan Tapanuli, Lorong Sipirok, Tanjung Balai untuk mengambil perbekalan. Jam 10.00 pagi dia ditangkap oleh Belanda.

Dengan dakwan telah memprovokasi pemuda Indonesia untuk merdeka dia ditembak mati oleh Belanda pada hari Minggu 24 Agustus 1947 pukul 11.00. Dia tewas dalam umur 50 tahun dan dikuburkan di penjara Simardan.

TUAN GURU SYEIKH ABDUL WAHAB BESILAM: SANG IMAM

Lahir 10 Rabiul Akhir 1242 H atau 1817, di Kampung Runda, Rantau Benuang Sakti. Di merupakan salah satu tokoh dari berbagai tokoh Islam yang menjadi pembuka sebuah wilayah untuk kemudian menciptakan sebuah masyarakat Islam dengan peraturan dan perundang-undangan Islam.

Nama kota madani tersebut adalah Babussalam yang dikenal dengan Besilam di Kesultanan Langkat. Kesultanan Langkat merupakan Kesultanan Islam, yang penduduknya kebanyakan Muslim Karo dan tunduk kepada kedaulatan Kesultanan Aceh sebelum akhirnya dijajah Belanda. Kesultanan tersebut sejak dulu merupakan pusat pengembangan Islam. Beberapa peninggalan arsitektur Islam di daerah ini masih tersisa sampai sekarang.

Tuan Guru, dari Besilam, menjadi pusat organisasi tarekat Naqsabandiyah yang meliputi Asia Tenggara. Beberpa buku dan ajarannya menjadi acuan jutaan ummat manusia yang menjadi pengikutnya. Tuan Guru menjadi sebuah ‘Imam’ bagi ajaran tarekat ini.

SYEIKH SULAYMAN AL-KHOLIDY HUTAPUNGKUT: PENGASAS ORGANISASI SULUK TANAH BATAK

Lahir di Hutapungkut, Kotanopan pad atahun 1842. Ayahnya bernama Japagar, seorang tokoh pemuda yang mempunyai bebraap seni beladiri dan menetap di Sipirok sebagai insinyur yang menguasasi pengolahan logam, khusunya besi.

Dia merupakan mahasiswa Abdul Wahab Rokan serta beberapa ulama lainnya. Dia natara kolega mahasiswanya yang setingkat adalah Syeikh Ibrahim dari Kumpulan Lubuk Sikaping dan Syeikh Ismail dari Padang Sibusuk.

Setamat pendidikanya di menjadi tokoh pembaharu sosial di Padang Lawas dengan ajaran-ajaran tarekat yang dibawanya. Di Padang Lawas dia menjadi intelektual yang menjadi pusat tujuan belajar para pemudan dan tokoh setempat. Salah satu tokoh Padang Lawas yang berguru kepadanya adalah Syeikh Abdul Qadir yang sampa sekarang masih dikenal sebagai pahlawan dalam mengentaskan pendidikan di Padang Lawas.

Tempat kelahirannya Hutapungkut menjadi ramai dengan kunjungan para musafir yang ingin belajar dengannya. Rumahnya menjadi pusat studi dan riset yang menyangkut semua maslahat ummat.

Tak lama kemudian dia mendirikan mensjid di samping rumahnya yang membuat lembaga studi itu semacam perguruan yang menjadi pusat tarekat Naqsabandiyah di Tapanuli Selatan. Pendirian mesjid dan bangunan-bangunan tersebut dilakukan sendiri oleh Syeikh dengan para mahasiswanya dengan bahan baku dari huta-hutan sekita 15 kilometer dari rumahnya. Sehingga, berubahnya Hutapungkut menjadi kota mandiri dan pusat pendidikan di Tapanuli.

Beberapa alumni dari perguruan ini adalah Syeikh Basir dari Pekantan yang dikenal dengan Tuan Basir (Lihat; Pustaha Tumbaga Holing, Tampubolon) di kalangan masyarakat Batak Toba karena Syeikh Basir ini merupakan tokoh yang menjadi penyebar Islam, terutama tarekat atau suluk di seluruh pelosok dan pedalaman Tanah Batak Toba. Organisasi-organisasi suluk di huta-huta di Toba tersebut menjadi kekuatan penting dalam pengusiran penjajah Belanda.

Alumni lainnya adalah Syeikh Husein dari Hutagadang yang menjadi penerus kepemimpinan Naqsabandiyah di Tapanuli Selatan. Alumni lainnya diantaranya; Syeikh Hasyim Ranjau Batu, Syeikh Abdul Majid Tanjung Larangan Muara Sipongi, Syeikh Ismail Muara Sipngi, Syeikh Muhammad Saman Bukit Tinggi dan puteranya sendiri Syeikh Muhammad Baqi.

Salah seorang alumni Hutapungkut, Syeikh Abdul Hamid, menjadi imam dan pengajar di Mesjidilharam Mekkah, sebelum kembali ke Hutapungkut sebagai pemangku Khalifah Naqsabandiyah untuk daerah Tapanuli.

Syeikh Sulayman al-Kholidy sebagai peletak pondasi intelektualisme Tapanuli di Hutapungkut, meninggal 12 Oktober 1917.

SYEIKH ABDUL HALIM HASIBUAN GELAR SYEIKH BOSAR: SANG EDUKASIONIS

Syeikh Hasibuan dilahirkan di Sihijuk, Sipirok dari seorang ayah yang menjadi Qadhi, dengan nama Maulana Kadi Hasibuan dengan gelar H.M. Nurhakim.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Tanah Air, dalam umur 12 tahun dia berangkat ke Mekkah untuk meneruskan pendidikannya. Di Mekkah dia belajar dan mengeluti intelektualisme Mekkah selama tiga puluh tahun antara 1870-1900.

Guru-gurunya antara lain, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Asy’ari Bawian, Syeikh Kendi dan Syeikh M. Daud Fathoni. Spesialisasi yang dikuasasinya dalah Jusrisprudensi (Fiqih), Hadits dan Tasawuf.

Sekembalinya ke Tanah Air, dia diangkat menjadi Syeikh di mesjid raya lama Padang Sidempuan selama dua puluh tahun. Saat itu, fungsi mesjid selain tempat ibadah juga menjadi lembaga pendidikan, konseling, ifta (atau penetapan fatwa untuk masalah-masalah yang dihadapi masyarakat) dan pusat riset dan pengembangan masyarakat.

Selain terlibat di pusat kegiatan sosial, dia juga mendirikan perguruannya di Hutaimbaru, Angkola Julu. Perguruan tersebut makin lama makin sering dikunjungi para mahasiswa-mahasiswa di seantera negeri. Beberapa almuninya antara lain: Syeikh Kadir Aek Pining Batang Toru, Syeikh Harus adik Syeikh Bosar, H. Hasan Mompang Julu, Dja Mulia Simarpinggan, Syeikh Abrurrahman Sialogo, H. Daud Momang Julu dan tokoh intelektual masyarakat Batak Toba, Abdul Halim Perdede.

Pada tahun 1920, dia meninggal di Mesjid Lama Padang Sidempuan. Sebelum meninggal, dia dikenal sangat aktif berpolitik khususnya dalam pengembangan politik di Tapanuli Selatan, khsusunya sebagai Ketua Syarikat Islam Tapanuli Selatan.

SYEIKH ABDUL HAMID HUTAPUNGKUT: SANG REFORMIS

Lahir pada tahun 1865 M, dan merupakan tokoh pembaharu. Sebagai intelektual dia banyak terlibat dalam pengembangn kultur dan budaya di Tapanuli Selatan. Dia merupakan tokoh yang berdiri untuk semua golongan dan tidak mau terlibat dalam ajaran tarekat Naqsabandiyah.

Pada tahun 1918, dia mengembangkan Islam di Pematang Siantar dan menjadi Qadhi di Timbang Galung. Selama dua tahun dia mengabdikan diri di tengah-tengah masyarakat Batak Simalungun, dia kembali ke tanah kelahirannya pada tahun 1920.

Di sana dia mendirikan perguruannya di sebuah mesjid yang dibangunnya dan memperkaya Hutapungkut sebagai kota dengan seribu perguran Islam. Slah satu alumninya adalah Lebay Kodis. Sambil menjadi cendikiawan di perguruan tersebut dia juga terlibat dalam kegiatan politik mengusri Belanda sampai akhirnya dia bergabung dengan Permi dan PSII.

Semangat pembaharuan yang dibawanya membuat beberapa generasi muda di Hutapungkut mendirikan beberapa perguran diantaranya:

1. Maktab Ihsaniyah, didirikan pda tahun 1927 dengan guru besar Muhammad Ali bin Syeikh Basir yang berasal dari Deli Tua, Kesultanan Deli.
2. Diniyah School pada tahun 1928 dengan guru besar H. Fakhruddin Arif dengan nama Arjun.
3. Di Manmbin berdiri Madrasah Islamiyah dengan guru besar Hasanuddin dari Kesultanan Langkat.
4. Tahun 1929 di Sayur Meincat Kotanopan dengan nama isntitusi Subulus Salam dengan guru besar H. Ilyas dari Kesultanan Deli.
5. Tahun 1929 di Singengu Kotanopan dengan guru besar H. Nurdin Umar dari Kesultanan Langkat dengan nama perguruan Syariful Majlis.

Renaissance Hutapungkut yang digagas oleh Syeikh akhirnya diteruskan oleh beberapa generasi penerusnya setelah wafatnya pada tahun 1928.

SYEIKH JA’FAR HASAN TANJUNG: SANG ORGANISATOR

Lahir di Remburan, Mandailing pada tahun 1880, anak kedua dari dua belas putera-puteri Syeikh Hasan Tanjung.

Sejak kecil dia merantau ke Kesultanan Deli, tepatnya Medan dan tinggal bersama pamannya yang menjadi pengusaha sukses yang bernama H. Hamid Panjang Mise dan mempunyai banyak gerai batik salah satu diantaranya di Kesawan No. 34 Medan.

Pada tahun 1904, dia diutus oleh pamannya tersebut untuk belajar ke Mekkah. Setelah beberapa tahun di sana dia melanjutkan studinya ke Bait al-Maqdis, Jerusalem, Palestina. Dari sana dia melanjutkan kelana pendidikannya ke Kairo.

Pada tahun 1912, dia kembali ke tanah air dan mengembangkan Islam dan pendidikan di Kesultanan Deli, tepatnya di Jalan Padang Bulan 190 Medan.

Dari pengalamannya tersebut dia diangkat menjadi Pemimpin di Maktab Islamiyah Tapanuli, Medan yang berdiri pada 9 Syakban 1336 H. Pimpinan setelah itu adalah H. Yahya, Syeikh Ahmad dan Syeikh M. Yunus berturut-turut.

Dalam perjalanan sejarahnya, rumahnya yang di Padang Bulan tersebut, diserahkannya kepada al-Jam’iyah al-Washliyah yang menjadi organisasi masyarakat muslim di Medan.

Sebagai tokoh masyarakat, dia menunjukkan sebauh kebiasaan baru yang tidak lazim saat itu, bahwa dia tidak mau menerima zakat yang menurutnya ada beberapa ashnaf yang lebih berhak menerimanya.

Sumbangsihnya dalam perjalanan karir politik adalah pendirian organisasi seperti al-Jam’iyah al-Washliyah di Medan.

KADHI H. ILYAS PENYABUNGAN: SANG KADHI

Dilahirkan di Sabajior, Penyabungan pada 10 Rabiul Awal 1302 H. Ayahnya bernama H Sulayman.

Dia aktif mengembangkan Makbat Subulussalam sampai akhirnya penguasa Sukapiring memintanya menjadi Kadhi di Sukapiring, Kesultanan Deli. Masa hidupnya dihabiskan untuk membesarkan organisasi al-Jam’iyah al-Washliyah.

SYEIKH JUNEID THOLA RANGKUTI: PENGASAS PHILANTROPHY

Lahir di Huta Dolok, Huta Na Male, Negeri Maga, Kotanopan. Pada saat itu Huta Dolok masih bernama Pagaran Singkam suatu wilayah yang terletak di kaki Gunung Sorik Marapi.

Sewaktu kecil ayahnya Thola Rangkuti memberinya nama Si Manonga karena lahir dengan kondisi yang sangat sulit.

Sekolah dasar di Maga dan dilanjutkan di Tanobatu yang selesai pada tahun 1906. Semangatnya untuk melanjutkan pendidikannya terinspirasi oleh H, Abdul Malik Lubis, seorang tokoh intelektual lokal di Maga.

Syeikh Juneid merupakan pelopor legiatan wakaf atau filantrofi di Tapanuli. Melalui serangkaian kegiatan dia berhasil mengumpulkan dana untuk mendirikan perguruan pendidikan di Huta Na Male. Di samping itu dia juga mendirikan beberapa lembaga sosial ekonomi dari hasil wakaf yang dikumpulkannya. Di antaranya adalah pasar wakaf di Huta Na Male.

Dengan gerakan wakaf ini, Huta Na Male dan Maga menjadi sebuah negeri dengan perputaran eknomi yang cukup mapan. Beberapa pengusaha lokal pun akhirnya muncul dan menyebar menguasasi ekonomi Tapanuli di berbagai tempat.

Syeikh Juneid dikhabarkan berhasil membangun industri lokal untuk memproduksi peralatan dan barang-barang sandang pangan buatan lokal. Dia sendiri banyak terlobat dalam produksi minyak nabati seperti minyak nilam dan produksi sepatu yang bahan bakunya diambil dari kebun wakaf yang menjadi modal ekonomi masyarakat di Tapanuli. Pembangunan sosial yang madani ini akhirnya diteruskan oleh para generasi penerusnya setelah dia meninggal pada 30 Maret 1948.

SYEIKH MUHAMMAD YUNUS TAPANULI: SANG POLITIKUS

Lahir 1889, merupakan pendiri ‘Debating Club’; yang sangat terkenal. Kehidupannya banyak dibahas dalam biografi tokoh-tokoh yang menjadi pentolan melawan penjajah.

H. MUHAMMAD MUKHTAR HARAHAP: PEMBAHARU SOSIAL

Lahir di Padang Bolak pada tahun 1900. Dia merupakan pendiri sebuah lembaga pendidikan yang prestisius Pondok Pesantren al-Mukhtariyah.

Semasa di Mekkah dia belajar dengan beberapa tokoh di antaranya:

1. Syeikh Mukhtar Bogor
2. Syeikh Abdul Kadir Mandily
3. Syeikh Ali Maliki Mekkah
4. Syeikh Umar Bajuri Hadramy
5. Syeikh Abdurrahman Makky
6. Syeikh Umat Satha Makky
7. Syeikh Muhammad Amin Madinah
8. Syeikh Muhammad Fathani Malaya
9. Ustadz Nila

Syeikh Harahap ini merupakan tokoh modernisasi pendidikan di Padang Lawas. Organisasi yang didirikannya, al-Mukhtariyah, menerapkan sistem organisasi pendidikan di wilayah tersebut.

Dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang moderen, beberapa cabang perguruan lain berdiri di tanah Batak di antaraya di Kerajaan Portibi pada tahun 1935.

Beberapa cabang lain antara lain:

1. Kerajaan Portibi (Julu) yang dipimpin oleh guru besar Syeikh Abdul Halim Hasibuan
2. Simaninggir dengan pimpinan guru besar Syeikh Guru Uteh
3. Rondaman Dolok dipimpin oleh guru besar Syeikh H. Mursal
4. Hotang Sosa dengan pimpinan guru besar Syeikh Guru Jidin
5. Alonan dipimpin oleh Syeikh Zakaria

Sumbangan lain dari Syeikh Harahap adalah modernisasi sistem ekonomi dan sosial masyarakat. Dia merupakan tokoh yang mengasas terbetuknya koperasi di beberapa tempat masyarakat muslim Tapanuli.

Koperasi tersebut berhasil mengentaskan kemiskinan di wilayah tersebut dan menjadi arena pendidikan untuk pengusaha-pengusaha lokal. Namun sayang, penjajahan Jepang sempat mematikan koperasi-koperasi tersebut.

Beberapa alumni perguruan tersebut telah menjadi pendiri beberapa perguruan lainnya dan banyak menjadi tokoh pendidikan di Medan.

SYEIKH H. ADNAN LUBIS: AHLI TATA NEGARA

Nama lengkap al-Fadhil Haji Adnan Lubis. Lahir Mei 1910 di kampung Arab, Medan, Kesultanan Deli. Ayahnya H. Hasan Kontas, seorang saudagar kain di Panjang/Kesawan.

Dia merupakan alumni Maktab Islamiyah Tapanuli di Jalan Hindu. Pada tahun 1926, dia berangkat ke Mekkah bersama Syeikh Nawawi yang menjadi Syeikh Jama’ah di Mekkah.

Pada tahun 1934, dia melanjutkan pendidikannya ke India, tepatnya Nadwa College (Darul Uloom Nadwatul Ulama), sebuah universitas yang banyak melahirkan cendikiawan dari mahasiswa di seluruh dunia, khususnya negara-negara berkembang.

Di kampus tersebut, kemampuan bahasanya bertambah dengan penguasaan bahasa Urdu yang serupa dengan bahasa Sansekerta. Selama studi di India, dia berhasil menulis beberapa buku yang di antaranya dicetak di Medan seperti: Kisah Perjalanan Imam Syafii.

Lima tahun dihasbiskan di Lucknow untuk mempelajari ilmu Ekonomi, Politik dan ilmu-ulmu lainnya dan luluh dengan predikat al-Fadhil. Al-Fadhil merupakan gelar untuk master sementara Alimiyat adalah gelar untuk sarjana.

Beberapa tokoh ulama di India tercatat sebagai dosennya di antaranya:

1. Syeikh Mas’ud Alam
2. Syeikh Sibli Nu’mani yang merupakan tokoh India
3. Syeikh Sulayman al-Nadwi
4. Syeikh Tarmizi

Pada tahun 1939, dia kembali ke Indonesia dan menikah dengan boru Nasution bernama Rachmah binti Abdul Malik Nasution dengan dua puteri dan lima orang putera.

Dia aktif berorganisasi dalam al-Jam’iyatul al-Washliyah dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang mendukung pengusiran Belanda dari Tanah Air. Kegiatan utamanya dalam pendidikan tidak pernah ditinggalkannya. Misalnya sebagai Guru Besar di Universitas Islam Sumatera Utara untuk mata kuliah Hukum Islam pada tahun 1952.

Pada tahun 1956-1959 dia diangkat menjadi Aggota Konstituante dan pada tahun 1958 menjadi rektor sebuah universitas prestisius UNIVA sebuah universitas paling bermutu di jamannya.

Beberapa tulisannya mengani Hukum Islam, Pengantar Hukum Islam dan Perbandingan Islam. Di bidang sastra dia juga menulis ‘Gubahan Perjuangan Rasul’. Menerjemahkan Kitab ‘Falsafah Timur’ karangan Prof. Ghallib dari Mesir. Selain buku-buku agama dia juga menulis buku-buku politik seperti Hukum Tata Negara Islam. Buku tersebut ditulis selama dia menjadi anggota Konstituante.

ABDUL FATAH PAGARAN SIGATAL: MODERNIS SULUK

Nama kecilnya Abdul Fatah berasal dari Porlak Tele di Batahan yang masuk dalam wilayah Natal, Tanah Batak Selatan. Menurut riwayatnya beliau wafat pada tahun 1900 dalam usia 91 tahun. Oleh sebab itu tahun kelahirannya diperkirakan pada tahun 1809.

Bersama Lamri dan Barus, Natal merupakan pelabuhan kuno yang telah mendapat sentuhan peradaban Islam dengan nuansa budaya Batak. Selama hidupnya dia berkecimpung dalam mengembangkan organisasi-organisasi suluk yang banyak tumbuh di tanah Batak.

SYEIK MUHAMMAD YUNUS HURABA: TOKOH PEMBANGUNAN SOSIAL SIPIROK

Lahir pada tahun 1894 di Huraba, Mandailing. Setelah kuliah di Mekkah dia membangun Sipirok pada tahun 1865 melalui permintaan Namora Natoras setempat. Pembangunan masyarakat Islam di Sipirok dimulai dengan mendirikan mesjid raya serta beberapa bangunan lembaga pendidikan lainnya.

Dengan hadirnya Syeikh di Sipirok, dapat dipastikan bahwa struktur masyarakat Sipirok akhirnya dapat berkembang sesuai dengan masyarakat modern untuk level saat itu.

Sipirok menjadi pusat pendidikan Islam dan banyak ulama yang lahir dari tangannya. Diantaranya adalah Syeikh Syukur Labuo dari Parau Sorat dan anaknya sendiri yang bernama Tuan Syeikh Ahmad Disipirok.

Syeikh meninggal pada tahun 1909.

TUAN GURU AHMAD ZEIN BARUMUN: SAUDAGAR YANG INTELEKTUAL

Dia merupakan anak dari aristokrat Kerajaan Aru Barumun dari Tanjung Kenegerian Paringgonan, Barumun. Dia dilahirkan di lembah Gunung Malea tepatnya di Pintu Padang Julu pada tahun 1846.

Sebagai anak seorang aristokrat, dia menjadi saudagar yang berkeliling dari satu onan ke onan yang lain di sepanjang Bukit Barisan. Di sela-sela kegiatan ekonominya tersebut, dia meyempatkan diri untuk mempelajari buku-buku ilmu pengetahuan secara otodidak.

Untuk mengembangkan kemampuannya dia merantau ke Tanjung Balai sebuah kota pelabuhan yang banyak ditempati ulama-ulama terkenal saat itu. Di sana dia bermukim dan belajar kepada tokoh-tokh intelektual sampai usia 23 tahun.

Dari Tanjung Balai, dia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus menimba ilmu seperti halnya tokoh-tokoh Batak lainnya pada tahun 1869. Dengan kapal layar dia menuju pelabuhan Jeddah dan berguru di beberapa ulama terkenal di Mekkah di antaranya; seorang ulama Batak Syeikh Abdul Kadir bin Syabir yang keturunan Penyabungan, Syeikh Abdul Jabbar keturunan Mompang Mandailing dan Syeikh Abu Bakar Tambusai.

Selain ulama keturunan Batak tersebut, dia juga menimba ilmu dari ulama-ulama Nusantara yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Mukhtar Bogor, Syeikh Umar Sumbawa dan lain sebagainya.

Setelah dua belas tahun di Mekkah di kembali ke Tanah Air dengan mendirikan sebuah institusi pendidikan di Pintu Padang Julu pada tahun 1901. Dengan sistematisasi pendidikan yang digagasnya, dia dapat menelurkan berbagai sarjana dengan metode pendidikan Arab yang modern.

Di Pendidikan tersebut dia juga mengajarkat Tarekat Tahqin al-Zikri ala al-Naqsabandiyah. Dia kemudian meninggalkan Tarekat ini setelah membaca buku ‘Izhar al-Kazibin’ karya Ahmad Khatib Minangkabau.

Setelah 23 tahun di Pintu Padang dan menjadikannya pusat pendidikan intelektual dan cendikiawan Batak, dia kemudian kembali ke desa nenek moyangnya di Tanjung pada tahun 1924. Di Tanjung dia mendirikan pondok pesantren. Dengan kharisma yang dimilikinya dia berhasil mengembangkan Tanjung, Paringgonan, menjadi pusat studi Islam yang didatangi para mahasiswa dari seluruh penjuru Tanah Batak.

Selama hidupnya, dia terlibat dalam aktivitas-aktivitas perlawanan kepada kekuatan penjajah Belanda. Puncak kegembiraan dalam hidupnya nampak saat kemerdekaan Indonesia. Dia meninggal pada tanggal 10 Oktober 1950.

H. MUHAMMAD DAHLAN HASIBUAN: ORGANISATORIS DARI SIBUHUAN

Lahir di Hasahatan Jae, Sibuhuan pada tahun 1904 M. Dia wafat pada tahun 1973. Orang tuanya, H. Abdur al-Rahman, seorang saudagar kaya dan sangat terkenal di Kesultanan Barumun.

Namun sayang, bakat dagang ayahnya tidak diwarisi oleh Syeikh Hasibuan namun demi meneruskan tradisi ekonomi dan perdagangan keluarga dia memberikan tanggung jawab regenerasi kepada H. Baginda Soaduon Hasibuan yang menguasai perputaran ekonomi di Kesultanan Barumun.

Dia merupakan alumni dari Pondok Pesantren Galanggang Sibuhuan dengan guru besar H. Muhammad Shaleh Mukhtar. Setelah menamatkan studinya di sana, dia melanjutkan studinya di Kesultanan Langkat, tepatnya di Madrasah Aziziyah Tanjung Pura dengan kekhususan pada sastra.

Antara tahun 1920-1926, dia melanjutkan studinya di Mekkah dan kembali Indonesia dan mulai mengembangkan ilmunya di Maktab Syariful Majalis di Galanggang Sibuhuan. Pada tahun 1937 dia mengajar di Kampung Keling, Pematang Siantar. Namun, atas desakan masyarakat di Kesultanan Barumun, dia diminta kembali untuk membangun masyarakat di Barumun dan sekitarnya.

Di sana dia Membangun sebuah institusi pendidikan yang sangat spektakuler dengan nama Jam’iyah al-Muta’allimin. Dari namanya bisa diartikan sebagai Universitas Mahasiswa. Namun paska kemerdekaan Indonesia, institusi ini menjadi mengerdil dengan sekedar setingkat pondok pesantren.

Pondok tersebut yang dikenal dengan Pondok Aek Hayuara, menjadi center of excelent yang sangat terkenal di kesultanan tersebut karena menyediakan sistem pendidikan di berbagai level. Salah satu level adalah pondok dalam yang mahasiswanya terdiri dari orang dewasa yang sudah menikah, janda maupun duda. Pendidikan untuk semua umur digagas melalui pondok ini.

Kemasyhuran pondok ini tidak saja di Kesultanan Barumun, tapi juga ke seantero Tanah Batak dan bahkan Sumatera. Mahasiswa-mahasiswa dari berbagai bahasa di Sumatera berduyun-duyun berdatangan di setiap pembukaan tahun ajaran baru.

Namun, pada zaman Jepang pondok ini mengalami kemunduran secara ekonomi akibat ‘malaise’ yang mengundang simpati dari pemimpin-pemimpin negeri. Tercatat Sultan Deli dari Kesultanan Deli kemudian berinisiatif untuk mensubsidi pondok ini. Inisiatif ini juga diikuti oleh Sultan dari Kesultanan Asahan dan Raja dari Kesultanan Kotapinang.

Pada zaman kemerdekaan, dia kemudian melakukan pembaharuan di pondok tersebut dengan memasukkan kurikulum yang up to date sehingga pondok tersebut diakui ‘hanya’ setingkat PGA.

Selain menjadi tokoh pendidikan di Kesultanan Barumun, dia juga aktif membangun UNUSU atau Universitas NU Sumatera Utara di Tapanuli. Melalui sentuhannya bebeapa anak muridnya menjadi tokoh pendidikan di mana-mana. Di antaranya Tuan Mukhtar Muda dan Tuan Ridho di UNUSU, H. Ja’far dengan membuka lembaga pendidikan baru yang bernama Pondok Lubuk Soripada di Tangga Bosi.

Ada lagi H. Malik yang mendirikan Perguruan di Ubar Padang Bolak, H Ahmadsyah dengan perguruan di Langga Payung, Lobe Baharuddin dan Lobe Harun yang mempunyai perguruan masing-masing di Sibuhuan yang juga menjadi pusat pengembangan masyarakat Sibuhuan dan lain sebagainya.

Paska kemerdekaan pula, dia aktif dalam organisasi-organisasi kemasyarakat dan politik seperti Masyumi. Selain itu dia juga akrif di berbagai dewan kenegerinya di Barumun.

SYEIKH ABDUL MUTHALIB LUBIS: TOKOH SPIRITUAL DARI MANYABAR

Lahir di Manyabar pada tahun 1847 dan wafat pada tahun 1937. Dia berasal dari keluarga miskin yang menggantungkan kehidupan dari pertanian dan beternak kerbau.

Pada umur 12 tahun dia merantau ke Kesultanan Deli. Dan pada tahun 1864 dia berangkat ke Mekkah setelah mendapat bekal yang cukup dari hasil usaha di Medan pada umur 17 tahun bersama abangnya Abdul Latif Lubis.

Dia mengahabiskan waktunya untuk studi di Mekkah sampai tahun 1874. Setelah itu dia musafir dan belajar di Baitul Maqdis, Jerusalem, Palestina dan kembali ke Mekkah, tepatnya Jabal Qubeis untuk belajar Tarekat Naqsabandiyah sampai tingkat Alim.

Padda tahun 1923 dia kembali ke Tanah Air setelah sebelumnya tinggal di Kelang Malaysia dan pulang pergi ke Mekkah. Di Manyabar, dia menggeluti kegiatan sosial dengan membangun kehidupan sosial masyarakat di berbagai tempat di antaranta; Barbaran, Hutabargot, Mompang Jae, Laru, Tambangan, Simangambat, Bangkudu, Rao-rao sampai ke Siladang.

Kegiatan sosial ini sangat menyentuh langsung kepada permasalahan hidup sehari-hari masyarakat di berbagai tempat tersebut. Berbagai persoalan ditujuan kepadanya, mulai dari permasalaha rumah tangga, pekerjaan, kesulitan ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.

Dari kegiatan tersebut, dia berhasil membentuk masyarakat-masyarakat tersebut untuk berswadaya dalam pembangunan fasilitas uumum dan sosial serta agama sepeti mesjid, fasiltas suluk dan lain sebagainya.

Dalam sebuah kemarau yang sangat panjang, dia berinisiatif untuk mencari mata air dengan melakukan penggalian yang kemudian sangat berguna bagi warga setempat.

Salah satu keistimewaan beliau adalah hibinya melakukan long march yakni ritual berjalan kaki dari sebuah tempat ke tempat lain. Perjalanan itu pernah dilakukan ke Medan, kembali ke Petumbukan, Galang bahkan Pematang Siantar. Dalam perjalanan, mereka aktif menyapa masyarakat dan mencoba memecahkan dan meringankan masalah-masalah keseharian yang dialami penduduk yang dilaluinya. Berkat usahanya tersebut, berbagai masyarakat animisme di pedalaman-pedalamn tanah Batak banyak yang mengungkapkan niat mereka untuk memeluk Islam tanpa ajakan dan paksaan dari siapapun.

Di akhir hidupnya dia membuka sebuah forum diskusi dan pengajian di rumahnya yang selalu dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat dan mantan mahasiswanya dari berbagai penjuru antara lain Barbaran, Longat, Gunung Barani, Bunung Manaon, Adian Jior, Penyabungan dan lain-lain.

H. MAHMUD FAUZI SIDEMPUAN: MENGISLAMKAN RIBUAN BATAK TOBA

Lahir di Padang Sidempuan pada tahun 1896 dari ayah bernama H. Muhammad Nuh dan Ibunya Hajjah Aisyah. Ibunya Hajjah Aisyah merupakan salah satu intelektual perempuan Batak yang mempunyai jama’at perempuan. Eksistensi Aisyah membuat orang-orang Batak mengenalnya dengan gelar Ompung Guru.

Dilahirkan dengan didikan sang ibu dengan nuansa agama membuatnya cenderung untuk menghayati pendidikan agama. Hal itu dilakukannya dengan berguru kepada Syeikh Abdul Hamid Hutapungkut yang menjadi satu-satunya tokoh Islam di sekitar kawasan tersebut.

Atas kehendaknya sendiri, dia berangkat ke Hutapungkut, center of excelent, dan belajar langsung dengan Syeikh Hutapungkut selama tiga tahun. Pada tahun 1910 dia berangkat ke Mekkah atas dorongan gurunya tersebut.

Ibunya, merupakan pendukung utama pendidikannya di Mekkah. Pada perang dunia pertama dia dikirimi uang sebesar dua puluh lima rupiah untuk biaya kehidupan sehari-hari di Mekkah. Namuan setelah PD I tersebut dia kembali ke Tanah Air pada tahun 1919.

Selama di Tanah Air dia menjadikan Batang Toru sebagai pusat pengembangan pendidikannya. Pada tahun 1926, atas kharisma dan kewibawaannya banyak warga Batak Toba dari pedalaman Tanah Batak yang datang mendengarkan ceramah agama yang diberikannya. Bahkan banyak diantaranya, khususnya dari Porsea dan Balige yang menetap dan mendirikan pemukiman di Batang Toru agar dapat menjadi bagian dari lembaga pendidikan tersebut.

Muhammad Fauzi juga terlibat dalam mengislamkan orang-orang Toba yang berduyun-duyun mendatangi rumah kediamannya untuk menyampaikan keinginan mereka memeluk agama ini.

Bagi para muallaf Toba yang datang dalam jumlah besar ini, Muhammad Fauzi menyediakan asrama sebagai tempat tinggal sementara sebelum mereka kembali ke kampung halaman masing-masing.

Para Muallaf Toba tersebut, di zaman kemerdekaan banyak yang menjadi pegawai di kementrian agama di Republik Indonesia yang baru berdiri. Selain kegiatan dakwah dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan, Muhammad Fauzi juga banyak menulis buku namun sekarang ini sudah banyak yang hilang. Di antaranya yang dapat dicatat adalah Buku ‘Menuju Mekkah-Madinah-Baitul Maqdis’.

Jabatan organisasi yang diembannya terakhir sebelum meninggal dunia adalah Rois Suriyah NU di Batang Toru. Selain itu dia juga banyak mewakafkan hartanya untuk jalan dakwah.

SYEIKH BALEO NATAL: MENGINSAFKAN PARA RAJA

Namanya Abdul Malik ayahnya bernama Abdullah dari Muara Mais. Dia dilahirnya pada tahun 1825.

Setelah kembali dari Mekkah, Yang Dipertuan Huta Siantar, Penyabungan meminta Syeikh Abdul Fattah untuk menjadi guru agama di kerajaannya. Namun Syeikh Abdul Fattah tidak dapat memenuhinya karena berbagai kesibukannya dan kemudian menunjuk Syeikh Abdul Malik yang baru kembali dari Mekkah untuk mengisi jabatan tersebut.

Syeikh Abdul Malik berusaha membangun masyakat di Huta Siantar. Karismanya membuantnya banyak di datangi para mahasiswa dari Huta Siantar dan Penyabungan. Dengan usahanya yang pelan tapi pasti beberapa keluarga raja-raja di wilayah tersebut akhirnya diajaknya untuk menghidupkan aktivitas dan kegiatan mesjid. Mula-mula hal tersebut ditentang dan akhirnya mendapat sambutan baik dari elit aristokrat tersebut.

Atas jasa-jasanya tersebut, Syeikh Abdul Malik yang masih sangat belia, dinikahkan dengan puteri Huta Siantar dan diapun menetap di sana. Untuk kedua kalinya, dia berangkat ke Mekkah kali ini beserta keluarganya melalui pelabuhan Natal yang saat itu merupakan pelabuhan internasional yang sangat ramai.

Sekembalinya ke Tanah Air, kharismanya semakin meluas sehingga namanya semakin dikenal dan menjadi acuan dalam argumentasi agama mulai dari Padang Sidempuan, Sipirok, Padang Lawas dan Dalu-dalu. Dengan pengalaman tersebut dia kemudian digelar Baleo Natal sebagai bagian dari usahanya mengajarkan Islam secara tadrij alias berangsur-angsur.

Hubungan mesra dengan penguasa atau raja-raja Huta Siantar bukan tanpa masalah. Berbagai masalah terjadi antara Umara dan Ulama tersebut. Namun hal itu dapat diatasinya dengan langkah-langkah yng tidak merusak kedua kelompok elit tersebut. Para raja semakin kagum dan takjub terhadapnya karena Syeikh juga mempunyai kemampuan dalam pengobatan.

By. Julkifli Marbun

Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Tak tanggung, dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji.

Kebanyakan masyarakatnya, selalu menggunakan pakaian yang juga mencerminkan nilai-nilai Islam. Lelaki mengenakan peci, atau sekedar lebai saat duduk di warung-warung kopi, bahkan hingga ke Padang Sidempuan, ibukota Tapsel. Sementara kaum ibu mengenakan kebaya atau kain terusan berikut mengenakan selendang. Padahal, arus modrenisasi juga mendera salah satu dari 25 kabupaten dan kota di Sumut ini.

Di setiap sudut, gampang dijumpai bangunan musholla atau mesjid dengan air untuk wuduk yang berasal dari air pancuran gunung. Maklum saja, sebagian besar dari 11.677 kilometer persegi luas wilayah Tapsel merupakan dataran tinggi.

Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha! Tidak main-main, ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak.

Candi Bahal I

Jangan membayangkan candi-candi itu seperti candi Prambanan atau Borobudur yang masih dipergunakan hingga sekarang. Candi-candi di Situs Padang Lawas masa kini hanya sebagai monumen sejarah dan sudah tidak dipergunakan lagi sebagai sarana beribadat. Misalnya Candi Bahal I.

Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Dikitari ilalang, Candi Bahal I terlihat bagai tugu batas desa. Beberapa pohon rimbun serta sebuah pos jaga di depannya sedikit menutupi papan nama candi di dekat gapura. Bangunan purbakala dari bata merah itu semakin memerah disengat matahari.

Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung.

Candi itu memang sepi pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak – Desa Bahal, dengan jarak tempuh sekitar 12 jam.

“Candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, biasanya dikutip Rp 2 ribu per orang. Kalau hari biasa, paling anak-anak muda sekitar kampung, pacaran. Pengunjung dalam sebulan paling banyak 20 orang saja. Kalau turis asing sudah lama tidak ada,” tutur Nashiruddin (28), seorang penduduk setempat.

Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya.

Menghadap Tenggara

Berbeda dengan posisi menghadap barat pada candi-candi di Jawa Timur atau menghadap timur pada candi-candi di Jawa Tengah, Bahal I justru dibangun menghadap Tenggara dengan sudut 135 derajat. Tidak diketahui alasannya.

Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar.

Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 meter.

Sementara bangunan induk candi itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan.

Kilasan Sejarah

Arkeolog asal Jerman F.M Schnitger yang berkunjung tahun 1935 menyimpulkan, candi itu peninggalan Kerajaan Pannai. Sumber sejarahnya berasal dari prasasti berbahasa Tamil berangka tahun 1025 dan 1030 Saka yang dibuat Raja Rajendra Cola I, di India Selatan. Rajendra berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan beberapa kerajaan lainnya temasuk Kerajaan Pannai. Keberadaan Kerajaan Pannai tercatat dalam Kitab Nagarakertagama, naskah kuno Kerajaan Majapahit tulisan Empu Prapanca tahun 1365 Saka.

Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Budha beraliran Wajrayana.

“Diperkirakan pembangunan Candi Bahal I beserta candi-candi di sekitarnya, sejaman dengan pembangunan Candi Muara Takus di Riau sekitar abad ke XII Masehi. Bahkan mungkin sama juga dengan sebuah Komplek Candi Mahligai dan Candi Putri Sangkar Bulan di Kab. Pariaman, Sumatera Barat yang sampai sekarang masih belum direnovasi,” kata Kepala Bidang Muskala, Kanwil Depdikbud Sumut, Syaiful A Tanjung.

Alasannya, kata Tanjung, karena proses pemugaran Candi Bahal masih mengikutsertakan arkeolog saja, sedangkan ahli sejarah tidak. Sehingga belum bisa disimpulkan kapan waktu berdirinya. Proses pemugaran masih berlangsung sampai sekarang.

Penulis yang sempat berkunjung ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, memang melihat ada kemiripan dari segi konstruksi maupun penggunaan batu bata sebagai bahan utama bangunan. Bata juga menjadi bahan bangunan dominan 61 candi di Komplek Situs Kepurbakalaan Muarajambi di Jambi.

Sebenarnya di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) masih berdiri satu candi bata, yakni Candi Indrapuri. Candi Hindu ini berada di Indrapuri, sekitar 25 kilometer arah timur Banda Aceh, ibukota NAD. Setelah berubah jadi Masjid Jami’ Indrapuri, terjadi beberapa perubahan bentuk.

Tembok tebal pemagar masjid merupakan bagian asli candi yang masih tersisa. Candi Indrapuri awalnya merupakan sebuah candi khusus untuk peribadatan kaum wanita. Kerajaan Lamori membangun Candi Indrapuri sekitar abad XII bersama Candi Indrapatra dan Indrapurwa. Namun dua candi terakhir sudah tidak terlihat lagi.

Relief tak Utuh

Satu hal yang agak memprihatinkan mengenai Candi Bahal I adalah pemugarannya, karena tidak begitu berhasil menunjukkan bagaimana ujud candi itu sebelumnya. Misalnya renovasi terhadap relief Yaksa dalam posisi sedang menari, di sebelah kiri pipi tangga candi. Bagian kepalanya sudah hilang.

Batu bata baru terlihat dipasang rata seperti membangun rumah! Tak ada ukiran baru mengikuti garis kepala Yaksa yang telah hilang! Untungnya 3 relief Yaksa di pipi kanan tangga masih asli. Kendati ada sedikit perbedaan pada tatahannya, namun dapatlah menjadi bahan perbandingan.

Sebenarnya relief terdapat pada setiap sisi candi. Ada enam relief singa pada dinding-dinding candi. Namun kini hanya beberapa bagian saja yang masih terlihat. Selebihnya berupa susunan batu bata baru. Ketika diresmikan Gubernur Raja Inal Siregar pada 26 Desember 1991, pemugaran itu tidak berhasil meniru aslinya.

Pemugaran terlihat lebih baik pada bagian dalam atas (atap) candi. Bentuknya lapik tiga lapis berupa susunan 21 batu bata. Berdenah bujur sangkar pada beberapa puluh centimeter pertama dan mengkerucut di bagian dalam. Sedangkan dari luar, atap berbentuk lingkaran. Renovasi keempat perwara tampak lebih baik, mungkin karena tak ada relief yang harus direkonstruksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: