
Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan
|
Srivijaya Empire, People, places, politics etc.
|
Apr 14 2008, 04:48 PM Post #1
|
|
|
AF Addict
Group: Members
Posts: 524 Joined: 29-July 04
|
Let’s discuss and share anything re: Srivijaya here (and not at Majapahit’s thread (IMG:style_emoticons/default/icon_wink.gif) )This post has been edited by rasibiduk: Apr 14 2008, 04:48 PM Let me start.
Well, I just found this out and I’m very sure not many people has heard about him, but I think one of the unsung hero from Srivijaya is a renown Buddhist scholar whose work has been published even until today. His name is Dharmarak$hita and his work is called ‘Wheel of Sharp Weapons’, a Mahayana doctrine about the law of karma. More about him: Dharmarak$hita in Wikipedia |
|
|
|
|
<!– ( Go to first unread post ) –>
|
![]() |
Apr 24 2008, 10:59 AM Post #2
|
|
|
AF Addict
Group: Members
Posts: 524 Joined: 29-July 04
|
Great pics Majapahit!
I have a favor to ask, since you’re so good at scouring the virtual world. I am wondering if you have pictures of Candi Portibi in Padang Lawas, Tapanuli Selatan. It is also called Biaro Bahal. It is the remnant of the little-known Kingdom of Panai. From what I can remember reading an article in Suara Pembaruan millenia ago, it is a Buddhist temple complex, specifically of the Vajrayana sect. So it has statues/carving of Heruka in it. Isn’t that intriguing? And architecturally it is somehow more elaborate than the ‘plain’ style of the other Sumatran candis. But I can’t find a decent website about it. Help! |
|
|
|
Apr 24 2008, 11:21 AM Post #3
|
|
|
AF Pro
Group: Members
Posts: 2,905 Joined: 12-July 05 From: Javadvipa Jaya
|
Great pics Majapahit!
You’re welcome….
Unfortunaltely the image of Biaro Bahal or Candi Portibi in net is rare. Me myself don’t have opportunity to visit Tapanuli Selatan.
(I recently knew from my Batak friend that the word “Portibi” in Batak language means “World”… cool word…. (IMG:style_emoticons/default/biggthumpup.gif
) )
Let see what can I do…. Your wish is my command, (I’m in my gennie mode… (IMG:style_emoticons/default/embarassedlaugh.gif
) )
Here’s the link:
Horas Madina
QUOTE
(IMG:http://bp3.blogger.com/_nq7SZCEhQ5s/RpnHkh1yV_I/AAAAAAAAAU0/sewlZWuv2TM/s320/Bahal%20III.jpg) (IMG:http://cache.virtualtourist.com/1/2664123-Travel_Picture-wulanda.gif)
Sisa Kerajaan Budha di Tapanuli Selatan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sumatera Utara (Sumut), dikenal sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya muslim. Tak tanggung, dari sekitar 728.799 ribu penduduknya, sebanyak 90 persen beragama Islam. Nuansa Islam terakumulasi sebagai adat, mulai dari adat perkawinan, masuk rumah, khitanan hingga mengantar jemaah haji. Kebanyakan masyarakatnya, selalu menggunakan pakaian yang juga mencerminkan nilai-nilai Islam. Lelaki mengenakan peci, atau sekedar lebai saat duduk di warung-warung kopi, bahkan hingga ke Padang Sidempuan, ibukota Tapsel. Sementara kaum ibu mengenakan kebaya atau kain terusan berikut mengenakan selendang. Padahal, arus modrenisasi juga mendera salah satu dari 25 kabupaten dan kota di Sumut ini. Di setiap sudut, gampang dijumpai bangunan musholla atau mesjid dengan air untuk wuduk yang berasal dari air pancuran gunung. Maklum saja, sebagian besar dari 11.677 kilometer persegi luas wilayah Tapsel merupakan dataran tinggi. Keidentikannya dengan budaya Islam membuat banyak yang yang tak percaya ketika mengetahui ternyata di kabupaten ini terdapat peninggalan Candi Budha! Tidak main-main, ada 16 candi di kabupaten ini. Keseluruhannya di Situs Purbakala Padang Lawas yang tersebar di empat kecamatan, Barumun, Barumun Tengah, Sosa dan Padang Bolak. Candi Bahal I Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Dikitari ilalang, Candi Bahal I terlihat bagai tugu batas desa. Beberapa pohon rimbun serta sebuah pos jaga di depannya sedikit menutupi papan nama candi di dekat gapura. Bangunan purbakala dari bata merah itu semakin memerah disengat matahari. Walau berdiri di bukit kecil dan dikelilingi lembah berupa lahan persawahan, Candi Bahal I tidak selalu sepi. Masyarakat sekitar, memang tahu kalau di situ ada komplek percandian. Namun, tiap harinya bisa dikatakan tidak ada pengunjung. Candi itu memang sepi pengunjung. Bisa dimaklumi sebab angkutan umum ke komplek candi ini relatif jarang dan memakan waktu. Dari Medan, terpaksa tiga kali naik angkutan, Medan – Padang Sidempuan, Padang Sidempuan – Padang Bolak serta Padang Bolak – Desa Bahal, dengan jarak tempuh sekitar 12 jam. “Candi ini hanya ramai saat Lebaran atau Tahun Baru, itupun karena ada hiburan keyboard, biasanya dikutip Rp 2 ribu per orang. Kalau hari biasa, paling anak-anak muda sekitar kampung, pacaran. Pengunjung dalam sebulan paling banyak 20 orang saja. Kalau turis asing sudah lama tidak ada,” tutur Nashiruddin (28), seorang penduduk setempat. Kendati merupakan kawasan wisata sejarah, tidak terlihat jejeran kios penjual makanan atau souvenir. Di luar hari libur besar, Candi Bahal I hanya berupa bangunan rapuh setinggi 12,8 meter dengan bayangan hitamnya di siang hari serta aliran Sungai Batang Panai sekitar 50 meter di bawahnya. Menghadap Tenggara Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat perwara-nya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar. Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 meter. Sementara bangunan induk candi itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan. Kilasan Sejarah Dari temuan sejumlah artefak, analisa konstruksi bangunan beserta materialnya yang dominan bata merah dengan ukuran beragam, batuan tuff (batuan sungai) untuk arca dan batuan kapur, memunculkan dugaan kuat bahwa candi ini berkaitan dengan agama Budha beraliran Wajrayana. “Diperkirakan pembangunan Candi Bahal I beserta candi-candi di sekitarnya, sejaman dengan pembangunan Candi Muara Takus di Riau sekitar abad ke XII Masehi. Bahkan mungkin sama juga dengan sebuah Komplek Candi Mahligai dan Candi Putri Sangkar Bulan di Kab. Pariaman, Sumatera Barat yang sampai sekarang masih belum direnovasi,” kata Kepala Bidang Muskala, Kanwil Depdikbud Sumut, Syaiful A Tanjung. Alasannya, kata Tanjung, karena proses pemugaran Candi Bahal masih mengikutsertakan arkeolog saja, sedangkan ahli sejarah tidak. Sehingga belum bisa disimpulkan kapan waktu berdirinya. Proses pemugaran masih berlangsung sampai sekarang. Penulis yang sempat berkunjung ke Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, memang melihat ada kemiripan dari segi konstruksi maupun penggunaan batu bata sebagai bahan utama bangunan. Bata juga menjadi bahan bangunan dominan 61 candi di Komplek Situs Kepurbakalaan Muarajambi di Jambi. Sebenarnya di Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) masih berdiri satu candi bata, yakni Candi Indrapuri. Candi Hindu ini berada di Indrapuri, sekitar 25 kilometer arah timur Banda Aceh, ibukota NAD. Setelah berubah jadi Masjid Jami’ Indrapuri, terjadi beberapa perubahan bentuk. Tembok tebal pemagar masjid merupakan bagian asli candi yang masih tersisa. Candi Indrapuri awalnya merupakan sebuah candi khusus untuk peribadatan kaum wanita. Kerajaan Lamori membangun Candi Indrapuri sekitar abad XII bersama Candi Indrapatra dan Indrapurwa. Namun dua candi terakhir sudah tidak terlihat lagi. Relief tak Utuh Batu bata baru terlihat dipasang rata seperti membangun rumah! Tak ada ukiran baru mengikuti garis kepala Yaksa yang telah hilang! Untungnya 3 relief Yaksa di pipi kanan tangga masih asli. Kendati ada sedikit perbedaan pada tatahannya, namun dapatlah menjadi bahan perbandingan. Sebenarnya relief terdapat pada setiap sisi candi. Ada enam relief singa pada dinding-dinding candi. Namun kini hanya beberapa bagian saja yang masih terlihat. Selebihnya berupa susunan batu bata baru. Ketika diresmikan Gubernur Raja Inal Siregar pada 26 Desember 1991, pemugaran itu tidak berhasil meniru aslinya. Pemugaran terlihat lebih baik pada bagian dalam atas (atap) candi. Bentuknya lapik tiga lapis berupa susunan 21 batu bata. Berdenah bujur sangkar pada beberapa puluh centimeter pertama dan mengkerucut di bagian dalam. Sedangkan dari luar, atap berbentuk lingkaran. Renovasi keempat perwara tampak lebih baik, mungkin karena tak ada relief yang harus direkonstruksi. http://khairulid.multiply.com/journal/item/23 I have a favor to ask, since you’re so good at scouring the virtual world. I am wondering if you have pictures of Candi Portibi in Padang Lawas, Tapanuli Selatan. It is also called Biaro Bahal. It is the remnant of the little-known Kingdom of Panai. From what I can remember reading an article in Suara Pembaruan millenia ago, it is a Buddhist temple complex, specifically of the Vajrayana sect. So it has statues/carving of Heruka in it. Isn’t that intriguing? And architecturally it is somehow more elaborate than the ‘plain’ style of the other Sumatran candis. But I can’t find a decent website about it. Help! |
|
|
|
rasibiduk Srivijaya Empire Apr 14 2008, 04:48 PM
tangawizi More fascinating stuff (but from the Chinese sourc… Apr 14 2008, 08:09 PM
Bhaskara Our islands were never fully Hindu or Buddhist at … Apr 15 2008, 01:58 AM
Majapahitans @ Tanga Fascinating to learn the link between Tib… Apr 15 2008, 04:43 AM
dreamhunter What a beautiful name Dharmakirti is Dharma signif… Apr 15 2008, 10:24 PM
tangawizi It seems that the political philosophy for Sri Vij… Apr 15 2008, 11:04 PM
AwangPembela Let’s discuss and share anything re: Srivijaya… Apr 15 2008, 11:19 PM
Betong It’s good that someone’s started this Sriv… Apr 17 2008, 03:44 AM
Bhaskara IMO, Chola was not that strong to invade Srivijaya… Apr 17 2008, 05:30 AM
Bhaskara Srivijaya consisted of tributary kingdoms, and not… Apr 16 2008, 01:01 AM
skyisdalimit btw what is modern chola? and what is the first re… Apr 16 2008, 08:16 AM
DutchEastIndiesMan ^hahahaha thats what i asked as well on another th… Apr 16 2008, 08:27 AM
Bhaskara It doesn’t help that in our language we would … Apr 16 2008, 08:30 PM
tangawizi So, the empire of Sri Vijaya were a collection of … Apr 16 2008, 08:55 PM
AwangPembela I know Srivijaya was a sort of loose federation. B… Apr 16 2008, 10:16 PM
Bhaskara But Awang, don’t you think Kedah would have ha… Apr 17 2008, 01:22 AM
AwangPembela But Awang, don’t you think Kedah would have ha… Apr 18 2008, 09:00 AM
kelapa The history of this archipelago seems to uncover q… Apr 17 2008, 03:35 PM
Bhaskara The history of this archipelago seems to uncover q… Apr 17 2008, 09:01 PM

kelapa BTW, I’m curious about your theory on why they… Apr 23 2008, 07:38 AM
AwangPembela The history of this archipelago seems to uncover q… Apr 17 2008, 10:21 PM
Bhaskara The biggest regional power in SEA up to 530 AD was… Apr 18 2008, 03:17 AM
Majapahitans Intermarried of royal family within the region was… Apr 18 2008, 07:47 AM
applepannic Intermarried of royal family within the region was… Apr 30 2008, 07:40 PM
Bhaskara I’ve never heard the theory that it was Palemb… Apr 18 2008, 10:01 PM
AwangPembela I’ve never heard the theory that it was Palemb… Apr 20 2008, 04:58 AM
tangawizi Well, Bhas, like i said before, the Sri Vijayan ma… Apr 18 2008, 10:47 PM
AwangPembela heheh… i just read that chapter in my book – Ear… Apr 20 2008, 04:57 AM
tangawizi Langakasuka was the FEDERATION that encompassed Ke… Apr 20 2008, 07:27 AM
Bhaskara Wow…. thank you, Tangy. I never knew Palembang e… Apr 19 2008, 01:10 AM
AwangPembela That just shows, even when you’re paying tribu… Apr 20 2008, 05:19 AM
AwangPembela In the olden days, just as like today, when kingdo… Apr 20 2008, 06:20 AM
AwangPembela Well, one can call it what one wishes, Tangy. Cal… Apr 20 2008, 11:19 PM
AwangPembela BTW, the concept of concentric circles has also be… Apr 20 2008, 11:55 PM
Majapahitans http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/49/Cand… Apr 21 2008, 05:55 AM
AwangPembela http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/4/49/Cand… Apr 23 2008, 01:07 AM
HangPC2 Which brings others to similar sensitive issues: -… Apr 23 2008, 01:24 AM
tangawizi Which brings others to similar sensitive issues: -… Apr 23 2008, 03:40 AM
Majapahitans Which brings others to similar sensitive issues: -… Apr 23 2008, 04:26 AM
dreamhunter Hey… you catch my drift…. -cheers Good…. … Apr 24 2008, 09:56 AM
Bhaskara Wow, Majjy, thank you so much for uploading those … Apr 21 2008, 09:00 PM
Majapahitans Wow, Majjy, thank you so much for uploading those … Apr 24 2008, 09:41 AM
HangPC2 You’re welcome…. -cheers How do you know … Apr 25 2008, 12:54 AM
HangPC2 Sources : http://artmelayu.blogspot.com/ http://b… Apr 23 2008, 01:21 AM
HangPC2 [b]Lembah Bujang (Kedah) [img]http://www.mybu… Apr 23 2008, 01:31 AM
HangPC2 [b]Pendapat Abu Zaid 916 TM dan Mas’udi 943 TM… Apr 23 2008, 01:36 AM
HangPC2 [b]Kedah Sudah Islam Sejak 877 Masihi. Orang-or… Apr 23 2008, 01:38 AM
HangPC2 [b]Peperangan Seri Rama dan Andanum. Ketika Isl… Apr 23 2008, 01:41 AM
HangPC2 The Persian Influence Over Ayuthiya (Ayutthaya) … Apr 23 2008, 01:43 AM
rasibiduk Great pics Majapahit! I have a favor to ask, … Apr 24 2008, 10:59 AM
Majapahitans Great pics Majapahit! I have a favor to ask, … Apr 24 2008, 11:21 AM
Bhaskara WUOOOOOOOOWWW!!! -eek Thank you, rasi… Apr 24 2008, 09:23 PM
HangPC2 “The earliest candi in Lembah Bujang, from th… Apr 25 2008, 01:12 AM
HangPC2 [b]Muzium Arkeologi Lembah Bujang Merbok [url... Apr 25 2008, 02:03 AM
HangPC2 Srivijaya Coins http://www.geocities.jp/higenag... Apr 25 2008, 02:16 AM
Bhaskara ^Neat pics! Thank you for posting the pics of ... Apr 25 2008, 03:19 AM

Majapahitans ^Neat pics! Thank you for posting the pics of ... Apr 25 2008, 04:33 AM
dreamhunter So which/where were the kingdoms the ancient Chine... Apr 25 2008, 05:34 AM

Majapahitans So which/where were the kingdoms the ancient Chine... Apr 25 2008, 09:06 AM

![]()
Majapahitans Anyway...., just upload new Map of Srivijaya Empir... Apr 25 2008, 10:52 AM
rasibiduk I just want to say Thank YOU to Maja for being a v... Apr 25 2008, 11:18 AM

Majapahitans ^^^ You're welcome.... -laugh2 You have 2 mor... Apr 25 2008, 11:37 AM
HangPC2 [b]Kota Gelanggi, The Lost City in Johor They fo… Apr 25 2008, 08:40 PM
HangPC2 [b]Lost City of Khmer Empire – Near Tasik Chini – … Apr 25 2008, 09:00 PM
HangPC2 [b]The makara found rewrites the history of the Ma… Apr 25 2008, 09:01 PM
Bhaskara Let’s go with Kirin, sounds way cool -laugh A… Apr 25 2008, 09:28 PM
Ralf Wow ! Lost City….. I wanna grab my backpack… Apr 25 2008, 09:46 PM
rasibiduk I followed the Kota Gelanggi expedition with much … Apr 26 2008, 02:02 AM
dreamhunter I’ve read about ancient Tamil records mentioni… Apr 26 2008, 09:59 AM
dreamhunter http://www.malaysia.or.kr/history.htm The extensi… Apr 26 2008, 04:23 PM

Bhaskara http://www.malaysia.or.kr/history.htm The extensi… Apr 27 2008, 10:16 PM
tangawizi HHAHAHAHAA…. I duno what is it about some male M… Apr 27 2008, 10:19 PM

dreamhunter HHAHAHAHAA…. I duno what is it about some male M… Apr 28 2008, 04:33 AM

![]()
Majapahitans Deluded as always -Talktohand I think he’s n… Apr 28 2008, 05:14 AM

![]()
![]()
JoeRagan …..And using animal name as person name is commo… Apr 29 2008, 09:31 PM

![]()
![]()
kelapa Your thesys that “Gajah” is Malay word i… Apr 30 2008, 10:43 AM

![]()
![]()
![]()
dreamhunter Correction: Kebo=munding=water buffalo; Maesa/Mahe… May 1 2008, 10:45 PM
PerisaiLangkasuka Actually, guys, I think Dreamhunter was just copy-… Apr 28 2008, 01:41 AM
kelapa Confusion. The story predated Majapahit era. It … Apr 28 2008, 02:48 AM

PerisaiLangkasuka Confusion. The story predated Majapahit era. It ha… Apr 28 2008, 04:04 AM

![]()
kelapa BTW, was Dharmasraya the new name of the Malayu ki… Apr 29 2008, 08:52 AM

![]()
![]()
PerisaiLangkasuka Malayu was a name of a river near Batang Hari in n… Apr 29 2008, 09:42 PM

![]()
![]()
![]()
kelapa Could it be that Dharmasraya was the personal name… Apr 30 2008, 10:32 AM
DutchEastIndiesMan ^ ohh never knew that…. no offence but…Munding… Apr 28 2008, 08:43 AM
Bhaskara Heeheehee… Maybe it’s weird if you think abo… Apr 28 2008, 08:49 PM
dreamhunter Ha ha ha ha ha ha. -laugh2 Ha ha ha ha ha ha. -l… Apr 29 2008, 08:43 AM
IndianGuy Is there still Indian influence on the present day… Apr 29 2008, 01:04 PM

Bhaskara Is there still Indian influence on the present day… Apr 29 2008, 08:55 PM
Bhaskara But I do believe that Mahish means buffalo -neutra… May 2 2008, 03:59 AM

kelapa But I do believe that Mahish means buffalo -neutra… May 2 2008, 04:25 AM
dreamhunter Heh, had him worried then didn’t ya, Kelapa? … May 2 2008, 07:47 AM

Majapahitans Correction: Kebo=munding=water buffalo; Maesa/Mahe… May 5 2008, 04:14 AM
AwangPembela So Mardini means slayer. Now wonder why Paolo Mard… May 5 2008, 07:31 AM
Bhaskara Mardini -laugh Are you a Japanese or something? May 5 2008, 09:31 PM
AwangPembela Must be that intensive Nihongo class I went throug… May 5 2008, 11:17 PM
Bhaskara I believe you don’t have the privilege of sayi… May 6 2008, 01:44 AM
HangPC2 [b]Kendi lama singkap asal usul Melayu Oleh Hu… May 14 2008, 10:17 PM
HangPC2 [b]Dakwa miliki kendi prasejarah Melayu Oleh R… May 14 2008, 10:18 PM
kelapa @Hang: thank you. In our area, Megalithic, Neolith… May 15 2008, 03:56 AM
![]()
Bhaskara @Hang: thank you. In our area, Megalithic, Neolith… May 15 2008, 04:07 AM
Repelita Wahyu Oetomo
Balai Arkeologi Medan
Abstract
Lamuri is known as a place in Aceh Besar, which supported by the existence of grave complex and fortress. The result of archaeological activities indicated that the gravestone in Aceh Besar is older than Samudera Pasai.
Kata kunci: Lamuri/Lamreh, benteng, Nisan Plakpling
I. Informasi keberadaan Lamuri
Nama Ramni (Abu Zaid Hasan), Lamuri (Prapanca), Lanpoli (Ma-Huan) dan Lambry (Tome Pires) telah dikenal pada awal-awal penyebaran Islam dan telah tersebar sampai ke mancanegara yang disebutkan dalam catatan perjalanan bangsa-bangsa asing. Pada masa itu keberadaan Lamuri, Ramni ataupun Lambri telah cukup diperhitungkan mengingat hasil alamnya yang sangat penting dan menjadi mata dagangan yang cukup laku di perdagangan internasional. Letak kerajaan seperti tersebut di atas cukup penting yaitu berada di perairan Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang, penghubung dua pusat kebudayaan besar di Asia. Mengingat peran pentingnya, sangat menarik perhatian petualang-petualang asing yang diabadikan dalam catatan perjalanannya. Keberadaan Lamuri, Lambri, atau yang disebut Ramni pada masa itu dapat disejajarkan dengan bandar-bandar perdagangan terkenal lainnya di Asia Tenggara seperti Barus, Kota Cina, Kampei di Sumatera Utara, Pasai, Singkil di NAD, Tumasik (Singapura), Malaka, dan lain sebagainya.
Informasi awal tentang keberadaan Lamuri dapat dijumpai pada catatan Cina, oleh seorang perantau Muslim, Ma-Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan disebutkan terdapat nama Lam-Poli. De Casparis menyatakan nama Poli dapat disamakan dengan Puri, lengkapnya Lam-Poli atau Lam-puri—Dalam-Puri — Lamri, namun sampai sejauh mana persamaan Poli dengan Lamuri belum dapat dipastikan. Dalam catatan lain yang berasal dari tahun 960 M, tersebut nama Lanli sebagai sebuah tempat persinggahan utusan-utusan dari Parsi saat kembali dari Cina setelah menempuh perjalanan selama 40 hari menunggu musim yang baik untuk melanjutkan perjalanan pulang ke negerinya (Montana, 1996/1997:84).
Dari masa yang lebih muda keberadaan Lamuri disebutkan dalam Negarakertagama. Disebutkan bahwa Lamuri, merupakan sebuah negeri yang takluk kepada kerajaan Majapahit. Muhammad Said dalam bukunya yang berjudul Aceh Sepanjang Abad menyebutkan tentang Lamuri dalam prasasti Tanjore (1030). Dalam prasasti tersebut disebutkan berita tentang ekspedisi Rajendracola I dari India; Ilamuridecam merupakan daerah taklukan Sriwijaya yang berhasil ditaklukkan Rajendracola pada tahun 1024 M (Nilakantasastri,1940).
Edwards Mc. Kinnon menulis tentang kepopuleran Lambri, yang terletak di ujung utara Aceh. Mengutip dari berbagai tulisan tentang Lambri, ia menyebutkan bahwa pada tahun 916 M Lambri telah disebut oleh Abu Zaid Hasan sebagai Rami/Ramni. Kepopuleran Ramni banyak diperbincangkan oleh para ahli, termasuk Tome Pires dalam bukunya “The Suma Oriental of Tome Pires”. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Mc. Kinnon berkesimpulan bahwa Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro. Dari Lambaro inilah Mc. Kinnon menduga terjadi pergeseran ucapan menjadi Lambri (Kinnon,1998:102-121).
Codier yang mengutip pandangan Groeneveldt, berpendapat bahwa Lambry dekat dengan Aceh. Selanjutnya Codier memperkirakan Lambry terletak di suatu tempat yang bernama Lamreh dekat dengan Tungkup. Pendapat Codier ini kemungkinan lebih tepat, mengingat dalam bahasa-bahasa nusantara, vokal i dan e lebih mungkin mengalami pergeseran artikulasi, demikian juga dengan vokal u dan o, sehinggga ucapan Lamreh lebih mungkin bergeser menjadi Lamri, Lamuri ataupun Lambri (Montana,1996/1997:85).
II. Beberapa tinggalan arkeologis di Lamreh
Dari catatan lain disebutkan, bahwa “penduduk Nan-wu-li sebagian berdiam di bukit-bukit dan jumlah mereka sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa Lamri tidaklah terletak di lembah Aceh, tetapi pada sejalur pantai kecil yang diperkirakan berada di daerah sekitar Krueng Raya. Meskipun pusat kerajaannya sempit namun wilayah kekuasaannya meluas sampai ke sebagian lembah Aceh (Iskandar,1973: 28-30). Beberapa tinggalan arkeologis sampai saat ini masih dapat kita temukan di sekitar Krueng Raya. Tinggalan-tinggalan arkeologis tersebut tampak cukup megah di sepanjang daratan sempit di daerah yang saat ini disebut Lamreh. Tinggalan-tinggalan tersebut di antaranya adalah beberapa buah bangunan benteng, kompleks pemakaman dan adanya jejak bekas hunian, yang ditandai dengan adanya sebaran keramik. Beberapa tinggalan arkeologis tersebut di antaranya adalah;
II.1. Benteng Indrapatra
Benteng ini diperkirakan telah beralih fungsi. Beberapa ahli berpendapat bahwa bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi hingga menjadi seperti yang ada sekarang ini. Pendapat tersebut didasarkan pada analisis data bangunan. Di beberapa bagian bangunan masih dijumpai motif-motif bangunan bercirikan pra-Islam. Menurut beberapa sumber bangunan ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Hindu di Aceh yang dibangun oleh Putera Raja Harsya (keluarga raja Hindu di India) yang melarikan diri akibat serangan Bangsa Huna pada tahun 604 M. Latar belakang sejarah mengenai Benteng Indrapatra masih harus ditelusuri lebih jauh.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah IV (1604 M -1607 M) Kerajaan Aceh sedang mengalami ketidakstabilan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Portugis untuk menyusun kekuatan di Benteng Kuta Lubuk. Pada masa itu muncullah Perkasa Alam (Iskandar Muda) keponakan dari Sultan Ali Riayat Syah IV. Penyerangan Iskandar Muda, mendatangkan kemenangan bagi Kerajaan Aceh dan orang-orang Portugis berhasil diusir dari Benteng Kuta Lubuk.
Saat Sultan Ali Riayat Syah mangkat, Iskandar Muda naik takhta. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh diperkuat dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan di sepanjang pantai Selat Malaka, kemungkinan salah satunya adalah dibangunnya Benteng Iskandar Muda.
Sejarah penemuan benteng Kuta Lubuk disebutkan oleh Frederick de Houtman. Dijelaskan bahwa benteng tersebut dibangun oleh orang Portugis yang datang tanggal 15 November 1600 M, sebagai markas orang-orang Portugis untuk berdagang di Aceh disaat hubungan Kerajaan Aceh dengan Portugis terjalin dengan baik (Said,1961:257-330 ).
Dalam buku Tarich Aceh dan Nusantara, terdapat catatan mengenai Sultan Ala Addin Muhammad Syah yang memerintah tahun 1787-1795 M. Dalam suasana damai itu orang-orang Portugis yang mendapat izin berdagang, juga sekaligus mendapat izin dari sultan untuk membangun benteng di Kuta Lubuk.
II.2. Benteng Inong Balee
Benteng ini sering juga disebut sebagai Benteng Malahayati, dibangun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Almukammil (1589-1604 M). Bangunan ini merupakan benteng pertahanan sekaligus asrama penampungan janda-janda yang suaminya gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai sarana pemenuhan konsumsi laskar angkatan perang pimpinan Laksamana Malahayati.
II.3. Nisan Plakpling
Desa Lamreh terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Kabupatan Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Di desa ini, tepatnya berada ketinggian bukit antara Benteng Kuta Lubuk, dengan Benteng Inong Balee terdapat beberapa buah nisan yang memiliki bentuk unik. Batu nisan tersebut secara umum berbentuk batu tegak atau tugu persegi empat yang makin keatas makin meruncing, membentuk piramida. Berdasarkan informasi penduduk, batu nisan tersebut dinamakan nisan Plakpling. Batu-batu nisan tersebut kemungkinan merupakan bentuk peralihan dari masa pra Islam ke Islam. Beberapa peneliti sependapat bahwa nisan-nisan tersebut digunakan pada makam orang-orang ternama atau ulama Aceh yang berasal dari abad ke-16 atau lebih awal dari itu (Montana,1996/1997:90).
Bentuk nisan ini cukup unik karena menyerupai lingga ataupun menhir. Nisan-nisan tersebut memiliki bentuk yang bersumber pada tradisi sebelumnya, prasejarah dan klasik. Nisan tersebut dilengkapi dengan pola hias, berupa pahatan flora, geometris atau kaligrafi. Nisan-nisan tersebut meniru/menyerupai bentuk menhir atau lingga yang sangat umum dipakai pada masa prasejarah dan masa klasik/Hindu-Buddha.
Nisan 1
Terletak di dalam Benteng Kuta Lubuk. Nisan berukuran tinggi sekitar 80 cm. Berbentuk persegi empat berukuran lebar 20 cm, semakin ke atas semakin mengecil (piramid). Tiap sisi terdapat panil yang berisi hiasan berupa kaligrafi maupun motif sulur.
Nisan 2
Di bagian atas terdapat panil berukir motif flora. Bagian atap/kepala
berbentuk oval, horisontal.
Nisan 3
Terbuat dari jenis batuan andesit (batu Kali), dengan motif sangat menarik. Tinggi keseluruhan nisan diperkirakan sekitar 85 cm. Bagian dasar berukuran lebar sekitar 20 cm. pada tiap-tiap sisi terdapat panil-panil dengan kaligrafi. Bagian atas
dihiasi dengan ukiran dengan motif bunga kerawang (tembus). Kepala berbentuk bawang.
Nisan 4
Berbahan dasar batuan andesit (batu kali). Sisi-sisinya berukuran lebar 20 cm. Terdapat panil di tiap sisi, dengan ukiran bermotif
tanjung/lotus atau bunga teratai yang sedang mekar, dua sisi lainnya dihiasi dengan motif lotus yang sedang kuncup.
Nisan 5
Berbahan batuan kapur, berwarna putih kekuningan. Terdapat panil di keempat sisinya yang berisi kaligrafi dalam kondisi aus. Bagian atas terdapat panil yang berhiaskan sulur-suluran sampai ke bagian atas. Bagian atas berbentuk bawang, semakin ke atas makin mengecil.
III. Pembahasan
Kebesaran Lamuri (kini disebut Lamreh) ditandai dengan keberadaan bangunan-bangunan benteng diperkirakan merupakan perkembangan selanjutnya atau bahkan bersamaan dengan keberadaan makam-makam tersebut. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa bangunan-bangunan pertahanan yang ada merupakan peralihan fungsi dari bentuk yang ada sebelumnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa jauh sebelumnya, setidaknya telah ada suatu pemukiman yang cukup maju. Pembangunan bangunan-bangunan pertahanan tidak berhenti sampai disitu. Pada masa belakangan, disaat kekuasaan dipegang oleh Sultan Ali Riayat Syah pada sekitar tahun 1604 M terdapat pembangunan benteng yang dilakukan oleh Portugis di Kuta Lubuk, hal ini sangat kontradiktif dengan kenyataan bahwa di dalam benteng tersebut di temukan makam dengan nisan bertipe plakpling yang dibaca oleh Suwedi Montana, yang menunjukkan angka tahun yang jauh lebih tua daripada pembangunan pembangunan benteng tersebut. Pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap salah satu nisan adalah sebagai berikut:
….assulthan Sulaiman bin Abdullah bin al Basyir
Tsamaniata wa sita mi’ah
680 H ( 1211 M)
Suwedi Montana menyebutkan, apabila kematian Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir adalah pada tahun 680 H (1211 M), berarti jauh sebelum itu di Lamreh, lokasi benteng Kutha Lubuk, sudah berkembang Agama Islam. Hal ini diketahui dari nama ayah dan kakek Sultan Sulaiman (Abdullah bin Basyir) yang berbau Islam (Montana,1997:87). Pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malik as-Shaleh di Samudera Pasai -yang berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, apabila bangunan benteng tersebut dibangun pada masa belakangan oleh Portugis, untuk apa keberadaan makam tersebut terawetkan di dalam lokasi benteng ?, yang notabene merupakan makam-makam Sultan yang merupakan lawan politiknya. Namun seperti kita ketahui bahwa bangunan benteng tersebut sangat kental dengan unsur barat yaitu dengan adanya bastion di sudutnya. Saat kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda, pembangunan benteng-benteng pertahanan digalakkan kembali untuk menjaga stabilitas dalam negeri dari ancaman bangsa lain. Hal itu ditandai dengan pembangunan Benteng Iskandar Muda dan Benteng Inong Bale.
Nisan bertipe plakpling, di Lamreh menunjukkan bahwa di daerah tersebut terdapat komunitas yang telah memeluk Islam sebelum Samudera Pasai, yang ditandai dengan keberadaan nisan atasnama Sultan Sulaiman, yaitu di dalam Benteng Kuta Lubuk. Tipe-tipe nisan sejenis terdapat di atas bukit berdekatan dengan Benteng Inong Bale. Pembacaan sekilas menunjukkan nisan tersebut juga cukup tua. Beberapa bangunan pertahanan kemungkinan melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya, yaitu melengkapi pemukimannya dengan bangunan-bangunan pertahanan. Sayang sekali tidak ada penelitian yang secara khusus mengungkap keberadaan bangunan-bangunan benteng di daerah tersebut.
Nisan tipe plakpling merupakan nisan-nisan tipe peralihan, pra-Islam ke Islam. Batu nisan tipe ini berbentuk sederhana, sebelum dipakainya batu nisan yang disebut “Batu Aceh”, (nisan tipe Aceh). Batu-batu ini umumnya memiliki gaya sederhana namun diberi hiasan berupa relief dan/atau inskripsi (kaligrafi). Nisan tipe ini merupakan awal perkembangan, melanjutkan tradisi yang telah ada sebelumnya. Bentuk nisan ini mengadopsi bentuk-bentuk phallus/lingga, meru dan menhir dengan hiasan-hiasan yang disesuaikan. Tipe nisan seperti ini memiliki persamaan dengan tinggalan arkeologis lain yang berasal dari masa yang lebih tua, megalithik, yang dikenal sebagai menhir (Ambary,1991:1–21). Tipe-tipe nisan tersebut di atas, menunjukkan pengaruh yang sangat kental dari tradisi-tradisi megalithis dan Hinduistis. Adapun bentuk-bentuk motif hiasan yang dipakai kemungkinan merupakan perpaduan dari budaya tersebut.
Ambary menyebutkan, salah satu penyebab munculnya nisan tipe-tipe lokal (plakpling) adalah karena latar belakang sejarah budaya nusantara yang permisive terhadap anasir yang datang dari luar. Kreativitas mengubah dan menggubah anasir asing menjadi anasir nusantara merupakan strategi adaptasi. Corak lokal merupakan wujud dari kebebasan seniman ataupun model yang berkembang dalam mengekspresikan cita rasa keseniannya. Perkembangan bentuk dari yang sederhana sampai pada yang rumit adalah sebagai respon dari pengetahuan, teknologi yang mereka peroleh (Ambary,1991:1–21).
Nisan plakpling terdapat hampir diseluruh wilayah Aceh, dengan populasi terbanyak di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Menilik bentuk dari nisan-nisan tipe ini, kemungkinan nisan ini merupakan tipe nisan yang dipakai berkelanjutan, mulai dari masa-masa awal kedatangan Islam sampai pada beberapa abad sesudahnya. Nisan tipe ini masih digunakan berdampingan dengan periode sesudahnya, walaupun pada masa itu telah terjadi perubahan trend tipe nisan, yaitu nisan tipe Gujarat atau tipe-tipe “Batu Aceh” lainnya.
IV. Penutup
Dengan demikian kita sampai pada kesimpulan bahwa Lamuri pada masa sebelum Pasai merupakan sebuah kerajaan Islam yang cukup besar. Kebesaran Lamuri tidak hanya berlangsung sebentar, keberadaan bangunan benteng pertahanan menunjukkan bahwa Lamuri yang kemudian berubah nama menjadi kerajaan Aceh masa selanjutnya dapat dipertahankan bahkan diperbesar. Puncak kejayaan Lamuri adalah pada masa tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Iskandar Muda. Hal ini menepis anggapan bahwa Samudera Pasai dengan rajanya Malik as Shaleh merupakan kerajaan Islam tertua di Nusantara.
Kepustakaan
Akbar, Ali, 1990. Peranan Kerajaan Islam Samudera – Pasai Sebagai Pusat Pengembangan Islam Di Nusantara. Aceh Utara : Pemda Tk II
Ambari, Hasan M. 1991. Makam-makam Kesultanan dan para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 12. Jakarta : Puslitarkenas.
——————–1994. Some Aspects of Islamic Architecture in Indonesia, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 14. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
——————–1996. Makam-makam Islam di Aceh, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 19. Jakarta : Puslit Arkenas.
——————–1997. Kaligrafi Islam Di Indonesia, Telaah Dari Data Arkeologi, dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 20. Jakarta : Puslitarkenas.
Montana, Suwedi, 1996/1997. Pandangan Lain Tentang Letak Lamuri Dan Barat (Batu Nisan Abad Ke VII – VIII Hijriyah di Lamreh dan Lamno, Aceh), dalam Kebudayaan No 12 th VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hal. 83–93.
Nilakantasastri. 1940. Sri Vijaya. Madras: BEFEO
Oetomo, Repelita Wahyu, 2007. Nisan Plakpling, Nisan Peralihan dari Pra-Islam ke Islam, dalam Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol. X No.20. Medan: Balai Arkeologi Medan
Perret, Daniel dan Kamarudin Ab. Razak, 1999. Batu Aceh, Warisan Sejarah Johor. Johor Bahru : EFEO dan Yayasan Warisan Johor.
Yatim, DR. Othman Mhd, 1988. Batu Aceh, Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Museum Association of Malaysia c/o Muzium Negara.
———————-dan Abdul Halim Nasir, 1990. Epigrafi Islam Terawal Di Nusantara. Selangor : Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka
Said, H. Mohammad, 1961. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Waspada
