Media, Terorisme, dan Islam

October 6, 2008 at 12:04 am (Uncategorized) (, , , , , )

Media, Terorisme, dan Islam

28-September-2005

Media, Terorisme, dan Islam
Dr. Tjipta Lesmana

Belum terdapat tanda bahwa aksi terorisme akan meredup, bahkan sebaliknya intensitas dan kualitas terorisme semakin besar. Setiap saat ancaman kelompok teroris datang tiba-tiba dan mengerikan. Konsistensi pemerintah dalam menegakkan hukum dan menindak tegas pelaku kejahatan termasuk penjahat koruptor mutlak diperlukan. Satu hal yang tak kalah penting dalam meredam aksi terorisme adalah peran media massa. Media bukan sekedar bisnis, namun harus punya tanggung jawab terhadap keselamatan dan ketenteraman masyarakat. Berikut hasil wawancara RRI (24/8/2005) dengan Dr. Tjipta Lesmana, pengamat politik nasional, dosen Universitas Pelita Harapan dan mantan Anggota Komisi Konstitusi MPR.

Bagaimana perkembangan terakhir terorisme di tingkat internasional dan nasional?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya kita flash back. Dalam tingkat internasional terorisme tetap ada, bahkan cenderung meningkat. Tapi kita harus bersyukur, di Indonesia terorisme cenderung menurun terutama sejak pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pada era Megawati, tahun 2002 ada bom Bali, 2003 ada bom JW. Marriot, dan 2004 bom di kedutaan Australia. Sekarang ini, bom dahsyat seperti di Bali, tidak terjadi lagi. Meskipun ledakan bom-bom kecil masih ada di negeri ini. Banyak faktor yang menyebabkan terorisme, salah satunya adalah ketegasan sikap pemerintah dan aparat keamanan. Dalam membendung terorisme dibutuhkan ketegasan sikap pemerintah dan keberanian aparat keamanan menindak tegas orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku terorisme. Saya melihat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono kurang tegas dalam menyikapi masalah terorisme.

Apa efek negatif yang ditimbulkan oleh terorisme dalam bermasyarakat?

Terorisme menyebabkan masyarakat dihantui oleh ketakutan sehingga menyebabkan masyarakat takut untuk melakukan aktifitas sehari-harinya. Ekonomi juga akan mengalami kemunduran, para pelaku ekonomi akan was-was ketika mereka mengurusi bisnis mereka. Mereka takut kantor dan pabrik mereka di bom, takut bepergian dan lain sebagainya. Ketika masyarakat tidak maksimal dalam menjalankan aktifitas mereka—karena dihantui rasa ketakutan—akan mengakibatkan kemerosotan ekonomi. Hal ini tentu membawa dampak negatif bagi seluruh lapisan masyarakat. Merosotnya bisnis kerajinan tangan yang dikirim ke Bali secara drastis pasca tragedi Bom Bali, adalah salah satu contoh bagaimana terorisme mematikan pertumbuhan ekonomi yang berimbas pada masalah perut orang banyak. Oleh sebab itu, memerangi terorisme haruslah melibatkan seluruh komponen bangsa, tak terkecuali media.

 

 
Mengapa di tingkat internasional terorisme cenderung meningkat, apa penyebabnya?

Karena akar masalah dari terorisme internasional belum selesai, yaitu kelompok Alqaeda dan belum tertangkapnya Osama bin Laden. Pemboman di London dan WTC yang terjadi beberapa waktu yang lalu dikaitkan dengan kelompok Alqaeda. Benar atau tidaknya berita ini kita tidak tahu persis, karena sumber berita yang kita dapat hanya dari Barat. Tapi yang jelas, terorisme di dunia internasional semakin meningkat.

Amerika dianggap sebagai sponsor utama dalam memerangi terorisme, bagaimana menurut anda?

Amerika bisa kita katakan “leader” dalam memerangi terorisme dan Amerika juga mengklaim dirinya sebagai “leader” dalam memerangi terorisme internasional. Atas dasar inilah Amerika merasa berhak memberitahukan dan mengajarkan negara lain, bahkan mendikte, bagaimana cara suatu negara memerangi terorisme. Termasuk ketika Amerika menekan Indonesia untuk melakukan hal ini atau hal itu dalam memerangi terorisme di Indonesia. Tapi sayangnya, di sisi lain banyak pihak yang tidak puas dengan Amerika, bahkan mereka benci pada Amerika, contohnya masyarakat Irak. Di Irak bom meledak bisa dikatakan setiap jam, hal ini menunjukkan ketidaksenangan sebagian kalangan masyarakat Irak atas keterlibatan Amerika terlalu jauh masalah negeri Irak.

Bukankah kebijakan George W. Bush di Irak juga ditentang oleh sebagian masyarakat Amerika?

Benar, bahkan seorang senator memperingatkan George W. Bush agar segera menarik pasukan Amerika dari Irak. Menurut senator tersebut, bisa jadi pengalaman buruk kekalahan Amerika di Vietnam akan terulang kembali di Irak. Amerika, kata senator tersebut, ibarat masuk ke dalam lumpur. Semakin bergerak, Amerika akan semakin tenggelam dalam kubangan lumpur.

Tadi anda mengatakan bahwa terorisme di dalam negeri menurun, apa sebabnya?

Salah satu faktornya adalah sikap tegas pemerintah dan adanya upaya-upaya pencegahan dini yang dilakukan oleh pemerintah. Tapi bom-bom kecil masih terjadi di berbagai daerah, yang menurun adalah bom-bom yang menimbulkan korban jiwa yang banyak, seperti di Bali. Dalam memerangi terorisme selayaknya antara polisi dan TNI dapat bekerja sama dengan memanfaatkan sumber-sumber daya yang dipunyai oleh kedua belah pihak, seperti badan intelijen, yang saya kira sangat efektif sekali untuk mencegah terjadinya aksi-aksi terorisme. Ancaman terorisme di Indonesia masih sangat potensial, karena belum tertangkapnya Dr. Azhari dan Nurdin M.Top. Selama dua orang ini masih bebas berkeliaran, Indonesia masih belum aman dari ancaman terorisme. Janji yang diucapkan mantan Kapolri Da’i Bachtiar untuk menangkap Dr. Azhari dan Nurdin M.Top dalam program kerja seratus hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono ternyata tidak berhasil.
Media mempunyai kepentingan bisnis, yaitu bagaimana mendapat keuntungan dari berita yang dilansir. Bagaimana caranya mensiasati agar kepentingan bisnis media tercapai, tapi tidak melupakan tanggung jawab media untuk memberikan informasi yang sebenar-benarnya kepada masyarakat serta membuat masyarakat dihantui ketakutan ketika memberitakan aksi-aksi terorisme?

Media dituntut hati-hati dan tidak sembarangan ketika menyiarkan sebuah berita. Mengekspos secara besar-besaran aksi-aksi terorisme tidak bagus, karena secara tidak langsung media mengiklankan para teroris. Bisnis is bisnis, boleh saja. Tapi dalam meningkatkan oplah media dituntut menjalankan tanggung jawabnya. Dalam pers kita mengenal sosial responsibility teory of the press (teori pertanggungjawaban sosial pers). Teori ini semakin banyak dianut oleh pers di seluruh dunia. sebenarnya Amerika tidak menganut teori ini. Teori ini mengatakan, “ada keseimbangan antara kepentingan bisnis dan kepentingan tanggung jawab sosial.” Dalam hal ini pers, menurut saya, mutlak menjalin kerja sama dengan aparat keamanan atau kebalikannya, aparat keamanan harus merangkul media untuk bekerja sama dalam menanggulangi terorisme. Dalam ilmu komunikasi, terutama komunikasi propaganda dan perang urat saraf, diajarkan bahwa pers bisa menjadi teman yang sangat penting dalam hal ini. Pers mempunyai banyak reporter yang bisa dikatakan tersebar di seluruh daerah. Reporter ini secara tidak langsung memainkan peran intelijen.

Jadi reporter dapat digunakan oleh aparat keamanan sebagai intelijen?

Benar, para reporter dapat diberdayakan oleh aparat keamanan untuk menanggulangi masalah terorisme. Ketika seorang reporter mengetahui ada orang yang mencurigakan, jangan langsung diekspos, tapi dilaporkan kepada aparat kemananan. Ini adalah salah satu contoh tanggung jawab sosial pers. Memang sekarang ada kecenderungan media ingin cepat-cepat memberitakannya dan menjadikannya head line untuk meningkatkan jumlah oplah mereka. Akibatnya, orang yang dicurigai tahu bahwa keberadaannya sudah “diendus” oleh masyarakat. Orang tersebut tentulah akan kabur dan aparat keamanan tidak bisa menangkapnya. Jadi kepentingan bisnis hendaklah berada satu tingkat di bawah kepentingan dan keamanan nasional.

Menurut Anda, sudahkah antara pers, polisi, dan bahkan mungkin dengan lembaga intelijen negara, menjalin kerja sama sampai pada tingkat ideal seperti yang telah Anda sebutkan?

Belum, masih sangat jauh dari kondisi ideal. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Salah satu faktor yang dominan adalah tidak adanya kepercayaan di kedua belah pihak. Polisi tidak percaya kepada pers dan merasa takut kepada pers, dengan asumsi jika polisi berhubungan dengan pers, maka rahasia mereka akan dibongkar oleh pers. Begitu juga dengan pers, mereka tidak percaya informasi yang mereka sampaikan kepada polisi akan ditindaklanjuti atau hanya diletakkan dalam laci meja. Sikap seperti inilah yang harus dihancurkan dan mulai membangun trust building (membangun kepercayaan) antara kedua belah pihak.
Dengan cara apa kita membangun “trust building” antara pers dan aparat kepolisian?

Dengan mengadakan banyak komunikasi dan dialog. Misalnya, polisi mengajak makan para pimpinan redaksi, yang intinya ingin mengetok hati sanubari insan pers agar membantu polisi. Polisi harus menjelaskan kepada pers bahwa mereka bekerja demi kepentingan bangsa dan negara dan untuk itulah polisi meminta kesadaran dari pers untuk membantu kinerja aparat kepolisian. Saya kira, dengan senang hati pers akan membantu polisi. Sebagai imbalan atas dukungan pers membantu kinerja kepolisian, hendaknya aparat kepolisian juga membantu media dan tidak menghalangi media ketika akan meliput berita. Jadi harus ada kerja sama.

Apa contohnya berita yang dimuat oleh pers memberikan dampak negatif bagi penanggulangan aksi terorisme?

Katakanlah ketika media mencium bahwa polisi sedang mengintai seseorang karena diduga sebagai kelompok teroris, kemudian hal ini di muat di surat kabar atau media elektronik. Media memuat beritanya. Dampak negatifnya adalah jika benar bahwa yang diintai polisi adalah seorang teroris, maka dia akan “ngacir” sebelum aparat sempat menangkapnya. Ini adalah salah satu contoh dampak negatif ketika media memuat berita tanpa bekerja sama dengan aparat keamanan. 

Jadi berita yang dimuat oleh media yang pada dasarnya bertujuan membuat masyarakat waspada menjadi kontra produktif?

Benar, bahkan cenderung berita yang dimuatkan menjadi boomerang efeck. Hal ini disebabkan karena pers terlalu tergesa-gesa dalam memuat sebuah berita, dan payahnya lagi, berita yang dimuatnya belum tentu benar, seperti ancaman bom di gedung-gedung. Hal ini sangat dilematis, ketika media mendengar ancaman bahwa suatu gedung akan diledakkan, media tidak mungkin diam. Media berusaha mengabarkan kepada orang agar berhati-hati dan tidak menjadi korban dari ledakan bom tersebut, tapi ketika berita itu disebarluaskan hasilnya adalah suasana ketakutan yang melanda di masyarakat. Dalam hal ini media secara tidak langsung turut membantu para teroris mencapai tujuan, yaitu membuat ketakutan dan kecemasan di masyarakat untuk satu tujuan politis. Para teroris tentu akan sangat senang sekali, sebab meskipun mereka tidak meledakkan bom, tujuan mereka telah tercapai dengan bantuan media. Jadi insan pers harus bijak menyikapi hal ini, hendaklah ancaman peledakan suatu gedung tidak dijadikan head line, tapi cukup berupa kolom kecil di halaman belakang karena ancaman tersebut selama ini hanyalah isapan jempol semata.

Pengadilan terhadap pelaku bom Bali, yang dimuat oleh media, seolah-olah menggambarkan sosok innocent (tanpa dosa) dari para tersangka bom Bali. Pers menyiarkan gambar para teroris saat mereka tersenyum. Hal ini tentu saja menarik simpati hati masyarakat pada mereka. Dalam hal ini bagaimana seharusnya peran media mengarahkan opini masyarakat secara objektif?

Kalau saya menjadi pimpinan redaksinya, saya akan meng-cut hal tersebut, karena akan menimbulkan simpati di kalangan masyarakat terhadap teroris, terutama masyarakat yang masih awan dan rendah pengetahuannya. Kenapa di saat mereka tersenyum dan tertawa diekspos oleh media, sehingga menggambarkan seolah-olah mereka tidak bersalah dan berdosa. Justru kebalikannya, ketika para teroris diekspos dengan wajah tersenyum dan tertawa, mereka akan dianggap oleh masyarakat adalah pahlawan. Inilah salah satu contoh kekurangan tanggung jawab sosial media, dan ini sangat berbahaya sekali karena bisa menjadikan seorang teroris menjadi pahlawan.

Apa penyebab terjadinya terorisme internasional?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya kita melihat ke belakang. Salah satu penyebab pokok akar masalah terorisme internasional adalah konflik berdarah di Timur Tengah tidak pernah kunjung usai, konflik ini telah terjadi selama puluhan tahun, antara kaum Yahudi dan warga Palestina. Adanya ketidakadilan politik bagi warga Palestina merupakan pemicu terorisme. Sebenarnya Amerika menyetujui seratus persen bahwa Palestina adalah negara merdeka yang mempunyai wilayah dan pemerintahan sendiri. Tapi sayangnya, orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang sangat ekstrim, mereka menentang secara mati-matian berdirinya negara pelestina. Banyak orang-orang Islam mendukung sepenuh hati berdirinya negara Palestina, sementara di lain pihak, banyak negara Barat yang memback-up orang-orang Yahudi. Inilah yang menjadi sumber kekecewaan umat Islam kepada Barat secara umum, dan sebagian dari kalangan umat Islam menyampaikan kekecewaannya melalui jalan terorisme.

Bagaimana dengan pendapat sebagian kalangan Barat yang mengidentikkan terorisme dengan Islam?

George W. Bush berkali-kali menyatakan bahwa terorisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam, bukan Islam yang terlibat. Tapi kebetulan para teroris itu menganut agama Islam. Tugas pemerintah dan aparat keamanan adalah mensosialisasikan bahwa terorisme tidak berhubungan dengan agama Islam, terorism hasn’t nothing to do with Islam (Islam tidak punya kaitan apa-apa dengan terorisme). Terorisme tidaklah pantas disandingkan dengan Islam, karena Islam itu adalah agama damai.

Dalam perkembangan terorisme, kita mengenal istilah state terorism. bisakah anda menjelaskan secara panjang lebar?

State terorism adalah terorisme yang dilakukan oleh suatu negara kepada masyarakat atau negara lain. Pelaku terorisme bukanlah individu atau kelompok, tapi negara juga bisa melakukan tindakan terorisme. Negara yang dituduh sebagai state terorism tentulah kebakaran jenggot dan berusaha menyangkal mati-matian bahwa negaranya tidak melakukan tindakan terorisme kepada negara lain.

Siapakah yang berhak menindak negara yang dikategorikan sebagai state terorism?

Harusnya PBB lah yang melakukan hal ini. Tapi permasalahannya, PBB mampu atau tidak melakukan hal ini. Kalau kita lihat, rupanya PBB belum mampu menjalankan tugas ini akibat dominasi negara-negara Barat yang memegang hak veto di PBB. Sekarang ini banyak kekecewaan yang menumpuk kepada PBB, rakyat Indonesia juga merasakan hal yang sama. PBB dianggap tidak objektif ketika memutuskan suatu masalah. Hal ini dapat kita maklumi karena PBB berhadapan dengan “raksasa-raksasa.” Hal ini sangat dilematis.

Bagaimana terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat?

Terorisme yang dilakukan oleh kelompok masyarakat, dalam konteks Indonesia, tujuannya bermacam-macam. Ada yang ingin membasmi judi, narkoba, prostitusi dan lain-lain. Sebenarnya hal ini bagus dan harus kita dukung, pemerintah harus juga mendukung hal ini. Tapi permasalahannya janganlah hal itu dilakukan melalui cara-cara kekerasan. Di Indonesia ada juga kelompok masyarakat yang ingin menegakkan syariat Islam. Mereka berpendapat bahwa tujuan mereka adalah tujuan yang suci dan sesuai dengan ajaran Islam, tapi kenapa mereka harus dilarang. Permasalahannya, yang membuat kita tidak setuju dengan mereka, adalah mayoritas bangsa Indonesia sudah menyatakan bahwa masalah ini telah selesai pada saat proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 yang silam. Masalah ini telah diselesaikan oleh para founding father kita, janganlah hal ini diungkit-ungkit lagi karena masalahnya tidak akan pernah habis-habis dan akan menimbulkan masalah baru bagi bangsa ini. Kalau ide tentang penerapan syariat Islam kita ungkit-ungkit lagi, mungkin Sulawesi Utara dan orang-orang Batak akan memerdekakan diri, keutuhan negara kita terancam jika isu penerapan syariat Islam diungkit lagi.

Bagaimana anda melihat peran Indonesia dalam memberantas terorisme internasional?

Indonesia lemah posisinya di mata internasional, kalau Indonesia ingin berperan dalam kancah internasional, Indonesia harus bisa mengurus dirinya sendiri. Selama Indonesia masih belum bisa mengurus dirinya sendiri, seperti masalah keamanan, selamanya Indonesia tidak akan berperan dalam kancah politik internasional. Jangankan di PBB, dalam Asean pun kedudukan kita lemah. Berbeda pada zaman Soeharto, pada zaman itu kita secara tidak langsung dianggap sebagai ketua dari Asean. Hal ini disebabkan karena figur Soeharto yang bisa menciptakan kestabilan politik dan kemajuan ekonomi. Jadi kita harus objektif dalam melihat Soeharto dan Orde Baru. Janganlah kita menganggap bahwa Orde Baru itu buruk semua, ada sisi-sisi positif dari Orde baru yang patut kita hargai dan kita teruskan.  Dalam era Soeharto, Indonesia bisa kita katakan relatif sangat aman. Tidak ada pembakaran masjid dan gereja, berbeda dengan saat sekarang. Hal ini disebabkan karena sikap tegas Soeharto dalam mengelola negara.

Tapi permasalahannya, ketegasan yang dipraktekkan oleh Soeharto cenderung pada otoritarianisme!

Saya selalu teringat dengan ucapan nyonya Indhira Gandhi, mantan Perdana Menteri India dan anak dari Nehru, mengatakan “untuk bangsa yang miskin tidak berpendidikan, demokrasi liberal tidaklah cocok.” Hal ini dikatakan oleh Indhira Gandhi setelah ia memimpin India.

 

Apa sistem yang cocok diterapkan pada bangsa yang miskin dan rakyatnya tidak berpendidikan?

Tetaplah kita menganut sistem demokrasi, tapi janganlah “kran” demokrasi dibuka terlalu lebar. Dalam setiap kesempatan saya mengatakan, demokrasi di Indonesia sudah kebablasan. Lihat misalnya Pilkada, keributan terjadi di mana-mana, hal ini terjadi karena rakyat Indonesia pada umumnya belum bisa menerima kekalahan. Jangankan dalam konteks Pilkada, dalam pertandingan sepak bola kita selalu ribut. Para sporter dari pendukung yang kalah membuat keributan dengan membakar gedung dan merusak fasilitas umum. Ini tandanya bahwa masyarakat kita masih belum bisa menerima kekalahan. Oleh sebab itulah saya mengatakan bahwa masyarakat Indonesia masih belum siap untuk berdemokrasi. Saya sewaktu dalam Komisi Konstitusi dan sebagian besar teman-teman saya mengatakan bahwa Amandemen UUD 45 sudah kebablasan sekali. Demokrasi kita terapkan secara bertahap, tidak sekaligus.

Bagaimana mengembalikan demokrasi yang kebablasan sekarang ini menjadi demokrasi yang cocok dengan kondisi riil masyarakat Indonesia saat ini?

Pemimpin bangsa ini memainkan peranan yang sangat penting, terutama presiden dan wakil presiden serta elit-elit politik. Artinya harus ada ketegasan dari mereka dan hukum harus ditegakkan. Bukan rahasia lagi, bangsa kita adalah salah satu bangsa yang terkorup di dunia dan penegakan hukumnya paling buruk di dunia. Ini berdasarkan laporan khusus Sekjen PBB yang datang empat tahun lalu ke Indonesia melakukan riset mengenai penegakan hukum di Indonesia. Jadi Susilo Bambang Yudhoyono harus tegas dalam menindak orang-orang yang melanggar hukum, kalau hal ini tidak dilakukan, apalah artinya demokrasi. Demokrasi dan penegakan hukum ibarat kakak beradik. Anda tidak bisa bicara tentang demokrasi kalau penegakan hukumnya amburadul. Lemahnya penegakan hukum di Indonesia adalah bibit-bibit yang mengancam keamanan di negeri ini.

Ketika negara menerapkan sebuah kebijakan yang merugikan rakyatnya, apakah bisa kita katakan bahwa ini adalah bentuk terorisme negara terhadap rakyatnya?

Bisa juga, sumber utama terorisme adalah masalah Timur Tengah. Kemudian sumber yang kedua adalah masalah ketidakadilan. Masyarakat yang selalu ditindas dan diperlakukan secara tidak adil secara terus-menerus akan cenderung memberontak. Jangankan manusia, semut pun jika diinjak dia akan memberontak. Karena mereka yang ditindas, setelah sekian tahun lamanya, tidak mempunyai kekuatan untuk secara terbuka menyatakan diri memberontak kepada negara dengan menggunakan kekuatan senjata, mereka akan menggunakan jalan terorisme. Terorisme dilakukan karena segala jalan dan cara untuk menyatakan ketidakpuasaan kepada negara mereka semuanya tertutup dan tidak ada jalan lain kecuali melalui jalan terorisme.

Bagaimana kita menyikapi masalah terorisme ke depan?

Terorisme menyebabkan rasa takut dan tidak aman pada seluruh lapisan masyarakat. Cara menanggulangi terorisme haruslah dengan melibatkan seluruh komponen bangsa, terutama peningkatan kualitas aparat kepolisian dan intelijen; kerja sama aparat kepolisian dengan badan-badan intelijen; kerja sama polisi dengan media; elit politik tidak hanya memikirkan kursi kekuasaan semata, tapi juga memikirkan nasib rakyat, dan lain sebagainya. Semua ini akan memperkecil peluang bagi lahirnya tindakan terorisme.
Tanya Jawab :

I. Edi (Jakarta Barat).
Apakah pemimpin yang tidak menyiapkan generasi penerusnya bisa kita katakan baik, seperti Soeharto dan Soekarno?

Yang perlu saya tegaskan, tadi saya tidak dalam memuji Soeharto. Tapi saya ingin katakan adalah bahwa pemerintahan Soeharto tidak semuanya jelek. Dan menurut saya pemimpin yang tidak menyiapkan generasi (regenerasi-red) penerusnya adalah pemimpin yang jelek. Tapi saya kira Soeharto sudah menyiapkan generasi penerusnya, yaitu Habibie, tapi karena keenakan duduk di kursi kepresidenan dia menjadi lupa diri. Kelemahan Soeharto yang paling parah adalah merebaknya virus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di negeri ini. Semua anak-anak Soeharto menguasai seluruh jalur bisnis di negeri ini. Kemudian tentang Soekarno, sebenarnya Soekarno telah menyiap secara diam-diam Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan darat Waktu itu, tapi sayangnya hal itu tidak kesampaian karena meletusnya peristiwa berdarah yang kita kenal dengan sebutan G 30 S PKI.

II. Kade Karyana ( Bali ).
Saya setuju dengan statement Anda yang menyatakan bahwa Islam tidak boleh dikaitkan dengan terorisme. Tapi sangat disayangkan, para pengacara yang menjadi pembela tersangka Bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dkk, menamakan diri mereka sebagai “Tim Pembela Muslim”. Itu yang saya tidak setuju. Kemudian yang menjadi pertanyaan kami, sebagai masyarakat Bali, kapan eksekusi mati dilakukan kepada mereka para pelaku Bom Bali? Karena kami masyarakat Bali merasa jengah dengan statement mereka yang menyatakan bahwa mereka sah saja melakukan pembunuhan di Bali karena membunuh musuh mereka, yaitu Amerika. Tapi kenapa harus Bali? Yang menjadi korban adalah orang-orang Bali, bukan orang Amerika. Bahkan korban dari Bom Bali ada juga yang Muslim. Yang patut disayangkan juga, tidak ada tokoh agama (Islam-red) yang menetralisir ketika Imam Samudra meneriakkan suara yang berdimensi agama (allahu akbar-red) yang membuat seolah-olah tindakan mereka dibenarkan oleh agama, kecuali Amien Rais yang menyatakan bahwa mereka adalah kurang ajar.

Lembaga yang disebut Lembaga Pembela Muslim (Tim Pembela Muslim-red) banyak dikecam orang pada waktu itu karena membawa nama Muslim, padahal terorisme tidak ada hubungannya dengan orang-orang Islam. Kemudian tentang masalah tidak ada tokoh agama yang secara tegas mengecam terorisme, memang saya kira ini kurang sekali. Tidak banyak tokoh-tokoh agama yang secara tegas, di antara tokoh NU dan Muhammadiyah yang tampil ke muka mengecam masalah terorisme. Kalau di Muhammadiyah mungkin yang maju mengecam terorisme adalah Amien Rais dan dari NU Abdurrahman Wahid. Padahal NU dan Muhammadiyah, yang kita kenal sebagai organisasi moderat, sebenarnya bisa memainkan peran yang penting dengan mengecam para pelaku tindakan teorisme. (Sebenarnya tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah pernah mengeluarkan pernyataan besama yang mengecam terorisme, bahkan Muhammadiyah beberapa kali mengeluarkan pernyataan yang mengecam aksi terorisme, ada yang berbentuk pernyataan dan ada yang berbentuk dokumen tertulis-red)

III. Seno ( Yogyakarta ).
Dalam hukum fikih dikatakan bahwa memberontak kepada negara adalah perbuatan yang dimurkai oleh Allah Swt, maka saya menghimbau kepada orang-orang Aceh (GAM) untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Marilah kita jaga keutuhan republik ini dan selayaknya pemerintah memperlakukan sama setiap suku dan agama, tidak ada diskriminasi karena perbedaan suku dan agama. Berbicara mengenai Islam dan terorisme, Islam adalah agama damai dan mengajarkan perdamaian, ia tidak menganjurkan pemeluknya untuk membunuhi orang. Saya kira orang yang mengatasnamakan Islam ketika melakukan aksi terorisme mereka sebenarnya tidak mengetahui esensi dari ajaran Islam. Bagaimana menurut Anda?

Dalam konsep negara kesatuan, jika ada suku yang disakiti semestinya semua suku yang lain merasakan hal yang sama. Inilah yang dinamakan dengan wawasan nusantara, bahwa orang Aceh merasa memiliki Irian Jaya, Sumatera, Jawa dan lain sebagainya. Begitu juga dengan masyarakat lain, mereka merasa memiliki daerah di Indonesia yang terbentang luas. Jadi saya tidak berkomentar banyak karena pada dasarnya saya setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Seno, Islam tidak boleh diidentikkan dengan terorisme.

IV. Bagindo ( Jakarta ).
Saya berpendapat bahwa kehancuran Indonesia saat ini karena ulah Soeharto, bahwa Soeharto berniat mau menghancurkan negara ini selama tiga puluh dua tahun. Yang menjadi persoalan sekarang ini adalah bagaimana menyelematkan pulau-pulau Indonesia agar tidak mau memerdekakan diri sebagaimana yang dilakukan oleh GAM di Aceh, karena diperkirakan tahun 2020 Indonesia akan hilang.

Saya tidak sependapat kalau dikatakan bahwa Soeharto mau menghancurkan negara ini. Tapi kalau Soeharto mempunyai kelemahan dalam bidang HAM dan KKN, hal itu memang bukan rahasia lagi. Kalau tadi dikatakan bahwa tahun 2020 Indonesia akan hilang, saya sedikit banyak sependapat. Saya pernah menulis yang mempertanyakan eksistensi NKRI sepuluh tahun mendatang. Kalau menurut saya, prediksi yang menyatakan bahwa Indonesia akan hilang di tahun 2020 bukan karena Soeharto, tapi karena diri kita sendiri yang setelah era reformasi kita lepas kendali. Saya teringat nasehat salah seorang tokoh di Cina kepada Mikhail Gorbachev. Mikhail Gorbachev pada bulan Juni tahun 1989 datang ke Beijing dan bertemu dengan tokoh tersebut. Tokoh Cina tersebut kira-kira memberikan nasehat seperti ini, “tuan, jangan kran demokrasi dibuka seluas-luasnya, bertahaplah. Yang jelas kami tidak mau mengikuti negara anda”. Ternyata betul, membuka kran demokrasi selebar-lebarnya, dari negara yang diktator komunis menjadi negara yang menerapkan demokrasi liberal. Hasilnya, dalam jangka waktu beberapa tahun Uni Soviet telah lenyap dari peta dunia. Uni Soviet digantikan dengan 16 negara berdaulat. Saya khawatir Indonesia akan mengalami nasib yang sama dengan Uni Soviet jika demokrasi dibuka selebar-lebarnya (sedangkan masyarakat Indonesia masih belum siap untuk berdemokrasi-red). Saya tertarik dengan wawancara Bapak Amien Rais di Metro TV. Dia memberikan warning kepada pemerintah agar berhati-hati dengan Aceh dan masalah MOU yang dibuat di Helsinki, Aceh jangan sampai lepas. Kalau Aceh sampai lepas, akan berlaku teori “Domino”. Hampir bisa dipastikan, jika Aceh lepas dari pangkuan republik, berikutnya adalah Papua. Sehari setelah MOU Helsinki di buka, di Papua terjadi demontrasi yang menyatakan “Otsus no, referendum yes”. Jadi dampak politisnya akan terasa dari Sabang sampai Merauke, mudah-mudahan pemerintah berusaha mempertahankan mati-matian NKRI.

V. Arifin ( Jakarta ).
Saya kira bapak bagindo tadi terlalu berlebihan dalam menilai Soeharto. Soeharto tidaklah sejelek itu, dunia menghargai Soeharto, ia sempat datang ke Bosnia di tengah berkecamuknya perang. Dan hal itu dianggap sebagai keberanian yang luar biasa dari Soeharto. Soeharto juga berjasa bagi bangsa ini, kemajuan ekonomi yang telah dibangunnya hendaklah jangan kita lupakan begitu saja. yang ingin saya tanyakan di sini adalah bagaimana pandangan Anda atas masalah Aceh, adakah konspirasi internasional di sana?

Saya termasuk orang yang sangat khawatir setelah membaca isi MOU tersebut. Misalnya, Aceh berhak menentukan suku bunga sendiri dan semua perjanjian yang dibuat oleh pusat harus ditinjau kembali atas persetujuan legislatif Aceh. Jadi saya melihat isi MOU tersebut banyak bertentangan dengan prinsip-prinsip dari negara kesatuan. Tapi janganlah kita terlalu khawatir, kita percayakan saja kepada pemerintah. Mengenai adanya konspirasi internasional dalam masalah Aceh, memang bangsa Indonesia harus berhati-hati. Sebab negara-negara Barat tidak senang kalau Indonesia menjadi negara yang kuat. Kalau Indonesia kuat, maka merupakan ancaman bagi negara-negara tertentu, yang tidak dapat kita sebut namanya di sini. Kenapa, karena Indonesia sangat potensial menjadi negara yang sangat kuat, sumber alam kita melimpah ruah. Jadi Indonesia mempunyai sumber untuk bisa menjadi negara yang kuat. Kalau negara kita kuat, ada ketakutan dari negara-negara Barat karena mayoritas penduduk bangsa Indonesia adalah Muslim. Kemungkinan adanya konspirasi internasional memang ada, dan di sinilah dituntut kehati-hatian pemerintah. Mengenai Soeharto, saya kira kita harus objektif melihat dia. Kita harus menghargai sisi baiknya tapi juga kita jangan lupakan sisi negatifnya.

VI. Oskar ( Jakarta ).
Dalam Panca Krida disebutkan, Krida kelima, menyempurnakan dan membersihkan aparatur negara. Apakah ini benar-benar dilaksanakan atau tidak? Yang kedua masalah hutang luar negeri kita. Mungkin ada benarnya yang dikatakan oleh bapak bagindo tadi, bahwa penyebab ambruknya ekonomi Indonesia dimulai dari zaman Soeharto di mana hutang luar negeri lebih besar dari jumlah pembangunan di negeri ini. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?

Masalah yang menimpa Indonesia belum kunjung selesai, saya kira karena kita tidak terlalu serius membenahi aparat pemerintahan kita agar bersih dari KKN. Di samping itu juga masalah yang kita hadapi saat ini sangat rumit dan ruwet akibat dari akumulasi masalah-masalah yang tidak diselesaikan dari tahun ke tahun. Masalah Indonesia sudah berkarat sehingga susah sekali ditanggulangi, seperti pemberantasan korupsi yang mudah diucapkan tapi sangat susah dipraktekkan. Dalam masalah utang luar negeri, pada tahun 2001, saya dan Sri Mulyani, yang sekarang menjadi Ketua Bappenas, berbicara di depan peserta kursus di Lemhannas. Pada waktu itu Sri Mulyani mengatakan bahwa selama dua puluh tahun lagi pun Indonesia tidak bisa melunasi hutang. Setelah lengsernya Soeharto mengeluarkan SUN (Surat Utang Negara). SUN kalau kita lihat, kita ibaratnya gali lobang tutup lobang. Total hutang Indonesia sekarang ini berjumlah tujuh ribu triliun. Jadi benar apa yang dikatakan oleh Bapak Oskar, kita “aneh bin ajaib” karena total hutang kita lebih besar dari nilai total pembangunan kita. Hal ini terjadi karena banyak diantara pemimpin bangsa ini menjadi pencuri kelas tinggi. Saat ini kita hanya mampu membayar bunga hutang kita, sehingga anak cucu kita yang akan terus menanggung hutang yang dibuat oleh kita. Inilah fakta yang sangat memprihatinkan kita. bagaimana menyelesaikan hal ini, saya kira tidak ada orang yang dapat menjawab dengan singkat dan ini membutuhkan penelitian yang sangat mendalam.

Terima kasih Bapak Tjipta Lesmana sudah meluangkan waktu bersama kami, mudah-mudahan dilain waktu dan kesempatan kita dapat berjumpa kembali.

Sama-sama, sampai ketemu lagi

1 Comment

  1. roysianipar said,

    MANUSIA ASIA UMUMNYA INDONESIA ADALAH MANUSIA PERANAKAN CAMPURAN ORG HUTAN DAN PENDATANG BARU.SEMUA ORG PENDATANG BARU YG MEMBAWA BUDAYA YG ASING AKAN CEPAT DI TERIMA ORG ASIA CAMPURAN INI KARENA MEREKA SDH TDK ASLI LAGI .CONTOHNYA HINDU DTG BERDAGANG ATAU MENCARI REMPAH REMPAH ORG AWM IKUT JADI HINDU>ISLAM DATANG SEMUA BERPERANG MENGUSIR HINDU>AHIRNYA SERMUA MASUK ISLAM.PKI DATANG SEMUA MASUK KOMUNIST>KONTOL MASUK SEMUA BUKA MEMEK>AH SEMUA NYA SOK JADI MANUSIA AGAMAWI MAKAN SAJA TDK BISA DIPASTIKAN SEKARANG UDH SOK JAGO AGAMA>BARU BISA BHS QURAAN ARAB YG BAHASA ARAB NYA BELEPOTAN UDH SOK JAGOAN YA SAMA DGN BATAK SOK CUCI MAU MASUK SURGA TAPI KOQ MASIH KORUPSI ?DASAR ORG HUTAN MASUK KOTA METROPOLITAN DUNIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: