BATAK BUILD MONUMENT AS HIGH AS THE SKY. (sky is the limit) WHEN THEY GOT POWER AND MONEY RATHER THAN SOCIAL WELFARE FOR THEIR OWN CITIZEN OR POOR FAMILY.IS IT REALLY SHOWING OFF OR DUMB ?/or just human who live under the coconut shell?

October 12, 2008 at 12:33 am (Uncategorized) (, )

[

holben sinaga; batak news; ikuti jejak dua letjen, luhut panjaitan dan tb silalahi]

Hanya segelintir orang Batak kaya dan berpendidikan yang peduli pada kampung halaman.

Artikel ini kuterima di imelku, bataknews [at] gmail [dot] com. Ditulis oleh Holben Wesly Sinaga, seorang lelaki yang berasal dari Kabupaten Samosir, kini bekerja dan tinggal di Singapura.

PERTAMA KALI DALAM sejarah orang Batak seorang pensiunan Jenderal membangun sekolah di tanah Batak. Dari salah satu majalah Batak yang saya baca, Bapak Luhut Panjaitan membangun sekolah dengan kerjasama Del. Mahasiswa dengan nota bene bukan dari kalangan yang berada dan sebagian besar murid tersebut berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Saya sangat terharu ketika membaca ulasan tersebut karena Pak Luhut sampai saat ini masih melakukan negosiasi kerja sama dengan MIT, Harvard, dan Universitas ternama lainnya di USA.

Betapa tidak, dengan kondisi mahalnya sekolah sekolah unggulan dengan tanpa beban beliau memikirkan generasi Batak yang selanjutnya. Kehadiran beliau ibarat menemukan oase di padang pasir. Tentunya betapa doa-doa dari para orang tua kepada keluarga Bapak Panjaitan dan tidak putus putusnya harapan supaya beliau semakin sering menoleh dan meningkatkan kualitas hidup orang Batak.

Apabila kita melihat jumlah orang Batak yang kaya, akan sangat mudah memberikan nama dan marga secara jelas. Namun sangat disayangkan harta dan kekuasaan belum pernah cukup dan belum terbuka mata hati untuk meningkatkan atau paling tidak membuka peluang yang lebih baik untuk anak-anak daerah Batak.

Coba anda pergi ke Muara, pemandangan yang sangat fantastis, green look dan fresh air. Namun dengan mudah anda menemukan rumah yang reot, kumuh dan kandang babi bersebelahan dengan alat tenun.

Air mata saya hampir jatuh karena saya tidak menyangka masih ada suku Batak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ketika saya berjalan jalan sore di Muara, ada seorang ompung yang mengais-ngais di tempat pembuangan sampah di tempat hotel saya menginap.

God! Tanah Batak dengan segala kekayaan alamnya, semuanya ada, air, tanah yang subur, alam yang indah, sekecap terlihat seperti awan-awan. I have lost my happy feeling. Saya marah, sedih dan ingin berontak. Ke manakah saudaraku Batak?

Kalau berbicara Anak ni Raja & Boru ni Raja, sepertinya kita semua adalah orang yang “wealthy” dan dalam posisi yang sangat terhormat. Masihkah kita berani mengatakan saya Boru atau Anak ni Raja, sementara salah satu saudara kita terseok-seok kehidupannya di daerah Batak?

Masihkah kita berani pulang kampung (bonapasogit), setiap hari-hari besar atau acara pesta hanya sekedar pamer? Masihkan kita berhak disebut sebagai Anak atau Boru ni Raja dengan membangun tugu hampir mencapai langit, sementara d isebelah tugu berdiri dengan reot gereja yang hampir rubuh dan tidak bisa direnovasi sebagus dengan tugu?

Dilema!!!
Generasi Muda Batak bangunlah! Putra daerah Batak dengan tingkat inteligency di atas rata-rata suku lain. Berdasarkan statistic, sarjana putra daerah Batak menempati ranking pertama (tulisan di harian Kompas tahun 2000-an, mohon minta literature ke Kompas).

Saya bertanya kepada diri saya sendiri, selama ini konstribusi yang paling yang nyata dari para kalangan intelek dan dengan kondisi ekonomi yang mapan, where does it goes to?

Pak Luhut Panjaitan adalah pahlawan buat para orang tua yang tidak mampu, di bawah garis kemiskinan. Anak anak dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata dirangkul dan dibina melalui sekolah yang didirikan di Tanah Batak.

Salut buat pak Luhut, profesi bapak adalah “Pelayan Tuhan”, yang tidak ada bedanya dengan seorang Nommensen yang datang ke tanah Batak.

“Masih adakah a dedicated person? Who’s next? I hope that I can get the answer soon!” [www.blogberita.com]

CATATAN BLOG BERITA:

Sedikit melengkapi data pada artikel lae Holben Sinaga, tokoh Batak pertama yang membangun sekolah unggulan di Tanah Batak bukanlah Letjen TNI Luhut Panjaitan, melainkan Letjen TNI TB Silalahi; yaitu SMA Plus Yayasan Soposurung di Balige.

Bagiku pribadi, terlepas dari kelemahan mereka dalam hal lain, kedua tokoh ini, Luhut dan TB, adalah perantau Batak yang benar-benar peduli pada pembangunan pendidikan di kampung halamannya.

Aku sangat tertarik dengan pendapat lae soal kebiasaan orang Batak membangun tugu. Benar memang, tidak sedikit orang kita Batak yang bangga, bahkan cenderung pamer, membangun makam orangtua atau tugu kakeknya sampai menghabiskan uang puluhan juta, sementara pinomparna [saudara mereka yang lain] masih banyak yang hidup susah dan perlu dibantu.

Artikel terbaru dalam diaryku baca di sini.

 


  1. Maridup Hutauruk

    Pembangunan tugu adalah sama dengan membangun identitas. jadi perlu juga dilakukan oleh kelompok marga-marga Batak. Kemiskinan adalah dilema kehidupan Bangsa Batak pada masa sekarang ini. Kenapa bisa terjadi pembangunan tugu di bonapasogit bagi marga-marga sementara pada saat yang bersamaan masyarakat bonapasogit tersemat gelar dibawah garis kemiskinan, tentu kedua hal adalah topik bahasan positip yang dapat memicu persatuan dan kesatuan untuk menunjukkan identitas Batak yang dahulu kala dikenal sebagai Bangsa Batak tetapi sekarang sudah tergilas menjadi sebutan puak atau suku.

    Semasa Bangsa Batak tertutup rapat dari dunia luar selama belasan ribu tahun, masyarakatnya hidup makmur sentosa rohani dan jasmani. Bangsa Batak khususnya di kisaran tanah suci leluhur yang ’splendid isolation’ terpelihara kultur+adat istiadat+agama Mulajadi’ dan memang survive menjadi bangsa yang paling unggul dalam menjaga kesuciannya. Bangsa Batak yang berada dipesisir membentuk kerajaan-kerajaan yang menjadi proteksi kesucian tanah leluhur tanpa pernah tersentuh oleh pengaruh luar. Hubungan luar dengan tanah suci leluhur hanya dilakukan oleh masyarakat Bangsa Batak pesisir dengan masyarakat Bangsa Batak leluhur.

    Perjalan waktu singkat mencatat sejarah bahwa Bangsa Batak leluhur tidak dapat lagi dipertahankan kesuciannya oleh Bangsa Batak pesisir karena gencarnya intervensi luar melalui perdagangan bahan-bahan logam (oricalcum, tin, gold) dan kemenyan – kayu wewangian – rempah2. maka masuklah Cola ke pesisir Barus, Padang Lawas. Masuk para petualang cina, masuk pula portugis, kemudian masuk Belanda, yang semuanya berorientasi perdagangan. Pada masa VOC, tanah leluhur masih ’splendid isolation’ tetapi faham muslim dengan mahjab hambali mulai memaksakan ajaran dengan pedang yang dimulai membinasakan daerah minang. Expansi berlangsung ke tanah leluhur Bansa Batak yang mengislamkan benteng Batak di selatan maka sampailah kepada pemusnahan Bangsa Batak leluhur oleh Paderi yang dilakukan oleh benteng batak sendiri dari daerah selatan.

    Oleh karena perang saudara ini, maka missionaris mendapat ‘blessing in disguise’ dan jadilah Nomensen menjadi apostel di tanah leluhur Bangsa Batak dan dan splendid isolation tertembus dalam ketidak berdayaan. Kultur runtuh, adat istiadat porakporanda, agama Mulajadi punah, segala sumber ilmu pengetahuan Bangsa Batak dikuras habis menjadi rantai yang hilang antara generasi sebelum perang saudara dengan generasi orang moderen Bangsa Batak di jaman hatoban sekarang.

    Pendidikan jaman dahulu sudah sedemikian canggihnya sehingga puluhan ribu judul transkrip ada beredar di masyarakat Bangsa Batak pada masa itu walaupun pengenyam pendidikan itu terbatas kepada yang disebut ‘datu’. Datu dalam konteks ‘pangihutan’ sama fungsinya dengan para nabi di jaman Abraham, Ishak, Yakub, Daud, Sulaiman, yaitu orang pintar sebagai penghubung dengan pencipta Mulajadi Nabolon. Kalau tak percaya baca saja dulu riwayat mereka.

    Puluhan ribu transkrip dibumihangus dimasa Paderi. Ribuan transkrip dikuras Van der Tuuk dan orang2 bule lainnya seperti Moligliani, dll. Ribuan lagi diambil oleh para missionaris. Masuk Nomensen bahkan dengan sukarela masyarakat Bangsa Batak membakar yang namanya lak-lak. Mengapa transkrip ini dikuras habis oleh bangsa asing tak lain karena sebagai sumber segala ilmu yi: kedokteran, arsitektur, perbintangan, pertanian, psychology, hukum, sastra, supranatural, dan banyak ilmu lainnya. Kemerdekaan membuat bangsa ini terlupa akan keberadaannya dahulu dan generasi selanjutnya terpaksa membangun budayanya dari nol lagi dibawah pengawasan yang sebetulnya jauh dibawah derajat budayanya terdahulu.

    Norma-norma yang mengungkungnya menjadi katak dibawah tempurung adalah agama, negaranya, pergaulan budaya luarnya dan terjadilah diskriminasi administrasi negara padahal masyarakat Bangsa Batak adalah penduduk negara yang paling asli karena bisa dirunut bibit-bebet-bobotnya sampai 20 generasi kebelakang, suku mana yang bisa begini? tak ada itu. Urutan generasi ini bahkan sedemikian suci-murninya sehingga tarombo bangsa jahudi sanapun menjadi begitu kotornya untuk standard bibit-bebet-bobot. Anda tak percaya? baca saja buku sucimu.

    Dr.Fritz Bode si datu Jerman mencipta Bodrex dengan segala variannya adalah dari buku pintar Batak tersebut. Maka Carilah identitasmu itu. Pembangunan tugu adalah menunjuk identitas secara kelompok dan itu baik karena coba bayangkan untuk merangkum raja-raja dari berbagai klan marga tentu perlu kerja juru selamat yang diutus oleh Mulajadi Nabolon. Kemiskinan adalah problema semua etnis (marga), (batak itu adalah Bangsa). Kerja TB Silalahi dan Luhut Panjaitan adalah mencoba menjembatani problema Bangsa Batak yang terputus dari keilmuannya terdahulu.

    Apabila semua etnis Batak bisa menunjukkan identitas yang positip untuk membangun etnisnya ya mengapa tidak…. termasuk membangun tugu, tapi jangan jatuhkan tuduhan pembangunan tugu menjadi beban satu-satu marga untuk menyelesaikan problema bangsa, ya kita sama-samalah memikirkannya. Pertanyaannya, apakah para raja-raja ini mambu dirangkum untuk menunjukkan identitas Bangsa Batak yang sudah hilang itu? Eagerly waiting for an answer, come on men, let’s go do it now. MARIDUP HUTAURUK

  2. Farida Simanjuntak

    Terkadang orang hanya mau saling pamer gengsi dengan membuat makam yang luar biasa mewah dan mahal. Padahal kalau dipikir-pikir, seiring berjalannya waktu semua itu akan pudar. Walau bagi sebagian orang itu sebagai lambang penghormatannya bagi orang tua atau leluhur yang sudah meninggal. Tapi apakah, mereka yang sudah meninggal masih bisa menikmatinya ?
    Hal yang sudah dibuat oleh Bapak Luhut Panjaitan dan Bapak TB Silalahi tidak akan pernah habis. Malah akan semakin melahirkan manusia-manusia yang handal dan sangat membantu bagi keluarga kurang mampu tapi anaknya memiliki potensi dan cerdas.
    Semoga akan semakin banyak orang-orang yang memiliki kelebihan secara materi tergerak hatinya untuk membangun dan membantu halak hita bangso batak di tano hatubuan an.
    Mungkin, sudah saatnya segala gengsi dihilangkan….

  3. qnewt

    inspiratif.

  4. alna65

    kita realistis saja lae, bukan bukan orang BATAK saja yang mempunyai kebiasaan begitu? bagaimana dengan makam2 raja di Jawa, istri presiden, presiden Marcos, Soekarno, mausoleum Mao Zedong di Cina, Piramida firaun di Mesir, Taj mahal di India dan lainnya.

    Itu semua makam2, Jadi tidak usahlah masalah makam diperdebatkan karena belum ada makam2 orang Batak masuk Guiness Book of Record atau menjadi tujuh keajiban dunnia.

    Mungkin yang menjadi concern kita adalah pemerataan kesempatan pendidikan dan kesejahteraan buat orang Batak di Tano Batak, sehingga tidak kelihatan jurang dengan perantau2 yang berhasil diluat nadao termasuk orang Batak diluar negeri.

    Tentu ada jalannya..mungkin lewat beasiswa, yayasan pendidikan, dll. termasuk yang didirikan oleh bapak Silalahi dan Panjaitan, dan menurut info yang saya baca selama ini, itu bukan dari dana pribadi saja..termasuk program pemerintah lho!

  5. miduk lumban gaol

    Horas
    Sebaiknya website ini dilengkapi dengan bidang- bidang kehidupan yang lain, misalnya tentang bisnis atau peluang bisnis serta lowongan- lowongan kerja di daerah batak.Thx

    JARAR SIAHAAN: terima kasih idemu, lae.

  6. ridwan simanullang

    Masa anak-anak dan remaja (sampai lulus SMA) yang saya jalani di Humbang kayaknya tidak merasakan adanya kaitan makam tersebut dengan rumah reot yang disebutkan.

    Makam tersebut mungkin ada nilai positifnya. Setahu saya kalau di Humbang, makam secara umum masih memakai kuburan biasa (langsung ke tanah).

    Mertua saya adalah orang Samosir (Lumban suhi-suhi) dan saya baru pernah satu kali ke pulau samosir dan memang saya melihat bahwa hampir semua keluarga di sana memiliki makam yang bertingkat dan permanen.

    Menurut pemikiran saya bahwa hal tersebut punya latar belakang yang berbeda. Samosir, memang lebih baik memakai makam bertingkat dan permanen tersebut jika kita melihat luas lahan yang tersedia di sana. Bukankah makam tersebut dipakai banyak orang (kalau tidak bisa disebut puluhan). Yang aku dengar, lubang terbawah adalah utk tempat pembusukan mayat dan jika sudah penuh namun ada kerabat yang meninggal (tentunya masih satu keluarga) maka lubang terbawah yang diisi oleh mayat yang sudah tinggal tulang belulang akan dipindah ke lubang di atasnya disatukan dengan tulang belulang yang sudah lebih dahulu ada di sana, demikian seterusnya sampai makam tersebut penuh. Jadi, saya kira ini adalah pemikiran efisiensi lahan yang mungkin telah dipikirkan nenek moyang khususnya daerah Samosir yang boleh dibilang bahwa lahan tanah pertaniannya sangat terbatas. Coba bayangkan, jika makamnya bukan demikian, maka mungkin seperempat lahan di Samosir sudah menjadi kuburan.

    Dan berbeda dengan Humbang, yang boleh dikatakan bahwa lahannya jauh lebih luas dari pulau Samosir maka bentuk makam yang lebih tepat saat ini adalah dengan system horinzontal (satu lubang satu mayat). Walaupun mungkin beberapa telah ada makam bentuk bertingkat dan permanen. Dan barangkali untuk waktu mendatang, makam bertingkat tersebut akan lebih tepat mengingat pertumbuhan penduduk dan lahan yang tetap.

    Kembali ke makam dan rumah reot… Saya kira kita juga harus mengakui bahwa kemiskinan yang terjadi di Bona pasogit (dalam hal ini saya hanya bisa katakan untuk Humbang, karena saya lahir dan besar disana) juga disumbang oleh pola pikir yang ada di bona pasogit. Saya juga pernah punya pengalaman pribadi di mana ada anggapan masyarakat bahwa tanahnya terlalu tandus untuk bercocok tanam sebagai alasan untuk kemalasan bekerja. Selama 3 tahun masa SMA, saya berusaha menggerakkan adik-adik, dan Tulang (yang seumuran denganku) dan yang akhirnya didukung penuh oleh ortuku untuk ‘mangarimba’ (bahasa indonesianya apa ya) sekitar 1 hektar lahan ‘tarulang’ yang dipenuhi ‘aramonting’ ,’arsam’, dan ‘hau silom’ untuk kemudian ditanami dengan kopi, cabe, dan sayur. Pekerjaan tersebut bukan dengan traktor tetapi benar-benar dengan ‘cangkul’.

    Untuk tahun pertama memang sangat sedikit hasil bahkan tidak jarang banyak tanaman kopi, cabe atau sayur yang ‘kariting’. Pupuk pada saat itu cukup mahal disamping modal memang tidak ada, maka kami ‘magarambas’ semak belukar untuk dijadikan pupuk dan ditambah dengan ‘taru-taru’ bercampur tahi babi yang dibawa dari perkampungan. Akhirnya…lahan tersebut menjadi subur dan saya dengar akhir-akhir ini sudah banyak teman kampung yang mengelola lahan ‘tarulang’nya dan bahkan saat ini lahan tersebut pun sudah dapat dipakai untuk menanam tomat. Bukan mengatakan bahwa saya termasuk pelopornya, tapi yang saya mau bilang adalah bahwa masih banyak pola pikir yang menghambat di kampungku sana, cukup banyak petani yang berdiskusi tentang tata cara kelola negara, perang nuklir, kursi menteri, dll, dll.

    Dan jangan kaget, sebenarnya saat ini pun sangat banyak lahan kosong yang dibiarkan terlantar di bona pasogit sana (dalam hal ini saya hanya berani bicara Humbang). Adakah yang berminat untuk mengubah pola pikir pola pikir yang lain yang mungkin menghambat kemajuan tersebut.

    Eh…rumah reot..lupa lagi.
    Percayalah…Anda bantu pun pemilik rumah reot tersebut untuk membangun rumahnya menjadi gedung permanen, kemiskinan tidak akan hilang dari Bona Pasogit selama kemalasan masih ada dan pola pikir belum memungkinkan untuk maju.

    Kita boleh dengan sangat bangga sebagai orang Batak, namun kita juga harus tetap mau belajar kepada orang lain. Janganlah seperti orang bilang “Namalo maol mangajari, Naoto maol siajaran”. Orangnya pintar tapi tak mau membagi ilmunya, orang bodoh tetapi tidak mau untuk belajar.

    Oh ya satu lagi, saking susahnya mengubah pola pikir ini. Kalau tidak salah, saya pernah dengar bahwa pak TB pernah menyarankan agar rumah-rumah yang ada di tepian danau di pulau Samosir agar diubah posisinya menjadi menghadap pantai (saya sendiri sewaktu ke pulau Samosir memang melihat banyak rumah yang membelakangi pantai danau toba). Mungkin pak TB pasti ada alasan untuk mengusulkan tersebut. Kenyataannya, sudah berapa banyak yang rumah yang menghadap pantai?

    Jadi, usul saya adalah mungkin rekan-rekan bisa membantu bagaimana caranya mengubah pola pikir (pola pikir pola pikir yang tidak membuat kemajuan) para ‘tondong’ kita yang masih tinggal di Bona Pasogit (ah..yang tidak tinggal di Bona Pasogit pun mungkin banyak juga) dengan cara tidak menggurui mereka. Bantuan finansial bukan satu-satunya solusi walaupun bantuan finansial memang tetap dibutuhkan.

    Barangkali sudah saatnya para jurnalis memberitakan orang-orang di Bona Pasogit (bukan perantau, karena pemberitaan untuk perantau sudah banyak kayaknya) yang punya karya mendobrak, memelopori, kemajuan di daerahnya masing-masing. Mungkin sudah saatnya pemerintah meng-apresiasi mereka dengan penghargaan setingkat ‘kalpataru’ sehingga makin banyak orang lain (di bona pasogit) yang terinspirasi menjadi pionir-pionir di daerahnya masing-masing.

    Kayak Lae Jarar yang punya blog ini pun mestinya sudah harus diapresiasi untuk kategori ‘Blogger yang berdomisili di Bona pasogit’. Karena apa, Lae ini termasuk orang yang berkarya dan pionir dalam bidangnya di Bona Pasogit melalui media internet dalam bentuk blog.

    Hatai hata tambaan dan mohon maaf jika tidak mewakili pengalaman para Netters yang lahir dan sempat menghabiskan masa remaja di Bona Pasogit. Komentar tersebut hanya bersifat pemikiran dan pengalaman pribadi saja.

  7. architect_singapore

    Monumen, makam, tugu—-artinya—sebagai pengingat, penanda …. perjalanan sebuah peradaban sebuah bangsa. Dan itu akan bisa menjadi cirri khas dan menjadi jati diri sebuah bangsa.

    Bangsa Yunani, Mesir, dan Romawi Kuno terkenal peradabannya karena bentuk Arsitektural Kotanya, yang MONUMENTAL. Baik Makam dan gedung pemerintahannya. Suku Aztex dan bangsa Maya tekenal maju peradabannya coz ditemukan sisa bangunan yang monumental dan bersejarah yang menerangkan bahwa mereka sudah sangat maju pada zamannya.

    Orang Amrik sana membangun makam/monument –Ground Zero—untuk mengenang peristiwa 11 sept 2001 .

    Pengaruh Budda terhadap perjalanan panjang bangsa Indonesia dapat kita baca dari sebuah Monumen yang terletak di Magelang Jawa Tengah…..Tidak terbayangkan apa bila sebuah bangsa tidak mempunyai pertanda yang menandakan bangsa itu sebuah bangsa yang besar.

    Ibu kota Sriwijaya sangat sulit dilacak karena tidak ada pertanda yang memeperkuat keberadaan kota itu terletaak di sebelah mananya sungai Musi. Sedih bukannn!!!,,,,,.

    Kalo kita lebih jeli menilai pendirian sekolah TB SIlalahi maupun Pak Luhut ……selain memajukan orang batak, itu juga berfungsi sebagai Monumen secara tidak langsung kepada kedua sang maestro. Jadi berfungsi sebagai Tugu abstrak –sejarah kehidpuan beliau- , dalam artian bukan dari batu atau semen,,,, yang dikasih nama, tempat lahir dan hari meninggal…..

    Soekarno pernah membubuhi judul pidatonya dengan JAS MERAH (JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH

    Soekarno berujar JAS MERAH, jangan sekali-kali kita melupakan sejarah. itu artinya:
    mengerti dan memahami sejarah (entah itu momen, monumen maupun tokoh) sebagai bagian dari jati diri bangsa dan jangan sekali-kali ‘mengencingi’ dan ‘menodai’ sejarah, sebab bisa jadi sejarah akan balik ‘mengencingi’ dan ‘menodai’ kita.

    JADI PENDIRIAN MAKAM ATAU MONUMEN UNTUK LELUHUR PENTING UNTUK MENUNNJUKKAN BANGSA BATAK SEBAGAI BANGSA YANG BESAR, DAN BEPERADABAN MAJU

  8. arles r-one

    buseet

  9. sopociis

    aku lebih tertarik soal Batak dikaitkan dengan kapitalisme. Ada tugu, lambang adat dan budaya itu, kerap dipahami sebagai properti pamer diri dan harta. ini masih bisa didebat, betulkah demikian?
    persoalan ini memang kompleks. batak dengan keluhuran budayanya sesungguhnya sangat rapuh. pilihan tb silalahi dan luhut panjaitan membangun sekolah, bisa jadi dalam rangka aktualisasi ‘arogansi’ juga, dengan cara elegan.
    sama dengan perantau batak yang jika pulang kampung patengtengtengan bawa mobil padahal disewa dari kota. Atau beli perhiasan sementara, lalu dijual lagi setelah pulang. atau coba renungkan pertanyaan ini, “Nga boha anakmu na di ranto i. Nga berhasil? Nga mamora ibana?” Itu kan pertanyaan kapitalis.
    sementara tugu, sebesar apa pun itu, taklah sampai miliaran. jadi kupikir kultur membangun tugu, tidak boleh begitu saja digugat sebagai sikap ‘tak membangun’. ada nilai-nilai luhur di sana. nah persoalannya, apakah nilai-nilai itu masih bisa dipahami secara murni?
    Itu aja dulu, ada yang mau membahas lebih lanjut?

  10. JoeGoeL

    andai saja luhut panjaitan dan TB silalahi tidak seorang jenderal

  11. Laura Roezz

    Sebenarnya maksud nya Pak Holben Sinaga ini cukup luas. Makam hanya singgungan kecil, tapi kenapa ribut dengan makam saja ? Atau karena judul artikel ini kah ? Jangan2 judul artikel itu kerjaan Pak Jarar yang memang ahli membuat orang panas dingin )

    Horas Pak Holben
    Saya mengerti maksud bapak secara keseluruhan.
    Tragis memang. Halak kita terlalu banyak yang sipanggaron. Semoga perubahan itu semakin cepat terjadi di Bonapasogit. Tenang saja, ada wartawan pemberani yang tinggal di Balige….. ) Itu sangat baik. Karena tulisan bisa mempengaruhi pikiran seseorang. Semakin baik atau buruk, itu tergantung dari tulisan yang dibacanya. Horas

  12. Nilam Bhaiduri

    Aku membuka URL ini berdasarkan rekomendasi dari Pak Barry (www.jawaban.blogspot.com), salah satu blog yang sering aku kunjungi. Kebetulan aku sudah membaca semua archive di blog ini. Sejak saat itu setiap hari aku mengunjungi blog ini. Aku suka artikel2-nya, baik yang ditulis oleh Pak Jarar maupun oleh yg lainnya. Dialog agamanya universal, perlu untuk dibaca oleh siapa saja, agar kita terus belajar untuk menghargai & menerima setiap perbedaan. Comment2-nya juga tak kalah menarik.

    Intinya, membaca blog ini memberi aku khasanah baru ttg Suku Batak, banyak hal yang aku pelajari disini, mengingat aku bukan berasal dari Suku Batak, aku 100% Suku Jawa -bukan pejabat- yg sekarang menuntut ilmu & bekerja di Tangerang-Banten. Keseharianku banyak dikelilingi orang batak, teman baikku orang batak -dari Pematangsiantar-, teman kuliahku pun banyak yang orang Batak. Dengan membaca blog ini membantuku memahami & menerima perbedaan karakteristik di antara aku & teman2-ku itu. Meskipun blog ini batak banget, namun aku menganggap blog ini layak juga dibaca sama yang bukan batak, betul ga ya?. Ga ada eksklusifisme disini.

    Barusan aku baca artikel yang satu ini. Trus rasanya agak gimannnaaa gitu pas baca yang ini –> “Dilema!!!
    Generasi Muda Batak bangunlah! Putra daerah Batak dengan tingkat inteligency di atas rata-rata suku lain. Berdasarkan statistic, sarjana putra daerah Batak menempati ranking pertama (tulisan di harian Kompas tahun 2000-an, mohon minta literature ke Kompas).”

    Kemudian hati kecilku berkata, “Hehehehe, udah ga boleh ngerasa gimana-gimana. Ga ada salahnya khan nulis gitu, itu khan kutipan dari Kompas. Orang bebas nulis apa, asal ga mengandung SARA. Jadi, terima setiap perbedaan dengan hati & pikiran terbuka, tambahi dengan senyum. Indah khan jadinya = ). Semua juga senang, ga ada yang berselisih, ga ada yang berantem. Senyum terrrruuusss…. = ). Ga ada salahnya juga mengakui kelebihan suku lain, malah harus kita jadikan motivasi diri untuk maju”. Contohnya, teman baikku, yang dari Pematangsiantar itu, pinternya minta ampun. Dan aku banyak belajar & sharing dgn dia.

    Kita semua khan sama-sama orang Indonesia, jadi kuanggap kita semua teman. Dan teman ga boleh berantem, ya khan = )

    Salam kenal untuk semuanya….. = )

    JARAR SIAHAAN: salam kembali, nilam. benar katamu, tidak ada eksklusivisme di blogku ini. meskipun aku orang batak, meskipun aku muslim, tapi blog ini “tidak memihak” batak maupun islam. blogku cuma memihak pada kebaikan — termasuk kebaikan dari batak, suku bali, jawa, dll, serta kebaikan dari islam, kristen, buddha, hindu, dll. oh ya, lae barry adalah bloger yang baik, dia termasuk pembaca blog ini yang pertama, sejak akhir maret 2007.

  13. merdi sihombing

    horas bah laeku….salam untk orang rumahmu yg lagi disebelahmu.bilangi…
    jangan suka marah2……kapan lagi kita makan saksang spt di Toba Tabo
    waktu itu.

  14. gelleng

    Horasssssssssss…..beberapa hari yang lalu blog ini seperti mati suri,sepi dan mencekam.Tatkala saudara Sinaga mulai menggoreskan mata penanya geliatnya terasa lagi, walaupun belum semuanya pengkoment kembali.Untuk saya pribadi dua sosok jendral diatas adalah manusia yang benar benar cinta akan bonapasogitnya,mereka dengan tulus melakukan seperti kata pepatah Jangan kasih ikan,tetapi berikanlah pancing.Suatu kala yg berlalu sepasang suami istri melakukan perjalanan menuju univesitas Harvard yg kesohor itu,pagi yg masih dingin menggigil itu,mereka ingin bertemu dengan rektor universitas tersebut,tetapi karena mereka tidak membuat suatu appointmen terlebih dahulu,mereka harus rela menunggu saat kapan ada waktu luang dari sang rektor.Tibalah saatnya mereka bertemu dengan sang rektor,setelah mereka duduk kemudian sang rektor menanyakan akan tujuan mereka kesana,sepasang suami istri ini mengungkapkan keinginan mereka,yaitu ingin menyumbangkan sejumlah uang,tetapi dengan syarat harus membuatkan monumen anak mereka yg mati dan merupakan alumni universitas tersebut.Sang rektor terperanjat dan menjawab harvard adalah campus bukan tempat makam,bagaimana kalau semua alumni yg meninggal melakukan hal demikian,dimana lagi tempat belajar ujaarnya.Dengan hati gundah gulana dan rasa kecewa karena permintaan mereka tidak diterima,suami istri ini pulang ke California dengan uangnya yg begitu besar jumlahnya dan merekapun mendirikan sebuah universitas Barkley yang juga kesohor itu.Bagiku ini adalah suatu monumen yg hidup dan tak akan pernah punah sepanjang masa.Songon i majo,bah…

  15. Jekson Sinaga

    Membangun Tugu menurut ku tidak salah, yang salah sering karena untuk membangun Tugu itu, keluarga yang kurang mampu juga ikut “memaksakan diri” sampai harus berhutang. Tugu biasanya dibangun na saompu(yang satu garis keturunan), berarti baik dia mampu(kaya) atau miskin harus ikut ambil bagian dalam pembangunan itu. Dan karna orang Batak itu harga dirinya sangat tinggi, maka marutang pe jadi ma asal ma tarida goar i(Berhutang pun jadilah asal namanya ikut disebutkan). Mungkin hal ini juga di picu karena keluarga yang kaya yang dari kota(perantauan) biasanya suka” Pamer”. Dan biasanya para perantau memang lebih gampang datang dan mengumpulkan duitnya untuk membangun tugu dari pada untuk membangun jalan atau fasilitas umum lain yang lebih berguna bagi masyarakat.

    Pak TB Silalahi dan Pak Luhut Panjaitan membangun sekolah, mungkin seperti sopociis katakan bisa jadi dalam rangka aktualisasi ‘arogansi’, dengan cara elegan. tapi setidaknya hal itu masih berguna bagi banyak orang. Juga kita tahu pendidikan adalah salah satu cara untuk memberantas kemiskinan. Berarti usaha Pak TB Silalahi dan Pak Luhut Panjaitan dalam mendirikan sekolah bisa membantu memajukan daerah Batak.
    tapi ada satu hal yang aku herankan, yang masuk di PI-Del (sekolah yang Pak Luhut dirikan) malah lebih banyak yang asal sekolahnya dari Medan dibandingkan dari daerah Tobasa,Samosir, Taput, Humbahas atau kabuten “Toba” lainnya. Mungkin karena letaknya yang di pelosok, jadi banyak “halak hita” yang merasa ngapain sekolah di kampung-kampung. Atau ini juga mungkin karena pengaruh pemikiran bahwa kalo sudah di kota sekolah baru maju ga tahu juga. Jadi sepertinya kesempatan yang diberikan Pak Luhut Panjaitan tidak terlalu di gunakan oleh Putra Batak yang ada di daerah sekitar sekolah itu didirikan.
    Tapi yang pasti saya pribadi berterima kasih pada Pak Luhut karena saya lulusan dari Del. Dan seperti Uda Holben katakan, mungkin jika Pak Luhut tidak mendirikan sekolah itu saya bekerja hanya sebagai buruh kasar, karean secara finansial keluarga ku memang tidak sanggup untuk membiayaiku kuliah.

    Horas

  16. Harry Simbolon

    Konsep Marsipature Huta Nabe yang dicanangkan Gubernur terdahulu (alm) hanya berada di tataran konsep saja. Aplikasinya hampir nihil sama sekali, meski masih ada perantau yang sedikit peduli dengan hutanya.

    Sangat banyak orang batak yang sukses di perantauan, namun lupa dan tidak melirik ke belakang.

    Pembangunan pabrik mobil Ford terbesar di Asia yang akan segera di realisasikan di sumut sungguh menyindir saya pribadi. kenapa orang luar yang lebih perduli dibanding kita sendiri.

    Terimkasih pak panjaitan dan pak silalahi yang bisa menjadi inspirator bagi rekan-rekan perantau untuk perduli dengan kampung halaman.

    Sebenarnya kita harus bangga dengan kampung kita sendiri. data statistik menunjukkan bahwa tingkat pendidikan Sarjana (S1) tertinggi di Indonesia berada di Kabupaten Tapanuli utara ( Sebelum pemekaran). yang mungkin sekarang telah sukses di bidang kerjanya masing2. namun kenapa masih tetap miskin.. TANYA KENAPA???

    anganku kedepan semoga segera menjadi kenyataan:
    – Toba -> Pusat Tujuan wisata Indonesia
    – Bank Batak
    – Tapanuli Air
    – Sibolga : Pelabuhan laut internasional
    – dll

    Semoga tidak hanya sekedar mimpi.

  17. Panurat22

    Soal pembangunan tugu makam yang mungkin menelan biaya ratusan juta, sebenarnya tidaklah masalah semasih itu bukan untuk menunjukkan kesombongan diri.

    Soal masih adanya saudara kita (suku Batak) dibawah garis kemiskinan, itu sudah pernah “diteropong” sekitar tahun 80-an. Bahkan dibuat jadi tulisan berseri oleh Harian Umum Suara Pembaruan (Sinar Harapan) dengan judul (kalo gak salah ingat): “Tapanuli Peta Kemiskinan”.

    Siapapun pasti miris melihat kenyataan ini mengingat orang Batak terkenal dengan kesuksesan dan kesuksesannya. Saya hanya mau mengamini tulisan artikel di atas, bahwa kalau orang Batak sudah sukses di rantau jarang yang punya perhatian untuk lebih meningkatkan taraf hidup saudaranya di kampung sana.

    Saya pernah begitu sedihnya melihat saudaraku Batak, seoran pengacara terkenal, dengan arogannya membelikan baju seharga puluhan juta rupiah untuk seorang penyanyi wanita – kalo tidak salah ingat, waktu itu dalam rangka lelang pakaian almarhum Lady Di. Kontan saya bergumam saat itu: “Kok sombong dan norak kali kawan ini. Apakah kalau salah seorang saudaranya di kampung sana minta puluhan juta ke dia untuk modal usaha, apa dia mau memberikan?” Hmmm…. [moga-moga dalam diri “kawan” si pengacara itu ada kesetaraan “kasih” – pemerataan dalam menolong orang lain]. Betul kata seorang komentator di atas, masih banyak halak hita yang SIPANGGARON, sehigga terkesan “Tukul” banget alias katrok…

  18. Holben Sinaga

    @Maridup Hutauruk
    terimakasih atas ulasannya yang panjaggg sekali. Saya seperti membaca story board perjalanan sejarah batak. Mana yang lebih penting dan lebih berguna…. makam (benda mati ) atau memperbaiki tingkat kecerdasan bangsa batak ? yang pasti semua pembaca pasti mendahulukan sekolah anak anaknya dan bukan makam !

    @Farida Simanjuntak
    Terimakasih Ito. Memang benar..sudah saatnya embel embel hasangapon dan panggaron di kurangi atau dikikis habis. Slogan sekarang ini kita ganti dengan “Benahi Pendidikan Generasi Muda Batak”.

    @Alna 65
    Makasih Ito,
    Mao Zedong atau Gandhi adalah pahlawan di setiap negaranya. Dan dihormati kepala negara di seluruh dunia. Memang budaya Batak memberikan penghormatan kepada leluhur terlalu berlebihan. “Time consuming dan Money consuming”. Sudah saatnya para tokoh agama, budayawan, politisi dan tokoh masyarakat batak memberikan konstribusi dalam memperbaiki cara berpikir yang pragmatis dan ekonomis sehingga secara sporadis dapat terlaksana secara systematis.

    Kita masih berputar putar masalah adat yang nota bene bisa dibuat “in a simple way” tapi karena karakter batak yang frontal dan vokal sehingga setiap acara berlomba lomba tampil meskipun kadang kadang yang di ributkan tidak ada value dan only time consuming.

    @Ridwan Simanullang
    Terima kasih dengan cerita pengalaman di huta.
    Lae sudah menjadi salah satu pelopor. Jika ada satu orang disetiap kampung di tanah Batak yang seperti lae ridwan, maka tidak akan ada lagi rumah reot dan yang hidup dibawah garis kemiskinan. Perantau dengan pola pikir yang sudah lebih maju harus bergandengan tangan membenahi dan merubah pola pikir mereka. Pamer dan arogansi sudah tidak zamannya. Horas lae.

    @Architect_Singapore
    Ground Zero – adalah monument buat mengenang para korban dari serangan teroris. Global effect !. setiap negara memiliki monumen sebagai penghormatan kepada orang2 besar yang memberikan konstribusi kepada warganya ataupun kepada dunia. Kita Batak – budaya nya adalah menghormati leluhur dengan cara yang pongah dan berlebihan. Saya tidak menentang buat makam tapi makam yang dibangun dengan logic dari segi biaya dan time consuming.

    Ada firman Tuhan saya kutip, yg mengatakan “orang mati tidak akan tau dimana dia akan dikuburkan” Man soul is belong to God. Lebih berdosa tidak mengurus orang yang hidup dalam kemiskinan dari pada mengurus orang yang sudah tinggal tulang belulang. Kalau dari segi efisiensi tempat dan lahan memang itu sangat benar tapi tidak benar efisien dalam hal money dan time consuming dalam mendirikan tugu tersebut karena lebih berguna dan bermanfaat apabila money dan time consuming di gunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat disekitarnya.

    @Sopociis
    Maaf, statement anda dibawah ini sangat tidak benar. Arogansi biasanya dikonotasikan negative attitude !. Anda salah besar kalau mengatakan mereka meng aktualisasikan arogansinya dengan arogan. You have picked up the wrong words!

    Sopociis:
    pilihan tb silalahi dan luhut panjaitan membangun sekolah, bisa jadi dalam rangka aktualisasi ‘arogansi’ juga, dengan cara elegan.

    @Gelleng
    Bravo Bro ! What an excellent story !

    @Semua Responden dan Lae Jarar
    Terimakasih atas komentar dan ulasannya. Maaf tidak tersebutkan satu persatu.

    Untuk mengakhiri tulisan saya ini, Izinkan saya mengucapkan:
    Happy Eid El-Fitr and Eid Mubarak to everyone.
    Masih belum basi kan, he-he-he.
    Horasma di hita! Gabe Jala Horas! Olop Olop Olop!

  19. Raja Na Pogos

    Horas Lae Jarar, Salut buat lae bah.Kalau aku melihat sudah saatnya lae mencetak blog ini dalam bentuk Daily Newspaper-jadi setiap orang bisa mendapatkan informasinya- bukan hanya sekelompok orang yang beruntung bisa acces ke blog ini. Karena berita-berita yang lae turunkan di blog ini sangat tepat sasaran dan membangun. Kapan Lae, ditunggu beritanya. Kalau lae perlu pemred,redaktur, editor dan sebagainya – pasti banyak antri pelamar baik dari daerah,maupun yang ada di luar negeri. Jadi paling tidak yang ada di perantauan bisa pulang ke bona pasogit untuk sama-sama bahu membahu membangun tanah batak.

    Inilah moment yang tepat untuk semua para perantau yang sudah mapan di perantauan bisa balik ke kampung masing-masing untuk mewujudkan semua master plan yang sangat bagus -seperti yang banyak di utarakan para teman-teman di blog ini. Sekiranya semua ide ini di plenokan dan di ikuti dengan implementasinya – aku yakin Tanah Batak akan berubah. Jadi Lae Jarar – sebagai “mahluk aneh” yang ber basis di bona pasogit bisa sebagai inspirator untuk semua ini, gimana lae – masuk akal nya ini. (???)

    JARAR SIAHAAN: ) ide lae tentu bagus. sangat bagus malah. tapi aku akan memilih tetap menulis via blog. dan aku belum kepikiran untuk “join” dengan pihak lain. sesuai latar belakang mengapa aku bikin blog setelah mengundurkan diri sebagai wartawan suratkabar, aku ngeblog supaya bisa menulis dengan merdeka. lae pasti paham, bila blog ini “dikonversi” bentuknya menjadi media cetak — yang membutuhkan redaktur, reporter, pemodal, bidang iklan, pemasaran, dll — maka aku tidak akan bisa lagi menulis sesuka-hatiku. jadi untuk saat ini kesimpulanku adalah, aku tidak ingin blog ini dikerjakan pihak lain selain aku sendiri. karena aku tidak ingin melepaskan lagi kemerdekaan yang sudah kurasakan saat ini. meskipun begitu, tetap kuucapkan banyak terima kasih atas perhatian dan ide lae untuk blogku. salam hangat.

  20. ridwan simanullang

    Penolong dan yang ditolong harus mempunyai niat mau menolong dan mau ditolong. Suatu ketika pada tahun 1986, di suatu desa di Humbang sana, entah atas inisiatif siapa, diberikanlah bantuan tenaga ahli penyuluh pertanian. Tetapi apa yang terjadi dan apa respon masyarakat? Kira-kira beginilah jawaban masyarakat sekitar ‘Ai dia ma pabege-bege on angka hata ni i, pintor sadia godang ma sira digugut i, naso diboto i do hita on nungga sian sihadakdanakon mangula dihutanta on’.

    Pada saat itu memang saya pun mengiyakan para pendapat orang tua tersebut karena saya memang dididik oleh lingkungan dengan pola pikir yang seperti hal tersebut.

    Semakin banyak melihat dan mendengar kampung orang, baik melihat langsung maupun melalui berita maka makin lama makin ‘kurimang-rimangi’ ternyata kampungku sana masih banyak pola pikir yang menghambat kemajuan.

    Jika memang para ‘natua-tua’ tersebut sudah punya pengalaman banyak, kenapa pola bertani dan bercocok tanam begitu-begitu saja. Kenapa tidak ada yang namanya ‘continuous improvement’ kenapa tidak ada kelompok petani yang berdiskusi tentang pertanian (tetapi tentang Peol otik eh..Politik..wow jangan tanya bisa satu hari satu malam.. dang marmukmus). Mereka mungkin lupa bahwa pengalaman panjang secara umur belum menjadi penentu. Bangsa (suku) lain selalu mau belajar dan belajar lagi untuk memperbaiki metode (misalkan pertanian) secara terus menerus. Kalau panen tahun ini mereka baru bisa sekian kaleng kopi per hektar, maka mereka akan tertantang dan berdiskusi untuk meningkatkan produktifitasnya menjadi sekian (lebih besar dari panen hari ini). Kampungku?, ‘amang oi tahe…dapot’ kopi ’saliter’ dan apalagi ’sakaleng’ sudahlah itu. sudah mantap itu ‘pasionan’.

    Terus keluar lagi kata ‘dang adong modal’. Apa iya? Terus kalau sudah dikasih modal sudah yakin berkembang? Apa iya kalau biaya membangun Tugu diberikan saja kepada masyarakat maka mereka akan maju?

    Saya pernah juga mencoba membantu saudara saya, dua orang anak muda yang lahir dan besar di bona pasogit, yang datang merantau ke jakarta dalam bentuk usaha 1 mobil angkot (karena memang mereka berminat dibidang tersebut dan sudah melakoninya dengan menyupiri angkot orang lain). Saya sudah menjelaskan panjang lebar, ‘uang pintor mabuk ho da lae, anggi, sabar mangula ulaon, boto lungun da anggia, laeku’, karena saya pun masih orang yang ‘mandasor’, aku coba bantu kalian daripada ‘manupiri’ angkot orang lain. Angkot ini bukan kuberikan menjadi milik kalian, tetapi kalau kalian ‘nunut’ menjalankannya, aku yakin 5 sampe 10 tahun lagi kalian sudah punya 1 angkot masing-masing dan modal angkot ini pun sudah kembali padaku (dan bahkan kutunjukkan simulasi perhitungannya).

    Sebulan, dua bulan, tiga bulan…masih kelihatan lancar. Makin lama makin tak jelas, mungkin dalam pikirannya, 5 tahun, 10 tahun? ‘leleng nai’, sudah mulai mabuk dia kan, sudah menjadi seperti kata orang ‘nungga lobi patokke-tokkehon sian angka tokke’ dan malah berpikiran curiga dengan menyebarkan berita-berita tak sedap kepada orang lain, katanya saya memanfaatkannya.

    Setelah 1 tahun 2 bulan, ah..sudahlah. Saya memutuskan jual sajalah angkot ini malah bikin pusing maksud hati mau membantu tapi malah dapat sebaliknya. Kutahankan belum mencicil rumah (masih mengontrak) agar tabunganku yang tidak seberapa ini bisa membeli angkot bekas untuk membantu saudara. Akhirnya kujuallah itu angkot, toh aku pun tak minat dan keahlian dibidang angkot-berangkot ini, mending kucicil rumahku saja. Karena kalau aku ada minat dan keahlian, kucarikan saja orang lain menjadi supirnya. Aku pun baru tahu, ternyata di dunia perangkotan Jakarta ‘nahumaliang’ untuk jadi super tembak pun orang berebut saking banyak tenaga kerjanya. Apalagi untuk menjadi supir batangan, wow…toke-toke angkot serasa tidak ada bandingnya sebagai
    orang yang punya lowongan kerja. Sesama supir yang sudah jadi supir batangan pun saling jelek menjelekkan di depan tokke itu agar tetap exist sebagai supir batangan.

    Itulah kenapa saya bilang penolong dan yang ditolong harus mempunyai niat mau menolong dan mau ditolong. Harus dua-duanya. Dan saya yakin dikampung kami sana pun (ah..di perantauan pun banyak juga) masih banyak pola pikir yang ‘tak mau ditolong’ (molo na olo disulangi…godang..godang hian). Ada orang yang berniat baik buat bona pasogit sana, kita bilang sipanggaron. Syukurlah masih ada ‘anak ni bangso’ itu yang bisa sipanggaron, daripada macam awak ini, apa yang mau dipanggarhon.

    Dan sekali lagi, saya kira tugu, makam dan kemiskinan tidak bisa langsung kita pertentangkan. Tugu tetap perlu, makam juga perlu, kemajuan sangat dibutuhkan. Tugu dan makam mungkin sangat dibela oleh orang-orang yang berorientasi akar budaya, seni, adat, dan yang sebidang dengannya. Harapan saya…Seandainya makin banyak ‘anak ni bangso i’ yang berminat dalam sipanggaronnya untuk membina atau memfasilitasi bentuk pembinaan terutama untuk bidang-bidang yang menjadi sumber-sumber utama penghasilan di bona pasogit sana, seperti pertanian, perikanan,dll. Lebih mantap lagi..kalau didukung oleh pemerintah lokal dengan menjadikannya sebagai program utama. Oh..Tuhan mauliate untukMu jadikanlah makin banyak sipanggaron yang mau membangun kampungku.

    Ah..tahe holan hata do sian iba, andigan ma iba boi gabe masuk tu level ni sipanggaron ate.
    Eh..tahe.. ngomong-omong ada nggak dari para netters ini yang mau bersedia ku-’panggar’ untuk membiayai membangun Tugu setinggi Monas dikampungku sana. Aku akan menjadi pendukung berat Anda, tapi..ya harus dikampungku ya. Biar Ada dulu landmark-nya kampungku itu..masa hanya ‘tusam’ saja..itu pun sudah ditebangi buat indorayon.

    NB : Kau ‘panggar’ setinggi langit pun orang yang dompetnya hanya berisi surat kaleng, sepeserpun tak akan ada yang keluar he..he..he..

    Mohon maaf kalau ada isi dari komentar tersebut di atas secara sengaja atau tidak sengaja menyinggung perasaan para netters karena komentar tersebut adalah murni hanya pengalaman dan pendapat pribadi saja.

  21. Jordan’s Mom

    Horas bapak H. Sinaga.

    Saya sependapat dengan pak Sinaga. Saya bisa digolongkan salah satu dari voice yang menyatakan hal tersebut sehingga sudah terlanjur dilabel “dang maradat”. Menurut saya, orang orang Batak yang merantau have the chance to be exposed to various thoughts, ideas dan opinions yang bisa shape their behaviors and way of thinking. Tidak sedikit orang Batak dirantau yang very open minded. Sementara orang Batak yang hanya exposed to Batak Culture akan mempertahankan culture tersebut dan memandang orang orang yang open minded sebagai “dang maradat”. Hasilnya ya, clash between the traditional and the modern Bataks.

    Kalau saya berkunjung ke Balige, saya merasa sebagai minority. Influence adat sangat kuat, including issues mengenai mangongkal holi, bikin tugu and all that. Sehingga mereka menganggap bahwa orang yang tidak sepemikiran dengan mereka, lebih baik tidak perlu balik balik lagi kekampung halaman. Padahal approach saya sudah saya susun sedemikian rupa supaya kedengarannya persuasive, eh malah disuruh jangan balik balik lagi ke Balige. Saya kalo berkunjung ke Balige memutuskan untuk diem aja. Soalnya susah merubah kebiasaan yang sudah turun temurun.

  22. Viky Sianipar

    Kebetulan temen2 saya banyak yang non-Batak, jadi saya sempet mempelajari sejarah budaya suku mereka juga (gak perlu saya sebutkan suku apa saja). Sejauh ini saya mendapati ilmu2 di budaya batak (musik, gorga, philosophy, fashion, perbintangan, pengobatan, pengairan, dll) gak kalah tinggi dibandingkan mereka. Bahkan lebih lengkap.

    Memang makam juga PERLU untuk mengenang leluhur. Tapi JANGAN berhenti disitu dong ah… ) BAGAIMANA DENGAN PELESTARIAN AJARAN ILMU2 LELUHUR YANG BRILIAN ITU??!!?

    @Lae Jarar…
    Puasanya pol gak nih… Met Lebaran ya.. Kesalahanmu sudah kumaaf kan kok… hahaha.. Gak puas aku waktu kita ketemu lae lagi puasa. Kau blum jadi ‘raja iblis’ sebelum kita kita mabuk tuak bareng… ) HORAS!

    JARAR SIAHAAN: D puasaku bolong beberapa hari. biasalah, gara-gara rokok pulak itu. dasar tak tahu malu! D

    aku juga belum puas waktu kita ketemu di rumahku hari itu. soalnya kualitas pembicaraan kita baru sebatas kafir-mengkafirkan dan menyesatkan domba. padahal aku ingin kita sampai pada level rajanya kafir dan rajanya domba tersesat. D kapan-kapanlah kita lanjutkan lagi, sambil kita minum tuak, sampai kita benar-benar menjadi tersesat dan siap masuk neraka. hidup viky si nasrani tersesat! hidup jarar si muslim kafir!

  23. Holben Sinaga

    @Viky Sianipar
    Kalau ajaran ilmu-ilmu leluhur yang brilliant, disamping Sisingamaraja, ada raja Batak yang sakti. Raja ini memang kurang catatan sejarahnya, dan tidak begitu banyak di publish oleh para seniman.

    Namun secara tidak langsung, Viky adalah salah satu seniman yang sudah menuliskan sejarah raja tersebut. Setidaknya orang awam yang tahu raja ini, sudah dapat mengenangnya melalui musik yang lae released itu.

    Paltiraja adalah raja yang sakti yang pernah berperang dengan Sisingamangaraja, dikala Sisingamangaraja ingin mengekspansi kekuasaan sampai ke daratan Samosir.

    Mungkin Tulang Suhunan dan Lae SM Nainggolan, sudah lebih pintar dari saya untuk menceritakan lebih dalam kesaktian Paltiraja ini. Mudah-mudahan mereka bersedia )

    Terimakasih atas koment dan ulasan Lae Viky, salam

  24. SMN

    Komentar sikit bah,

    Pembangunan Tugu yang ambisius di Tanah Batak dimulai pada tahun 1960-an. Orang batak toba berbondong-bondong memindahkan orang-orang meninggal dari kalangan mereka ke desa-desa nenek moyang dan melakukan banyak pesta meriah dan membangun monumen-monumen yang biayanya sampai ratusan sampai miliar rupiah. well, ada beberapa hal yang dapat kita lihat yaitu sebagai berikut:

    1. Status Kompetisi jelas merupakan satu faktor kemegahan tugu dan pesta-pesta yang disatukan dengan pembangunan tugu itu. Tugu yang dibangun oleh salah satu keluarga memancing kecemburuan keluarga yg lain, sehingga membuat mereka untuk dapat melakukan hal yg sama. Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu untuk mengangkat martabat keluarga mereka. Dan hal itu merupakan jawaban atas pertanyaan Siapa kami, untuk mengenal kami sebagai suatu kelompok/keluarga.

    2. Tugu dibangun dan pesta dilakukan besar-besaran dengan alasan untuk menghormati orang tua/leluhur. Hal itu merupakan salah satu cara orang batak melakukan kewajiban ‘hormatilah ayah dan ibumu’ serta penghormatan universal kepada para leluhur/orang yang sudah meninggal.

    3. Pembangunan tugu merepresentasikan suatu kontak antara si Kaya dan si miskin, orang kota dan desa, muda dan tua dari suatu keluarga/kelompok. Ide pembangunan tugu atau pelaksanaan pesta mangokkal holi, meskipun kebanyakan dibiayai oleh perantau kota yg kaya, tapi ide ini sering berasal dari orang tua atau kerabat yg tinggal di kampung, karena faktor diatas tadi yaitu kompetisi.

    4. Orang Batak yang punya ide membangun dengan mendirikan sekolah atau Rumah sakit atau lainnya yg bermanfaat bagi masyarakat luas-dituding ingin meninggikan dirinya sendiri. Tetapi jika ia menyelenggarakan pembangunan tugu, ia dianggap meninggikan seluruh keluarga atau garis keturunan. Orang akan lebih respek kepada si pemberi dana?

    5. Pembangunan sebuah tugu merupakan konsolidasi dan untuk memperkuat identitas (jatidiri) agar tidak terkikis atau tenggelam. Tugu juga menjembatani masa lalu dan masa kini yang mana tentunya ada pengalaman sejarah keluarga dan kelompok. Berangkat dari kampung merantau, berhasil dan sukses, kembali ke desa untuk membangun Tugu untuk menunjukan identitas keluarga/kelompok.

    6. Salah kaprah, ada banyak orang yang menjadikan tugu leluhur/orangtua menjadi tempat persembahan-persembahan untuk mendapatkan berkah, memanjatkan doa bagi mereka yg tidak punya keturunan, menjauhkan dari penyakit, kemalangan, ingin berhasil usahanya, menambah sahala, dll. Gejala ini ada dan mempunyai imbas yang tidak baik tentunya.

    Seperti yang Lae Holben paparkan, jelas kalau diadakan program ‘MULAK’ ke Bona pasogit, seperti orang israel sehabis perang dunia kedua, bisa dibayangkan bagaimana perubahannya. Btw, Salut untuk kedua jenderal diatas. Horas!!.

  25. Viky Sianipar

    @Lae Holben
    karena aku ini musisi, ‘hanya’ itulah yg bisa kubuat untuk Palti Raja. Aku juga masih cari2 cerita tentang beliau yang lebih detail.

    Btw, Tarsingotnya, Bang Suhunan pernah cerita ada keturunan PaltiRaja di Singapore. Lae kah itu???

  26. merdi sihombing

    viky sianipar….rajin sekarang sekolahannya di blog ini. ok loh…..
    kukasih tau sama kau,ingat gak kalau aq ada berapa kali makan di
    lapomu dg ito ida sirait ? nah….dia adalah istri dari lae Holben.waktu
    mereka kawin aq yg design baju pengantinnya.Acaranya bener2 tradisi
    Batak abesss,pokoknya beda dan luar biasa sampe2 Parluasan di P.Siantar warganya pada heboh(jd bahan pembicaraan)

    Nah…utk proyek pengembangan “ulos dan songket Batak”yg sedang saya
    persiapkan u 2008 nanti,semuanya disupport oleh company ito Ida sirait.

  27. SMN

    Lae Holben,
    Nanti kami karang dulu yah, cerita ttg O.Paltiraja atau nanti kutodong lae Suhunan sbg editornya. D

  28. Holben Sinaga

    @Viky Sianipar
    Salah satunya, he-he-he.
    Great music, thanks atas karyanya )

  29. Holben Sinaga

    @SMN, Tulang Suhunan, Viky Sianipar

    Ompu Palti Raja parparik sinomba ni gaja,
    Naso tartimbung manuk sabungan,
    Pitu lombu jonggi marhulang-hulang hotang,
    Pitu anak ni si Raja Lontung,
    Palti Raja, raja pandapotan diadat dohot diuhum.

    Itulah dulu yang bisa saya berikan )

  30. Holben Sinaga

    @Merdi Sihombing
    Abang designer ini memang luar biasa. Teruskan perjuangannya. Good Luck bro..

  31. Viky Sianipar

    @Holben Sinaga
    Kalo gitu lae sakti juga dong..😀. Kalo bisa lae lempar dulu Batu yang besar-besar dari Singapore ke rumah para koruptor di Balige sana pake magic.. hahahaha

    Tapi jangan kena rumah bang Jarar, kasian, gak bisa marinternet lg dia nanti…:)

  32. Viky Sianipar

    @Merdi,
    Oh yang itu loh… Horas ito Ida.. salut aku bah!

    bang Merdi, tabo do ho mardende nattoari. Alai ingkon martuak jolo ho sada pitcher! hehe. Mantab!

  33. Desy Hutabarat

    Botul ma i tahe ito (betul itu ito)
    Aku terkesan dan selalu ingat dengan pesan bapakku, “kalo bapak nanti meninggal, ga usah kalian pestakan lama-lama, kalo tak ada uang kalian, ga usah pake musik segala,kuburan bapak pun ga usah kalian bangun, yang penting kalian perhatikan mamak kalian yang masih hiduo itu” (molo matua au haduan, unang paleleng hu pestahon hamu, molo so adong hepeng muna, unang pola segala mar musik baen hamu, kuburanhu pe unang pola bangun hamu, na penting parrohahon hamu inong muna na mangolu i).
    Pinomparnya pulang dari pangarantoan, pestakan dan bangun kuburan sampe setinggi pencakar hariara (bukan pencakar langit).
    Habiskan uang sebanyak-banyaknya, untuk memestakan “batu atau tambak”
    sementara, habis itu mereka pulang ke tempat masing-masing dan meninggalkan saudara-saudara di kampung yang hidupnya tetap susah.
    Sebatas jagal pesta itulah sumbangsih mereka untuk saudara-saudara mereka di kampung, padahal mereka bisa melakukan lebih dari itu
    Bahkan waktu hidupnya orang tua nya pun, dia jarang pulang kampung, pas udah meninggalnya dia bikin kuburannya mewah (lebih mewah dari rumah tinggal), cuman demi apa?
    Horas

  34. jaysam

    Memang membangun makam tidak salah, tetapi menjadi kurang efisien jika sebuah makam berdiri megah dekat dengan tempat tinggal yang kondisinya berbanding terbalik dengan kondisi makam

    Misal, saya pernah berkunjung ke sebuah desa (masih di TOBASA). Di sepanjang perjalanan menuju desa ini, terdapat sangat banyak makam atau tugu yang terbuat dari semen/bahan yang lebih mahal.
    Ada sebuah makam yang dibangun bertingkat, tetapi tepat di samping makam tersebut terdapat sebuah rumah yang menurut saya tidak lagi layak huni, karena saya lihat dari segi luas rumah tersebut pasti paling banyak hanya terdapat 1 kamar dan terbuat dari kayu yang sudah tampak usang. Karena demikianlah maka menurut saya pembangunan makam megah yang tepat berada di samping rumah tersebut menjadi kurang efisien. Kalo salah sih,, pasti ga!!!

    mmm,, kebetulan saya adalah mahasiswa Del, jadi saya ingin berkomentar sedikit mengenai kampus yang dibangun Bapak Luhut Panjaitan.
    Fasilitas yang didapat oleh mahasiswa di kampus ini sangat-sangat mewah. Menurut saya tidak sebanding dengan uang kuliah yang harus dibayarkan. Uang kuliah di sini mungkin masih lebih murah dengan uang kuliah di PTN yang ada di propinsi ini.Namun memang kursi yang tersedia juga sangat terbatas.

    Jadi mungkin maksud sang author (bapak Holben sinaga), kiranya kita lebih mendahulukan pembangunan fasilitas pendidikan daripada pembangunan makam. Kelak jika semua orang Batak sudah berpendidikan, pembangunan makam bisa dipikirkan.

  35. Sibarani

    Saya lebih suka melihat dari sisi prioritasnya. Apakah membangun tugu nenek moyang merupakan prioritas saat ini? Jawabannya kita pasti sama-sama setuju bahwa tugu bukanlah prioritas utama untuk masyarakat di Tano Batak saat ini, karena masih banyak prioritas-prioritas lain yang lebih mendesak dan langsung terkait dengan kesejahteraan rakyat di sana. Secara pribadi, saya juga tidak melihat manfaat besar dari pembangunan tugu-tugu marga.

    Tapi Tano Batak sudah terlanjur dikenal sebagai ‘tanah 1000 tugu’ dan nggak mungkin kan tugu-tugu tersebut diruntuhkan sebagaimana Taliban menghancurkan artefak Buddha di Afghanistan beberapa tahun lalu. So, mungkin tugu-tugu yang ada sekarang bisa ‘dijual’ sebagai daya tarik pariwisata? Ini bisa juga memberikan kerja tambahan sebagai guide bagi yang bermukim di sekitar tugu. Ketimbang cuma memandang-mandang tugu dari jendela rumah, kan lebih baik kalo tugu-tugu yang sudah ada tersebut dimanfaatkan untuk kemaslahatan rakyat banyak.

    Tabe …

  36. olanto

    Parhorasan ma di hita sasudena,
    Terkesan dgn pendapat dari Panurat 22 yg menyatakan bahwa secara berseri pernah dibahas di harian Suara Pembaruan ( sekitar thn. 80 an ) : “Tapanuli Peta Kemiskinan”. Dan saya masih ingat komentarnya Solihin G. P ( Sesdalopbang – jabatan Pengendalian Operasi Pembangunan era Suharto ), dia menyatakan bahwa arus masuk ( in) dan keluar ( out ) dari wesel – pos ke Tapanuli , lebih banyak yang masuk ( in ), dan kalau yang out biasanya dikirim oleh orangtua untuk putra/i-nya yang kuliah di Jawa. ( jaman itu ATM belum ada kan )

    Umumnya prinsip para orangtua di bonapasogit ( mayoritas adalah petani, karyawan, buruh tani ) adalah mengutamakan pendidikan putra/i-nya, dengan alasan lebih sesuai dgn kemampuannya. Fakta membuktikan biasanya para orangtua kita mengerahkan segala ” fund and forces ” untuk menyekolahkan anak yang paling besar ( anak sulung ), dgn harapan apabila si anak telah selesai studinya dan bekerja dia akan membantu para adiknya. Dan biasanya kalau dana terbatas maka pendidikan u/ anak perempuan di nomor dua kan ( maaf itu adalah kenyataan ). Maka terjawablah statetment dari Solihin G.P tadi.

    Kenapa para putra/i yang telah sukses itu tidak kembali ke Tapanuli ? Jawabannya gampang karena DIMANA ADA GULA DISITU ADA SEMUT, karena gula lebih banyak di Jawa maka kesanalah semutnya. Memang sdh. menjadi nasib daerah Tapanuli tidak mempunyai sumber daya alam yang bisa di eksploitasi seperti daerah lain mis Aceh, Riau, Sumatera Selatan. Misalnya ada mika, belerang akan tetapi skala ekonominya tidak ekonomis untuk diolah. Jadi sangatlah beralasan apabila pemerintah kurang mengembangkan sarana dan prasarana dibandingkan dengan daerah lain. Padahal fasilitas tersebut
    adalah faktor penggerak geliat perekonomian di suatu daerah, tentu investor berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya didaerah itu. Bayangkan putra daerah yang pengusaha saja enggan menanamkan modalnya apalagi para pensiunan ( putra daerah ) tidak akan pulang ke kampung.

    Kita perlu belajar kepada propinsi Sum. Barat ( setelah dimekarkan daerah Jambi dan Riau memisahkan diri dari SUMBAR ), kondisinya mirip dengan Tapanuli tidak mempunyai sumber daya alam u/ dieksploitasi. Akan tetapi daerah itu mempunyai sumber daya manusia ( SDM ) yang dibina melalui APBD sektor Pendidikannya dengan porsi 20 % dari total APBD SUMBAR. Gubernurnya mengatakan Pemda SumBar mengutamakan pengembangan SDM nya disamping pengembangan sarana / prasarana dan parawisata. ( Wawancara dgn. Peter Gontha di Q-TV ) .

    Bagaimana dengan kabupaten-kabupaten yang sdh. dimekarkan di daerah Tapanuli ( bahkan ada yang bercita-cita membentuk propinsi Tapanuli ), apa sanggup mencontoh SUMBAR ini, mengutamakan sektor Pendidikan, Sarana / Prasaran dan Parwisata dalam penyusunan APBD nya ?
    Sejarah membuktikan ( kebanggan masa lalu ) Tapanuli termasuk ranking ketiga secara nasional dalam kwalitas pendidikan pada era sebelum 1957 ( PRRI ), dimana sentra pendidikan waktu itu adalah Sigompulon – Tarutung, Soposurung – Balige, Pematang Siantar, Sipirok – Padang Sidempuan dan Sibolga. Pada peristiwa PRRI, ada 2 – generasi pemuda/i Batak yang ” hilang ” alias tertunda pendidkannya (drop – out) dengan alasan menjadi ” tentara pelajar ” ( SLA dan mahasiswa ) atau wesel tidak ada ( bagi mahasiswa yg di pulau Jawa ), padahal mereka potensial untuk maju.

    Hal yang sama dialami juga oleh daerah SUMBAR. Kemudian setelah Peristiwa G30S ( 1965 ) kwalitas pendidikan di Tapanuli drastis menurun, ini terlihat dari populasi anak daerah yang lulus penyaringan masuk ke perguruan tinggi di Jawa bahkan di Medan ( USU ).
    Jadi kita pantas memberi apresiasi atas kepeloporan dari amang T.B.Silalahi, Luhut Pandjaitan juga Akbar Tandjung ( mendirikan sekolah unggulan di Sibolga ) ; karena mereka telah menyadarkan kita akan strategi yang diperlukan untuk memningkatkan kwalitas SDM di – daerah Tapanuli karena hanya itu yang bisa kita andalkan, sumber yang lain ( kekayaan alam, tambang ) tidak ada seperti daerah lain.

  37. parulian simarmata

    Pembangunan tugu/makam/batu na pir di Samosir kelihatan sepintas merupakan pemborosan. Tapi mari kita lihat dari sisi lain. Pembangunan tugu/makam tsb. justru menjadi simbol persatuan keluarga dangan patungan/tek-tek-an membiayainya. Mengingat seluruh keluarga besar sudah berserak/merantau ke berbagai wilayah bahkan ke luar negeri. Dengan adanya persatuan tsb. generasi muda dari keluarga besar tsb. jadi saling mengenal saudaranya/kekerabatnya. Sekarang sudah mulai ada tradisi baru orang Batak khususnya dari daerah Samosir yaitu tradisi Ziarah ke makam keluarga. Hal ini tradisi baru yang justru membangun daerah Samosir. Bayangkan kalau tradisi ziarah ini sudah mendarah daging dilakukan setiap tahun, maka berbondong-bondong datang dari perantauan ke Samosir yang mengakibatkan perputaran uang yang dibawah oleh perantau akan meningkatkan perekonomian di Samosir. Ingat dengan tradisi mudik lebaran di Pulau Jawa, berapa milyar rupiah yang dibawa ke Jawa Tengah, Jawa Timur,DIY setiap lebaran.
    Memang sekarang baru tingkatnya membangun makam, tapi saya percaya di waktu yang akan datang kalau sudah selesai membangun makam maka berikutnya akan membangun pasilitas sosial yang lain, hal ini mengingat orang Batak terkenal kritis dan pintar. Dan jangan lupa pembentukan kabupaten baru di Tapanuli justru buah pemikiran tokoh tokoh Batak perantauan dari Jakarta. Ada juga gereja di Lumban Suhi-Suhi Samosir yang di rehab/bangun dan diprakarsai persatuan tokoh – tokoh dermawan yang berasal dari Lumban Suhi-Suhi yang dapat menjadi panutan generasi muda di masa yang akn datang. Cobalah kita memberikan ide ide yang kreatif untuk membangun Samosir seperti contoh membangun MCK atau sanitasi , dimana sangat sulit sekali menemukam MCK di Samosir.

1 Comment

  1. roysianipar said,

    BATAK ITU SDH BANYAK DI EROPAH DAN DI AMERICA DAN DI SURGA TAPI SEMUA NYA HANYA SESOSOK MANUSIA KULI KASAR SAJA BLM BISA MEMBANTU NEGARA ASAL USLU NYA.TDK MUNGKIN MEREKA TDK MAU MEMBANGUN TAPI KARENA DALTUNG NYA LEBIH BESAR DARIPADA PATRIOTISME NYA.

    ADA BATAK MACAM MACAM CHACTERNYA.BATAK PARHUTA HUTA ..LAKI LAKI NYA SUKA MAIN CATUR DI KODE /MAIN JUDI.ISTRI NYA SETENGAH MATI KERJA DI SAWAH.

    ADA BATAK KEREN BATAK YG PERANAKAN DI JAWA YG SOK MAU JADI BATAK YG LEBIH PINTAR DAN LEBIH GAYA PARLENTE DI BANDINGKAN BATAK HUTA HUTA.

    ADA BATAK SOK SUCI ALIAS BATAK YG PENYAIKATAN ALKITAB.SUKA MECERAMAHI ORG BIAR IKUT JADI ORG BAIK DAN IKUT MASUK KESURGA.

    ADA BATAK YG SOK MAU JADI SUAMI /ISTRI ORG SUKU YG LAIN AGAR MEREKA DI BILANG HEBAT. SAMPAI KORUPSI AGAR BISA MEMENUHI BIRAHI KEBUTUHAN ISTRI /SUAMI NYA.

    ADA BATAK YG SOK PINTAR SOK PENULIS SOK JAGO SOK ANGGAR HAMORAON.LATE TEAL.
    ADALAGI BATAK YG BUTA WARNA /BUTA HURUF.SAMASEKALI NGGA BISA MEMBACA TAPI BISA MERAMAL. INILAH DATU.
    ROYSIANIPAR.THE RADICAL MAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: