Batak Toba Memperbaharui Tradisi:

October 12, 2008 at 12:23 am (Uncategorized) (, , )

Batak Toba Memperbaharui Tradisi:
Efesiensi Ruma Bolon dan Lumbung Sopo
       
     

 

 

 

 

 


Perabot batu raja-raja Sialagan,di Ambarita, sekitar 13 km dari Prapat. Di latar belakang adalah ruma bolon, yang sudah beratap seng, bukan lagi ijuk.
(Sumber:
http://www.pacros/net/textile.htm)


Kubur batu (rumah tulang) dengan miniatur rumah (joro) dengan latar belakang makam berhiaskan salib-salib tanda dianutnya kristianisme.
(Sumber:
http://www.sinarharapan.co.id)


Pemandangan di suatu huta. Di eretan kanan: ruma, tersisa satu ruma yang masih bertahan dengan atap ijuk (depan kanan); deretan kiri: sopo yang semua telah memakai penutup atap seng.
(Sumber:
http://www.arsitekturIndonesia.com)


Rekaman masa lalu: gambaran kehidupan sosial dari 1925 (foto oleh Jaap Kunst) yang berpose dengan alat musik di huta mereka (Sumber: http://www.peter-giger.de/fotoxxl/ percussion/b-Asia/Indonesia20.htm)


Perubahan dari sopo tanpa dinding (kiri) menjadi ruma dengan dinding dan tangga menuju pintu di dinding depan (kanan) (Sumber: Building Research Institute, 1973)


 

 
Ada dua macam perubahan, dengan dua macam tolok ukur pula. Yang pertama proses perubahan menjadi lebih baik dan yang kedua, proses perubahan dalam arti kemerosotan menjadi lebih buruk. Tolok ukur baik-buruk, di satu sisi adalah efesiensi ekonomi dalam berbagai aspek materinya, di sisi yang lain adalah kualitas imaterialnya, seperti terapan kompleks ide-ide dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana di belahan bumi lain di Indonesia, tradisi arsitektur rakyat Batak Toba di Tapanuli Utara, tampaknya ada pada tarik-menarik dua pandangan tersebut. Rumah dalam tradisi masa lalunya, kini dihadapkan pada perubahan mentalitas sosial dan sekaligus resources yang makin langka. Perubahan, pada hakikatnya adalah merupakan proses pembaharuan kehidupan, termasuk arsitektur rakyat. Di sini, “baru” artinya segar dan menyegarkan nuansa hidup dan kehidupan baik masyarakat manusia maupun masyarakat alam. Dapatkah rakyat Batak Toba mencapainya?
 
   
Warisan religi dan peradaban megalit
   
Untuk itu, Batak Toba akan lebih baik dipahami dengan melihat peradaban dan kebudayaan proto-malayunya yang membawakan pada generasi kini, sisa-sisa tradisi peradaban mega dan neo-litikum. Di baliknya, adalah sistem kepercayaan kuno yang menjadi sumber inspirasi konsep-konsep arsitekturnya.
 
   
Bekas tiang-tiang dari batu yang dinamai oleh penduduk Sombaon Sibasiha (Keramat Tiang) di Desa Sibodiala di pedalaman Kota Balige, meja-meja dan kursi-kursi batu raja-raja Sialagan di Ambarita, Prapat, dan batu-kubur (rumah tulang) dan Candi Portibi di Padang Lawas (Tapanuli Selatan) adalah artefak-artefak perjalanan peradaban Batak Toba sampai dengan awal persinggungannya dengan Hiduisme. Begitu pula yang dapat dipahami dari prasasti bertahun 1208 yang ditemukan di Lobu Tua, ialah bahwa Kota Barus di pantai Barat Sumatera berperan sebagai “daerah tepi” bagi wilayah peradaban Batak Toba kuno yang berhubungan dengan dunia luar. Buktinya, sekitar tahun 1088, tercatat ada 1500 orang Tamil dari India Selatan bertempat tinggal di Barus, membentuk kesatuan perdagangan kapur barus dan kemenyan. Di abad XI, Islam pun datang di Sumatera pantai Barat melalui Barus. Tanah Toba sebagai salah satu “daerah pusat” budaya Batak, lambat laun pun menyerap dan mendewasakan dirinya, mengambil bentuk-bentuk penyesuaian. Hal itu dapat dilacak lewat antropologi bahasa, arkeologi kesenian, sejarah arsitekturnya dan lain-lain.
 
   
Perubahan mencolok mulai terjadi di awal 1970-an. Ada langgam arsitektur yang tersingkir oleh “rumah-rumah baru” yang lambat laun mengubah wajah perdesaan Toba. Sebagaimana yang terjadi di hampir seantero Nusantara sejak awal 1970-an, semangat gotong royong di desa-desa sudah kendur. Lewat proyek-proyek Pelita di masa Orde Baru, tradisi gotong royong sebagai “social capital”, tanpa disengaja telah terubah menjadi kerja berupah. Kemampuan masyarakat secara sosial-budaya, untuk mendirikan rumah adat sekarang ini pun, dengan demikian makin mengecil pula. Tambahan lagi jumlah nara sumber yang mengetahui dan menghayati nilai-nilai adat sudah jauh berkurang. Bahkan, beredar pula pandangan yang menganggap tidak perlu lagi hal-hal yang lama dan usang itu dipelihara. Selain masalah ekonomi bahan bangunan dan konstruksi, masyarakat tampaknya tengah memperbaharui tradisinya.
   
   
Mengubah kolong, gorga dan atap ijuk
   
Untuk mengikuti perubahan yang terjadi, perlu diingat bahwa dalam tradisi Batak Toba ada 2 jenis bangunan: rumah (ruma) dan lumbung padi (sopo). Rumah adalah “inganani jolma” yang artinya rumah adalah tempat tinggal bagi anak-anak manusia sedangkan sopo sebenarnya dirancang dan dibangun untuk “inganani barang” yang artinya tempat untuk barang-barang (Sukamto, 1980:47). Namun sopo juga merupakan bangunan serba guna: siang hari sebagai tempat pertemuan warga atau sebagai tempat perempuan menenun kain dan pada malam hari untuk tidur para pemuda. Umumnya pada huta (kampung atau kelompok hunian), ada dua deret ―deret ruma dan deret sopo― yang dipisahkan oleh ruang terbuka yang bersih, tidak ditanami. Di ruangan ini dilakukan bermacam-macam kegiatan sehari-hari sedangkan bagian belakang rumah kurang diperhatikan, sering ditanami sayur dan juga sebagai tempat pembuangan sampah. Bagian bawah kolong rumah zaman dahulu dipakai sebagai kandang binatang peliharaan.
 
   
Bangunan ruma dikenal dengan adanya tangga dan jalan masuk berupa pintu angkat yang berada pada lantai pertama yang tingginya kurang lebih hanya 1,60 m di atas tanah, sehingga sulit untuk masuk dengan membawa barang-barang yang besar, tinggi atau panjang. Lumbung atau sopo dibangun pada satu sisi dan rumah-rumah dibangun pada sisi yang lain, pintu masuknya dari dinding depan bukan dari bawah lantai panggungnya. Jalan desa berorientasi Timur�Barat, sehingga bagian depan rumah tersebut menghadap ke Selatan sedangkan lumbung padi atau sopo menghadap ke Utara. Namun dalam hal tertentu rumah-rumah tersebut diorientasikan ke arah tempat pengorbanan (somboan) di gunung yang keramat (simanuk-manuk). Sekarang banyak sopo yang berubah menjadi ruma. Sisa cirinya tinggal cakram penahan hama tikus yang dipasang di tiang-tiangnya.
 
   
Rumah Batak Toba melambangkan tri tunggal benua yaitu banua atas dilambangkan dengan atap rumah untuk tempat dewa, banua tengah dilambangkan dengan lantai dan dinding untuk tempat manusia dan banua bawah dilambangkan dengan kolong untuk tempat kematian. Sejak tahun 1970-an, nilai-nilai kesemestaan dalam pola pikir Toba tampaknya mulai berubah lebih cepat.Untuk kenyamanan dan akses, makin banyak rumah baru yang dibangun dengan tangga masuk yang berada di dinding depan, tak lagi di bawah lantai panggung. Bahkan ruma baru diubah total menjadi tanpa kolong. Artinya, secara praksis, konsepsi tentang dunia bawah sudah berubah seiring berubahnya konsepsi kesemestaan menurut agama yang sekarang dianut sebahagian besar masyarakat Batak Toba, yaitu Kristianisme.
 
 


Sebuah ruma pada tahun 1997 dengan penutup atap seng dan tanpa ornamen (sumber: http://www.pacros.net/ textile.htm)


Ornamen singa-singa, kepala manusia dilengkapi dengan kain tiga belit dengan sikap kaki berlutut ke bawah pipi kiri dan kanan; tek-nik ukir, dibentuk dari kayu dengan alat papatil dan beliung. Penem-patannya pada ujung kiri dan kanan dinding depan rumah tempat tinggal.
(Sumber: http://www.livingtravel. com)
 

 
Tradisi Toba sebetulnya mempunyai kelenturan jauh sebelum tahun 1970-an. Contohnya, mendirikan rumah adat yang memerlukan tenaga, biaya yang besar dan memakan waktu yang cukup lama tak harus sesuai dengan standart “jadi”. Banyak rumah yang seharusnya belum selesai sesuai dengan norma ataupun kaidah-kaidah adat yang berlaku, sudah ditempati. Antara rumah yang sudah selesai dengan rumah yang belum selesai dinamakan: “jabu bontean”. Ada pula “jabu ereng” yaitu sejenis rumah tempat tinggal yang tidak berukiran, tetapi dindingnya terbuat dari papan yang sudah diketam halus dan dipasang rapi. Rumah adat yang mempunyai hiasan lengkap disebut dengan “jabu Batara Guru”, “jabu Sibaganding Tua” atau ruma gorga. Rumah adat yang dahulu banyak ukiran sekarang sudah tidak ada lagi dan dibuat lebih sederhana. Perubahan itu tampaknya seiring dengan perubahan pemandangan desa yang sangat mencolok: dipakainya penutup atap seng pengganti ijuk.
 
   
Lenyapnya ijuk sebagai penutup atap adalah petunjuk pula bahwa rumah tradisional hanya tinggal sedikit di daerah Batak Toba dan bahkan hampir punah. Banyaknya kebakaran pada zaman dahulu atau faktor iklim tropis-lembab menyebabkan pula rumah tempat maupun lumbung masih tersisa, warnanya sudah banyak luntur akibat hujan. Atap ijuk juga terlalu mahal untuk dipelihara.
 
   
Jika atap ijuk dan ornamentasi ruma dan sopo mulai ditanggalkan, begitu pula dimensi dan ruang dalamnya. Meski ada kelenturan dalam tradisi membangun Batak Toba yang menghasilkan “jabu parbalebalean” (rumah yang agak kecil) dan ruma bolon (rumah besar), namun membangun rumah yang lebih sederhana adalah tuntutan kekinian. Dulu, ruang-ruang dalam tidak disekat, namun masih terdapat pembagian-pembagian yang tidak kasat mata. Sekarang baik pada rumah yang kecil maupun terutama pada ruma bolon, sering dijumpai adanya sekat-sekat papan untuk mendapatkan privasi.
 
   
Efesiensi joro bagi para arwah
   
Perubahan tak hanya bagi yang masih hidup, tapi akhirnya juga diterapkan pada yang telah wafat. Rumah tulang lama yang dibuat dari batu atau kayu, beberapa tahun terakhir ini telah diganti semen atau kapur. Karena itu rumah tulang sekarang disebut simin yang berasal dari kata semen. Struktur rumah tulang tidak lagi sama dengan rumah tinggal. tidak ada lagi balok wuwung yang melengkung berbentuk trapesium atau ulu ni rumah singa dan tidak berhias ornamen tradisional, digantikan simbol salib.
 
 


Ruma dan kolong rumah yang sama sekali berubah fungsi
(Sumber: http://www.orientalarchitecture.com)
 

 
Begitu pula dengan joro: rumah miniatur dari kayu beratap ijuk yang dibuat untuk seseorang yang telah wafat. Joro memiliki ukiran kayu dan hiasan yang indah sebagaimana halnya yang terdapat pada rumah sebenarnya. Dengan demikian joro “benar-benar rumah” dalam ukuran kecil, untuk si wafat. Rumah miniatur ini dibangun oleh janda dari suami yang telah meninggal, terutama apabila ia tanpa anak laki-laki (punu), tidak mempunyai saudara ipar laki-laki yang dapat mewarisinya sebagai istri atau jika ia terlalu tua untuk melahirkan anak lagi.
 
   
Mendirikan bolon, sopo berkolong (panggung) atau joro sekarang menjadi lebih sulit karena bahan-bahannya sukar dicari dan biaya mendirikannya jauh lebih besar dari pada rumah dan joro model baru tanpa kolong. Masyarakat pedesaaan Toba menginginkan konstruksi yang lebih praktis, mudah didirikan dan biaya yang lebih murah.
 
   
Sangat boleh jadi perubahan pandangan hidup masa kini yang sarat dengan nilai-nilai ekonomilah yang memicu perubahan itu. Berarti, pemaknaan atau tata nilai religius lama yang dibawakan oleh ornamen itu tak lagi terterapkan dalam kehidupan karena sudah digantikan dengan tata nilai baru. Jika tata nilai itu masih diterapkan, pasti representasinya pada simbol-simbol arsitektural tetap eksis dengan yang metoda yang lebih ekonomis. Jadi di permukaan kasat mata, perubahan ini tampak disebabkan faktor ketersediaan bahan atau kemampuan finansial untuk membiayai pembuatan atap berpenutup ijuk, pengukiran ruma gorga atau tiang-tiang kolong dan unsur-unsur tradisi arsitektur lainnya. Tetapi di kedalaman fenomena kasat mata itu baru tampak sebab yang lebih mendasar: berubahnya mentalitas, tata nilai dan pola pikir masyarakat dari tradisi megalitik dan neolitik ―sebagian besar― ke tradisi kristianisme.
       
     
       
 
  • Kompilator : Muti Handayani (NIM-0210653033), Dicky Agus S (NIM-0210653012) & Ninies Rofiani (NIM-0210653035)
  • Editor : Galih W. Pangarsa
  Kepustakaan & Kredit ilustrasi
Building Research Institute, 1973, Traditional Buildings Of Indonesia-Volume 1Batak TobaBandung, The Regional Housing Centre, Bandung.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1997, Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara, Depdikbud, Jakarta
Sukanto, Edwin. 1980, Makalah Sejarah Arsitektur Tradisional Batak, Fakultas Teknik Arsitektur ITS, Surabaya (tak diterbitkan).
http://planius.blogspot.com
http://students.ukdw.ac.id
http://www.bonapasongit.com
http://www.indonesiaphoto.com
http://www.orientalarchitecture.com
http://www.pacros/net/textile.htm
http://www.peter-giger.de
http://www.propertyenet.com
http://www.samosir.go.id
http://www.sigalingging.org
http://www.sinarharapan.co.id
http://www.suarapembaruan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: