IF BATAK STILL BELIEVE AND PRACTICE OLD TRADITION WONT BE LIKE >MODERN BATAK BECAME EVIL CORRUPTED MIND /SOUL .LEARNING FROM HOLY BIBLE LESSON

May 2, 2010 at 3:32 am (Uncategorized)

See full size image       

ROY SIANIPAR…IF BATAK STILL BELIEVE AND PRACTICE  OLD TRADITIONAL OF BATAK WOULD BE cocok basmi korupsi AND MENTALITY Potong tangan koruptor. Jangan salatkan mereka ketika mati. Itu cara paling efektif; karena hukum republik bisa dibeli.

Pendapat begitu sudah lama didengungkan oleh para tokoh, tapi tetap tidak bisa menjadi hukum positif di Indonesia. Alasan utama pemerintah: karena hukuman tersebut adalah versi Islam, sementara warga dan pejabat Indonesia bukan hanya muslim dan Indonesia bukan negara Islam.

Dan kita lihat, korupsi terus menjadi kata wajib yang muncul di koran-koran setiap hari. Korupsi menjadi cara paling digemari sebagian [besar] pegawai negeri dan pemborong untuk bisa membangun rumah, membeli sedan, dan menguliahkan anak — harta yang tidak akan dibawa ke liang kubur. Korupsi menjadi predikat yang bertahun-tahun dianugerahkan Transparency International pada Indonesia; dan negara kita menjadi juara bertahan. Mari bertepuk tangan.

Buku KUHP telah lama dianggap sebagai “kasih uang habis perkara”, dan KPK tidak lagi ditakuti. Bahkan oleh seorang Said Agil Al Munawar, bekas Menteri Agama yang wajahnya senyum-senyum saja disorot kamera tivi ketika divonis penjara karena mengorupsi dana haji. Kalau Menteri Agama saja sudah korupsi, masihkah engkau bisa percaya bahwa gubernur, kapolres, bupati, jaksa, dan hakim tidak korupsi? Mereka semua korupsi, kawan, tapi tidak semuanya terungkap.

Koruptor bukan lagi hal memalukan; jangan-jangan sudah menjadi profesi. Banyak orang tidak merasa malu mencuri uang negara; lalu menyuap polisi, jaksa, dan hakim agar hukumannya tidak terlalu berat; dan sesudah keluar dari penjara akan dengan bangganya menyebut diri sebagai dermawan — uang curiannya ditebar ke lembaga sosial sebagai sedekah.

Bob Hasan, si tukang gundul hutan itu, sudah jadi pahlawan sekarang usai makan-tidur enak di penjara. Begitu pun keponakannya, Tommy Soeharto, sudah santai di villanya. Nyawa seorang hakim melayang “di tangan” Tommy, dan itu bukan masalah besar di Indonesia. Negeri yang aneh.

Palu hakim gencar menjatuhkan vonis, tapi tidak ada rasa keadilan. Seorang gelandangan mencuri karena kelaparan bisa dibui satu tahun; dan seorang pejabat kaya mencuri ratusan juta uang rakyat hanya dibui sedikit di atas hukuman si gelandangan.

Maka aku setuju: korupsi baru akan jauh berkurang bila hukumannya adalah potong tangan atau jari. Selain itu, koruptor beragama Islam tidak wajib disembahyangkan ketika sudah meninggal; sesuai fatwa PBNU pada 2002. “Kalau seorang tokoh besar atau seorang konglomerat meninggal dan tidak disalatkan karena korup, maka dia tidak berbeda dengan orang kafir,” kata KH Mustofa Bisri, petinggi PBNU yang juga penyair terkenal.

Aku juga tak pernah percaya pada sumpah pejabat. Kita tahu, setiap menteri hingga kepala desa, PNS, polisi, jaksa, dan hakim wajib mengucapkan sumpah saat dilantik. Dan salah satu isi sumpah mereka adalah bahwa mereka tidak akan menerima sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung bisa memengaruhi pekerjaannya. Tapi mereka tidak takut pada sumpah. “Di Indonesia, Al-Quran sering cuma dijadikan ‘asesoris’ pengambil sumpah [pejabat],” kata pengamat masalah sosial-agama, Nanang Iskandar Ma’soem.

Seharusnya penjara di seluruh Indonesia penuh dengan koruptor, bukan maling ayam. [http://www.blogberita.com]

Tulisan ringan yang tidak bikin kening berkerut, baca di sini.



15 Replies

  1. Kairo

    10 Juni 2007 at 7:08 pm

    No Comment lae, Trus kambuh darah tinggi ku kalau seperti yg lae ceritakan…hehehehe.. hata ku ma i. tapi emang susah lae, mental pejabat kita semakin hari makin ‘kropos’, sudah mulai luntur rasa kerakyatannya. yang ada kebanyakan ‘Bissan gabe pejabat, annon molo nungnga pensiun aha be ?.

  2. BRI Bank-nya Rakyat

    10 Juni 2007 at 9:58 pm

    Sebenarnya nggak perlukorupsi kalau Bapak-bapak pejabat sudah membiasakan diri menabung semenjak mereka belum mempunyai jabatan. Anda harus percaya bahwa “hemat (menabung) pangkal kaya” bukan “korupsi pangkal kaya”.

  3. BRI Bank-nya Rakyat

    10 Juni 2007 at 10:07 pm

    Soal ide potong tangan/jari, saya stuju, Pak. Hanya itu memang yang bisa membuat koruptor jera.

  4. whitegun

    11 Juni 2007 at 3:38 am

    hukuman potong tangan /jari memang perlu diberlakukan di negara aneh ini, soalnya korupsi itu sudah membudaya dan mendarah daging di negara aneh ini dan itu tak akan bisa dihilangkan jika hukumannya hanya 1-2 tahun buat para pejabat negara. Aku terkadang malu sendiri kalo nonton acara berita di televisi atau sedang baca koran, isi berita di headlinenya pasti pejabat yang berebut uang negara, bukannya pejabat yang berebut memajukan negara. Kalo begini terus, kapandonk negara ini bisa maju?

  5. 11 Juni 2007 at 8:12 am

    Kalau aku pikir enggak usah di potong jari /tangan cukup saja mereka sesama koruptor mengelitiki temannya selama mereke bestatus sebagai terpidana , misalanya kalau 15 tahun dia harus dikelitiki selama 15 tahun biar lucu, mereka itu kan sekarang manusia lucu, karena punya slogan “Emang korupsi dosa ? yang kutahu bohong itu dosa, mau ?”🙂 salam

  6. JoeS

    11 Juni 2007 at 10:24 am

    Kalau ketemu koruptor, tarik ke tempat sepi lalu potong pidongnya jadi 2, trus kasih ke mentok..kadang korupsi ini salah satu karna kebutuhan perut bawah…biar kayak kasim kaisar cina jadul mereka.

  7. Jekson

    11 Juni 2007 at 10:30 am

    Yah memang susah memberantas korupsi di Indonesia, karna untuk mendapatkan suatu jabatna atau kedudukan dipemerintahan juga biasanya harus main Sogok sana sogok sini, jadinya saat menjabat cari jalan juga untuk mendapatkan modal nya balik plus dengan keuntungnanya hehehe jadi kayak rantai yg ga putus-putus(Semoga lambang rantai pada Sila kedua bukan melambangkan Korupsi yg tidak putus-putus).
    Dan parahnya lagi di bangsa kita banyak saat mahasiswa ikut mendemo hapuskan korupsi, tapi saat jadi pejabat ikut Korupsi hehehehe.
    Kadang saat lihat pejabat Negara muncul perasaan kesal… Wah mereka inilah yg mengkorupsi pajak yg di potong tiap hari dari gaji saya. Padahal mungkin ga semua gituya hehehe
    Tapi saya yakin masih ada pejabat yg puny a hati nurani walau mungkin kalo kelamaan dikelilingi koroptor bisa terkontaminasi juga
    Semoga aja korupsi ini bisa dibasmi segera… ya ga bisa menghukum orang yg sudah korupsi minimal mencegah munculnya koruptor baru.

  8. 11 Juni 2007 at 1:00 pm

    Potong tangan, kalau masih gak brenti korupnya, potong leher sekalian aja bang!

  9. batakusa

    11 Juni 2007 at 8:10 pm

    belajarlah dari Tukul arwana..pantang menyerah,mencari hidup tanpa merugikan orang lain. Bersikap terbuka ,dan mau belajar. Kurasa Tukul itu sudah lebih Batak dari orang batak.
    Salam

  10. jaysam

    11 Juni 2007 at 9:55 pm

    no comment aja deh
    soalnya gimana dengan pejabat non muslim??

  11. 12 Juni 2007 at 7:41 am

    negara atau hukum versi Islam, mungkin memang tdk bisa diterapkan di kita. karena, ya itu tadi, Negara kita bukan negara Islam. dan, meskipun berpenduduk Muslim terbanyak di Dunia, tdk semua muslim setuju dgn syariat Islam tsb. sebaiknya kita mengikuti China. para koruptor langsung dihukum mati. sudah saatnya koruptor (yg jelas terbukti lho !) di tembak atau di gantung…

  12. batakusa

    12 Juni 2007 at 8:18 am

    lebih baik potong alat kemaluan saja.. karena toh kan itu tujuan akhir para koruptor..
    cari duit banyak2..supaya bisa memuaskan hasrat seksual..
    Jad dukung syariat Potong Kelamin !

  13. 12 Juni 2007 at 12:36 pm

    Bukan masalah potong tangan, potong kelamin, atau potong apapun. Yang pertama harus dipastikan adalah yang dihukum adalah yang bersalah, dan kesalahan lebih besar dihukum lebih berat.

    Bagaimana bisa kita bayangkan kalau nanti ada potong pilih, atau korupor kelas ringan dipotong tangan, koruptor kelas berat malah berkeliaran.

    Saya malah setuju pola Cina, hajar aja semua koruptor dengan eksekusi mati. Jangan ada banding dalam pengadilan korupsi. Mungkin akan ada yang tidak bersalah terkena hukuman, dan ini sangat melanggar prinsip hukum yang menyebutkan, lebih baik melepas seribu orang yang bersalah, daripada menghukum satu orang yang tak bersalah.

    Persoalannya, revolusi memang butuh korban, sementara penyakit bangsa ini hanya bisa diselesaikan dengan revolusi.

  14. Van Arle Siahaan

    12 Juni 2007 at 3:15 pm

    To be love my friends !

    Merinding rasanya membaca berita diatas. POTONG TANGAN KORUPTOR. Sebelumnya mari kita mengintropeksi di kita masing2 dgn bertanya apakah diri kita jujur & tidak korupsi, atau memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk korupsi? Kalau ada kesempatan korupsi apakah anda tidak melakukan korupsi??? Kalau kita korupsi berarti kita termasuk orang yg tangannya harus dipotong. Sudah tidak menjadi rahasia lagi di Negara ini orang2 yg tidak diberi kesempatan atau jabatan selalu teriak2 dan mencari2 kesalahan orang lain. Tapi giliran diberikan kesmpatan yaa…. diam seribu bahasa. Saya mengatakan ini berdasarkan kenyataan, bukan saya mau membela para Koruptor.
    Oke, kembali ke judul berita diatas. Terus terang saya tidak setuju dgn hukuman seperti ini terutama hukuman mati. Kita harus tau bahwa semua anggota tubuh kita adalah adalah ciptaan dan pemberian Tuhan. Jadi yg berhak untuk mengambilnya kembali hanya Tuhan. Saya rasa masih ada hukuman lain yg bisa membuat para Koruptor jera. Ingaattttttt…… bagimana Jesus bersikap ketika seorang perempuan yg berzinah dilempari pake batu. Jesus berkata! Siapa diantara kalian yg tidak berdosa silakan melempari wanita ini. Lau mereka tdk ada yg mau.
    Saya bukan mau menghakimi, mungkin kita yg membaca atau memberi komentar ini disini hanyalah manusia2 bertopeng dgn kemunafikan. Silakan kita benar2 merenung and than please create yout comment.

    Thanks & Best Regards for you all. God bless you.
    Van Arle Napitupulu

  15. batakusa

    12 Juni 2007 at 3:20 pm

    @Lae Toga.
    Setuju pendapat Lae Toga.. di cina bukan hanya koruptornya yang dihukum mati,tetapi juga istri dan anak koruptor tersebut. Mungkin supaya ada efek jera yang berlipat ganda.
    Tapi Lae..apakah mungkin hal tersebut dilakukan di indonesia? jangankan jadi undang2..baru jadi RUU saja sudah pasti akan dijegal DPR..lha wong DPR nya sendiri ikut ‘menikmati’ koq.
    Yang realistis itu (menurut aku -orang awam) butuh revolusi radikal ,misalkan yang terjadi di cina waktu partai komunis mengambil alih kekuasaan. Tapi terus dipikir2 lagi..ternyata bahaya juga,kalo revolusi dalam kondisi bangsa secara sosial fragile,bisa2 nanti ada genocide dan sejenisnya.apalagi SDA kita sudah banyak dicaplok negara lain,.bahkan oleh negara asia lainnya,termasuklah didalamnya cina .

    Jadi kurenung2 kan. mungkin komprominya, perubahan pelan2. tapi memang ini nggak populer, mengingat orang bosan sama yang pelan2. Tapi apa mau dikata,inillah pilihan tersisa untuk negara yang sedang sekarat.
    Khusus untuk orang batak. mengingat jiwa kita yang suka berontak, dan konon katanya pemberani, mungkin revolusi bisa dimulai dari kalangan kita sendiri dululah.
    Jangan ada lagi ‘Juragan’ atau ‘Preman’ atau ‘Tuan Tanah’ dalam kehidupan masyarakat batak. Adat batak perlu di telaah kembali relevansi dan aplikasinya, Moga2 dengan masyarakat batak yang ‘benar’, bisa menjadi motor perubahan bagi bangsa. semua ini aku katakan,karena aku percaya orang batak bisa melakukan perubahan!

 

[jarar siahaan; bataknews; hukum islam paling cocok basmi korupsi] Potong tangan koruptor. Jangan salatkan mereka ketika mati. Itu cara paling efektif; karena hukum republik bisa dibeli. Pendapat begitu sudah lama didengungkan oleh para tokoh, tapi tetap tidak bisa menjadi hukum positif di Indonesia. Alasan utama pemerintah: karena hukuman tersebut adalah versi Islam, sementara warga dan pejabat Indonesia bukan hanya muslim dan Indonesia bukan negara Islam. Dan kita lihat, korupsi terus menjadi kata wajib yang muncul di koran-koran setiap hari. Korupsi menjadi cara paling digemari sebagian [besar] pegawai negeri dan pemborong untuk bisa membangun rumah, membeli sedan, dan menguliahkan anak — harta yang tidak akan dibawa ke liang kubur. Korupsi menjadi predikat yang bertahun-tahun dianugerahkan Transparency International pada Indonesia; dan negara kita menjadi juara bertahan. Mari bertepuk tangan. Buku KUHP telah lama dianggap sebagai “kasih uang habis perkara”, dan KPK tidak lagi ditakuti. Bahkan oleh seorang Said Agil Al Munawar, bekas Menteri Agama yang wajahnya senyum-senyum saja disorot kamera tivi ketika divonis penjara karena mengorupsi dana haji. Kalau Menteri Agama saja sudah korupsi, masihkah engkau bisa percaya bahwa gubernur, kapolres, bupati, jaksa, dan hakim tidak korupsi? Mereka semua korupsi, kawan, tapi tidak semuanya terungkap. Koruptor bukan lagi hal memalukan; jangan-jangan sudah menjadi profesi. Banyak orang tidak merasa malu mencuri uang negara; lalu menyuap polisi, jaksa, dan hakim agar hukumannya tidak terlalu berat; dan sesudah keluar dari penjara akan dengan bangganya menyebut diri sebagai dermawan — uang curiannya ditebar ke lembaga sosial sebagai sedekah. Bob Hasan, si tukang gundul hutan itu, sudah jadi pahlawan sekarang usai makan-tidur enak di penjara. Begitu pun keponakannya, Tommy Soeharto, sudah santai di villanya. Nyawa seorang hakim melayang “di tangan” Tommy, dan itu bukan masalah besar di Indonesia. Negeri yang aneh. Palu hakim gencar menjatuhkan vonis, tapi tidak ada rasa keadilan. Seorang gelandangan mencuri karena kelaparan bisa dibui satu tahun; dan seorang pejabat kaya mencuri ratusan juta uang rakyat hanya dibui sedikit di atas hukuman si gelandangan. Maka aku setuju: korupsi baru akan jauh berkurang bila hukumannya adalah potong tangan atau jari. Selain itu, koruptor beragama Islam tidak wajib disembahyangkan ketika sudah meninggal; sesuai fatwa PBNU pada 2002. “Kalau seorang tokoh besar atau seorang konglomerat meninggal dan tidak disalatkan karena korup, maka dia tidak berbeda dengan orang kafir,” kata KH Mustofa Bisri, petinggi PBNU yang juga penyair terkenal. Aku juga tak pernah percaya pada sumpah pejabat. Kita tahu, setiap menteri hingga kepala desa, PNS, polisi, jaksa, dan hakim wajib mengucapkan sumpah saat dilantik. Dan salah satu isi sumpah mereka adalah bahwa mereka tidak akan menerima sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung bisa memengaruhi pekerjaannya. Tapi mereka tidak takut pada sumpah. “Di Indonesia, Al-Quran sering cuma dijadikan ‘asesoris’ pengambil sumpah [pejabat],” kata pengamat masalah sosial-agama, Nanang Iskandar Ma’soem. Seharusnya penjara di seluruh Indonesia penuh dengan koruptor, bukan maling ayam. [www.blogberita.com] Tulisan ringan yang tidak bikin kening berkerut, baca di sini. ——————————————————————————– 15 Replies Kairo 10 Juni 2007 at 7:08 pm No Comment lae, Trus kambuh darah tinggi ku kalau seperti yg lae ceritakan…hehehehe.. hata ku ma i. tapi emang susah lae, mental pejabat kita semakin hari makin ‘kropos’, sudah mulai luntur rasa kerakyatannya. yang ada kebanyakan ‘Bissan gabe pejabat, annon molo nungnga pensiun aha be ?. BRI Bank-nya Rakyat 10 Juni 2007 at 9:58 pm Sebenarnya nggak perlukorupsi kalau Bapak-bapak pejabat sudah membiasakan diri menabung semenjak mereka belum mempunyai jabatan. Anda harus percaya bahwa “hemat (menabung) pangkal kaya” bukan “korupsi pangkal kaya”. BRI Bank-nya Rakyat 10 Juni 2007 at 10:07 pm Soal ide potong tangan/jari, saya stuju, Pak. Hanya itu memang yang bisa membuat koruptor jera. whitegun 11 Juni 2007 at 3:38 am hukuman potong tangan /jari memang perlu diberlakukan di negara aneh ini, soalnya korupsi itu sudah membudaya dan mendarah daging di negara aneh ini dan itu tak akan bisa dihilangkan jika hukumannya hanya 1-2 tahun buat para pejabat negara. Aku terkadang malu sendiri kalo nonton acara berita di televisi atau sedang baca koran, isi berita di headlinenya pasti pejabat yang berebut uang negara, bukannya pejabat yang berebut memajukan negara. Kalo begini terus, kapandonk negara ini bisa maju? sahat 11 Juni 2007 at 8:12 am Kalau aku pikir enggak usah di potong jari /tangan cukup saja mereka sesama koruptor mengelitiki temannya selama mereke bestatus sebagai terpidana , misalanya kalau 15 tahun dia harus dikelitiki selama 15 tahun biar lucu, mereka itu kan sekarang manusia lucu, karena punya slogan “Emang korupsi dosa ? yang kutahu bohong itu dosa, mau ?”🙂 salam JoeS 11 Juni 2007 at 10:24 am Kalau ketemu koruptor, tarik ke tempat sepi lalu potong pidongnya jadi 2, trus kasih ke mentok..kadang korupsi ini salah satu karna kebutuhan perut bawah…biar kayak kasim kaisar cina jadul mereka. Jekson 11 Juni 2007 at 10:30 am Yah memang susah memberantas korupsi di Indonesia, karna untuk mendapatkan suatu jabatna atau kedudukan dipemerintahan juga biasanya harus main Sogok sana sogok sini, jadinya saat menjabat cari jalan juga untuk mendapatkan modal nya balik plus dengan keuntungnanya hehehe jadi kayak rantai yg ga putus-putus(Semoga lambang rantai pada Sila kedua bukan melambangkan Korupsi yg tidak putus-putus). Dan parahnya lagi di bangsa kita banyak saat mahasiswa ikut mendemo hapuskan korupsi, tapi saat jadi pejabat ikut Korupsi hehehehe. Kadang saat lihat pejabat Negara muncul perasaan kesal… Wah mereka inilah yg mengkorupsi pajak yg di potong tiap hari dari gaji saya. Padahal mungkin ga semua gituya hehehe Tapi saya yakin masih ada pejabat yg puny a hati nurani walau mungkin kalo kelamaan dikelilingi koroptor bisa terkontaminasi juga Semoga aja korupsi ini bisa dibasmi segera… ya ga bisa menghukum orang yg sudah korupsi minimal mencegah munculnya koruptor baru. Dee 11 Juni 2007 at 1:00 pm Potong tangan, kalau masih gak brenti korupnya, potong leher sekalian aja bang! batakusa 11 Juni 2007 at 8:10 pm belajarlah dari Tukul arwana..pantang menyerah,mencari hidup tanpa merugikan orang lain. Bersikap terbuka ,dan mau belajar. Kurasa Tukul itu sudah lebih Batak dari orang batak. Salam jaysam 11 Juni 2007 at 9:55 pm no comment aja deh soalnya gimana dengan pejabat non muslim?? telmark 12 Juni 2007 at 7:41 am negara atau hukum versi Islam, mungkin memang tdk bisa diterapkan di kita. karena, ya itu tadi, Negara kita bukan negara Islam. dan, meskipun berpenduduk Muslim terbanyak di Dunia, tdk semua muslim setuju dgn syariat Islam tsb. sebaiknya kita mengikuti China. para koruptor langsung dihukum mati. sudah saatnya koruptor (yg jelas terbukti lho !) di tembak atau di gantung… batakusa 12 Juni 2007 at 8:18 am lebih baik potong alat kemaluan saja.. karena toh kan itu tujuan akhir para koruptor.. cari duit banyak2..supaya bisa memuaskan hasrat seksual.. Jad dukung syariat Potong Kelamin ! Toga 12 Juni 2007 at 12:36 pm Bukan masalah potong tangan, potong kelamin, atau potong apapun. Yang pertama harus dipastikan adalah yang dihukum adalah yang bersalah, dan kesalahan lebih besar dihukum lebih berat. Bagaimana bisa kita bayangkan kalau nanti ada potong pilih, atau korupor kelas ringan dipotong tangan, koruptor kelas berat malah berkeliaran. Saya malah setuju pola Cina, hajar aja semua koruptor dengan eksekusi mati. Jangan ada banding dalam pengadilan korupsi. Mungkin akan ada yang tidak bersalah terkena hukuman, dan ini sangat melanggar prinsip hukum yang menyebutkan, lebih baik melepas seribu orang yang bersalah, daripada menghukum satu orang yang tak bersalah. Persoalannya, revolusi memang butuh korban, sementara penyakit bangsa ini hanya bisa diselesaikan dengan revolusi. Van Arle Siahaan 12 Juni 2007 at 3:15 pm To be love my friends ! Merinding rasanya membaca berita diatas. POTONG TANGAN KORUPTOR. Sebelumnya mari kita mengintropeksi di kita masing2 dgn bertanya apakah diri kita jujur & tidak korupsi, atau memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk korupsi? Kalau ada kesempatan korupsi apakah anda tidak melakukan korupsi??? Kalau kita korupsi berarti kita termasuk orang yg tangannya harus dipotong. Sudah tidak menjadi rahasia lagi di Negara ini orang2 yg tidak diberi kesempatan atau jabatan selalu teriak2 dan mencari2 kesalahan orang lain. Tapi giliran diberikan kesmpatan yaa…. diam seribu bahasa. Saya mengatakan ini berdasarkan kenyataan, bukan saya mau membela para Koruptor. Oke, kembali ke judul berita diatas. Terus terang saya tidak setuju dgn hukuman seperti ini terutama hukuman mati. Kita harus tau bahwa semua anggota tubuh kita adalah adalah ciptaan dan pemberian Tuhan. Jadi yg berhak untuk mengambilnya kembali hanya Tuhan. Saya rasa masih ada hukuman lain yg bisa membuat para Koruptor jera. Ingaattttttt…… bagimana Jesus bersikap ketika seorang perempuan yg berzinah dilempari pake batu. Jesus berkata! Siapa diantara kalian yg tidak berdosa silakan melempari wanita ini. Lau mereka tdk ada yg mau. Saya bukan mau menghakimi, mungkin kita yg membaca atau memberi komentar ini disini hanyalah manusia2 bertopeng dgn kemunafikan. Silakan kita benar2 merenung and than please create yout comment. Thanks & Best Regards for you all. God bless you. Van Arle Napitupulu batakusa 12 Juni 2007 at 3:20 pm @Lae Toga. Setuju pendapat Lae Toga.. di cina bukan hanya koruptornya yang dihukum mati,tetapi juga istri dan anak koruptor tersebut. Mungkin supaya ada efek jera yang berlipat ganda. Tapi Lae..apakah mungkin hal tersebut dilakukan di indonesia? jangankan jadi undang2..baru jadi RUU saja sudah pasti akan dijegal DPR..lha wong DPR nya sendiri ikut ‘menikmati’ koq. Yang realistis itu (menurut aku -orang awam) butuh revolusi radikal ,misalkan yang terjadi di cina waktu partai komunis mengambil alih kekuasaan. Tapi terus dipikir2 lagi..ternyata bahaya juga,kalo revolusi dalam kondisi bangsa secara sosial fragile,bisa2 nanti ada genocide dan sejenisnya.apalagi SDA kita sudah banyak dicaplok negara lain,.bahkan oleh negara asia lainnya,termasuklah didalamnya cina . Jadi kurenung2 kan. mungkin komprominya, perubahan pelan2. tapi memang ini nggak populer, mengingat orang bosan sama yang pelan2. Tapi apa mau dikata,inillah pilihan tersisa untuk negara yang sedang sekarat. Khusus untuk orang batak. mengingat jiwa kita yang suka berontak, dan konon katanya pemberani, mungkin revolusi bisa dimulai dari kalangan kita sendiri dululah. Jangan ada lagi ‘Juragan’ atau ‘Preman’ atau ‘Tuan Tanah’ dalam kehidupan masyarakat batak. Adat batak perlu di telaah kembali relevansi dan aplikasinya, Moga2 dengan masyarakat batak yang ‘benar’, bisa menjadi motor perubahan bagi bangsa. semua ini aku katakan,karena aku percaya orang batak bisa melakukan perubahan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: