batak modern yg linglung dgn pilihan berbusAna.bingung? memilih adat busana malah milih busana suku luar.dasar batak keren goblok?

May 3, 2010 at 11:11 am (Uncategorized)

 

Merdi Sihombing

Charly Silaban dan Regina

——————————————————————————– Batak News – Jarar Siahaan – Penulis dari Balige Kabupaten Toba Samosir Artikelku yang lengkap dan liputan video terbaru lihat di http://www.blogberita.net Merdi Sihombing: Banyak Wanita Batak Memilih Songket Palembang daripada Ulos Batak 4 Juli 2007 in Artikel, Batak, Berita, Budaya, Foto, Tokoh, Wawancara [jarar siahaan; batak news; menjajah budaya sendiri] Ia salah satu desainer top Indonesia. Ia berteriak lantang: justru orang Batak “memuja” songket Palembang dan “melupakan” ulos. Kini ia tengah mengerjakan proyek pengembangan ulos yang didukung negara asing, Austria. Ironis. “Wanita Batak sangat memuja, bangga, berlomba-lomba untuk memakai kain songket Palembang pada setiap momen yang berkesan buat hidupnya,” kata Merdi Sihombing pada imel yang dia kirim ke blog Batak News beberapa hari lalu. “Wanita Batak banyak mengoleksi kain songket Palembang yang ditawarkan dengan harga yang sangat fantastis sebagai prestise bahwa hidup mereka sangat berlebihan.” Merdi adalah pria Batak yang pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta [IKJ], “tapi belum tamat.” Pada tahun 2002 ia sudah menjadi perancang busana langganan sejumlah selebritis, antara lain Feby Febiola, tulis harian Kompas — yang menyebut rancangan Merdi sebagai “keindahan dalam kesederhanaan”. Aku juga pernah melihat namanya tercantum sebagai desainer model cantik di majalah seksi Popular beberapa tahun silam. Lantas kenapa [sebagian] perempuan Batak lebih memilih songket Palembang? Merdi menjawab, karena orang-orang berpengaruh di kalangan Batak, seperti seniman, rohaniawan, pengusaha, dan pejabat pemerintah tidak peduli melestarikan dan mengembangkan ulos. Ia menilai, hanya pedagang dan pengrajin uloslah yang peduli pada kain dengan tiga warna khas itu — hitam, merah, dan putih. Kualitas ulos pun secara umum kurang memadai. Kembali lagi, ini terjadi karena kurangnya perhatian dari orang-orang berpengaruh tadi. Masih banyak hal yang perlu dibenarkan, kata Merdi. Misalnya kualitas benang, komposisi dan warna, termasuk promosi. Danau Toba pada tahun 2010 telah dicanangkan pemerintah sebagai tujuan wisata yang akan menjadi sumber pendapatan beberapa kabupaten. Tapi hingga kini upaya-upaya mendukung program tersebut, termasuk salah satunya pengembangan ulos, dinilai nyaris tidak terdengar. Kata Merdi, para politikus Batak ramai-ramai ingin mewujudkan Propinsi Tapanuli dengan semboyan dan harapan yang muluk-muluk, tapi mereka tidak memikirkan masyarakat bawah yang berpenghasilan dari membuat ulos sebagai pelengkap tujuan wisata. Kalau kita tidak ingin ulos semakin hilang dilindas pengaruh budaya lain, maka semua pihak harus berusaha mengubah pemikiran yang kerap muncul di kalangan wanita Batak bahwa, “Ulos tidak berharga, kuno, kasar, tidak indah, it’s not cool.” Secara teknis aku buta tentang penerapan motif ulos pada busana modern. Tapi kupikir seorang Merdi sangat menguasainya, dan itulah yang dia pikirkan dan kerjakan selama ini. Mungkin pendapat Dewi Motik pada tahun 1980 berikut ini masih relevan untuk disimak dan dijadikan pemacu hasrat kita sebagai pencinta ulos: “Kesukaran saya, sebagian besar warna ulos itu gelap. Juga lebar kainnya yang cuma 60 cm, sehingga tidak mudah dikembangkan untuk model-model rok yang lebih bebas.” Merdi Sihombing adalah desainer kebanggaan Indonesia. Tahun ini ia ditunjuk pemerintah sebagai salah satu dari 12 fesyen desainer untuk pengembangan kain tenun tradisional. Ia pun sering berpameran bersama perancang busana papan atas sekelas Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, dan Samuel Wattimena. Tahun lalu ia mengangkat kain tradisional suku Badui dalam sebuah pameran setelah mengamati suku tersebut selama tiga tahun. Ia juga bangga menjadi orang Batak. Suratnya padaku “marpasir-pasir” alias berbahasa Indonesia yang dicampur bahasa Batak. Tanggal 5 besok ia berada di Medan. Tanggal 8 di Pulau Samosir selama tiga hari untuk pemotretan keperluan buku ulos Batak, Natural Thing. Tanggal 11 menyeberang ke Muara, kecamatan kecil nan indah di tepi Danau Toba. Tanggal 13 baru akan kembali ke Jakarta. Selamat berkarya, Lae Merdi. Hanya dengan tulisan pendek ini aku bisa membantu cita-citamu mengangkat derajat ulos kita. [www.jararsiahaan.com] CATATAN BATAK NEWS: Seusai menulis artikel ini aku teringat pada sejumlah kawan dan familiku, orang-orang Batak di Balige, yang dengan alasan ajaran agamanya rela membakar ulos. Duh, menyedihkan: mengaku orang Batak tapi tidak mau memakai ulos. Foto di atas adalah gambar Merdi [kanan] bersama Nai Marudut boru Situmorang — seorang pengrajin ulos dengan alat-tenun tangan di Desa Lumban Suhisuhi, Kabupaten Samosir. Ulos buatan Nai Marudut pernah diberikan kepada Paus Yohanes Paulus II ketika berkunjung ke Indonesia pada 1990. Sementara foto di sebelah ini adalah gambar pengantin Charly Silaban dan istrinya, Regina, yang dengan bangga mengenakan ulos Batak — walaupun pihak orangtua sempat menganjurkan memakai songket Palembang. Mereka melangsungkan pernikahan di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, sebulan lalu. Selamat menempuh hidup baru, kawan. Maafkan aku karena tak sempat hadir pada hari yang berbahagia itu. [www.blogberita.com] ——————————————————————————– 21 Replies JoeS 4 Juli 2007 at 9:50 am Ito-ku punya ulos polang-polang yang dimodifikasi dan asli tenunan huta silalahi kec silahi-sabungan. Indah sekali; kata par-tonun itu yang seperti ini pesanan khusus. Sebenarnya mereka bisa buat yang tak kalah bagus dengan songket palembang; tapi karna pasaran ulos umumnya ke acara adat jadi pola-pola yang ada udah standard sehingga mereka jarang berimprovisasi. Cobalah angka inanta kasih order khusus maka akan dibuat dengan tidak meninggalkan pola dasar yang ada. Bisa untuk komsumsi selendang. W Haviter Pardosi 4 Juli 2007 at 10:59 am Jadi pengen ketawa aku baca tulisan Lae ini, karena memang pola perilaku batak yang sekarang di Jakarta khususya dalam beberapa kesempatan pelaksanaan acara perkawinan dipastikan bahwa para wanita akan tampil dengan pakaian dan corak yang berbeda dari budaya batak ( lebih lebih dengan Ulos ). Entahlah , terkadang walau gak menarik dilihat ( Kaca mata saya lho ) dipaksakan juga untuk digunakan , mungkin biar tampil beda kali ya… Tetapi bagi saya jadi pertanyaan Lae, apakah memang orang bataknya yang lebih senang menggunakan bahan pakaian selain ulos , atau memang karena ada hal hal yang berkaitan dengan ulos ini sehingga sulit utk mengikuti perkembangan ; Semisal , akan timbulnya masalah yang berkaitan dengan tatanan adat utk tata cara penggunaan ulos bila dilakukan modifikasi oleh para perancang terhadap semua jenis ulos , sedangkan kita tahu bahwa bahan tenunan daerah lain lebih dinamis baik dalam corak dan warna untuk dapat mengikuti perkembangan kebutuhan para penikmat dunia mode. Kalau sudah begini , Lagi lagi akan timbul pertanyaan ” Orang Batak kah atau Budaya Batakkah ” yang tidak terbuka untuk mengangkat para pengrajin ulos untuk tumbuh berkembang seperti halnya para petenun diwilayah lain. Charly Silaban 4 Juli 2007 at 1:59 pm Awal perjumpaanku dengan Bang Merdi amat berkesan kala itu di Cafe Toba Dream pada show perdana Tongam Sirait. Ketika itu, aku sedang membawa dua kotak besar berisi kebaya (dulu msh calon) istriku yang menggunakan kombinasi bahan ulos rancangan Bang Raden “Luire” Sirait. Kamipun akhirnya sangat asik bercerita tentang Ulos dan kesamaan persepsi kami (tentunya keprihatinan) tentang pandangan masyarakat batak saat ini pada ulos dan songket palembang. Aku juga mengutarakan niatku untuk “menantang arus” dengan menggunakan ulos sebagai bahan kombinasi pakaian pengantin kami sebagai wujud kecintaanku terhadap Ulos. Gimana ngga menantang arus, Inang aja menyarankan menggunakan songket palembang saja untuk kebaya pengantin yang katanya selain murah juga bagus. Jelas aku tolak mentah-mentah.. Singkat cerita, Acara pernikahan kami pun berlangsung dan tentunya banyak orang bertanya2 dan mungkin berujar di dalam hati bahwa ternyata ulos yang kami kenakan tak kalah bagusnya dengan songket. Tak ada yang mencela, walau bagi aku sendiri motif ulos yang kami gunakan masihlah bisa dipercantik lagi. Sudah tak sabar rasanya menunggu hasil karya Bang Merdi ini muncul.. Namun satu yang pasti bang, kalo karya mu nanti sudah jadi.., janganlah bikin mahal2 ya bang.. biar aku dan seratus dan seribu hingga sejuta orang lagi bisa menikmati indahnya dan bangganya memiliki dan menggunakan ULOS. At last, dengan bangga aku tunjukkan foto pengantin kami untuk pertama kali di publish di internet hanya di Batak News sebagai ucapan terima kasih kepada Lae Jarar karena turut serta dalam gerakan moral mengangkat Ulos ke arah yang lebih baik dengan caranya sendiri2. Ulos ini menggunakan motif / “gatip” pinuncaan. Enjoy… (Trims to Martha Ulos, Raden Sirait and tentunya Bang Merdi atas kritikan terhadap kebayanya. Kritikannya sudah aku sampaikan langsung ya bang ) merdi sihombing 4 Juli 2007 at 3:22 pm mauliate tu hamu sasude na,…… sedikit yg mau saya tambahkan bahwa proyek ini bukan hanya ulos tapi juga songket. Butet Jomblo 4 Juli 2007 at 3:30 pm JADI KEPENGEN CEPET2 NIKAH…… Oh iya ……, bagus tuch gaun pengatinnnya dengan memakai ulos. makanye, jangan sok belagu pakai songket Palembang, cintailah tradisi sendiri. Setuju nggak ito dan eda sekalian??? suhunan situmorang 4 Juli 2007 at 3:40 pm Tapi kurasa, yang membuat pakaian pengantin berbahan ulos itu makin cantik…, karena kedua mempelai memang tampan dan cantik! Lae Jarar, zadi kapingin lagi aku pengantin. Biar berbusana kayak lae kita Silaban ini. Huahaha…! JARAR SIAHAAN: bah, bah, bah [tiga kali]. bahaya ini. mana si ayu. bere ayu, kasih tahu ibumu, bapak bernafsu lagi mau kawin. kairo 5 Juli 2007 at 9:57 pm mantap bah lae charly, jadi mau ikut menyusul mangoli..he he he tolong amang, dainang…horas! Ronal Simanjuntak 6 Juli 2007 at 12:44 pm Mauliate ma lae Merdi, teruskan usahanya lae. Saya harap berhasil. Ulos batak gabe kebanggaan kita semua. Aku juga kalau mau mangoli nanti pakai ulos juga yah! Horas ma. Paulus Simangunsong 20 September 2007 at 10:33 pm Weleh-weleh. Sayang sekali akut tidak bisa datang ke acara nikahmu Lae Charly Silaban. Aku minta maaf he he he… Aku masih lama menyusul nih Lae. Tunggu sihumisik ha ha ha… Horas jala gabe! Charlie M. Sianipar 21 September 2007 at 2:30 am Lae Situmorang, Jangan sampai dibaca Ito tulisan Lae ini “Lae Jarar, zadi kapingin lagi aku pengantin. ” Sotung repot hita. (Bisa jadi repot kita) Desy Hutabarat 21 September 2007 at 9:37 am Memang banyak sekali wanita Batak yang memilih Songket Palembang daripada Ulos, alasannya macam-macam…ada yg bilang lebih elit,lebih rapi, lebih berkelas. Hita pe boi do mambaen na lebih jeges sian i (kita juga bisa bikin yang lebih bagus dari itu) Makasa buat Merdi Sihombing, atas keinginan besarnya melestarikan ulos batak itu. Horas *pengantinnya cantik yah….andigan ma iba songoni ate?(kapan ya aku bisa begitu?)* merdi sihombing 28 September 2007 at 12:03 am HORAS ITO DESY…mauliate tuhamu,saya sgt setuju dgn ito”HITA PE BOI DO MAMBAEN NA LEBI JEGES SIAN I ” kan org BATAK pada jenius dibidangnya masing2.Heeeeeeeeeeeeee……3x merdi sihombing 28 September 2007 at 12:07 am mauliate laeronal simanjuntak….doakan ya biar proyek saya ini berhasil,kita harus bangga dgn semua yg kita punya.janji ya…kalau mangoli harus pake ulos 7 SONGKET bATAK.BUANG SEMUA YG BUKAN KITA PUNYA SMN 28 September 2007 at 1:45 am Mantap lae Merdi, bravo! Aku pun tak tahu ini 7 songket batak, macam mana ini lae? patorang jo, nanti kurang pula bukan 7 yg dibeli malah 5, kek mana lah ini? Sibondut Labang 28 September 2007 at 6:19 am Horas buat semua tamunya dan Lae Siahaan, Kemungkinan besar semua yg terjadi itu adalah karena :”kondisi / situasi”. Mengapa saya mengatakan begitu. Banyak orang kita Batak, kalau sdh jauh dari Bona ni Pasogit ahkirnya jadi dekat dgn Tradisi kita Batak. Seperti Lae Sibarani, belajar bhs Batak di Kampus Yokja dan Simanjuntak ke Jerman utk Kuliah, kenyataan pulang dari Jerman Orang tunya jadi bingung anaknya bisa bhs Batak.Saya pernah melihat pesta, semua Orang hampir dari Sabang – Merauke semua pakai Ulos.Malahan sampai Patung nya Jesus pakai Ulos. Apakah itu Cinaga, Jawa, Papua,Ambon manise d.l.l.Semua merasa bangga mengenal identitas Batak. Kalau ingin lebih dekat melihat( ma’af buat semua yg terhormat saya sama sekali tdk ada idea utk reklame/promosi) http://www.sidihoni.com godang tabe! sorta 28 September 2007 at 2:50 pm Horassss Salam kenal semua Saya pertama kali beli songket Palembang waktu mau menikah. Waktu itu kepikiran kenapa ya tidak ada songket yang dibuat kita orang Batak sendiri padahal kita sudah punya motif ulos yang begitu indah?? Saya rasa dibanding orang Palembang sendiri lebih banyak orang Batak yang beli songket mereka. Waktu itu setelah selesai pesta hal ini sempat juga kami diskusikan melihat hampir semua kerabat dekat suami pakai songket tersebut. Tidak berapa lama mama cerita mengenai songket Tarutung. Pas pulang kampung tahun 2004 saya cari di pasar Laguboti dan Balige, tidak ada yang cocok dihati (terlalu gelap dan tidak sehalus songket Palembang). Mendengar kabar bagus begini kita doakan proyeknya biar cepat selesai, dan kalau nanti sudah dipasarkan cepat-cepat dipromosikan ya ito Merdi dimana dapat kita beli dan boleh harga produk standard jangan lebih mahal dari songket Palembang ya… Ditunggu dengan sangat… Horasss Maju terusss boru juntak 9 Oktober 2007 at 1:27 pm ga habis pikir emg ngeliat orang batak kalo di pesta2 adat justru bangga memakai produk orang (baca: songket)…. ku tertarik dgn kata2 ito merdi sihombing ….”kalau mangoli harus pake ulos 7 SONGKET bATAK”. ditunggu ya di pasaran.. kalo ada info tolong dikirim ke email ku ya ito… HORAS!! merdi sihombing 12 Oktober 2007 at 2:09 am mauliate tu lae SMN,ito SORTA,ito BORU JUNTAK…. “ulos 7 songket Batak, mestinya ulos & songket Batak” mohon maaf. well…doakan biar show yg akan digelar pada 9 mey 2008 bisa akan membuat ulos & songket Batak tsb dapat menggantikan keberadaan songket Palembang yg sudah terlanjur menjadi primadona dihati perempuan2 Batak.sehingga nantinya para partonun akan baik taraf hidupnya.Tidak seperti sekarang,sangat2 memprihatinkan Mengenai harga,yg pasti buat halak hita kalau dibuat murah pasti sgt sedikit yg akan membelinya.he….3x. desi simangunsong br.sianipar 15 November 2007 at 1:32 pm gabung yaaa… teman2 yang baik hati…, saya sebagai pengguna songket palembang senang sekali dengar berita ini,mohon dibuatkan motif yang buanyak dan warna2 yang menarik jadi biar kami2 pengguna songket palembang bisa berpaling ke songket batak… asal kalian tahu saja yaaa… kami juga punya pemikiran….kok orang batak gak bisa buat songket seperti orang palembang yaaa…?? kan dasar kebudayaan pembuatan songket di batak sudah ada, knapa corak palembang lebih bagus dan menarik??jadi pembicaraan tentang songket batak ini sering banget di bicarakan inang2 di segala jenis pesta orang batak, jadi jangan takut ito merdi saya yakin inang2 batak diseluruh penjuru dunia ini sangat mengharapkan adanya songket batak, karena mereka semua sudah menunggu begitu lama termasuk saya sendiri, tapi mohon harganya di buat berfariasi ya y ito merdi, kalau boleh mohon saya diundang di show-nya ya ito….. semoga sukses Horas Jane Ross br. Panjaitan 1 Desember 2007 at 12:54 pm Horas, Saya sebenarnya orang Australia berdarah bapak Inggris & SCotlandia, mama Jerman dan Inggris. Suami saya Tambunan, punya 2 anak dan 1 boru. Sekolah saya Desain Tekstil, saya bisa membatik dan tenun bali. Saya ingin bisa nenun Ulos, belajar dimana ya..??. Baru2 ini saya dari Sigaol dan Marom lihat2 para pengrajin ulos bekerja. Saya yakin ulos bisa berkembang dengan baik. Masalah utama yang belum tergarap adalah aspek PROMOSI. Saya jadi ingat kerajinan gerabah Lombok (keramik bakaran suhu rendah, berupa gentong, piring, ubin, dll). Sederhana sekali, namun telah mendunia. Dengan gerabah ini telah membuat masyarakat Lombok yang paling tinggi persentasinya dalam naik haji. Artinya ekonomi mereka meningkat dengan tajam. Ceritanya begini. Bermula dari program bantuan teknis dari negara New Zealand untuk melatih kemampuan masyarakat desa membuat dan memperbaiki kwalitas gerabah. Selesai program bantuan tersebut, salah satu pelatihnya memutuskan tetap tinggal di Lombok. Di Lombok dia menampung produksi masyarakat dan menjualnya ke luar negri. Ternyata sambutan pasar luar negri demikian luar biasa!! Baru2 ini saja, teman saya baru dari Turki bilang, gerabah Lombok banyak dijual disana. Kalau di Australia jangan ditanya…banyak sekali gerabah Lombok dijual disana… Jadi usul kongkrit saya begini. Contoh saja pengalaman Lombok. Undang saja beberapa negara maju untuk memberi bantuan teknis. Selanjutnya…terserah mereka. Sebelumnya kita bentuk saja dulu sebuah lembaga independen untuk khusus urusan ulos ini. Ajak juga para Pemda ; Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing/Natal, Tapanuli Utara, Karo, dan Dairi, serta Simalungun untuk terlibat sebagai sponsor utama. Melalui lembaga inilah kita akan ‘berhubungan’ dengan para pihak dalam dan luar negeri, baik negara lain maupun lembaga-lembaga dunia terkait. Sebaiknya lembaga ini diisi oleh orang-orang yang berkompenten, baik keahlian maupun perhatiannya. Baik orang yang tinggal di perantauan maupun di tanah batak. Bagaimana hai para orang Batak ??? Tertarikkah?? Mari kita mulai saja ya…biar riil dan terarah!! Pasti berhasil kok.. Kita awali saja dengan buat portal/website tentang ulos. Kita lakukan ini sebagai sebuah GERAKAN. Juga sebagai sebuah pemanasan (warming-up). Dan pada akhirnya nanti ini kita bisa jadikan sebagai cikal bakal pembentukan lembaga yang saya maksud diatas. Demikianlah, saya berharap banyak yang tergerak dan mendukung serta terlibat dengan usul saya ini. Muliate, holong, Jane 1 Viky Sianipar disebut domba yang tersesat » Jarar Siahaan » Blog Berita Ping balik on Mei 4th, 2009 at 9:36 am […] Tengku Ryo (muslim yang taat), jadi lead instrument mengiringi pengantin di acara wedding-nya lae Charly Silaban, memainkan lagu “Tuhankulah Gembalaku” (Kidung […]

1 Comment

  1. Nella said,

    Bang, saya bukan orang Batak tapi suka ulos. Apalagi setelah melihat buku Sandra Niessen: Legacy in cloth, Batak textiles of Indonesia terbitan KITLV Press. Tentang kesukaan perempuan Batak terhadap songket Palembang mungkin karena ada emasnya sehingga berkesan mewah, mungkin juga karena seleranya me-nasional. Btw saya lebih suka ulos yang kuno tuh.Tetap semangat Bang… oh iya. artikel ini dikasih foto ulos dong biar lebih menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: