Aku (Pernah) Benci Orang Batak!

Aku (Pernah) Benci Orang Batak!

December 10, 2008

 

 

Orang Batak di Jakarta seperti hiper inflasi, jumlahnya secara numerik sangat besar tapi tidak bernilai. Maafkan saya, jangan marah! Tapi banyak orang Batak ‘tidak benar’ berkeliaran disini, meski jujur saya akui kalau orang Batak hebat pun sama banyaknya. Mungkin lebih banyak…

Tahun 2000 saya menaruh hati kepada cewek Batak yang sudah lahir besar di Jakarta, namanya sebut saja Uli. Dia berhasil menempatkan saya berada pada tingkatan jauh dari sekedar naksir. Jatuh cinta adalah penjelasan yang lebih tepat. Wajahnya, rambutnya, suaranya, tatapannya, dan apapun yang dia punya sangat saya puja. Siang malam pikiran saya tertambat pada Uli. Visi imajinasi ini seolah terpenjara pada daerah sempit dan disana saya hanya menemukan dia.

Tapi, saya bukan satu-satunya orang yang berpendapat begitu akan Uli. Belasan lelaki lain juga berjuang mendapatkan perhatiannya, dengan segala cara, baik itu legal maupun ilegal. Legal yang saya maksud adalah cara biasa nan sopan, sedangkan ilegal sudah melibatkan serangan tak terdeteksi plus mematikan para pesaing dengan cara jahat. Sialnya, Uli memberi porsi penerimaan yang sama untuk semua ‘kontestan’, di kerajaannya kami semua sama. Ini barangkali bisa dijadikan rujukan kalau sebenarnya dia – mungkin – gadis baik. Bak dikomando, akhirnya para lelaki pencari cinta ini beralih mendekati kedua orangtua Uli. Sebenarnya di daerah asal kami, tanah Batak, mendekati perempuan akan lebih tepat guna jika lebih dulu berhasil menaklukkan orangtuanya. Istilahnya adalah martandang, padanannya mungkin ‘apel’. Bedanya, martandang punya tingkat kesulitan lebih tinggi, karena sebelum bisa bersua si gadis, kita mesti lebih dulu menerobos pagar betis yang dibentuk orangtua dan saudara laki-lakinya. Prahara akan semakin menjadi-jadi jika mereka juga kebetulan memelihara anjing.

Saya seperti bisa memprediksi akan kalah dalam kompetisi ini, sebab saya orang yang sangat pendiam dan kurang mampu berbasa-basi. Keadaan semakin diperparah dengan watak ibu Uli, dia sangat materialistis.

Meskipun bukan yang terburuk dari segi finansial, tapi saya berada pada tingkatan terbawah saat itu, sedikit lebih unggul dari seorang saja, panggilannya Galung (saya tak tahu nama aslinya, bermarga Hutagalung), dia penambal ban. Cacat kami berdua diperburuk dengan catatan tidak pernah mengenyam perkuliahan. Kala itu saya baru setahun menginjakkan kaki di Jakarta, mocok-mocok (tidak jelas). Tapi saya tetap punya sedikit penghasilan sebagai pembantu agen togel (toto gelap).

Para pesaing kami adalah anak orang kaya (kebanyakan masih mahasiswa), manajer muda, eksekutif muda, PNS level lumayan dengan masa depan menjanjikan, calon dokter, dan anak juragan angkot dari daerah Depok. Semuanya Batak. Secara kasat mata, saya dan Galung sering diperlakukan tidak adil. Ibu Uli kerap ikut ngobrol dengan yang lain bahkan menyediakan penganan, ditambah rupa-rupa perlakuan istimewa, tapi mengacuhkan kami berdua. Ini membuat para lelaki itu berbinar-binar, dan tampak jelas di mata mereka beranggapan kalau dua kontestan sudah otomatis tereliminasi. Semua bisa terlihat ketika ada momen tertentu dimana kami martandang dalam waktu bersamaan, tentu saja, tanpa ada perjanjian sebelumnya. Seingat saya, ibu Uli mulai menjauhi saya dan Galung usai sesi ‘interview’ awal, yakni, “Kerja dimana? Lulusan mana?”. Interview kemarin juga dilengkapi semacam omong-kosong tentang ‘mengenal’ orangtua kami lebih dalam, dia bertanya berputar-putar, tapi saya rasa intinya adalah, “Orangtuamu kaya tidak?”

Akhirnya Galung menyerah dan menghilang, tapi saya tidak. Alasan saya cukup sederhana, Uli layak diperjuangkan! Singkat cerita, pada tahap ‘final’ (itu dua tahun kemudian) hanya ada tiga lelaki tersisa, masih tegar berdiri, si manajer muda, anak juragan angkot, dan saya. Kendatipun saya sudah seperti sampah di mata ibu Uli, saya bersikeras terus maju pantang mundur. Tak peduli seberapa mualnya dia, seberapa kasarnya dia, saya teguh akan pendirian. Inilah yang saya prihatinkan dari kebanyakan orangtua Batak di Jakarta, ketika mereka sedikit ‘naik kelas’ maka kecongkakan lah yang tercipta. Mereka lantas berpikir kalau level mereka sudah berbeda dan berhak menjengkali orang lain. Batak-Batak seperti inilah yang menurut saya tidak bernilai samasekali! Mereka hanya mendambakan jaminan material dan status, tanpa menghargai unsur ketulusan, kebaikan, dan kesetiaan.

Saat itupun tiba, saya martandang kesana, sebelumnya sudah sepakat dengan Uli meskipun dia ogah-ogahan. Untuk kesekian ratus kali saya hanya bisa mengurut dada, mencoba legawa. Nyaris saya tak pernah melakukan kesalahan namun terlihat jelas kalau Uli mulai gerah akan sosok saya. Sesampainya disitu, ibunya menghadang di pagar, “Uli sakit, kapan-kapan saja kesini lagi!”, ujarnya ketus. Sejenak saya termangu dan berusaha memberi pembelaan, “Tapi inang, saya baru saja menelepon dan dia setuju bertemu saya”. Ibu Uli tidak menjawab, dia malah berbalik lalu masuk ke rumah. Saya ditinggalkan seperti seorang pengemis yang gagal mendapat recehan.

Saya terduduk sedih, sungguh ini penghinaan yang teramat sangat. Tak sadar saya menangis, lalu membayangkan wajah ibu saya, andai saja beliau tahu kisah ini, mungkin hatinya akan remuk. Seketika saya merindukannya dan detik itu juga ingin rasanya terbang seperti burung dan pulang ke kampung, memeluknya. Ada sepuluh menit saya hancur disitu, orang yang kebetulan lalu lalang memperhatikan saya dengan tatapan curiga.

Saya beranjak, saya putuskan untuk pulang saja. Tiba-tiba mobil BMW itu berhenti persis di depan pagar. Mobil yang sangat familiar, kepunyaan si anak juragan angkot. Dan apa yang terjadi kemudian, Uli ’sembuh total’ dari sakitnya, membuka pintu, dan berlari riang menyambut lelaki bajingan namun beruntung itu. Ingin rasanya berteriak, “Ketahuilah Uli, dia suka main perempuan!”. Saya sangat sulit mempercayai apa yang saya lihat. Tapi, biarlah waktu yang akan menjelaskannya. Lagipula, saya akan merasa konyol seumur hidup jika sempat mengutarakan kalimat murahan seperti itu.

Uli melirik ke arah saya sepintas, namun berlagak tidak kenal. Akhirnya mereka menghilang ditelan daun pintu. Saya hanya bisa terperangah meresapi tragedi itu. Di kamar kos yang pengap saya memandangi wajah di cermin, “Dasar pecundang kau!”, saya memaki diri sendiri. Dan, selama enam tahun berikutnya saya dihantui trauma itu. Patah hati, dendam. Namun, sekaligus juga merubah hidup saya 180 derajat!

6 Comments

  1. tombus said,

    teni hoda

  2. johnson si berprestasi said,

    Bahasa orang kalah. Kalau kau orang Batak, mengapa benci orang Batak, hanya karena kau kalah perang. Kalau mau dapat cewek cantik molek berprestasi dll. kenapa kau tidak berprestasi dulu. Cewek kan tidak hanya Uli. udah tau mamanya si uli pingin anaknya dapat laki-laki yang menjanjikan dalam segala hal. Prestasi, uang dll. kenapa kau tidak cari prestasi dulu. kenapa kau tidak kuliah dan buat usaha dulu, supaya hidupmu di masa depan menjanjikan, supaya ada modal untuk menghidupi si Uli di masa depan. nanti kalau kau punya anak, kaupun akan memikirkan hal yang sama seperti mamanya si Uli itu terhadap anakmu. Semua orang tua pingin yang terbaik buat anaknya. termasuk kau juga. nantinya. Kalau kau nanti punya anak, datang 2 orang mendekati anakmu, satu bawa BMW lulusan Harvard University dan datang orang pengangguran, kaupun pasti memilih yang pertama. Kenapa? karena kau juga menginginkan yang terbaik buat anakmu. Kata orang cinta itu buta tetapi tidak tuli.

    Jadi jangan benci orang Batak hanya gara-gara kau tidak dapat cinta yang tidak seimbang. Bila kau benci orang Batak berarti kau bendi mamau, benci bapakmu, benci Tuhan yang menciptakanmu. Kau yang tidak sanggup memeluk pohon di hutan, akhirnya kau benci hutannya. orang aneh. jangan gunakan bahasa dan pola pikir bahasa orang kalah.

  3. johnson si berprestasi said,

    lagian kau berutang budi sama si Uli itu karena telah merubah hidupmu 180 derajat. bayar utangmu sama Si Uli yang telah berjasa merubah hidupmu. Kalau kau orang yang bermartabat sebagai manusia kau harus bayar utangmu. Boru Batak adalah perempuan yang terbaik, terindah, termulia dan tercantik dari segala perempuan di muka bumi ini yang diciptakan Tuhan, karena dari boru Bataklah saya dilahirkan Tuhan.
    Salah satu dari mereka adalah boru Batak yang melahirkan kau.

    Hidup BORU BATAK, I LOVE YOU FULL kapan dan dimanapun kau berada di segala tempat dan sepanjang masa. I LOVE BORU BATAK. LET’S SAY WE LOVE BORU BATAK NAULI .

  4. Rio Simatupang said,

    Horas Lae, Sbar aja ya Lae. Aku Rio Simatupang
    23 th tinggal Di Surabaya, Jatim Lae, aku
    peranakan jawa batak lae. Aku jujur memang
    digadang ama ortuku agar dapat cewek batak
    lae, Tapi pengalamanku berkata lain lae. Aku
    pernah PDKT ama Cewek Batak marga
    Napitupulu dan Sihombing, pertama merka mau
    di PDKT tapi ketika melihat aku, gak pake
    kendaraan bermotor, (pakai angkot) aku sengaja
    begitu lae supaya mreka gak tahu jati diriku,
    langsung gmana lae reaksi mreka? Tebak dg
    mudah, aku minta no. Hpnya si Boru Napitupulu
    tdk dikasih lae, dan si Sihombing kalau ku sms
    tdk pernah menjawab padahal statusnya
    delivered lae.. Benar2 keterlaluan mreka lae.
    Memang Orang tua mreka realatif kaya lae,
    bermobil lah lae. Langsung stlah aku PDKT ke
    mreka, gak ada 2 hari mreka uda ada cowoknya
    yang si Napitupuluh dapat cwok batak yang
    lebih kaya daripada aku, tapi otaknya memble
    dan satunya dapat cowok jawa kediri yang
    otaknya juga otak tempe cuman menang badan
    doang gedhe dan agak kaya, tapi utang2an.
    Week., Lae.. Aku berpesan lae, jika kita
    didiskriminasikan itu dijadikan MOTIVASI KITA
    untuk bertapa, belajar, bekerja dan berdoa KIta
    akan menjadi penguasa dunia lae, jadi TOP
    Pemimpin Perminyakkan lae sprti George W.
    Bush dan Ariel Sharon. Sapa tahu kita jadi
    presiden USA atau Israel lae, supaya kita bisa
    membalas dendam kpd cewek2 batak cantik
    dan sombong sehingga kita bisa menikah dg
    cewek ketrunan Yahudi Eropa dan melahirkan
    anak2 cucu kita dengan otak cemerlang,
    cerdas, matematika dan fisika, terampil main
    piano, dan biola, bisa perang, buat bom
    nuklir ,serum anti HIV dan sebagainya lae.
    Supaya keturunan kita suci dan tidak tercemar
    oleh darah kegengsian dan kebodohan suku2 di
    Indonesia yang hanya melihat cowok dengan
    uang dan gengsi fisik semata (Batak dan
    Minahasa). This is Suck!! Sabar lae. Aku
    mendukungmu. Lae add Facebookkku aja Ok?
    Aku suka bergaul dg orang2 gak punya lae,
    serasa damai aku bergaul dg orang2 gak punya,
    kata Ayahku lebih baik bergaul ama teman2
    yang sederhana dibandingkan yang lebih kaya,
    SUKSES LAE. Horas Di hita salutuna Sugeng
    Dalu…Matur Nuwun. (Maklum aku campuran
    Batak )..

  5. Rio Simatupang said,

    @Johnson + Tombus : Eh Dancok Anjing Kon membela cewek Matere dan sok jual mahal (padahal gratis mau, Munafik)!!! Suka2 dia mengutarakan perasaannya Itu HAM diatur oleh Undang2 Universal Goblok.. Lagipula si Bang Roy Sianipar kan curhat di blog utk mencurahkan perasaannya. Toh demi introspeksi kita kok.. Si johnson dan Tombus : Otaknya duit, duit dan duit pantas mukanya kayak comberan.. Menghina cowok miskin kamu.. Skill gak ada sok2an menghina raimu asuk cokk!!

  6. siringo speaking said,

    Penulis ini Bagus,,,
    Main ke Lapo Ku y,,,berandabatak.blogspot.com
    Banyak Hal2 Tentang Suku Bata di situ Aku Tulis
    Mauliate,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: