BATAK ITU TDK MENGENAL DAN MEGHARGAI TRADISINYA LAGI SEMENJAK KRISTEN MASUK KE DARAH BATAK.HKBP umumnya telah bertanggung jawab atas kehilangan semua tradisinya dgn alasan HKBP hanya memupuk tradisi kristen eropah nya bukan tradisi batak nya.

23/08/08 19:31

Naskah Aksara Batak 95 Persen di Luar Negeri
Medan, 23/8 (ANTARA) – Peneliti dari Universitas Hawaii, Prof. Dr. Uli Kozok, MA, mengatakan, sebagian besar atau sekitar 95 persen naskah aksara Batak dewasa ini berada di luar negeri.

Hanya lima persen naskah aksara Batak yang ada di dalam negeri, ujarnya ketika melakukan persentasi sistem komputerisasi aksara Batak Toba, di Medan, Sabtu.

Menurut dia, di Belanda diperkirakan terdapat sekitar 1.000 naskah aksara Batak, kemudian Jerman 500 naskah, Inggris 100 naskah, Denmark 60 naskah dan sisanya di beberapa negara lain.

“Belanda dan Jerman itu merupakan tempat koleksi terbesar aksara Batak, kemudian di Austria saya pernah melihat beberapa naskah baca, di Prancis juga ada,” ujarnya.

Dia mengatakan, kesemua naskah Batak itu tersimpan dengan rapi di museum-museum negara Eropa dan telah menjadi milik sah negara itu meski naskah tersebut berasal dari Sumut.

Perpindahan aksara Batak itu terjadi ketika zaman penjajahan Belanda, dimana para misionaris dari Jerman di tanah Batak dan para pegawai pada enam perusahaan Tembakau Deli di Pantai Timur Sumut membawa naskah itu ketika kembali ke negaranya.

“Itu mereka beli dari penduduk karena mereka tahu yang namanya naskah itu adalah sesuatu yang berharga. Seperti di Eropa ada tradisi naskah yang berusia ratusan tahun itu sangat berharga,” ujarnya.

Diperkirakan naskah aksara Batak tertua, kata dia, berusia sekitar 300 tahun dan setelah meletusnya perang dunia pertama sekitar tahun 1920-an naskah Batak tidak diproduksi lagi karena suku Batak telah beralih ke huruf latin.

Dalam naskah Batak masih banyak ilmu yang masih tersembunyi seperti sastra, anthropologi, obat-obatan dan sebagainya.

“Naskah Batak itu masih menyimpan ilmu yang tersembunyi dan belum dipelajari seperti bagaimana orang Batak meresap unsur agama seperti Budha dan Islam. Tapi sayangnya kita harus ke luar negeri untuk mempelajari naskah itu,” katanya.(*)

COPYRIGHT © 2008

2.000 Naskah Adat Batak Berada Di Belanda Dan Jerman
28 Nopember 2008 | 16:52 WIB

 

 

 

 

Medan ( Berita ) :  Sekitar 2.000 lebih naskah asli adat Batak dan 1.000 di antaranya terbuat dari kulit kayu saat ini berada di negeri Belanda dan Jerman. Profesor. Dr. Uli Kozok MA dari University of Hawaii, Minoa, Amerika, di Medan, Kamis [27/11], mengatakan, ribuan naskah asli adat Batak tersebut dibawa ke luar negeri ketika masa penjajahan Belanda dan masa Zending I.L Nomensen di tanah Batak.

Saat ini baru dua naskah yang bisa diakses untuk umum karena telah diolah dalam bentuk digital, sementara selebihnya belum dapat diakses karena masih dalam bentuk asli dan dikuatirkan akan rusak jika diakses untuk umum.

“Isinya pada umunya berupa instruksi atau tatacara upacara ritual keagamaan, cara mengalahkan musuh dalam peperangan, puisi-puisi cinta, dan tradisi, serta budaya Batak lainnya,” katanya.

Ribuan naskah tersebut lebih aman dan terjamin kelestariannya jika berada di luar negeri, karena kalau di luar negeri peluang untuk diperjualbelikan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab jauh lebih kecil.

“Selama ini di Indonesia banyak benda budaya yang seharusnya dirawat tetapi malah diperjualbelikan. Makanya lebih baik naskah-naskah asli tersebut lebih aman jika berada di luar negeri,” katanya.

Menurut ahli sejarah itu, pembuatan naskah dan budaya Batak dalam bentuk digital dewasa ini sangat diperlukan, mengingat setiap naskah yang berada di luar negeri itu tidak mudah dibawa kembali ke Indonesia. “Kalau sudah dalam bentuk digital akan mudah diakses oleh siapa saja termasuk juga oleh ilmuan-ilmuan yang meneliti lebih jauh tentang adat-istiadat suku Batak,” katanya. ( ant )

 Ribuan Naskah Budaya Batak Ada di Jerman dan Belanda
Kamis, 27 November 2008, 11:53 WIB
 

,
Ribuan naskah budaya Batak kini banyak disimpan di luar negeri di antaranya seperti Belanda dan Jerman.

Hal ini disampaikan ahli Sastra Batak dari Belanda, Dr Uli Kozok ketika bertemu dengan Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperasda) Sumut, Drs Syaiful Syafri MM di Ruang Gigital Baperasda Sumut, Jalan Brigjen Katamso Medan, Selasa (25/11).
Dijelaskan, naskah-naskah tersebut diperkirakan mencapai 2.000-an hingga kini masih tersimpan rapi.
Menurut Uli, dari sekitar 2.000 naskah batak tersebut ada 1.000 naskah dalam bentuk lak-lak (kulit kayu) dan sisanya dalam bentuk bambu atau tulang.
“Saya tak tahu naskah tersebut dari abad atau tahun berapa karena orang Batak setiap kali menulis tidak mencantumkan tanggal, hanya kita tahu tahun berapa naskah tersebut dibawa ke Belanda atau Jerman, sekitar tahun 1700-an,” ungkapnya.
Uli Kozok yang fasih berbahasa Batak dan berbahasa Indonesia menambahkan, dari ribuan naskah Batak tersebut, baru 2 yang dapat diakses melalui internet oleh masyarakat Sumut karena telah diolah dalam bentuk digital, dua naskah tersebut berasal dari Bremen dan Biloit di Belanda.
Sangat Diperlukan
Pembuatan naskah Batak dalam bentuk digital sangat diperlukan, mengingat setiap naskah Batak yang berada di luar negeri tidak akan mudah dibawa kembali ke Indonesia, khususnya Sumut. Padahal informasi mengenai isi naskah tersebut sangat diperlukan untuk dunia pendidikan dan sejarah.
“Dari dua naskah yang telah saya olah dalam bentuk digital tersebut, telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakt, khususnya mahasiswa untuk mencari informasi. Bahkan telah dijadikan bahan skripsi,” ungkapnya.
Dikatkan Uli, naskah Batak juga dianggap lebih aman dan terjamin keberadaan dan pelestariannya jika berada di luar negeri dibandingkan dengan Indonesia karena kalau di luar negeri peluang untuk diperjualbelikan atau disalahgunakan pihak-pihak tertentu jauh lebih kecil dibandingkan dengan di Indonesia.
“Selama ini di Indonesia banyak benda budaya yang seharusnya dijaga, tapi malah dijual. Makanya saya rasa naskah Batak juga lebih aman jika berada di luar negeri,” terangnya.
Untuk itu, agar lebih aman dan dapat dimanfaatkan semua kalangan dengan mudah, naskah Batak yang ada di luar negeri tersebut lebih baik dibawa ke Indonesia dalam bentuk digital.
Dijelaskan, keberadaan naskah Batak paling banyak berada di Tropen Museum Amsterdam, Univercitei Fsbiblio Fheek Leiden (Perpustakaan Universitas Leiden), dan Museum Antropologi Leiden.
Sangat Terarik
Sementara Kepala Baperasda Sumut, Drs Syaiful Syafri MM didampingi Sekretaris Drs Chandra Silalahi MSi mengaku sangat tertarik dengan penjelasan Uli Kozok.
Menurutnya, pemerintah seharusnya berterimakasih kepada ahli sastra Batak yang peduli dengan budaya Indonesia khususnya budaya Batak.
Langkah awal, Baperasda yakni mentransfer naskah-naskah budaya Batak yang dibawa Uli Kozok ke Badan Arsip.
“Kami telah simpan apa yang dibawa ahli sastra Batak ini dan akan kami simpan dengan baik sehingga masyarakat yang menginginkan dapat mendatangi bagian arsip. Naskah-naskah tersebut bercerita tentang peran, puisi tradisi masyarakat,” kata Syaiful Syafri.
Dilanjutkan, masyarakat yang ingin mengetahui naskah-naskah itu, juga bisa mengakses website:http//www.hawai.edu/indolang/manuscripts. (maf)
Teks Foto:
PERLIHATKAN: Ahli Sastra Batak Uli Kozok dari Belanda memperlihatkan naskah-naskaha budaya Batak yang sudah diolah dalam bentuk digital kepada Kepala Baperasda Sumut, Drs Syaiful Syafri MM didampingi Drs Chandra Silalahi MSi di ruang digital, Baperasda Sumut, Jalan Brigjen Katamso Medan, Selasa (25/11).

 
[www.analisadaily.com]
Spektakuler, Aksara Batak dalam Program Komputer akan Diluncurkan di Universitas Sisingamangaraja XII
Posted in Berita Utama by Redaksi on Agustus 19th, 2008
Medan (SIB)
Prof. DR. Uli Kozok, MA, peneliti Batak terkenal berkebangsaan Jerman (kini mengajar di Hawaii University), akan meluncurkan (launching) salah satu penelitian dan penemuan/rancangannya yang spektakuler, yaitu memprogram Aksara Batak ke dalam Komputer, dengan mengalihaksarakan huruf Latin menjadi tulisan Aksara Batak (Surat-Batak).
Peluncuran akan dilakukan di Universitas Sisingamangaraja XII Medan (US XII) Jalan Perintis Kemerdekaan No 9 Medan, Sabtu tgl 23 Agustus 2008, dalam suatu acara yang dimulai pukul 10.00 WIB.
DR GM Panggabean dalam kapasitasnya selaku Ketua Umum Yayasan Universitas Sisingamangaraja XII yang juga Ketua Umum Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, Kamis (14/8) telah memimpin rapat membentuk panitia untuk penyelenggaraan acara launching tersebut.
Ditetapkan sebagai Ketua Panitia Ir GM Chandra Panggabean, Sekretaris Ir Hasudungan Butarbutar MSi, Bendahara Netty Vera Panggabean.
Tiga pimpinan Universitas dan Sekolah Tinggi yang berada di bawah naungan Universitas Sisingamangaraja XII, duduk sebagai Penanggungjawab/Pengarah, yaitu Rektor US XII Prof Ir MPL Tobing, Rektor Unita Ir P Parapat MSi dan Ketua STMIK Sisingamangaraja XII Ir Pangeran Sianipar MSi.
Sebagai Wakil Ketua duduk para Pembantu Rektor/Puket all. MJP Sagala SH, MS (US XII), Ir Adriani MP (Unita) dan Drs M Situmorang, MKom (STMIK) sedang semua Dekan duduk sebagai Penasehat.
Pak GM mengharapkan para Bupati/Walikota/para ketua-ketua DPRD, dari kawasan Tapanuli, termasuk Tapanuli Selatan, Madina, P. Sidimpuan, dll, juga P Siantar, Simalungun, Tanah Karo, Dairi, Pakpak Bharat akan berkenan hadir untuk ikut menyaksikan acara yang spektakuler itu. Juga pejabat-pejabat di tingkat Pempropsu antara lain Gubernur Sumatera Utara H. Syamsul Arifin Silaban SE, Sekdapropsu Dr RE Nainggolan dan Kepala-Kepala Dinas, Ketua DPRDSU H Abdul Wahab Dalimunthe SH, tokoh-tokoh pendidikan, tokoh-tokoh adat, budayawan, pengusaha, ketua-ketua Marga-marga Batak dan tokoh-tokoh agama yang bernuansa Batak, diharapkannya berkenan hadir. Pj. Walikota Medan, Afifuddin Lubis yang akan dilantik Rabu besok, juga akan diundang.
Dalam rapat Kamis yang lalu, Pak GM berkata, pada saat kita dirundung kekhawatiran yang sangat dalam bahwa Aksara Batak akan punah, pada saat itu pula, dengan tak terduga-duga, muncul dan akan hadir di Universitas Sisingamangaraja XII, seorang Profesor peneliti Batak, akan meluncurkan hasil penelitian/penemuan/rancangannya memprogramkan Aksara Batak ke dalam Komputer.
Ini luar biasa, berarti Tuhan masih kasihan kepada suku bangsa Batak ini, kata Pak GM. Di sini kita tidak perduli lagi dan sudah lupa bahwa ada tulisan kita Aksara Batak, warisan nenek moyang, tetapi di luar negeri malah ada orang-orang pandai yang sangat perduli. Semoga Tuhan memberkati mereka, kata Pak GM.
Ini harus kita sambut baik. Kita harus memberi apresiasi tinggi. Universitas Sisingamangaraja XII harus mensukseskan acara ini, kata Pak GM.
Pada acara rapat tersebut, Drs Nelson Lumbantoruan, MHum, mantan asisten Prof Uli Kozok waktu mengadakan penelitian di tanah Batak memaparkan, bahwa Prof Uli Kozok akan sangat gembira jika dapat meluncurkan penemuannya tersebut di Universitas Sisingamangaraja XII. Sebab, katanya, Prof Uli Kozok pada tahun 1992 telah pernah “diulosi” oleh Pak GM Panggabean di Pusat Studi Batakologi Universitas Sisingamangaraja XII, waktu itu Pusat Studi Batakologi tersebut masih dipimpin Pdt Dr Andar Lumbantobing mantan Bishop GKPI.
Menurut Nelson mengutip keterangan Prof Uli Kozok, Uli Kozok sangat cinta suku bangsa Batak, sampai-sampai ia mengubah namanya dari Ulrich (bahasa Jerman) Kozok, menjadi Uli (bahasa Batak) Kozok, walaupun arti Ulrich dan Uli adalah sama, yaitu cantik/indah.
Menurut Nelson, penemuan/rancangan Prof Uli Kozok terhadap Aksara Batak ke dalam program Komputer, yaitu mengalihaksarakan Huruf Latin menjadi tulisan Aksara Batak (Surat Batak), misalnya kita cukup menulis dengan Huruf Latin : Horas Tondi Madingin pir tondi matogu, langsung akan menghasilkan Surat Batak. Luar biasa.
Menurut Pak GM, penemuan itu sangat mengagumkan, perlu disyukuri, perlu disaksikan dan selanjutnya dilestarikan.
Dari kehadiran Prof Dr Uli Kozok MA di Universitas Sisingamangaraja XII Sabtu 23 Agustus 2008 nanti, diharapkan akan dapat didengar uraiannya mengenai Pustaha-Pustaha Batak yang pada dewasa ini, ada ribuan Pustaha di beberapa negara di Eropa, seperti di Denmark, Belanda, Jerman dll. Dan apa saja kira-kira isi Pustaha itu? Bisa ditanya nanti.
Padahal di Bonapasogit, Pustaha Batak sudah sangat langka, kalaupun ada, mungkin sudah rusak dimakan “ngitngit” (rayap). (R1/f)

This entry was posted on Selasa, Agustus 19th, 2008 at 7:13 am and is filed under Berita Utama. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

1 Comment

  1. parhobass said,

    text nya warna putih, sehingga tulisan saudara tidak terbaca dengan baik…

    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: