BATAK PEOPLE.from the early to the latest this days. dying out of soul no more unity in cultures like baliness .every one in batak society wanted to be Lawers so they can be rich men/women.bribes and family favourtism very strong ib batak clans.this is one part of the reason why batak gone to pieces.hate each others.

 

Buku yang ditulis oleh Paul Michel Nunoz, judulnya ‘Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula’ menceritakan lokasi-lokasi dan kerajaan yang ada di sekitar semenanjung Malaya dan Jawa. Dari buku ini disebutkan beberapa nama untuk Jawa dan Sumatra pada abad ke-7 sampai 9M dari berbagai versi yaitu:

1. Bahasa Yunani (Greek) menyebut Jawa, Sumatra (Sriwijaya dan Melayu) sebagai: ‘Sabadibae, Labadium atau Zabai’

2. Bahasa China menyebut Jawa sebagai ‘Shepo, Chopo atau Chao-wa’ dan Sumatra sebagai ‘Ye-po-ti’ atau Sriwijaya sebagai ‘Kantoli, Chelifoche, Shi Li Fo Shi, Sanfotsi atau Sanfoqi’.

3. Bahasa Sanskrit menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Yavadesh’

4. Bahasa Pali menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Javadesh’

5. Bahasa India Utara menyebut Jawa sebagai ‘Yavadvipa’ dan Sumatra sebagai ’Suvarnadvipa’

6. Bahasa India Selatan menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Javaka – Cawaka’

7. Bahasa Arab menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Zabag, Zabaj, Ranaj’

8. Eropa menyebut Jawa sebagai ‘Java’ dan Sumatra sebagai ’Java Minora’

9. Bahasa Malay menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Jaba’

10. Bahasa Thai menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Chawa’

11. Bahasa Khmer menyebut Jawa dan Sumatra sebagai ’Jva, Melayu’

Buku ini menarik dibaca karena menceritakan beberapa legenda dan mitos tentang awal-awal migrasi bangsa zaman dulu sehingga mendiami kepulauan Nusantara. Buku ini juga menceritakan tentang ‘Barus (Barousai, Fansur, Fansuri)’ suatu kota tua dengan sejarah yang sangat panjang, karena terkenal dengan kapur barusnya yang dipakai untuk membalsem mummi Firaun di Mesir, dan juga ada dalam catatan Ptolemeus, salah satu ilmuwan Yunani.

Ada beberapa link yang menceritakan kota ini misalnya:

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0504/01/tanahair/1552017.htm

http://dedismk.multiply.com/journal/item/26/Ziarah_Ke_Barus_tempat_masuknya_Islam_ke_Nusantara

http://tano-batak.blogspot.com/2007_06_01_archive.html

Khusus buku karya Munoz ini terasa lebih lengkap karena juga menyertakan beberapa sumber yang tidak terungkap sebelumnya misalnya dari informasi pedagang India, China, dan Arab.

Btw, kenapa ya, selalu orang lain yang lebih paham akan sejarah kita? Apa karena naskah-naskah kuno kita dibawa ke Eropa sewaktu dijajah? atau karena kita kurang minat? kurang tekun? atau kurang menarik? Mungkin lebih menarik ngomong politik kali ya di saat sekarang hehehe

 

 

Posted by Dedy on Oct 4, ’07 1:11 AM for everyone

 

Pelabuhan Barus dikenal sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Nusantara. Marcopolo, pengelana dari Eropa, juga pernah menyinggahinya ketika pertama kali datang ke Sumatera

 

Barus di Tapanuli Tengah dulunya adalah sebuah pelabuhan yang bernama pelabuhan Barus, pelabuhan ini sungguh sangat dikenal oleh dunia luar, para-para pedagang dari berbagai penjuru dunia singgah ke pelabuhan ini untuk melakukan perdagangan , hingga akhirnya agama islam masuk ke nusantara asal muasalnya dari kota yang terkenal dengan kapur barus ini.

Perjalanan kali ini mencoba melihat peninggalan-peninggalan dan kondisi Barus saat ini. Perjalanan memang terasa sangat melelahkan. Namun, untuk seorang penapak sejati,  lama waktu perjalanan hingga  rintangan yang dihadapi tidak menjadi kendala yang berarti bagi diri, dengan backpack  yang  di panggul dan  kamera yang dirangkul, perjalanan ini akan memberikan cerita tersendiri.

Jadwal keberangkatan tertulis di tiket pukul 12.30, namun sayang jadwal penerbangan pun diundurkan.“ternyata begini penerbangan di Kota ini, sudah waktu yang tertunda  sejam, dan itu pun molor hampir sejam pula,” ungkapku, namun dihati

Hari pun sudah mulai gelap dan matahari pun mulai terbenam sedikit demi sedikit hingga hilang dari pandangan mata. Badan kini sudah mulai lelah, sedikit lagi kami kan tiba di daerah tujuan yang masih menyimpan rahasia buat kami.

Welcome to Barus, Horas..!
Melihat sebuah tulisan yang tertulis di sebuah gapura tersebut, merupakan suatu kepuasan dan kelegaan bagi kami, dan ternyata kami t’lah tiba di Kota tertua di Indonesia ini.

Akhirnya nyampai juga di Kota tertua yang juga sebagai pintu gerbang masuknya agama islam ke Nusantara. Pastilah mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia, mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Salah satu bukti atau petunjuk tentang muasalnya masuknya Islam masih bisa dijumpai hingga sekarang , berupa makam Islam tua di 11 lokasi. Misalnya komplek makam Syeh Machmudsyah di Bukit Papan Tinggi, dan makam Syeh Rukunuddin di Bukit Mahligai. Keduanya wafat pada tahun 440 dan 480 Hijriah. Angka itu diperoleh setelah menafsirkan tulisan pada nisannya.

Cuaca memang sedikit buruk,  gerimisnya hujan turut serta menemani perjalanan kami menuju Kota ini, namun tidak menggangu selama perjalanan, apalagi jalan ke Barus juga sudah lumayan bagus.

Di Barus terdapat 44 makam syekh, dengan keberadaanya yang bertebaran di berbagai tempat di kota ini. Tim pun  berkunjung di beberapa makam yang masih dapat dilalui dengan   kenderaan roda 4 dan juga dengan GL (goyang lutut-red).

Pertama dimulai dengan mengunjungi makam Tuan Machdum, jaraknya tidak jauh dari pnggiran  jalan raya. Hanya berjalan melewati persawahan padi milik penduduk dan menaiki 49 anak tangga makam pun telah tiba.

Dilanjut dengan mengunjungi makam Tuan Ibrahim Syah, letaknya yang persis di pinggir jalan raya bila kita telah memasuki jalan Ke Barus. Selanjutnya mengunjungi makam yang berada di Bukit papan Tinggi serta melanjutkan perjalanan ke Makam Mahligai yang terletak di desa di Desa Aek Dakka

Dikala menyambut bulan Ramadhan,  dan menjelang Lebaran banyak masyarakat muslim dari berbagai kota berkunjung ke Tempat ini. Berziarah dan  memanjatkan doa bersama dengan  keluarga.

“ Setiap tahunnya banyak pengunjung datang dari berbagai kota untuk berziarah ke makam ini, dan saya terkadang menjadi guide bagi tamu tersebut,” kilah Pak Sihotang.

Sejarahwan Islam dalam maupun luar negeri mengakui arti penting pantai Barat Pulau Sumatera (Andalas) sebagai salah satu daerah awal masuknya Islam ke Nusantara. Hal tersebut diyakini dengan adanya makam-makam syekh yang terdapat di beberapa tempat di daerah Barus ini.

Bahkan Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur. Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya).

Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai

Al-Fansyuri Punya Kenangan
Sosok Al-Fansyuri juga sangat terkenal dan juga dikenang  di Bandar Barus, yang  kini di Kecamatan Barus.  Menurut  Dalmi Kusnadi beliau adalah seorang pedagang dari Arab dan juga salah satu penyebar agama islam di Nusantara.

Di Barus terdapat dua buah pulau yang dan salah satu pulau yang keberadaannya tampak dari daratan barus ini adalah sebuah tempat persinggahan

Pulau Karang terlihat tidak terlalu jauh dari pinggir pantai. Kata Dalmi Kusnadi lagi di Pulau ini terdapat makam Au

Dan satu lagi ada Pulau Murshalah, di Pulau ini terdapat sebuah masjid dan peduduk yang bermukim di siti pun juga ada. Sewaktu masih hidup, Pulau Murshalah ini adalah daerah favorit-nya AL-Fansyuri.

Di Pulau tersebut menjadi tempat persinggahan bagi Al-Fansyuri, di Pulau ini terdapat air terjun yang juga sebagai tempat pemandian bagi pedagang dari Arab ini.

Untuk mengenangnya, kini nama Al-Fansyuri di kenang masyarakat setempat dengan menjadikannya nama sebuah hotel di Kota Barus, namanya Hotel Fansyuri, yang terletak di Jl. Jend.A.Yani .

 
710 anak tangga menuju Makam di Bukit Papan Tinggi
Dari seluruh makam syekh yang ada di Barus ini, makam ini lah yang paling tinggi tempat keberadaannya, yakni bekisar 200 meter diatas permukaan laut (Mdpl)

Ketinggian makam itu dibanding 43 makam bersejarah lainnya, menjadi alasan terdahulunya kedatangan Syekh Mahmud ketimbang para penyebar Islam lainnya.

”Dulu, konon cerita Barus sekarang ini adalah laut, dan pantainya adalah perbukitan yang menuju Bukit Papan Tinggi, atau paling tidak dulunya daratan ini masih rawa-rawa dalam. Seiring dengan perubahan ekologis, laut atau rawa-rawa itu jadi daratan yang kini menjadi Kota Barus,” kata  Pak Sihotang lagi.

Dengan penuh  rasa penasaran kami pun berangkat menuju Bukit Papan Tinggi ini, dan ternyata perjalanan menuju makam yang berada di atas bukit ini harus menempuh 710 anak tangga. Dan memang lumayan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam ini lumayan menguras tenaga.

Setapak demi setapak “eskalator mati”  yang basah akibat gerimisnya hujan kami tapaki satu demi persatu, perlahan lahan rasa pegal pun terasa di dengkul , hingga kami beristirahat ke tangga yang ke 500, dan ditangga yang kelima ratus ini telah disediakan tempat untuk beristirahat sejenak.

Amir teman seperjalanan terlihat masih tertinggal100 tangga ke bawah.“Jangan menyerah menir..,” gurau ku kepada rekan seperjalanan, dan dia pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan raut muka yang terlihat pucat pasi karena dia sedang berpuasa.

Cuaca saat itu sangat mendukung, teriknya matahari tak terlihat saat itu, hanya gerimis dengan angin sepoi-sepoi mengalun perjalanan kami hingga tiba di puncak.

Dengan menaiki 210 anak tangga yang tersisa, kami pun tiba di makam Syekh Machmudsyah, sebuah makam yang memiliki ketinggian kurang lebih 200 Mdpl

“ Konon cerita, banyaknya tangga menuju Bukit ini tidak dapat terhitung dengan tepat, banyaknya tangga tidak memiliki kepastianyang tepat bila dihitung,” ungkap Pak Sihotang yang juga ikut naik ke makam.

“Beri salam dan alas kaki dibuka” Tertulis di dinding pagar pintu masuk ke dalam komplek yang berada di Bukit Papan Tinggi ini. Makam nya pun tertata rapi dan juga bersih, semuanya terawat dengan apik.

Angin sepoi-sepoi memberikan kesejukan di hati serta menghilangkan letih yang tadi menyelimuti, ditambah dengan  keindahan panorama yang mengelilingi Bukit ini menambah tentramnya suasana hati saat itu.

Kapur Barus untuk Firaun
Bisa jadi kalau kapur Barus masih eksis di Kota ini, negara kapur barus mungkin sudah bertebar diberbagai penjuru dunia.

Menurut Pak Rusli Pohan, Salah satu orang tua yang ada di Barus ini, kapur barus sudah lama tidak lagi terproduksi. “ Aneh memang, daerah yang dikenal dunia dengan wewangian khas kapur barusnya itu kini hanya menjadi cerita semata,” tambah Pak Rusli lagi.

Sangat disayangkan pastinya, yang dulunya negara luar mencari kapur Barus di sini semuanya hanya tinggal sejarah saja. Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Tsunami tak Melanda Barus
Masih ingatkah anda tragedi Tsunami yang melanda  Aceh dan Nias, ternyata di Kota Barus ini terjadi pula sebuah kejadian yang aneh tapi nyata, dan hal tersebut tidak terpublikasikan  oleh media.

Sama seperti di Aceh, air laut surut dan masyarakat setempat berbondong bondong mengumpuli ikan yang tertinggal di pinggiran pantai. Begitu juga di pinggiran pantai di Barus, namun bedanya tsunami tak melanda Barus

Menurut Dalmi Kusnadi saat kejadian Tsunami ke 2 yang melanda Nias, air surut hingga kurang lebih dua ratus meter dari pingiran pantai  Barus. Dan ini sempat menghebohkan masyarakat setempat dengan adanya isu Tsunami.

“ Penduduk semua pada berlarian mencari daratan yang lebih tinggi karena takut akan adanya tsunami di Barus, dan saya ditugaskan untuk tinggal di pinggir pantai untuk memantau apa yang akan terjadi,” ungkap pria ini.

Ternyata tidak terjadi apapun di daerah ini, dan tambah Dalmi Kusnadi lagi, temannya yang sedang melaut melihat 7 orang sosok memakai jubah dan sorban putih  persis seperti ulama berdiri di tengah surutnya air.

“ setelah melihat sosok itu, sikap mereka kini telah berubah delapan puluh derajat. Yang dulunya suka minuman keras dan berjudi kini telah bertobat dengan melihat kejadian tersebut,” tambah pria yang ingin mendalami sejarah kampung halamannya ini.

Dan sosok yang dilihat itu, diyakini mereka adalah sosok para aulia yang menjaga daerah ini dari hantaman Tsunami yang melanda Aceh dan Nias.

Banyak jalam menuju ke Roma, begitu juga seadanya dengan Barus. Banyak alternatife perjalanan bila anda ingin berkunjung ke daerah nyaman dan tenang ini. Selain ingin merasakan suasana dan nuansa yang tidak didapatkan di daerah perkotaan anda bisa liburan ke Barus yang berada di daerah Tapanuli Tengah.

Kalau Anda ingin berziarah ke Barus, carilah tiket penerbangan menuju Bandara Pinang Sore.  lalu dilanjutkan ke Sibolga, dan dari Sibolga hanya bekisar dua sampai tiga jam perjalanan higga  tiba di Barus, namun jangan sampai kemalaman anda berangkat dari Sibolga menuju Barus, karena angkutannya tidak akan ada lagi.

Kalau menempuh jalan darat, juga tersedia transportasi umum dari Medan yang langsung sampai Barus. Dan semua kendalinya ada ditangan anda, tinggal pilih yang mana.

=====================================000000000000000000000000000000000000000==========================================

Kompas, 1 April 2005

BARUS, sebuah nama daerah terpencil di pesisir pantai barat Sumatera Utara. Tetapi, sejarah daerah ini sebenarnya sangat tua, setua ketika kapal-kapal asing beribu tahun sebelum Masehi singgah mencari kapur barus di sana. Dari Barus pula, agama Islam dan Kristen pertama-tama dikenalkan ke seluruh Nusantara.

BARUS atau biasa disebut Fansur barangkali satu-satunya kota di Nusantara yang namanya telah disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa, seperti dalam bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa.

Berita tentang kejayaan Barus sebagai bandar niaga internasional dikuatkan oleh sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolemaus, seorang gubernur dari Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2.

Di peta itu disebutkan, di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang menghasilkan wewangian dari kapur barus. Diceritakan, kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari Barousai itu merupakan salah satu bahan pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II, atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.

Berdasakan buku Nuchbatuddar tulisan Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam sekitar abad ke-7. Makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus yang di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah, menguatkan adanya komunitas Muslim di daerah ini pada era itu.

Dewan Gereja-gereja di Indonesia juga memercayai sejak tahun 645 Masehi di daerah Barus telah masuk umat Kristen dari sekte Nestorian. Keyakinan tersebut didasarkan pada buku kuno tulisan Shaikh Abu Salih al-Armini. Sementara itu, penjelajah dari Armenia Mabousahl mencatat bahwa pada abad ke-12 telah terdapat Gereja Nestorian.

Penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua, Barus, membuktikan pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.

Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.

“Berdasarkan data tidak adanya satu benda arkeologi yang dihasilkan setelah awal abad ke-12. Namun, para ahli sejarah sampai saat ini belum bisa mengidentifikasi tentang sosok Gergasi ini,” papar Lucas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi Medan.

Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.

Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.

“Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.

Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.

Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.

Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.

Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.

Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.

>small 2small 0<, Barus yang berjarak 414 km dari Medan benar-benar dilupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan.

Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan.

Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan.

Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.

“Kami yang tinggal di sini hanyalah warga sisa. Yang sukses atau yang berpendidikan enggan menetap di sini. Kota ini telah berhenti, tak ada dinamika, tak ada investasi,” kata Camat Barus Hotmauli Sitompul. (AHMAD ARIF

 

==========================00000000000000000=========================

BATAK VALUABLE HERITAGES MISSING AND DISCOVERED IN FORIEGNER HANDS NOW FOR SALES IN A BIG SHAME ON BATAK PEOPLE BECAUSE THEY LOST THEIR CULTURES.THEY BECAME WHITE MEN ….INSTEAD STAY PUT IN TO THEIR CULTURES BUT STILL FRIEND WITH ALL HUMAN KIND.

BATAK PEOPLE ALWAYS THINK THEY ARE SMART AND THE BEST OUT OF THE REST.but reality is here lies……………………….look all the crafts gone to the international auction table by collector

 

 

 

Kompas, 1 April 2005

BARUS, sebuah nama daerah terpencil di pesisir pantai barat Sumatera Utara. Tetapi, sejarah daerah ini sebenarnya sangat tua, setua ketika kapal-kapal asing beribu tahun sebelum Masehi singgah mencari kapur barus di sana. Dari Barus pula, agama Islam dan Kristen pertama-tama dikenalkan ke seluruh Nusantara.

BARUS atau biasa disebut Fansur barangkali satu-satunya kota di Nusantara yang namanya telah disebut sejak awal abad Masehi oleh literatur-literatur dalam berbagai bahasa, seperti dalam bahasa Yunani, Siriah, Armenia, Arab, India, Tamil, China, Melayu, dan Jawa.

Berita tentang kejayaan Barus sebagai bandar niaga internasional dikuatkan oleh sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolemaus, seorang gubernur dari Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2.

Di peta itu disebutkan, di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang menghasilkan wewangian dari kapur barus. Diceritakan, kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari Barousai itu merupakan salah satu bahan pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II, atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.

Berdasakan buku Nuchbatuddar tulisan Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam sekitar abad ke-7. Makam tua di kompleks pemakaman Mahligai, Barus yang di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah, menguatkan adanya komunitas Muslim di daerah ini pada era itu.

Dewan Gereja-gereja di Indonesia juga memercayai sejak tahun 645 Masehi di daerah Barus telah masuk umat Kristen dari sekte Nestorian. Keyakinan tersebut didasarkan pada buku kuno tulisan Shaikh Abu Salih al-Armini. Sementara itu, penjelajah dari Armenia Mabousahl mencatat bahwa pada abad ke-12 telah terdapat Gereja Nestorian.

Penggalian arkeologi yang dilakukan oleh Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua, Barus, membuktikan pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.

Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.

“Berdasarkan data tidak adanya satu benda arkeologi yang dihasilkan setelah awal abad ke-12. Namun, para ahli sejarah sampai saat ini belum bisa mengidentifikasi tentang sosok Gergasi ini,” papar Lucas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi Medan.

Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.

Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.

“Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.

Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.

Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.

Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.

Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.

Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.

>small 2small 0<, Barus yang berjarak 414 km dari Medan benar-benar dilupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan.

Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan.

Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan.

Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.

“Kami yang tinggal di sini hanyalah warga sisa. Yang sukses atau yang berpendidikan enggan menetap di sini. Kota ini telah berhenti, tak ada dinamika, tak ada investasi,” kata Camat Barus Hotmauli Sitompul. (AHMAD ARIF)

Posted by Lefidus Malau at 3:36 PM 3 comments   

Labels: Penelitian

 

Wednesday, June 27, 2007
Hikayat Surat Batak
 

 

 

A. Filsafatnya dan asal mula jadinya.
B. Si Mangarapintu menerima ilmu gaib dari Batara Guru.
C. Keterangan lanjut tentang “surat Batak”.
D. Datu Guru Aji Ginagan menciptakan metode unik untuk mengajarkan huruf-huruf Batak.
1) Cerita terjadinya aksara (huruf) yang berbunyi “na”.
2) Cerita terjadinya huruf (aksara) yang berbunyi “ha”.
3) Terjadinya aksara yang berbunyi “ga ” dan aksara yang berbunyi “la “.
4) Terjadinya aksara yang berbunyi “ba”.
5) Terjadinya aksara yang berbunyi “pa”.
6) Terjadinya aksara yang berbunyi “nga”.
7) Terjadinya aksara yang berbunyi “ja”.
8) Datu guru Aji Ginagan mengadakan ujian pertama.
9) Permulaan aksara yang berbunyi “da”
10) Terjadinya aksara yang berbunyi “ra”.
11) Permulaan aksara yang berbunyi “ma”
12) Permulaan aksara surat Batak yang berbunyi “ta”
13) Permulaan aksara yang berbunyi “sa”.
14) Datu Aji Bolak menemui kesulitan pertama.
15) Bagaimana tanda untuk vokal “i” diperoleh.
16) Guru Aji Ginagan melanjutkan pelajaran yang diberikannya.
17) Bagaimana tanda untuk menyatakan vokal “u” diperoleh.
18) Terjadinya tanda untuk menyatakan bunyi vokal “o”
19) Terjadinya tanda untuk menyatakan bunyi vokal “e”.
20) Penemuan terjadinya aksara untuk bunyi “a”.
21) Terjadinya tanda untuk menghilangkan bunyi “a” pada setiap aksara.
22) Apa sebabnya menulis “POS” tidak boleh:     dan harus:   
23) Penemuan tanda yang baru untuk bunyi “ng”
24) Sebab terjadinya pertambahan dua buah aksara baru lagi.
25) Terjadinya aksara baru untuk bunyi “i” dan bunyi “u”
26) Datu guru Aji Ginagan mengakhiri “kuliah”-nya.
E. PENUTUP

Posted by Lefidus Malau at 1:15 PM 0 comments   

Labels: Pustaha Batak

 

Friday, June 22, 2007
Batak Rooster
from:
www.rudisouth.com

Batak Rooster; 22″ high.
(Indonesia, Sumatra, circa 1900)

Posted by Lefidus Malau at 5:25 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Tunggal Punaluan

Batak shamans staff; 63″ high.
The Batak live in the northern part of Sumatra around Lake Toba and the priest’s staffs are called tunggal punaluan. They usually feature a single figure on horseback or narrow figure tiers. This staff is unusual in that it has a standing single figure. (Indonesia, Sumatra, circa 1900)

Posted by Lefidus Malau at 5:13 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Mask
Tribal Masks Gallery

from: www.mccuetribalart.com

Batak Mask, Sumatra Indonesia, dance mask with powerful expression. Soft patina from age 9 1/2″ high Early to mid 20th century. From English collection previously in Calif.

Posted by Lefidus Malau at 4:46 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

EARRING “KUDUNG- KUDUNG”
from:
www.shalimarbali.com

Karo Batak, Brastagi, North Sumatra
Approximately 70 years

These handmade Kudung-Kudung are gilded silver earrings and were worn by Batak women during various ceremonies.

Posted by Lefidus Malau at 4:38 PM 0 comments   

Labels: Batak Jewelry, Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Musketball Holder
from:
www.zkta.com

 

Carved buffalo horn musketball holder with protective guardian face. Batak, Sumatra Island, Indonesia. 19th century. 8.5″ high.

Posted by Lefidus Malau at 4:28 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Lute fret / Hacapi
from:
www.zkta.com

The portrait of a distinguished man adorns the finial of this lute fret from the Batak people of Sumatra. With a beautiful glossy patina, it measures 12-1/2″ high and is mounted on a hardwood base.

 

 

Posted by Lefidus Malau at 4:16 PM 0 comments   

Labels: Batak Music Instruments, Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Powder Container
from:
www.joelcooner.com

Batak Buffalo Horn Rifle Primer Powder Container

Details:

Origin: Batak People, Sumatra, Indonesia
Age: 19th Century
Materials: Wood and Buffalo Horn
Height: 5 1/2 inches high

Posted by Lefidus Malau at 3:48 PM 2 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Naga Morsarang
from:
www.metmuseum.org

Container for magical substances (naga morsarang), 19th–20th century
Indonesia, Sumatra, Toba Batak people
Horn (buffalo), wood; H. 20 1/2 in. (52.1 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1987 (1987.453.1)

Among the Batak people of Sumatra, the datu, or ritual specialist, required a variety of containers made of different materials to hold his supernaturally powerful mixtures and potions. This vessel, known as a naga morsarang, consists of the hollow horn of a water buffalo, its outer surface incised with curving foliate designs. In the interior of the horn, the earth deity Boraspati Ni Tano is represented in the form of a lizard, a motif that occurs on other ritual objects such as divination books.

The horn’s pointed end is carved in the form of a seated human figure. The wider, open end is plugged with an elaborate wooden stopper that depicts the singa (a zoomorphic underworld deity) with four human figures riding on its back. These human figures may represent the succession of ritual masters who preceded the datu who owned the container. It is also possible that the figures are related to mythical characters portrayed on other ritual implements.

Posted by Lefidus Malau at 3:32 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Staff finial / Tungkot Malehat
from:
www.metmuseum.org

Staff finial, 19th–20th century
Indonesia, Sumatra, Batak people
Copper alloy; H. 4 1/2 in. (11.4 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.143.141)

This kneeling figure likely served as the finial of a tungkot malehat, a type of ritual staff used by religious specialists among the Batak people of Sumatra. The tungkot malehat features a wooden or metal figure, as with the present example, that was often carved or cast separately and then joined to a staff of rattan or bamboo. A brass figure similar to this one and still attached to its wooden staff in the Volkenkundig Museum Nusantara, Delft, strongly suggests that the Metropolitan’s piece served the same function.

The cast figure has a large head crowned by a helmetlike headdress decorated with double spirals and a beaded border. The figure wears a matching beaded torque around his neck and holds a cylindrical vessel in his lap. The image is hollow and filled with a dark, hardened substance, a magical preparation added to increase the object’s supernatural efficacy. This powerful substance is visible through open sections of the headdress and above the small vessel in the figure’s lap.

Posted by Lefidus Malau at 3:27 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Puppet head (si galegale)
from:
www.metmuseum.org

Puppet head (si galegale), 19th–20th century Indonesia, Sumatra, Batak, Toba Batak people.
Wood, metal, horn, paint; H. 11 1/4 in. (28.6 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1987 (1987.453.6)

A unique tradition within Batak sculpture are the puppets known as si galegale. In former times, si galegale appeared at funerals, where they served as stand-ins for the sons of men who had no male children to perform their mortuary rites. Moved by a complex system of internal strings controlled by a puppeteer, si galegale participated in funerary dances alongside the deceased’s family. With the aid of moistened balls of moss inside its head, some were even able to shed tears for their dead fathers.

This si galegale’s head is beautifully carved with delicate facial features, with inlaid eyes made of lead and pupils of resin. The curving eyebrows are inlaid with pieces of water buffalo horn, and the ears are adorned with brass ear ornaments, known as sitepal.

Posted by Lefidus Malau at 3:23 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak, Tales From Batak

 

Ceremonial textile (ulos ragidup)
from:
www.metmuseum.org

Ceremonial textile (ulos ragidup), 19th century
Indonesia, Sumatra, Toba Batak people
Cotton; L. 42 1/2 in. (108 cm)
Gift of Ernest Erickson Foundation Inc., 1988 (1988.104.25)

In the Toba Batak region, a particular type of textile, known as an ulos ragidup, was traditionally given to the mother of the bridegroom from the father of the bride at his daughter’s wedding. This ceremonial exchange was meant to ensure the fertility of the couple and solidify the union of the two families. Occasionally, ulos ragidup were also used during funerary ceremonies to cover the exhumed bones of the dead or the exterior of a coffin.

This ulos ragidup consists of a wide central panel flanked by narrower strips on either side. The central panel is divided into three horizontal sections, with the two large end panels woven in white, and a middle panel adorned with fine white and dark blue stripes. By connecting the warp of the end panels to the warp of the central panel, the woman who created the textile was able to physically weave the three panels together as one, as opposed to sewing together three separate pieces. This ingenious weaving technique is unique to the Batak, and occurs nowhere else in Indonesia.

Posted by Lefidus Malau at 3:15 PM 0 comments   

Labels: Batak Textile / Ulos Batak

 

Architectural ornament
from:
www.metmuseum.org

Architectural ornament, 19th–20th century
Indonesia, Sumatra, Toba Batak people
Wood, paint; H. 13 1/2 in. (34.3 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.143.68)

Traditionally, Batak communal houses were richly decorated with geometric designs and naturalistic figures brightly painted in red, white, and black. The main decorative elements on the houses were large, carved animal heads incised with complex curvilinear motifs.

The architectural ornaments on the sides of the house consisted predominantly of horses’ heads such as this one. These highly ornate pieces were not only decorative but also served as supernatural guardians that ensured the safety and security of the structure’s inhabitants. In the Toba Batak region, horses were often consecrated to the three principal deities, and were believed to have the ability to transport individuals to the realm of the ancestors. They were also symbols of high status, since only the elite could afford to own them.

Posted by Lefidus Malau at 3:07 PM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Wednesday, June 6, 2007
Guri guri
from:
www.metmuseum.org

Container for magical substances (guri guri), 19th–early 20th century
Indonesia, Sumatra, Toba Batak people
Wood, Chinese porcelain; H. 13 1/2 in. (34.3 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.124.2a,b)

Container for magical substances (guri guri), 19th–early 20th century
Indonesia, Sumatra, Toba Batak people
Wood, Chinese porcelain; H. 13 1/2 in. (34.3 cm)
Gift of Fred and Rita Richman, 1988 (1988.124.2a,b)

Prior to the widespread adoption of Christianity in the early twentieth century, magic formed an important element of Batak religious practice. Religious specialists, known as datu, performed both benign and malevolent magic using a variety of ritual paraphernalia. The most sacred and powerful of the datu’s objects was the potion container, or guri guri. These containers held pupuk, a powerful substance made from a ritually executed human victim. Pupuk, it was believed, could force the victim’s spirit to do the datu’s bidding.

The containers themselves were often imported Chinese ceramics, but the Batak carved elaborate wooden stoppers to seal the mouths of the vessels. Many stoppers, such as this example, depict human figures riding horselike creatures called singa. Combining aspects of horses, snakes, lions, and other animals, singa are mythical creatures associated with fertility and supernatural protection.

Posted by Lefidus Malau at 9:24 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Rice Container

Batak Rice Container
The real thing! A great cultural artifact.
Sumatra
Early 20th century

Posted by Lefidus Malau at 9:05 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Ulos Batak

Basic Information

Artifact Identification : Ulos, Ceremonial Textile
Visual Description : Cream-colored textile with black and red-brown patterned stripes and tassles at top and bottom. Stripes are either black or red and are made up of geometric patterned elements, primarily triangular.
Artist/Maker: None
Geographic Location : Asia, Southeast, Sumatra, Lake Toba, Prapat
Period/Date , Ca.: 1970’s
Culture : Batak, Probably Toba Batak

Physical Analysis

Dimension: 1 (Length) 133 cm
Dimension: 2 (Width) 50 cm
Dimension: 3 (N/A) N/A
Weight : 152 g
Measuring Remarks : Length includes tassles at both ends.
Materials : Textile
Manufacturing Processes : Weaving
Munsell Color Information : N/A
Research Remarks

Published Description : N/A
Scholarly Notes : Prapat is a primarily Toba Batak area. This textile is definately Batak and probably Toba Batak culture. this is an ‘ulos’ a textile used as a ceremonial gift for weddings and funerals. We have some examples in the teaching collection. Clark Cunningham, 2003.
Comparanda : N/A
Bibliography : N/A
Artifact History

Archaeological Data : N/A
Credit Line/Dedication : Gift of Ellen Cole Miller.
Reproduction : N/A
Reproduction Information : N/A

 

Posted by Lefidus Malau at 7:42 AM 0 comments   

Labels: Batak Textile / Ulos Batak

 

Handcrafted Depiction of a Myth

Handcrafted depiction of a myth from the Batak people of Sumatra.

This wooden carving (17″ tall and 17″ wide with a 13″ deep base) dates back to the mid-19th century. In Batak mythology, a boy who has left his family returns and unknowingly couples with his mother. As the sun rises and light enters the room, the mother sees his birthmark and realizes she is in her son’s arms. The two confront and express their complex ranges of emotion. This is authentic folk art at its finest.

Posted by Lefidus Malau at 7:35 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Medicine Container

Batak medicine container made out of water buffalo horn with a sitting figure at the top. The stopper is missing, but the overall patina is good and dark from age and use. Previously sold at Christies Amsterdam from the collection of Herbert da Silva. 19th century, 10″ tall, Sumatra, Indonesia.

 

 

Posted by Lefidus Malau at 7:24 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Figurative Container

Batak figurative container made from a section of Bamboo. The head removes to open the top, and the patina is thick and dark from storage and use. The height is 13″, and the diameter is 4″

 

 

Posted by Lefidus Malau at 7:21 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Musket Ball Holder

A very classic Batak musket ball holder made from intricately carved water buffalo horn. This well carved horn is capped with a wood end, and has a good patina from age and use. Previously sold at Christies Amsterdam from the collection of Herbert da Silva. 19th century, 8 1/2″ tall, Sumatra, Indonesia.

Posted by Lefidus Malau at 7:18 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak House Panel

Batak house panel with large Singha face. The mystical Singa figure is found on most traditional Batak houses, and many other works of art to ward off evil spirits. Late 19th or early 20th century with faint natural pigment colors still visible. Sumatra, 35″ wide by 27″ tall.

Posted by Lefidus Malau at 7:14 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Pustaha Batak –002
Book of Batak priests. Written on a special piece of tree bark in a special language only understood by priests.

Posted by Lefidus Malau at 6:54 AM 0 comments   

Labels: Pustaha Batak

 

Bamboo Calendar
Batak Bamboo Calendar

 Batak Bamboo Calendar also functions as an oracle instrument to predict the future and devine or auspicious days for travel or rituals. The actually inscribing on the calendar is done by a Datu pupil (Toba Batak Priest). It has a beautiful natural patina from age. Most of the inscription is in good condition.
Material: Bamboo
Size: 12.5″x2″x2″
Country: Indonesia-Sumatra
Date: 19th-20th Century

Posted by Lefidus Malau at 6:47 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Pagar
PAGAR – BATAK SHAMAN’S TALISMAN

Material: Composite
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 8 inches

In THE ELOQUENT DEAD, edited by Jerome Feldman, page 87-88, it is stated that, “No matter what precautions are taken, there will be ancestors that have no place in the spirit world. These begu, or malevolent spirits, can be persuaded to take up residence in pagar – charms – and serve the men who control the pagar. Pagar means ‘fence’ and designates, according to Barbier, ‘a natural or manufactured object….which has the power to keep away evil spirits or to protect against witchcraft’ “. The pagar talisman would be activated by special incantations spoken by the shaman. This old pagar depicts a female figure with large, pointed breasts. Bone fragments are bound to the lower portion of the front of the figure with fiber cordage. A conical iron tip supports the figure above. Plugs in the head and abdomen seal the openings which have been filled with pukpuk, a ritually charged substance unique to the Batak. Good, old patina. 19th century.

Posted by Lefidus Malau at 6:42 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

House Pacel
HOUSE PANEL, LAKE TOBA BATAK

Material: Wood
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 14 x 29 inches

Awesome older carved wood polychrome architectural panel from a traditional Lake Toba Batak house. This comes from an old home that was taken down in 1990. Note the definitive Singa motif. Packing and shipping will be USD25.00 for this item.

Posted by Lefidus Malau at 6:37 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Talsimanic
BATAK TALSIMANIC – CALENDAR CYLINDERS, ETCHED BAMBOO

Material: Bamboo
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 13 inches

A pair of carved bamboo tubes from the Lake Toba Batak people of Sumatra, Indonesia. Rings made of water buffalo horn are inlaid into the top and bottom edge of each tube. Elaborate, fine, classic Batak etchings decorate the tubes. One cylinder features a twin centipede motif and a calendar. The other has a depiction of a large stylized scorpion, a gecko – lizard, and two centipedes. These creatures feature prominently in the Batak shaman’s traditions and are featured on storage tubes for their talismanic – protective attributes. Ritual symbols and combinations of marks cover the surface of the bamboo, making these genuine Batak – crafted pieces wonderful objects for examination and contemplation.

Posted by Lefidus Malau at 6:34 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

BATAK SHAMANIC FIGURE

Material: Wood
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 9 inches

An exceptional carved wood anthropomorphic shamanic figure from the Lake Toba Batak people of central Sumatra. Articulating arms. Good patina.

Posted by Lefidus Malau at 6:32 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Shamanic Figure
BATAK SHAMANIC FIGURE

Material: Wood
Region:
Dimensions: C. 10 inches

Fine example of an older Lake Toba Batak carved wood shamanic figure. Squatting, on pedestal, female, articulating arms.

Posted by Lefidus Malau at 6:29 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Shaman’s Tube
BATAK SHAMAN’S TUBE, LARGE AND COMPLEX

Material: Composite
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 32 inches

An exceptionally large and well crafted version of the Batak shaman’s ritual storage container. Measures about 32 inches, overall. Large finial plug depicts the Batak mythic guardian beast, the Naga. A shamanic figure sits astride the Naga’s head, holding a ritual bowl. The bottom of the tube is stoppered with a squatting ancestral figure. The surface of the tube is etched and incised with a myriad of traditional Batak designs, ritual symbols and marks, including a large shaman’s calendar, designating the auspicious and inauspicious days in the ritual – ceremonial cycle. A fine and collectible example of the craft, not ancient, but authentic and made in the Lake Toba area of Sumatra.

Posted by Lefidus Malau at 6:26 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Shaman’s Oracle Bone
BATAK SHAMAN’S ORACLE BONE

Material: Bone
Region: Lake Toba
Dimensions: c. 15 inches

Carved and etched water buffalo rib bone from the Lake Toba Batak people of Sumatra, Indonesia. Used as a shaman’s oracle bone, the etched and carved motifs include lizards, or geckos, a snake, a crab, and various arcane symbols. A classic Batak calendar is etched into the inner curve of the bone. Measures about 15 inches across the tips.

Posted by Lefidus Malau at 6:24 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Shaman”s Medicine Container
BATAK SHAMAN’S MEDICINE CONTAINER, SUMATRA

Material: Composite
Region:
Dimensions: C. 12 inches

A classic Batak talismanic ancestral figure rides the legendary Naga beast on the stopper of this Lake Toba Batak medicine container. Hardwood finial stopper, incised bamboo tube, cow horn rings on upper and lower ends. Complex Batak designs etched into surface of bamboo, including a calendar that marks significant days for the use and non use of the tube’s contents. Measures about 12 inches overall.

Posted by Lefidus Malau at 6:20 AM 0 comments   

Labels: Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Ring –001
BATAK RING, SUMATRA

Material: Brass
Region: Indonesia
Dimensions:

A brass finger ring, featuring a warrior on a horse.

Posted by Lefidus Malau at 6:17 AM 0 comments   

Labels: Batak Jewelry, Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Batak Ring
BATAK RING, SILVER

Material: Silver
Region: Lake Toba
Dimensions:

Old silver ring from Sumatra, Batak people. Interesting, unique design. Strong, heavy, wearable. US ring size is 9.

Posted by Lefidus Malau at 6:14 AM 0 comments   

Labels: Batak Jewelry, Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Singa Naga
Batak Bracelet with Singa Naga

Material: Metal
Region: Lake Toba
Dimensions: C. 4 inches diameter

Classic heavy metal cast bracelet from the Lake Toba Batak people of central Sumatra. Double singa motif with geometric designs. Two lizards cling to the backs of the singas. The magical, mythical singa beast features prominently in Batak traditional thought. Part naga with elephantine elements, the singa motif occurs in jewelry, house panel designs, and shaman’s paraphernalia.

Posted by Lefidus Malau at 6:10 AM 2 comments   

Labels: Batak Jewelry, Batak Sculpture / Motif Ukiran Batak

 

Tuesday, June 5, 2007
Batak Drum

Left: NMM 2332. Drum, Batak tribe, Sumatra (Indonesia), 19th century. Bottom carved to resemble an old bronze cannon; traces of green pigment remain. Board of Trustees, 1977.

Center: NMM 1536. Handle drum, probably from Samoa, early 20th century. Arne B. Larson Collection, 1979.

NMM 1479. Handle drum, Trobriand Islands, early 20th century. Board of Trustees, 1976.

 

Posted by Lefidus Malau at 12:42 PM 0 comments   

Labels: Batak Music Instruments

 

Marsada
from: National Geographic

 

Artist Name: Marsada
Country: Indonesia

Artist Bio: Marsada are a dynamic group of young musicians from Sumatra, Indonesia. Part of the Toba-Batak indigenous group, their native home and source of inspiration for their music is the beautiful tropical island of Samosir in Lake Toba, the largest volcanic lake in the world.

Marsada means “together” in Batak, an apt name for a group who have known each other and performed together for most of their lives. Initially formed as a musical trio in 1990, Marsada extended the group in 1999 to become the group they are today.

The Batak are renowned for their musical ability, and consequently Marsada have grown up surrounded by music. Keen to sustain their musical traditions, as well as draw on their modern day influences, Marsada have developed their own arrangements of both the Batak ceremonial music (uning-uningan) and Batak folksongs. Using traditional instruments alongside modern acoustic guitars, Marsada broaden their musical accessibility by weaving together traditional rhythms with those that have evolved from contact with Europe and the West. Traditional instruments used by Marsada include the hasapi (two-string plucked lute); sulim (bamboo flute), garantung (wooden xylophone), taganing (set of five wooden drums of varying pitch) and the hesek (common bottle struck with beater).

Founding member of Marsada in 1990, Marlundu Situmorang, reportedly first picked up his older brother’s guitar at the age of six and has rarely been seen without one since! He is blessed with a rich silky voice, and as lead vocalist and rhythm guitarist he provides a strong lead for the group. The other two members of the original trio, Kolous Sidabutar (bass) and Jannen Sigalingging (hasapi/lead guitar), complement Lundu’s vocals perfectively and form the core of the close harmony singing so characteristic of the Batak folksongs.

Oldest member of the group, Tony Sidabutar, is, like most, able to switch effortlessly between instruments to great effect, but his main strength is undoubtedly in his beautiful sulim playing. Tony makes most of his flutes himself with bamboo grown on Samosir Island. Also on sulim as well as percussion is Amir Sinaga. Henry Manik provides strong percussive cohesion on hesek and Amput Sidabutar skillfully alternates between rhythm and melody on the garantung and taganing.

Listen To Pulo Samosir

Music by this Artist 

 
 Pulo Samosir
Label: Dug Up Music

Track List
  Listen
 

— Courtesy Calabash Music
 

Posted by Lefidus Malau at 11:47 AM 0 comments   

Labels: Lagu Batak

 

Monday, June 4, 2007
Batak Instrument / Instrumen Musik Batak
Hasapi

Date: 19th century
Country of origin: Sumatra
Material: Wood
Dimensions

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: