cerita BATAK perantau

Migrasi Orang Batak
Suatu Strategi Hidup Mereka

Togar Nainggolan
Nijmegen, Netherland

Dalam Buku Harian saya terdapat catatan berikut: “Harapohan, 24 Juni 1996, Senin, pagi….Pengungsian besar. Dari kampung kecil ini, yang hanya berpenduduk sebanyak 500 jiwa, 150 orang (petani) berangkat ke Sumatra Timur sebelum perang. Sesudah perang hal itu terulang lagi, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak, yaitu 300 orang.” Bulan Juni 1996 saya mengadakan penelitian lapangan di Samosir untuk skripsi saya. Sebenarnya tema skripsi saya bukan tentang perpindahan ini, tetapi dirangsang oleh kuliah Bronnenonderzoek (penelitian sumber-sumber) saya tertarik untuk mencari-tahu gejala ini. Ada dua pertanyaan saya. Pertama ialah apa sebab dan akibat migrasi ini? Dan kedua, apa arti migrasi ini untuk orang Batak Toba? [selanjutnya disingkat (orang) Toba] Saya mencari sumber-sumber untuk menerangkan (menguraikan) masalah ini. Saya buat itu pertama dengan mencari sumber lisan (oral history). Dan yang kedua sumber-sumber tertulis. Berikut ini laporan ceritera saya.

Cukup sulitlah untuk mendapat informan yang tahu persis tentang kedua migrasi ini di Negeri Belanda. Saya memilih dua misionaris untuk hal ini karena mereka saya kenal ketika mereka masih di Indonesia. Mereka lama tinggal di Sumatra Utara. Saya kira bahwa mereka tahu banyak tentang kejadian ini. Informan saya yang pertama ialah P. Beatus Jenniskens (86). Dia tinggal di biara Kapusin Tilburg. Dia mulai karya misinya pada tahun 1938. Selama 28 tahun dia tinggal di daerah Toba dan 18 tahun di Sumatra Timur (Panombangan). Dia selalu bekerja di tengah-tengah orang Toba. Karena itu dia mengenal suku ini dengan baik. Tahun 1984 dia harus kembali ke Negeri Belanda karena sakit yang cukup parah.

Menurut Jenniskens ada beberapa alasan mengapa orang Toba pergi merantau (migrasi). Pertama ialah karena daerah Toba tidak subur. Sementara pengolahan persawahan merupakan sumber kehidupan utama di daerah ini. Orang hanya bisa mengolah sawah di lembah atau di muara sungai, di mana ada pengairan. Di sini memang tanah di pakai secara optimal. Tetapi karena jumlah penduduk semakin bertambah (orang Toba suka dengan keluarga besar) maka pada suatu ketika harus dicari lahan baru. Namun bukan hanya itu alasannya. Yang kedua ialah pada masa revolusi (1945-1950) situasi sangat kacau. Orang Toba menggunakan kesempatan ini untuk menduduki dan mengolah tanah-tanah kosong di Sumatra Timur. Pater Beatus berceritera lebih banyak tentang migrasi gelombang kedua.

Informan saya yang kedua ialah P. Bavo Westgeest (56). Saat ini dia tinggal di biara Kapusin, Wolfkuilseweg 173, Nijmegen. Dia adalah misionaris di Sumatra Utara dari tahun 1968 sampai 1985. Tahun 1985 dia kembali ke Negeri Belanda juga karena alasan kesehatan.

Pater Bavo bukan saksi mata dari kedua kejadian ini. Dia mendapat informasi tentang situasi ini dari sumber kedua, artinya dari sumber-sumber tertulis lain. Menurut beliau kekurangan tanah — karena tanah yang tidak subur dan bertambahnya penduduk — mengakibatkan kemiskinan dan banyak perkara soal tanah. Setiap orang tentunya ingin memperoleh sebidang tanah yang subur, tetapi lahan tidak cukup. Maka terpaksa para petani merantau.

Kedua informan saya melihat secara nyata akibat migrasi ini untuk orang Toba ialah perbaikan ekonomi. Perbaikan ekonomi rumah tangga ini nampak jelas dengan hidup mereka yang lebih baik. Tentu hal ini ada hubungannya dengan kesuburan tanah dan naiknya produksi mereka. Kadang-kadang mereka mengirim uang kepada keluarga di kampung; pulang ke kampung pada kesempatan tertentu atas biaya sendiri; membayar banyak biaya pesta keluarga di kampung; mengajak anggota keluarga yang lain untuk datang ke tempat mereka dan kalau memungkinkan tinggal bersama mereka di tempat perantauan; memberi bantuan untuk orang yang baru mulai di tanah perantauan.

Saya ingin tahu lebih jauh: sejauh mana faktor ekonomis dan situasi yang kacau pada masa sebelum dan sesudah perang mempengaruhi migrasi petani Toba. Saya cari informasi lanjut tentang hal ini. Untuk lebih gampang mencari sumber tertulis saya menggunakan komputer perpustakaan universitas Nijmegen. Sesudah menemukan sumber-sumber tersebut, saya seleksi. Sumber-sumber yang penting ialah statistik (de Volkstelling 1930), dua buku Karl Pelzer (1978, 1982) dan buku Clark Cunningham (1958). De Volkstelling 1930 melaporkan berapa banyak penduduk di Nederland-India menurut daerah dan pulau dalam tahun 1920 dan 1930. Pelzer menulis tentang konflik antara pemilik perkebunan dan petani di Sumatra Timur pada masa penjajahan dan revolusi. Para petani ingin memiliki sebidang tanah dari tanah perkebunan tersebut. Dan pemilik perkebunan tentunya tidak mau. Ini tentu saja menimbulkan problem. Cunningham membuat penelitian tentang petani Toba yang merantau dari kampung Meat (sebuah kampung dekat Balige) ke kampung Rawang (di daerah Asahan). Dia membuat penelitian ini dengan partisipasi dan observasi di tengah orang Toba pada kedua tempat tersebut. Menurut Cunningham, latar-belakang dan budaya orang Toba ikut berperan bagaimana mereka hidup di daerah transmigrasi.

Menurut sumber tertulis yang saya baca alasan ekonomis perpindahan orang Toba pada waktu itu dapat diterangkan sebagai berikut. Daerah Toba ada pada Bukit Barisan. Hapir dua-per-tiga dari daerah ini berada pada ketinggian di atas 1000 meter. Daerah Toba ada sekitar 10.000 km2. Tahun 1985 tinggal sekitar 700.000 orang di daerah Toba. Dengan demikian ada sekitar 70 orang per-km2. Kepadatan penduduk ini termasuk cukup tinggi untuk daerah agraris yang tidak subur seperti tanah Toba (Eijkemans, 1995:9). Orang Toba tinggal terutama di kota-kota kecil, sepanjang pantai danau Toba dan di lembah-lembah. Karena daerah ini bergunung-gunung maka dia termasuk daerah yang ‘terbatas’ dan ‘tertutup’ (bdk. lembah). Infrastruktur sangat kurang memadai (Cunningham, 1958:16). Orang hanya bisa mengusahakan persawahan di lembah di mana pengairan memungkinkan. Sementara itu 90% penduduknya hidup dari hasil pertanian, terutama beras. Karena tiap keluarga mempunyai hanya rata-rata 0,83 ha sawah (Eijkemans, 1988:12) sementara jumlah anggota keluarga besar (4-6 anak) maka pendapatan keluarga sangat rendah (Rodenburg, 1997:23). Pada waktu itu tidak ada perbaikan cara pengolahan tanah pertanian. Orang Toba mengolah tanahnya dengan cara tradisional, yaitu dengan tangan. Daerah ini termasuk salah satu daerah termiskin di Propinsi Sumatra Utara (Eijkemans, 1995:9). Karena itu mereka terpaksa merantau, baik untuk sementara maupun tetap (Spaan, 1995:22; Rodenburg, 1997:36).

Tentang sebab-sebab politik migrasi ini saya menemukan informasi lebih lengkap pada hasil studi Pelzer dan Cunningham daripada yang diberikan oleh informan saya. Sebelum perang (Perang Dunia II), pemerintah kolonial Belanda mengadakan undang-undang pengaturan penduduk, a.l. transmigrasi (Slockers, 1973:6). Pemerintah ingin bahan makanan yang cukup dan pendapatannya meningkat. Karena itu pemerintah Belanda membuat proyek pengairan dan meminta orang untuk mengolah sawah di sana. Pemerintah kolonial meminta orang Toba untuk mengolah persawahan di daerah Simalungun. Orang Simalungun tidak mengolah sawah pada waktu itu. Maka pada tahun 1930 datanglah di sana sekitar 30.000 orang Toba. Mereka mengolah persawahan seluas 35.540 acre (1 acre=40,5 are) (Cunningham, 1958:iii). Sesudah perang, di mana ada kekosongan kuasa dan situasi yang kacau di daerah perkebunan, datang ribuan orang Toba ke daerah perkebunan di Sumatra Timur. Menurut Cunningham (1958:vii) banyaknya orang Toba yang datang ke sana pada periode 1950-56 ada sebanyak 250.000 orang. Organisasi petani dari partai komunis (BTI, Barisan Tani Indonesia) menuntut supaya sebagian dari daerah perkebunan diberikan kepada petani. Tiap petani mendapat dua hektar tanah yang tidak diairi dan satu hektar sawah (Pelzer 1982:50). Pada tahun 1958 petani menduduki 126.000 hektar dari tanah perkebunan (Pelzer, 1982:165).

Kemudian migrasi ini tentu tidak lepas dari mental dan kegigihan orang Toba. Yang saya maksud dengan mental di sini ialah “espirit de corps, family unity, personal dynamism, individual enterprise, and sense of purpose” dari orang Toba (Cunningham, 1958:85). Sedang kegigihan berarti di sini ketekunan dan kerja kerja keras orang Toba sebagai akibat dari situasi mereka di kampung (lihat faktor-faktor ekonomi Rodenburg, 1997:35-7 dan interview dengan Pater Westgeest). Selain daripada itu orang Toba beranggapan bahwa di luar Toba situasi hidup mereka akan lebih baik (Rodenburg, 1997:201). Mereka ingin mencapai kemajuan ekonomi.

Akibat dari faktor-faktor di atas ada dua, yaitu perbaikan kehidupan ekonomis dan transformasi dari identitas. Perbaikan ekonomi dimungkinkan oleh tanah yang subur, kepadatan penduduk yang rendah, dan infrastruktur yang lebih baik di Sumatra Timur (Rodenburg, 1997:22).

Yang saya maksud dengan transformasi identitas ialah bahwa orang menyesuaikan dirinya dengan situasi yang baru tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Dari satu pihak orang Toba mempertahankan identitasnya dengan memegang tetap tradisi tua. Mereka membangun perkampungannya di daerah perantauan (kampung Rawang) seperti di daerah Toba, yaitu atas dasar hubungan keluarga atau tempat asal yang sama. Mereka membangun Gereja sebab mereka Kristen. Mereka memegang adatnya. Mereka menggunakan bahasa Toba di antara mereka. Mereka memegang sifat ‘kasar dan keras’ sebagai ‘groep personality’ atau ‘culture and personality’ bila dibandingkan dengan orang Jawa yang ‘halus dan sopan’. Tetapi dari pihak lain orang Toba harus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru. Mereka hidup di daerah lain. Mereka tinggal di antara orang Islam dan suku lain. Maka mereka harus juga memperhatikan kelompok yang lain. Orang Toba, Jawa dan Cina datang ke sana sebagai perantau. Dalam hal ini mereka harus saling menolong untuk mempertahankan kelompok mereka terhadap pemilik tanah. Orang Toba harus bicara dalam Bahasa Indonesia terhadap kelompok yang lain. Dengan demikian mereka juga merasa diri sebagai orang Indonesia. Dan dalam struktur politik orang Toba merupakan satu bagian dari orang Indonesia yang hidup di sana secara multi-kultural. Orang Toba adalah satu bagian dari seluruh kehidupan kelompok (Cunningham, 1958:130-136).

Dari penelitian sumber-sumber ini saya tarik kesimpulan berikut: Migrasi dari petani Toba disebabkan oleh faktor ekonomi, politik, budaya. Akibat dari migrasi ini untuk orang Toba ialah perbaikan kehidupan ekonomis dan transformasi identitas.

Kalau studi ini kemudian saya evaluasi maka harus saya katakan bahwa informasi oral history dari informan saya hanya sedikit yang dapat saya gunakan. Sumber-sumber tertulis memberi data yang lebih lengkap. Hal ini mungkin terjadi karena mereka melihat persoalan migrasi ini dari sudut dan kepentingan yang berbeda. Mungkin juga saya kurang pandai mencari informasi yang perlu. Namun demikian hal itu tidak mengurangi pentingnya ‘oral history’ sebab informan saya dapat melukiskan peristiwanya lebih ‘hidup’. Dengan demikian kedua sumber ini saling melengkapi.

Dari hubungan sebab-akibat migrasi ini untuk orang Toba kita dapat mengatakan bahwa mereka melaksanakan hal itu sebagai suatu strategi hidup. Mereka ingin hidup dan hidup lebih baik. Untuk memberi gambaran singkat tentang hal ini saya kutip berikut ini Cunningham:

In 1950, one large group of fifty families moved together on the long walk up the main road at Tampahan, where a bus and truck, hired for the move, took them away from Tapanuli (the Toba-Batak land). The move was made in such large numbers and in such haste, that no big going-away celebration was held. “Anyway,” I was told, “No one in Meat could have afforded one.” Those who stayed were too poor, and those who left needed all of their money for the pioneering venture (Cunningham, 1958:79).

Bahan rujukan:

  • Interview dengan Pater Beatus Jenniskens, 14 september 1997 te Tilburg.
  • Interview dengan Pater Bavo Westgeest, 20 september 1997 te Nijmegen.
  • Eijkemans, C., Profitability or Security: Decision-making on land use among Toba Batak peasants in North Sumatra, Indonesia, Nijmegen: NICCOS (22), 1995.
  • Cunningham, C.E., The Postwar Migration of the Toba-Bataks to East Sumatra, Yale University: Southeast Asia Studies, Cultural Report Series, 1958.
  • Pelly, U., Urban Migration and Adaptation in Indonesia: A Case Study of Minangkabau and Mandailing Batak Migrants in Medan, North Sumatra, Illinois: Ann Arbor, 1983.
  • Pelzer, K.J., Pioneer Settlement in the Asiatic Tropic: Studies in Land Utilization and Agricultural Colonization in Southeastern Asia, New York: American Geographical Society, 1945.
  • ________, Planter and Peasant: Colonial Policy and the Agrarian Struggle in East Sumatra 1863-1947, Leiden: KITLV Press [Verhandelingen 84], 1978.
  • ________, Planters Against Peasant: the Agrarian Struggle in East Sumatra 1947-1958, Leiden: KITLV Press.[Verhandelingen 97], 1982.
  • Rodenburg. J., In the Shadow of Migration: Rural Women and Their Households in North Tapanuli, Indonesia, Leiden: KITLV Press. [Verhandeling 174], 1997.
  • Sherman, D.G., Rice, Rupees, and Ritual: Economy and Society among the Samosir Batak of Sumatra, California: Stanford University Press, 1990.
  • Slockers, A., Transmigratie in Indonesiæ, Nijmegen: Kandidatsskriptie, 1973.
  • Spaan, E. (et al.), Farming in the Toba-Batak Heardland: Two case studies on Samosir island, North Sumatra, Indonesia, Nijmegen: Catholic University Nijmegen, 1995.
  • Volkstelling 1930, Batavia: Landsdrukkerij, 1933-1936.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: