Mr Juanda Panjaitan connection to Luhut PANJAITAN?

Achtung every one:if any thing wrong in Lake toba community especially Lake toba in the near future.some one will be accounted to his words.TIME WILL TELL.like this man below:
Juanda Panjaitan, Manajer PT Toba Pulp Lestari [TPL].

“Berani! Kenapa tidak,” ucap Juanda Panjaitan, Manajer PT Toba Pulp Lestari [TPL].

pabrik TPL di PorseaIa mengucapkan itu ketika berdiri dekat penampungan air limbah pabrik itu di Desa Sosor Ladang, Porsea, Tobasa. Aku sendiri yang menantangnya membasuh wajah dengan air limbah.

Dan Juanda pun membasuh wajahnya dengan air limbah yang disebut-sebut beberapa pihak sebagai mencemari lingkungan dan menimbulkan penyakit. Di bawah hujan gerimis dia tanpa ragu mengambil air limbah dengan telapak tangan dan langsung membasuhkannya ke wajah. Itu dia lakukan beberapa kali.

“Kalau Anda masih belum percaya, kapan-kapan saya tes mandi dengan air ini,” katanya, seperti kulaporkan untuk harian Metro Tapanuli tahun lalu. Air yang diusapkan Juanda ke wajahnya adalah limbah cair pabrik TPL yang akan dilepas ke sungai Asahan — yang sudah diolah dan dipisahkan dari zat-zat berbahaya. Aksi cuci wajah dengan air limbah ini dilakukan manajer TPL tersebut di tengah kunjungan enam orang anggota Tim Independen Pengawas Pelaksanaan Paradigma Baru PT TPL.

Tim yang diketuai Polin Pospos tiba di lokasi pabrik TPL pukul 5 sore bersama pejabat humas Pemprop Sumut Eddy Syofian, Wakil Kepala Bapedalda Sumut Sinta Marpaung, sejumlah wartawan cetak dan elektronik. Kunjungan mereka usai pukul 8 malam. Dalam aksi unjukrasa warga Porsea sebelumnya di DPRD Tobasa, TPL dinilai telah mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Kalau memang tidak berbahaya, coba saja manajer TPL dan pejabat pemkab mandi dengan air limbah pabrik. Mereka berani nggak? Mandilah dengan air limbah itu setiap pagi dan sore, baru rakyat percaya. Jadi jangan gampang sekali bilang TPL ramah lingkungan,” kata Efendi Sitorus (44), warga Kelurahan Porsea.

Inilah yang direspon Juanda. Menurutnya, limbah cair, limbah gas, dan limbah padat perusahaan itu telah disterilkan lebih dulu sebelum dibuang sehingga tidak lagi berbahaya bagi lingkungan. “Jangankan cuci muka atau mandi, diminum pun air ini tidak berbahaya kalau dimasak. Tapi memang tidak dianjurkan untuk diminum,” katanya.

Sebagai bukti lain limbah cair itu aman, lanjutnya, TPL sengaja memelihara ikan mas dalam air limbah. Tanaman di sana pun disiram tiap hari dengan air limbah. Polin Pospos membenarkannya. “Sudah dua tahun ini kami bekerja mengawasi TPL dan limbah mereka memang tidak membahayakan lingkungan. Sudah sesuai standar pemerintah,” ujarnya.

Tim pengawas TPL mengaku telah melihat tanaman padi dan ternak ikan mas milik warga sekitar pabrik yang bisa hidup dengan normal. “Sehingga kami meragukan temuan LBH Kesehatan tentang 13 warga Porsea yang katanya sakit dan seolah-olah dikesankan akibat beroperasinya TPL,” katanya dalam temu pers.

Pemprop Sumut senada. Malah pemprop meragukan keabsahan ekspos LBH Kesehatan itu. Humasnya, Eddy Syofian, mengklaim beberapa dari 13 warga yang diperiksakan LBH Kesehatan di tiga rumah sakit di Medan adalah bukan warga Porsea. “Tujuh orang yang katanya diperiksa di rumah sakit Pirngadi, setelah kami cek, ternyata bukan warga Porsea,” katanya. Sedangkan tiga warga yang diklaim LBH Kesehatan telah diperiksa di RS Adam Malik, menurut Eddy, tidak ditemukan bukti-bukti pemeriksaan laboratoriumnya. Sementara atas tiga warga lainnya di RS Gleneagles, pemprop mengaku hanya mendapati dua orang yang benar-benar diperiksa. “Keduanya hanya gatal-gatal. Itu pun belum dipastikan apakah ada kaitannya dengan limbah TPL. Sedangkan satu warga tidak ada bukti-bukti pemeriksaannya,” kata dia.

Sebab itu pula sejumlah anggota tim menyarankan pemerintah dan TPL untuk mengambil sikap tegas jika merasa dirugikan oleh LBH Kesehatan. “Kami ragu di laboratorium terakreditasi mana LBH Kesehatan memeriksakan soal kandungan logam berat itu. Tapi masalah LBH ini seharusnya urusan TPL, bukan kami. Tidak mungkin Kapolda bertindak kalau TPL hanya berpangku tangan. Silakanlah TPL laporkan LBH Kesehatan,” saran Hemat Brahmana, salah satu anggota tim yang ahli kimia.

Manajemen TPL sendiri belum berpikir untuk menggugat. Alasan mereka, tidak cukup kuat untuk mengadukan LBH Kesehatan kepada aparat hukum. “Ini memang agak susah. LBH Kesehatan itu pintar, tidak langsung menuduh TPL. Nanti kalau kita menggugat, mereka berkilah pula, ‘Maksud kami bukan TPL, tapi pabrik tahu.’ Tapi kami akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa pabrik kita ramah lingkungan,” kata Juanda.

Beberapa menit sebelumnya Hermanto Sitorus, seorang siswa STM, tewas mengenaskan setelah kepalanya tertembus “benda logam” — istilah yang dipakai seorang profesor forensik saat mengotopsi mayatnya kemudian — ketika warga Porsea bentrok dengan polisi. Hanya kami berdualah jurnalis yang meliputnya dari dekat saat jurnalis lain tengah meliput aksi demo di depan markas polsek — sekarang markas polres. Ketika mendekati tubuh Hermanto yang tergeletak di aspal itulah kami mulai “diserang” massa. Kerah baju dan lengan kami ditarik-tarik. Saya dipaksa untuk terus memotret korban. “Cepat! Foto lagi!” kata beberapa orang. “Harus terbit ya! Awas kalau tak ada di koran besok!” ancam yang lain. “Foto lagi dari sini!” tukas lainnya.

Tiba-tiba dari bagian belakang kerumunan massa terdengar teriakan, “Ambil …! Itu wartawan *** (sebuah koran harian terbitan Medan). Itu wartawan Indorayon.” Koran yang mereka sebut-sebut memang dikenal hanya menulis berita-berita baik soal PT Inti Indorayon Utama — kini PT Toba Pulp Lestari (TPL). Sebaliknya, beberapa kali aksi demo warga menolak perusahaan itu tidak ditulis. Dan massa mengira kami berdua bekerja di koran tersebut.

Begitu tubuh Hermanto dilarikan ke rumah sakit, kami pun mulai digiring massa ke arah jembatan. Kami tak tahu apa yang bakal terjadi. Kami menunjukkan kartu pers tapi tak dihiraukan. Massa sedang emosional. Untunglah seorang pria berusia 50-an muncul dari tengah massa, saat kami berada di atas jembatan. “Jangan! Lepaskan! Itu Radar. Mereka independen,” teriaknya, mendekat. Kami pun selamat. Beberapa dari massa meminta maaf dan mentraktir kami minum di kedai kopi sembari wawancara.

Independen: sebuah sikap jurnalisme yang dianut koran tempat saya bekerja. Ia berarti bebas untuk menulis apa saja dan siapa saja.

“Wartawan tidak boleh berpihak kepada sumber-sumber yang ia tulis. Tidak sinis. Tidak pula terikat. Wartawan harus berdedikasi untuk bisa memberi informasi kepada publik dan tidak boleh memainkan peran langsung sebagai aktivis,” kata Bill Kovach, wartawan senior Amerika Serikat dan dosen jurnalistik Universitas Harvard, dalam bukunya The Elements of Journalism. Sebuah contoh nyata ketidak-independenan yang dimaksud Kovach ialah tatkala sejumlah wartawan di Balige berdemo dan meneken pernyataan menolak hasil pilkada Tobasa tahun lalu.

Contoh terbaliknya: dalam pemberitaan isu-isu TPL, sampai kini [nama koran yang sengaja kuhapus] saya memegang teguh prinsip independensi. Jika misalnya hari ini muncul berita warga demo tolak TPL karena dituding merusak lingkungan, berikutnya berita dari kubu TPL yang menyebut pabrik mereka ramah lingkungan juga pasti diterbitkan. Menulis hanya satu pihak tertentu, selain tidak adil, juga hanya akan membodohi pembaca. Pikiran pembaca tidak boleh dipaksakan menerima “kebenaran” menurut versi redaksi koran.

Makin banyak pihak yang dikutip media, makin banyak pula kemungkinan bagi pembaca untuk mengetahui peristiwa sebenarnya. Pers yang baik tidak memosisikan diri sebagai nabi yang mendoktrinkan kebenaran. Dalam istilah Goenawan Mohamad, sastrawan yang juga wartawan pendiri Tempo: “Pers harus mengetuk-ngetuk sebanyak mungkin pintu untuk mencari kebenaran.”

Maka jika media hanya menghujat TPL, pembaca jangan langsung memercayainya bulat-bulat. Sebaliknya, jika media hanya mengutip pejabat dan aktivis yang membela TPL, tak salah mewanti-wantinya sebagai “ada udang di balik batu”. Berita yang ditulis wartawan dan media yang tidak independen seharusnya dijauhi. Jangan jamah, jangan baca. Anggap saja itu limbah berbahaya — yang lambat-laun bisa merusak pikiran jernih anda. [www.blogberita.com]

CATATAN BATAK NEWS:

Artikel ini pertama kali kutulis di Metro Tapanuli pada 2006 lalu. Gambar di atas adalah logo AJI [Aliansi Jurnalis Independen] — sebuah organisasi wartawan yang melawan kediktatoran Orde Baru memasung kebebasan pers. AJI adalah satu-satunya dari puluhan organisasi pers Indonesia yang diakui dan terdaftar di International Federation of Journalist [IFJ] — semacam PBB-nya wartawan sedunia.

Aku belajar banyak hal selama menjadi anggota AJI, terutama bahwa wartawan harus independen. Bahkan aku sempat mencintai AJI “melebihi” istriku; dan ini membuat rumah tanggaku kacau [istriku menyebut aku telah “men-Tuhan-kan” AJI ketika anak pertama kami meninggal dunia tujuh tahun silam]. Aku punya kritik untuk AJI. Hal ini akan kutulis di hari-hari mendatang di blog BatakNews.

Silakan bila ingin mengutip artikel dari blog ini, dengan syarat menyebut sumber. Bila dikutip untuk website, blog, atau milis, maka tuliskanlah sumbernya http://www.blogberita.com dan buatkan link ke artikel bersangkutan. Bila dikutip untuk koran, majalah, bulletin, radio, televisi, dll, maka tulislah/ sebutkanlah sumber kutipannya; http://www.blogberita.com. []

5 Comments

  1. Juanda Panjaitan Relation to Luhut Panjaitan? find out « my radical judgement by roysianipar said,

    […] Read more […]

    • roysianipar said,

      Hello to Batak people could you please translate in english about this articels.
      Im too busy at the moment.
      any way mr Panjaitan said ..
      he s positive about the Bleach and other chemicals in pulp processing business is save to Human kind and it s not dangerous to human life .IF U ALL PEOPLE DONT BELIEVE WHAT HE SAID .HE SWALLOWED THE FILTY WATER AND DRANK IT .BUT YOU DONT KNOW WHAT I KNOW HE SAID.ETC..BLAH BALAH

  2. Rudi said,

    Tolong di jelaskan buangan logam berat pertahunnya berapa

  3. roy_sianipar said,

    LOGAM DAN BLEACH DAN UAP ACCID DI TOBA/DAIRI >PERTAHUN NYA SEBANYAK 10 THN OPERASI NYA AKAN CUKUP MERUSAK LINGKUNGAN HIDUP DAN ALAM .DEMI UTK ACCURASI NYA ANDA HRS MENGUNJUNGI LOCASI TERSEBUT.LEBIH ACCURAT FACTA DARI THEORY NYA.LOCASI DAIRI DAN PORSEA SANGAT DEKAT DGN MEDAN.

    TOLONG ANDA JGN PERCAYA TULISAN SAJA DARI WARTAWAN ATAU BLOGGER.JADI ANDA HRS COBINASI THOERY DAN FACTA OK.KALAU ANDA PERGI KE LOCASI NYA TOLONG DI CHECK PEMUANGAN AIR SUNGAI DEKAT DGN PERUSAHAN TERSEBUT.DAN MEMBAWA SAMPLE UTK DI BAWA KE LABORATORIUM.

    TRIMAKASIH>ROYSIANIPAR<

  4. Pak said,

    Hello Pak,

    I am interested to read what is in this blog but I can’t understand bahasa. Could you translate in English? Thanks a lot. I miss TPL. Best regards Mr. Wilim, Ms. Sarah, Ms. Jai Tin, Mr. Hotman, Pak Irwan, Bo Leanna and to all I did not mention.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: