SIANIPAR CLANS IS ONE OF THE OUT STANDING BATAK GENERATION from ALL BATAK MARGA IN INDONESIA.out spoken!and conservative?ofcourse not.achiever?Yes..

 
Indonesian Playmate- Victoria Sianipar
2007-10-02 10:16:00
Victoria Sianipar is Bataknese the first women indonesia who pose in PlayBoy Magazine, she appeared in the June 1999 Russian edition.Victoria break the old rules….horass!See another indonesia girls who pose in Playboy Magazine:Andhara EarlyJulie EstelleTiara Lestari
Read more: Victoria

VICTORIA SIANIPAR

monang sianipar
 
Roy_sianipar
vikysianipar
Terjadinya dengredasi atau penurunan terhadap musik Batak membuat keprihatinan yang cukup dalam bagi seorang putra Batak bernama Monang Sianipar.

Setiap hari, pikiran untuk membangkitkan musik Batak agar mencapai masa keemasannya pada tahun 60 – 70an, terus mengusik ditengah kesibukannya mengurus perusahaan cargo berbendera ‘ Monang Sianipar Abadi (MSA).

Tak taggung-tanggung, bukan hanya anaknya bernama Viky Sianipar yang pemusik jebolan dari Amerika Serikat itu direlakannya 100 persen menelusuri lika-liku musik Batak, bahkan lahannya yang luas dikawasan Manggarai Jakarta , yang strategis dijadikan bisnis hotel dikorbankan membangun infrastruktur untuk kebutuhan studio sebagai tempat Viky melakukan riset akan musik Batak, sekaligus sebagai studio untuk menelurkan rekaman musik Batak yang berani melakukan perubahan sesuai dengan tuntutan jaman.

Saat membangun studio itulah, banyak orang yang mencemohkan Monang Sianipar sebagai orang gila. Namun, sosok pria yang berpenampilan penuh kesederhanan ini tidak mau ambil pusing.

Demi idealis dan bentuk kecintaan serta masa depan musik Batak, cemohan itu hanya dijadikan sebagai cambuk yang cukup keras mendorongnya lebih fokus dalam menghapuskan keprihatinannya terhadap musik Batak yang tidak mengalami perkembangan dari tahun-ke tahun.

Pada satu acara pagelaran musik Batak dua generasi di salah satu hotel di Jakarta, Monang Sianipar yang berdiri di luar gedung pertunjukkan sedang asik berbincang-bincang dengan anak band grupnya Viky.

Usianya yang dapat dikatakan sudah tua, seakan tidak berpengaruh untuk memberikan bimbingan kepada para pelaku musik. Sosok yang penuh kesederhanaan dan tidak sudah tampil menonjol, apalagi di-tokoh-kan dengan keramahan yang tulus Monang Sianipar bersedia diwawancarai wartawan Berita Sore Andy Yanto Aritonang.

BS : Bagaimana pendapat bapak mengenai perkembangan musik Batak?
MS : Saya pikir sudah terjadi degradasi atau penurunan, apa lagi dibanding dengan musisi tahun 60-70an.

BS : Aapa faktor Tidak adanya perubahan pada musik Batak?
MS : Saya lebih cendrung melihatkanya, akibat ketidakberanian para musisi Batak bereksperimen untuk melakukan perubahan. Tidak mau belajar susah sehingga musik Batak dari tahun ke tahun jalan ditempat.
BS : Apa ini juga menjadi alasan adanya kecendrung generasi muda Batak tak tertarik musik Batak
MS : Ya, bahkan arahnya sudah ‘malu’ membeli kaset batak.Generasi muda sekarang sudah memiliki pembanding dari musik luar, khususnya musik barat dan Amerika Latin. Jika musik Batak hanya itu ke itu saja, maka jelas generasi muda sudah tidak cocok, jadi harus ada keberanian melakukan perubahan.
BS : Disamping tidak ada keberanian, faktor lain menurut anda?
MS : Kehadiran para produser yang berorientasi bisnismen juga salah satu faktor. Sekarang banyak produser yang tidak tahu musik tetapi terlampau menentukan lagu dan musik.

Demikian juga pencipta lagu sudah terkesan asal-asalan ditambah artis Batak yang merasa cepat puas sebab tujuan utama mendambakan rekaman dan bisa bermain di cafe-cafe pinggiran tanpa memerlukan latihan dan ritme.

BS : Jadi anda juga melihat kwalitas lagu dan penyayinya
MS : Ya, dong! Dulu, Nahum Situmorang, S Dis, Nortir Simanungkalit, bisa mencipta lagu yang berbobot bahkan lagu Asing-sing so, Situmorang, O Tao Toba, Tano Batak, Pulau Samosir, mampu mendunia dan bertahan hingga sekarang.

Mereka mencipta lagu benar-benar menghayati, merasakan dan memilih kata yang sangat puitis sehingga mampu merasuk sukma setiap orang yang mendengar, tak terkecuali diluar suku Batak. Kata-katanya yang tetap dan musiknya yang dinamis. Bayangkan hanya dengan iringan gitar biasa saja banyak penyayi Batak yang melanglang buana.

Kenapa lagu Batak sekarang tidak ada yang mendunia? Inikan jelas penurunan yang drastis.

BS : Harus diakui, banyak juga pemusik Batak yang bergabung dengan band-band besar, menurut anda?

MS : Ya itu kita bangga dan kita harus akui. Saya banyak kenal dengan pemusik band besar yang berorientasi musik nasional. Tapi sayang, kepedulian musisi dan artis Batak yang beroriontasi pada musik nasional sangat rendah bahkan tidak mau memberikan kontribusinya untuk membangkitkan musik Batak. Tapi saya berpikir positif bahwa mereka hanya menunggu waktu saja sampai mereka terpanggil untuk melibatkan diri menggali dan mengembang musik Batak.

BS : Apakah berangkat dari keprihatinan anda akhirnya menyekolahkan anak pada bidang musik?

MS : Pertama harus saya akui, Viky juga sudah bertekad sepenuhnya berkarya di dunia musik, dan memang sejarah sudah mencatat suku Batak adalah suku yang paling musikal dan sangat produktif.Inilah mungkin yang memicu agar aku memberikan seluruh perhatian akan orientasi anak saya yang ingin memulai perubahan. Bukan hanya tenaga dan pikiran, materi pun saya harus korbankan, ketika Viky memulai konsep menggarap dan menggelar musik Toba Dream. Tanpa menunggu waktu, pikiran budayawan ini langsung melesat untuk segera membangun infrastruktur diatas tanahnya terletak di Manggarai.

BS : Infrastruktur seperti apa itu, di sana saya ‘Viky Sianipar Music Center’ yang diharapkan sebagai tempat pelaku musik untuk berkumpul dan sama-sama belajar dan mencari serta menciptakan suatu perubahan bagi musik Batak. Dari Studio ini juga diharapkan mampu menyemagati patriotisme bangga menjadi putra Batak, yang mau perduli akan nasib musik Batak.

BS : Kendala apa yang bapak hadapi

MS : Sebenarnya bukan kendala, tetapi tindakan saya membangun ‘Viky Sianipar Music Center’ dianggap aneh, bahkan ada yang mengatakan sebagai ‘orang gila’.

BS: Kenapa?

MS : Tanah yang terletak di kawasan Manggarai itu sebenarnya sangat startegis untuk dijadikan hotel, tetapi bagi saya sebagai orang Batak harus berbuat, walaupun yang saya perbuat sangat kecil artinya. Yang jelas biarlah saya dibilang gila demi mengadakan perubahan bagi musik

Batak yang akan terlihat hasilnya di masa yang akan datang, disamping idealisme. Putra Batak yang sukses di Jakarta ini meyakinan pengorbanan harus dilakukan untuk suatu tujuan yang dicapai.

BS : Harapan anda?

MS : Saya mengajak seluruh pelaku musik Batak bersatu dan bangkit membangun kembali fanatisme dengan menyuguhkan suatu perubahan musik Batak tanpa menghilangkan warna musik tradisional Batak. Jika ingin musik dan lagu Batak mengalami kejayaan dan kembali mendunia maka harus memberikan nafas baru dan generasi muda tidak lagi merasa malu menjadi orang Batak.

 

Lima Tahun belakangan ini banyak sekali pertanyaan dan pernyataan bahwa
MUSIK VIKY SIANIPAR SUDAH HILANG KEASLIAN BATAKNYA…??
VIKY SIANIPAR MEROBEK WIBAWA MUSIK BATAK!!
VIKY SIANIPAR TERLALU ASIK BERIMPROVISASI!!

Stress gak sih gue…hehehe

Mau mengomentarin apa aja tentang musikku ya silahkan.. dengan senang hati aku menampung…
Tapi Biar aku jelaskan sedikit..

Yang Pertama, Viky Sianipar juga manusia.. hehehe

Aku memang lahir di Jakarta dan gak bisa bahasa Batak (lagi belajar sih.. les privat sama Suhunan Situmorang). Aku gak suka dengan musik dan lagu Batak pada awalnya. Setelah aku telusuri ternyata Lagu Batak itu gak kalah kerennya dengan musik Indo ataupun Barat. Menurut pendapat aku Bahasa Batak lebih “ekspresif” dari bahasa Indonesia.

Sebelum pembuatan album TobaDream yang pertama, aku melakukan riset kecil2an terhadap musik Batak.

Ceritanya Gini:

Musik Batak sudah ada sejak jaman Toba Kuno di jaman dinasti Tuan Sorimangaraja (Pahompu-nya Si Raja Batak) Berawal dari musik Raja-raja. Bukan musik untuk Raja, tetapi musik yang dimainkan oleh Raja. Makanya mainnya boleh berdiri. Lain halnya dengan musik tradisi suku lain seperti Afrika, India, Jawa, dll, yang merupakan musik Rakyat, sehingga kebanyakan bermusiknya sambil duduk.

Musik Batak awalnya diciptakan untuk upacara ritual yang dipimpin pada Datu (dukun) pada masa itu untuk penghormatan leluhur, minta panen yang sukses kepada Mula Jadi Nabolon, dll. Kemudian Berkembang menjadi Musik ritual di Pesta Adat. Pemainnya dinamakan pargonsi (baca Pargosi atau Pargoci) Pargonsi mempunyai kedudukan yang sangat penting, ruma bagian atas. Karena yang memainkannya Raja. Jadi gak heran kalo Batak itu suku yang musikal karena dari jaman dulu Rajanya aja suka main musik <!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–>)<!–[endif]–>. Musik Batak untuk ritual ini adalah yang disebut Gondang Sabangunan yang terdiri dari 5 Ogung, 5 Gondang, Sarune Bolon lubang 5.

Namun para Rakyat juga ingin main musik, maka berkembanglah musik batak ini di kalangan rakyat dengan format Taganing, Garantung, Hasapi, Seruling dan Sarune Etek. Dengan alat-alat musik inilah tercipta banyak sekali lagu rakyat yang bernuansa pentatonis (Do Re Mi Fa Sol, kadang2 ada juga La) dan susunan nada (licks)-nya sangat khas tidak didapati di musik suku lain.

Di era tahun 1930an, Tilhang Gultom banyak mengembangkan musik ini dengan lagu-lagu ciptaanya yang sangat kental dengan notasi Batak asli melalui Opera Batak-nya. (Tilhang Gultom is my most favorite Batak Composer!)

Karena pengaruh perkembangan musik di barat pada tahun 50an, lahirlah nama-nama terkemuka seperti Nahum Situmorang, S-Dis, dll, yang memperkenalkan notasi musik barat dengan bahasa Batak (Toba). Nahum dkk, kebanyakan mengambil jenis musik latin (Cha-cha, Jazz Bosas, Waltz, dll) dengan menggunakan alat musik Gitar, Upright Bass dan perkusi latin (kebanyakan Conga dan Bongo).

Sejak masa itu pencinta musik batak terbagi dua kubu yaitu, aliran musik modern-nya Nahum dkk, dan aliran musik tradisinya model Tilhang Gultom yang selalu mempertahankan keasliannya dengan menggunakan instrumen tradisi Batak.

Di tahun 70an, Trio Lasidos memperknalkan konsep baru yang menggabungkan kedua jenis musik ini dan dinyanyikan dengan vocal TRIO. Meledak! banyak yang suka, sehingga diikuti oleh trio-trio yang lain seperti Trio Maduma, Trio Amsisi, Trio Ambisi,dll.

Sampai detik ini, tahun 2000an, masih saja banyak Produser Musik Batak yang tetap mempertahankan konsep yang sama yaitu Trio model Trio Lasidos itu.

Walau jenis musik Batak modern itu (yang kebanyakan sudah meninggalkan instrumen asli Batak) masih juga diminati oleh orang-orang Batak, namun untuk Naposo2 Batak yang sudah lahir diperantauan sepertinya sudah tidak “kena” lagi. Karena pengaruh musik barat yang berkembang sangat pesat melalui media2 TV dan Radio, anak2 Batak kelahiran kota besar lebih tertarik dengan Linkin’ Park, Mariah Carrey, Withney Houston, Robbie Williams, Baby Face, dll. Mereka sulit sekali dapat mengapresiasikan konsep musik “tolu batu” Batak itu.

Secara tidak sengaja telah terbentuk dua jenis musik Batak yaitu Musik Tradisi dan musik Pop Batak.

Nah, Jadi dimana letak keaslian musik Batak??

kalo menurut aku sih, ya yang namanya Gondang, Sarune, Ogung, Hasapi, Garantung, Sulim itu. ITULAH YANG AKU PERTAHANKAN!!

Jadi jangan anda salah mengerti. Keaslian musik Batak bukanlah Nyanyi TRIO, Suara melengking nada tinggi, cord tiga batu, dan Saxophone menjerit-jerit. Itu semua adalah HASIL ARANSEMEN MODERN. Kalo mereka itu mengaransemen lagu Batak dengan gaya mereka, ya aku juga boleh dong.. ikut aransemen dengan gaya aku sendiri.

Jadi yang aku “keep” dari keaslian musik Batak adalah:
1. Instrumen tradisi beserta style aslinya
2. NOTASI VOCAL dan LIRIK lagu yang dibuat oleh penciptanya (Tilhang Gulom, Nahum Situmorang, S-Dis, dll.)

Mengenai arransemen, ya bebas lah.. SELAMA ESENSI LAGU TERSEBUT TIDAK HILANG!!!. Jadi tetap haruslah tanggung jawab. Kita harus mengerti apa perasaan yang dialami sipencipta sewaktu lagu tersebut ditulis. Itu dapat dilacak dari notasi yang dipilih dan lirik. Baru kita tentukan jenis musik apa yang cocok. Perlu diketahui bahwa tidak selamanya instrumen tradisional Batak bisa cocok dalam setiap lagu. Kalau dipaksakan akan keliatan Maksa dan asal nempel. Itulah makanya dalam lagu yang aku aransemen tidak semuanya memakai instrumen tradisional Batak.

Begitulah Ceritanya. Mudah-mudahan bisa dimengerti. Mungkin aku salah, ya maaf lah ya.. karena aku juga masih belajar mengenai musik Batak. But I’am Proud to Play Batak Musik!!

2 Comments

  1. SIANIPAR CLANS/MARGA IS ONE OF THE OUT STANDING BATAK FROM INDONESIA.CONSERVATIVE?OFCOURSE NOT.ACHIEVER? YES. « my radical judgement by roysianipar said,

    […] my radical judgement by roysianipar {August 26, 2008}   SIANIPAR CLANS/MARGA IS ONE OF THE OUT STANDING BATAK FROM INDONESIA.CONSERVATIVE?OFCOURSE NOT.ACHIEVER? YES. August 26, 2008}   SIANIPAR CLANS IS ONE OF THE OUT STANDING from ALL BATAK MARGA IN INDONESIA.out spoken!and conservat… […]

  2. Jannus Pangaribuan said,

    Horass…..memang dari awal ketika saya tau Viky Sianipar dan mendengar semua aransemen musiknya, sebagai orang awam tentang musik,saya terus terang tidak interest dengan semua ciaptaan Viky Sianipar…..tapi semakin saya terus berulang-ulang dengerin lagu-lagunya….saya semakin berfikir…memang aransemen musik Viky Sianipar…tidak yang seperti orang bilang “menghilangkan keaslian lagu batak” dan memang Viky Sianipar lah orang batak pertama yang menurut saya ” The Professor Music Batak” aransemennya luarbiasa mantap….salute to Viky Sianipar…..aku kagum dan bangga….by the way kalo bisa bisa dateng ke Studio nya bang Viky ngga mo liat langsung bang Viky main musik…..HORASSS…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: