STUPID OR MODERN WOLRD TAKING ADVANTAGE OF POOR ASIAN

Ekspose Pencemaran di Sumut

From: apakabar@access.digex.net
Date: Thu Jan 20 1994 – 15:55:00 EST

 


 

From: “John A. MacDougall” <apakabar@access.digex.net>
Subject: Ekspose Pencemaran di Sumut

Forwarded message:
From indogtw!indcee.or.id!osari@uunet.uu.net Thu Jan 20 18:26:52 1994
To: apakabar@nusa.or.id
Subject: Re: IN: Ekspose Singkat Kasus Pencemaran di Sumatera Utara
From: Omar Sari <osari@indcee.or.id>
Message-Id: <8ZRggc1w165w@indcee.or.id>
Date: Thu, 20 Jan 94 18:32:06 WIB
In-Reply-To: <ka7Fgc1w165w@nusa.or.id>
Organization: Indonesian Center for Energy and Environment, Jakarta

>From nusa!nela Thu, 20 Jan 94 10:51:17 Local remote from indcee
Received: by indcee.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Thu, 20 Jan 94 18:26:02 WIB
        for osari
Received: by nusa.or.id (1.65/waf)
        via UUCP; Thu, 20 Jan 94 10:51:18 Local
        for osari@indcee
To: osari@indcee
Subject: IN: Ekspose Singkat Kasus Pencemaran di Sumatera Utara
From: “Nela Samosir” <nela@nusa.or.id>
Message-ID: <ka7Fgc1w165w@nusa.or.id>
Date: Thu, 20 Jan 94 10:43:07 Local
Organization: NusaNet, Indonesia

Dear friends,

Here I send you the news from the North Sumatera concerning polluted
rivers. At least 6 rivers are affected. This news was gathered from
several local media in North Sumatera. Those who are interested in
this news and want translation, please contact to :

International NGO Forum on Indonesian Development (INFID-Jakarta)
Jl. Penjernihan I, Kompleks Keuangan No. 10
JAKARTA PUSAT

Phone : 62-21-573 7760
Fax : 62-21-573 8416
Email : nela@nusa.or.id

Ekspose Singkat Kasus Pencemaran di Sumatera Utara

1. Pencemaran Sungai
Selama 1993, setidak-tidaknya 6 sungai di atas merupakan cerminan utama
kasus pencemaran sungai yang terdapat di Sumatera Utara. Walaupun
sebenarnya ada beberapa kasus pencemaran lain, seperti Sungai Krio, Sungai
Padang. Paparan yang merupakan nukilan dari beberapa media lokal Sumut dan
sumber lainnya akan coba mencermati masalah ini.

a. Sungai Deli
Sungai Deli adalah sungai yang aliran melewati jantung pusat kota Medan dan
tembus ke arah Belawan, salah satu pelabuhan laut di Sumatera Utara. Jumlah
perusahaan yang menjadikan sungai ini sebagai sarana buang hajat limbahnya
ada 85 buah. Jenis produk yang dihasilkan industri ini beragam mulai dari
minyak goreng, besi baja, minuman, atap seng, sabun, udang, ban kendaraan
bermotor, obat anti nyamuk, biskuit, barang-barang plastik, dll. Dan
menurut hasil pemantauan tim Prokasih Sumut beberapa industri yang ditinjau
memang belum menyediakan/memiliki UPL sama sekali. Temuan ini juga
dikuatkan oleh investigasi kawan-kawan LSM Sumut, yang mendapatkan bahwa
minimal ada 10 industri pencemar terbesar untuk Sei Deli.

b Sei Asahan
Sungai ini punya muara di Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Dan kasus
pencemarannya menghangat terutama sejak meledaknya aerated lagoonnya PT.
Inti Indo Rayon Utama tahun 1989. Selain Indo Rayon yang punya produksi
pulp sebenarnya ada sekitar 36 perusahaan lain yang terdaftar dan
berpotensi sebagai sumber pencemar. Produksi utama 36 industri ini adalah
minyak sawit, tepung ikan, dan makanan nabati.

c. Sei Semayang dan Sei Merbau
Ada 5 industri yang berlokasi di DAS ini. Lima industri yang utamanya
mengolah komoditi CIR, aluminium, cram rubber, gula, baterei dan gula
pasir. Sedangkan untuk Sei Merbau, industri yang berpotensi sebagai
pencemar ada 3 dengan produksi utama minyak kelapa sawit.

Sungai Deli, Asahan, Merbau dan Semayang merupakan 4 sungai prioritas team
PROKASIH SUMUT sejak tahun 1989. Sebagai gebrakan awal di tahun ini, team
Prokasih telah memantau sebanyak 30 perusahaan yang dianggap potensil
sebagai pencemar. Usaha penjajakan telah mulai dilakukan secara intensif
terutama sejak 1991. Dan kelihatannya usaha ini mulai memunculkan harapan
besar terutama di bulan September 1991. Tim Prokasih Sumut di bulan itu
mengultimatum industri di Sumut supaya mengadakan Unit Pengelolaan Limbah
paling lambat Desember 1991. Ultimatum yang dinyatakan Dirjen Industri
Mesin dan Logam itu menegaskan adanya tindakan keras bagi pabrik pencemar
jika melanggar ketentuan itu.

Namun ketika batas ultimatum terlampaui, tindakan belum juga p4@0 diambil,
sementara 1992 telah menjelang. Padahal usaha itu hanya memerlukan
ketegasan agar UPL diadakan pengusaha, belum sampai pada tahap penurunan
limbah sungai tercemar, misalnya sungai Deli sampai 50 % seperti yang
ditargetkan.

Suara aksi tim Prokasih Sumut kembali berbunyi di seputar Mei 1993 lalu.
Pada saat itu, diumumkan bahwa dari 30 pabrik prioritas Prokasih baru
sekitar 18 yang punya dokumen AMDAL, sedang selebihnya masih dalam proses.
Hasil demi hasil yang dinyatakan berhasil ditemukan, diperoleh tim Prokasih
ini ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Terbukti, untuk
Sei Deli, misalnya, sejak Oktober hingga Desember 1993 lalu, masyarakat
yang berada di sepanjang DAS Sei Deli mengadukan pencemaran sungai itu
kepada DPRD Tk. I Sumut. Menurut masyarakat ada sekitar 10 pabrik di
sepanjang DAS yang belum memiliki UPL sama sekali. Disebutkan juga limbah
yang dibuang ke badan sungai cukup beragam. Mulai dari bentuk cair berwarna
putih keruh, kebiru-biruan hingga bentuk lapisan minyak yang mengental.
Sedang yang berbentuk padat berwarna abu-abu kehitam-hitaman sehingga
membuat dinding sungai seperti berkarat. Cukup tragis memang paparan yang
dilontarkan anggota masyarakat tentang pencemaran ini. Namun, hingga
Desember 1993, belum diperoleh komentar tim Prokasih Sumut mengenai
kenyataan ini.

d. Sei Belumai dan Sei Silau

Khusus untuk Sei Belumai, kasus ini mulai mencuat ke permukaan terutama
ketika warga korban me-ngadakan unjuk rasa ke pihak-pihak terkait sejak
Agustus 1992. Dan kasus ini, menurut tim pengendalian terpadu penanganan
kasus, (DPRD tingkat I Sumut dan aparat terkait lainnya) rencananya akan
coba dituntaskan hingga November 1992 lalu. Namun hingga menjelang 1994
ini, rencana tersebut tidak mampu di laksanakan.

Kasus Sei Belumai

Di sebelah selatan Kotamadya Medan, tepatnya 15 Km dari arah pusat kota ini
akan dijumpai Sungai Belumai, sebuah sungai yang alirannya melewati dua
Kecamatan di Deli Serdang, yaitu Tanjung Morawa dan Batangkuis. Di
Kecamatan Tanjung Morawa rakyat yang bertempat tinggal di daerah aliran
sungai ada di desa Tanjung Morawa A, Desa Dagang Kelambir, Desa Buntu
Bedimbar, Desa Dalu X-A dan Desa Dalu X-B. Sedangkan di Kecamatan
Batangkuis, sungai Belumai melewati Desa Tumpatan Nibung, Desa Baru, Desa
Sungai Mati dan Desa Serdang.

Sebelum tahun 1987 air sungai ini cukup bersih dan jernih dan bahkan oleh
Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.
02/MENKLH/I/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu dan Lingkungan Hidup
sungai ini berada pada golongan A. Itu berarti air sungai ini dapat
digunakan secara langsung oleh penduduk sebagai air minum tanpa pe-ngolahan
terlebih dahulu. Namun, sejak munculnya beberapa industri hal itu telah
berubah. Dan parahnya rakyat sulit mencari alternatif lain. Pernah rakyat
coba memanfaatkan sumur galian, namun hingga kedalaman 10 meter air yang
keluar masih tidak mencukupi. Keadaan yang serba terpaksa dalam mememuhi
kebutuhan air ini, bukan tidak berakibat buruk pada mereka. Gatal-gatal dan
bengkak bernanah di tubuh kini hal yang selalu kelihatan pada diri warga
jika mereka pergunakan air sungai itu untuk mandi dan keperluan lainnya.

Industri-industri yang memproduksi bubur kertas, sumpit, tusuk gigi, sarung
tangan dan lainnya yang buangan pabriknya banyak menghasilkan limbah. Dan
buangan limbah ini dialirkan ke sungai, bahkan ada yang tanpa pengolahan
terlebih dahulu. Di antara perusahaan-perusahan yang diduga keras sebagai
pencemar tersebut adalah :
1. PT. Native Prima yang memproduksi pengalengan Bekicot dengan alamat
     Desa Buntu Bedimbar
2. PT. Irama Dinamika Lateks dengan produksi sarung tangan dan kondom
     juga di desa Buntu Bedimbar
3. PT. Gelanggang Ria yang memproduksi bubur kertas (pulp), sumpit dan
     tusuk gigi. Perusahaan ini beralamat di Desa Dalu X-A.
4. PT. Timbul Samudra, produksinya Cold Storage dan Es, beralamat di Desa
     Dalu X-A
5. PT. Sari Morawa yang memproduksi kertas (pulp), alamat desa Dalu X-A
6. PT. Samawood dengan produksi Pengawetan kayu, alamat Desa Tanjung
     Morawa A
7. PT. Cososaka yang memproduksi Obat nyamuk dan Hio (lilin sembahyang
     umat Buddha), alamat desa Dalu X-A
8. PT. Surya Mas Lestari Prima dengan produksi pengawetan kayu,
9. Dan beberapa industri lain.

Kronologis Usaha Rakyat Dalam Menyelamatkan Lingkungannya Tanggal 8
September 1992 delegasi warga (terutama dari Desa Dalu X dan Tumpatan
Nibung) pertama kali mempertanyakan masalah ini pada DPRD dan Bupati Deli
Serdang. Dalam surat pernyataan, mereka menegaskan adanya beberapa industri
pencemar sungai. Hasilnya, Bupati dan DPRD “berjanji” akan segera mengusut
masalah ini hingga tuntas.

Sebagai upaya merealisasikan janji, tanggal 22 September 1992 komisi C DPRD
Tk. II Deli Serdang melakukan peninjauan ke beberapa pabrik pencemar.
Keempat perusahaan yang mereka tinjau yaitu PT. Sari Morawa, PT. Irama
Dinamika Lateks, PT. Native Prima dan PT. Gelanggang Ria nyata-nyata sama
sekali belum memiliki AMDAL. Namun Komisi C yang datang tersebut hanya
meminta pada industri pencemar untuk memperhatikan persoalan lingkungan.
Peninjauan yang sama juga telah dilakukan tim Pemda Deli Serdang (29 Septem
ber 1993) dan tim Tk I Sumut. Kedua tim ini kemudian mengambil sampel
limbah dari masing-masing industri dan sekaligus berjanji bahwa mereka akan
membahas masalah ini dengan pihak terkait.

Di bulan Nopember 1992, tim DPRD Deli Serdang kembali melakukan peninjauan
lokasi. Dalam kunjungan kerja kedua kalinya untuk p4@0 kasus Sei Belumai
ini, tim DPRD Deli Serdang menemukan ketidakseriusan para industri
pencemar. Untuk UPL misalnya, sejak kunjungan tim pertama (September 1992),
dari ketiga industri (PT. Sari Morawa, Native Prima dan Gelanggang Ria)
yang dikunjungi, baru satu yang membangun dan hanya satu buah. Dan kembali
lagi, pola ulur mengulur waktu yang ditawarkan selama 3 bulan ke depan oleh
pengusaha untuk pengadaaan UPL kembali diterima tim ini.

Sejak Desember 1992 hasil konkrit kunjungan yang dilakukan aparat terkait
dalam menangani kasus pencemaran ini sulit didapat. Rakyat yang seharusnya
tahu apa dan bagaimana serta sampai di mana kemajuan penyelesaian kasus
yang mereka hadapi diliputi kegelapan informasi. Sementara di sisi lain,
sungai yang mereka harapkan dapat pulih keadaannya kondisinya malah makin
memprihatinkan. Dan kelihatannya aparat terkait terutama DPRD dan Pemda
Deli Serdang serta tim tingkat I Sumut yang selama ini punya kepedulian
ternyata seakan “mempetieskan” masalah. Kenyataan, sejak Desember 1992
hingga Mei 1993 penanganan kasus pencemaran ini seakan raib dari panca
indera informasi rakyat, khususnya Deli Serdang. Ada banyak pengambilan
sampel limbah yang dilakukan, namun tidak diketahui bagaimana hasilnya,
bagaimana BOD dan COD nya. Ada tenggang waktu pembuatan UPL yang
disepakati, namun tidak jelas bagaimana realisasinya, dan sanksi apa yang
diberikan jika realisasi ternyata tidak dilaksanakan. Ada kesepakatan, ada
perjanjian dan ada juga informasi yang sebenarnya harus disampaikan. Namun
yang terjadi malah penundaan dan “ketertutupan”.

Penantian penyelesaian yang tak kunjung tiba selama lebih 6 bulan,
menjadikan rakyat (sekitar 80 orang) akhirnya mendatangi DPRD Sumut tanggal
28 Juli 1993. Suatu aksi yang pada dasarnya tidak diingini pihak aparat
terkait, namun yang kemungkinan juga tidak disadari bahwa hal itu
bersumber dari kekurangtegasan mereka dalam menangani kasus ini. Pada
pengaduan kali ini, rakyat “meminta uluran tangan”, walaupun sepantasnya
memaksa, DPRD Sumut untuk menyelesaikan kasus pencemaran itu. Melalui juru
bicaranya rakyat mengundang DPRD Sumut untuk datang meninjau lokasi.
“Supaya kami tidak disebut mengada-ada, Kami mengundang Bapak-Bapak untuk
menyaksikan sendiri kasus pencemaran itu” papar mereka.

Tanggal 30 Juli 1993 DPRD Sumut menemukan bahwa PT. Gelanggang Ria masih
juga tidak memiliki Unit Pengelolaan Limbah. Dan menurut pemantauan
lapangan pada 29 Juli 1993, masih terlihat bahwa industri-industri yang
tersebut pada awal tulisan ini masih membuang limbahnya ke Sungai Belumai.

Berdasarkan informasi terakhir, di bulan Agustus 1993 ada pertemuan antara
pengusaha, pihak DPRD dan aparat terkait lainnya dengan rakyat. Pada
pertemuan itu yang juga dihadiri ketua DPRD Sumut itu, warga mengajukan 3
tuntutan :
(1) Agar sungai kembali bersih dari pencemaran;
(2) Agar setelah bulan Nopember 1993, masyarakat berhak untuk meninjau
     langsung ke pabrik bersama-sama dengan pihak DPR;
(3) Agar ada ganti rugi dari pihak pengusaha
(4) yang telah mencemarkan sungai.
(5) Ketegasan hukum lewat perjanjian tertulis khususnya tentang batas
     akhir AMDAL dan efeknya
(6) jika sanksi tersebut tidak dipenuhi (permintaan nomor empat ini
     langsung ditolak DPRD Tk. I Sumut).
Para pengusaha kembali diberi waktu kelonggaran dalam mengadakan UPL hingga
Nopember 1993. Dan juga sangat disayangkan- walau sebenarnya sungai Belumai
ini tidak termasuk Program Kali Bersih Sumatera Utara- perhatian Pemda
untuk kasus ini sangat minim. Gubernur Sumatera Utara sendiri dalam surat
edarannya dengan Nomor 660.3/21585 tanggal 19 Agustus 1993 telah menyatakan
ada sekitar 20 perusahaan pencemar sungai di Sumatera Utara dan para Kepala
Daerah tingkat II di mana sungai itu berada diminta untuk memperhatikan
tindak tanduk pengusaha tersebut. Namun, ternyata kasus Sei Belumai tidak
termasuk dalam surat edaran GUBSU itu. Walaupun riak kasus ini sudah
sedemikian besar menghantam rakyat Sumatera Utara, khususnya Deli Serdang.

Dari hasil tinjauan lapangan komisi A DPRD Sumut didampingi pihak
perindustrian dan BKPMD tanggal 9 Nopember 1993, ternyata beberapa industri
seperti Gelanggang Ria dan Sari Morawa masih belum melaksanakan pembangunan
unit pe-ngolahan limbahnya. Kesan pelecehan dilakukan pengusaha pada komisi
A kelihatan ketika mereka kembali meminta tenggang waktu penyelesaian
hingga Pebruari 1994.

Kasus Sei Silau

Kasus Sei Silau di Kabupaten Asahan mulai merambah berbagai harian lokal
di Sumatera Utara tepatnya pada penghujung September Dan uraian ringkas
kasus ini dapat dilihat di bawah ini – Sebelum 24 September 1993 lalu tidak
sedikitpun tergambar di benak petani keramba ikan mas di sepanjang DAS Sei
Silau bahwa malapetaka akan menimpa mereka. Dan seperti biasanya rencana
kehidupan jika akan panen ikan telah mereka susun. Namun pagi hari di
tanggal tersebut di atas mereka begitu terperanjat begitu mendapati
budidaya ikannya mati. Ikan terapung di sepanjang sungai dan warna air
juga turut berubah, tidak seperti yang biasanya mereka lihat. Diduga saat
itu, penyebab utama adalah bocornya water treatment pabrik kelapa sawit
(PKS) PTP VII Bandar Pasir Mandoge. Dan diperkirakan pencemaran ini
mengakibatkan 10 ton ikan mas mati, dengan taksiran kerugian materi
sekitar puluhan juta rupiah. Pencemaran ini mengakibatkan DPRD Tk. II
Asahan mengeluarkan perintah pada pihak PTP VII agar mereka mengganti
kerugian yang diderita masyarakat, jika mereka memang benar terbukti
sebagai pencemar.

– Tim Pemda Asahan yang turun beberapa hari kemudian menemukan salah
  satu bak penampungan limbah PKS PTP VII Pasir Mandoge pecah. Namun tim
  ini tetap belum dapat memastikan apakah pencemaran yang terjadi memang
  diakibatkan limbah PTP ini. Di sisi lain, pihak PTP VII tidak sedikit
  pun ada membantah berita-berita yang dilansir media tentang keterlibatan
  mereka dalam pencemaran.

– November 1993, pimpinan PKS PTP VII Kebun Bandar Pasir Mandoge mengaku
  bahwa pihaknya yang menyebabkan pencemaran itu. Dan mereka sendiri
  ternyata sudah siap dengan biaya ganti rugi yang akan diserahkan pada
  korban bila Pemda Asahan memberi rincian kerugian, sekaligus menetapkan
  jumlah biaya yang akan mereka tanggung. Namun, pihak Pemda belum siap
  untuk itu. Sementara masyarakat korban ternyata telah lelah menunggu
  jatuhnya biaya ganti rugi. Padahal biaya itu diperlukan untuk pembelian
  bibit baru guna melanjutkan kembali napas kehidupan mereka. Dan lagi
  pula pendataan itu telah pula dilaksanakan. Aparat Pemda Asahan mereka
  harapkan dapat serius menangani hal ini. Dan seperti biasanya, kasus
  pencemaran dan ganti rugi itu, hingga saat ini juga belum terselesaikan.

 

2. Tentang Pulp dan Rayon

TABEL 1 : KAPASITAS PRODUKSI PULP DAN KERTAS DI INDONESIA
(RIBU TON, 1993)

 

Perusahaan Pulp Kertas

BUMN 396,000 392,000
Swasta Domestik 300,700 2.354,100
Swasta Asing 1.025,000 837,500

Total 1.721,700 3.583,600

Sumber : IAAP, Nov ’93

 

TABEL 2 : INDUSTRI DAN KONSUMSI KERTAS DI ASEAN

Negara Indonesia Malaysia Filipina Singapura Muangthai
Penduduk (Juta Jiwa) 185,00 18,17 63,80 2,76 57,50
Konsumsi (Ribu Ton) 1.479,10 1.049,60 626,00 536,50 1.307,00
Konsumsi/Kapita (Kg) 8,00 57,77 9,81 194,38 22,73
Produksi (Ribu Ton) 1.749,10 292,70 392,00 81,10 1.016,00
Impor (Ribu Ton) 114,90 888,10 242,00 703,10 339,20
Ekspor (Ribu Ton) 384,80 131,20 8,00 247,70 48,20

Sumber : Indonesian Pulp & Paper Association (IPPA, Nov ’93)

KERAJAAN BISNIS PULP DI INDONESIA

NAMA
NAMA PERUSAHAAN KAPASITAS PRODUKSI KELOMPOK BISNIS
PULP/PAPER
———————————————————————–
SINAR MAS GROUP

1. PT Tjiwi Kimia 117,600 394,000
2. PT Indah Kiat 300,000 325,000
3. PT Lontar Papyrus 3,000 7,500
4. PT Onward Paper – 55,000
5. PT Sinar Dunia Makmur – 560,000
6. PT Pindo Deli – 50,000
———————————————————————–
    T o t a l 420,600 1,391,500

RAJA GARUDA MAS GROUP

1. PT Inti Indorayon Utama 220,000** –
2. PT Riau Andalan * 500,000 600,000
   Pulp & Paper
————————————————————————
   T o t a l 770,000 600,000

BOB HASAN GROUP

1. PT Kertas Kraft Aceh 165,000 165,000
2. PT Kiani Kertas * 350,000 –
   Lestari
3. PT Santi Murni* 350,000 –
————————————————————————
   Total 865,000 165,000

BARITO PACIFIC GROUP

1. PT Tanjung Enim * 1,000,000 –
   Pulp & Paper
2. PT Sumalindo Lestari* 300,000 –
   Jaya
————————————————————————
   T o t a l 1,300,000 –

 

TIMUR JAYA GROUP

1. PT Dharma Trieka * 378,000 –
   Sejahtera
2. PT Nur Sukses * 165,000 –
3. PT Indoverse Multi * 265,000 –
   pulp
————————————————————————-
   T o t a l 808,000 –

 

SALIM GROUP

1. PT Kimsari Paper – 5,900
2. PT Rimba Belantara * 350,000 –
   Pertiwi
————————————————————————–
   T o t a l 350,000 5,900

 

RISJADSON GROUP

1. PT Takengon Pulp & Paper 300,000 –
2. PT Sumatera Perdana Rayon 350,000 –
————————————————————————–
T o t a l 650,000 –

 

SURYA DUMAI GROUP 1. PT Perawang Sukses* 400,000 –
BUMI RAYA GROUP 1. PT Sinar Kalbar Raya* 500,000 150.000
DJARUM GROUP 1. PT Bukit Muria Jaya – 11,500
KORINDO GROUP 1. PT Aspex Paper – 190,000
DJAJANTI GROUP 1. PT Alam Unda* 300,000 250,000
—————————————————————————

Tabel 3:
(*) Proyek Baru
(**) Peningkatan kapasitas produksi sejak tahun 1993 dari semula 165.000
ton/tahun

Sumber : Data Consult, Maret 1993 p4@0

PROYEK BARU INDUSTRI PULP PADA TAHUN 1989-1992

—————————————————————————
NAME PERUSAHAAN LOKASI PRODUKSI KAPASITAS INVESTASI
                               (TON/TAHUN) (US$’MILL)

– PT Tanjung Enim South Sumatera 1,000,000 2,500
  Pulp & Paper
– PT Riau Andalan Riau 500,000 –
  Pulp & Paper
– PT Wira Karya Sakti Jambi 500,000 325
– PT Sinar Kalbar Raya West Kalimantan 500,000 –
– PT Inti Cellulose Utama Riau 440,000 700
– PT Perawang Sukses Perkasa Riau 400,000 650
– PT Panah Juara Kaimana Irian Jaya 400,000 580
– PT Gelora Ampat Lima Abadi East Kalimantan 400,000 1,500 *
– PT Dharma Trieka Sejahtera East Kalimantan 378,000 377
– PT Kiani Kertas East Kalimantan 350,000 650
– PT Santi Murni East Kalimantan 350,000 650
– PT Rimba Belantara Pertiwi East Kalimantan 350,000 650
– PT Sumatera Perdana Rayon Irian Jaya 350,000 600
– PT Iriani Lestari Pulp&Paper Irian Jaya 350,000 –
– PT Alam Unda Irian Jaya 300,000 625
– Shell South Sumatera – –
– PT Sumalindo Lestari Jaya East Kalimantan 300,000 650
– PT Musi Hutan Persada South Sumatera 300,000 5,000 *
– PT Sumatera Sinar Plywood North Sumatera 300,000 1,300 *
– PT Takengon Pulp&Paper Aceh 300,000 1,130 *
– PT Indoverse Muli Pulp East Kalimantan 265,000 318
– PT Kayu Mas Central Kalimantan 230,000 –
– PT Hartaty Pulp&Paper East Kalimantan 200,000 473
  Industry
– PT Nur Sukses Irian Jaya 165,000 350
– PT Indo Bharat Rayon South Sumatera 90,000 250
– PT West Kalindo Pulp&Paper – 39,600 12
– PT Pola Pulpindo Mantap – 15,000 –
—————————————————————————
  Sub Total 8,772,600 20,090
—————————————————————————
Expansi Proyek :

– PT Indah Kiat Pulp&Paper Riau 450,000 –
—————————————————————————
  T o t a l 9,222,600 20,090
—————————————————————————
Tabel 4 :
(*) Proyek Terpadu
Sumber : Departemen Kehutanan dan Badan Koordinasi Penaman Modal (data
olahan : Data Consult)

 

INDUSTRI PULP DAN PAPER MERUSAK HAJAT HIDUP

Sampai tahun 1992, ada lebih kurang 42 perusahaan industri pulp dan kertas
terdapat di Indonesia yang telah beroperasi. Sementara ada 27 perusahaan
lagi yang belum beroperasi, dimana sebagian besar sedang membangun
konstruksi pabrik, sedangkan sebagian lagi (bagi yang patuh) melaksanakan
HTI. Pada prinsipnya ke 27 perushaan ini sudah menggenggam izin untuk
beroperasi.

Seperti PT.Wirakarya Sakti di Propinsi Jambi, saat ini sedang membangun
kontruksi pabrik di Kuala Dasal di desa Lubuk Kambing, Kecamatan Tungkal
Hulu. Sumber air utama pabrik berasal dari Sungei Penyabuan yang bermuara
ke Batang Hari. Juga saat ini 6.000 ha HTI sedang diuji coba di Tj. Jabong
dengan menanam tanaman Eucaliptus, Albasia, Akasia Mangium/sp. Lahan untuk
HTI adalah lahan bekas HPH, sehingga sampai saat ini belum ada persoalan
yang serius untuk penyerobotan/pencaplokan tanah rakyat/ulayat. Dalam
pelaksanaan HTI-nya sendiri, tenaga kerja yang digunakan adalah sebagian
kecil penduduk di Tjg. Jabong dan sebagian besar petani transmigrasi Tjg.
Jabong. Dan pada umumnya, petani asli Tjg. Jabong adalah petani yang
mempunyai perkebunan karet di tanah ulayat dan negara.

HTI PT Barito Pacifik sedang dikembangkan di Suban Deriji, dan Niru
Kabupaten Muara Enim serta di Kec. Benakat, desa Tugu Mulya, Kab. Musi
Rawas di Sumatera Selatan. Sementara pada sebagian besar desa-desa di
Kecamatan Muara Rupit, pihak MUspika melaksanakan program sengonisasi,
dengan cara membagi-bagi bibit sengon kepada rakyat. Bibit-bibit sengon
dimaksud disediakan oleh Dinas Kehutanan yang kemudian menyerahkannya ke
pihak Kecamatan Muara Rupit untuk dibagi-bagikan secara gratis. Dalam
prakteknya, bibit-bibit dimaksud tetap saja dibayar oleh rakyat.

Diperkirakan sudah 300.000 ha telah siap tanam dari satu juta ha yang
direncanakan untuk HTI. Jenis tanaman yang ditanam adalah eucalyptus,
albasia, akasia dan sengon. Pengerjaan HTI di Sumsel, dipercayakan kepada
PT. Enim Musi Lestari, masih group Tjg. Enim Pulp dan Paper. Dalam
prakteknya PT.Tanjung Enim Pulp dan Paper yang akan memanfaatkan produksi
dari HTI yang ditanam untuk dijadikan pulp dan paper. Adapun rencana
pendirian pabrik, akan dilakukan tahun 1994/1995 dengan memanfaatkan debit
air Sungei Lematang (hulu Sungei Musi).

Obsesi Indonesia

Ada pendapat banyaknya perusahaan pulp dan paper di masa datang adalah
lebih dilatarbelakangi oleh kebutuhan kertas di Indonesia yang belum dapat
dipasok sepenuhnya dari produksi kertas dalam negri, sehingga menjadikan
Indonesia obsesi untuk mengurangi eksport pulp dan kertas. Tapi ini
hanyalah alasan klasik, karena jika kita perhatikan tabel 2, jelas bahwa
yang menjadikan tak tercukupinya kertas untuk konsumsi dalam negri karena
384,80 ribu ton untuk eksport dari 1.749,10 ribu ton total produksi,
dibandingkan dengan 114,90 ribu ton yang diimport dari 1.479,10 ribu ton
yang dikonsumsi, pada prinsipnya Indonesia sudah tak butuh kertas dari
luar. Malahan produksi kertas Indonesia surplus : 1.749,10 -1479,10 = 270
ribu ton pada tahun 1991.

Lain halnya jika memang Indonesia ingin masuk sepuluh besar produsen
terbesar di dunia. Sama halnya obsesi Indonesia untuk menjadi terbesar
dalam produksi rayon di dunia. Mungkin saja ini terjadi dengan besarnya
sumberdaya hutan dan besarnya wilayah HTI yang akan digarap para
indsutriawan pulp dan kertas. Apalagi tercatat bahwa kapasitas total
produksi pulp untuk masa datang sebesar 1.721,700 ribu ton dan kapasitas
total produksi kertas sebesar 3.583,600 ribu ton pada tahun 1993 (lihat
tabel 1). Namun seberapa besar sumberdaya yang rusak akibat ulah industri
pulp, paper dan rayon ? Dengan diberikannya izin terhadap 27 perusahaan
untuk memproduksi pulp dan paper (lihat tabel 4), ini berarti bahaya besar
sedang mengancam lingkungan kehidupan bangsa Indonesia dan bangsa di dunia.

Raja Pulp dan Paper

Ada 12 kerajaan (bisnis group) yang menguasai industri pulp, paper dan
rayon. Dari ke 12 kerajaan ini, adalah Sinar Mas Group yang terbesar,
diikuti Raja Garuda Mas, Barito Pacific dan Bob Hasan Group dan seterusnya
(lihat tabel 3). Merekalah (ke 12 group bisnis ) yang paling
bertanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan, terhadap kerusakan hutan,
tanah, air dan udara dimana industri pulp, paper dan rayon mereka berdiri.

Klorin dan Teknologi Usang

Klorin yang selama ini dipakai untuk industri pulp dan paper ternyata
bukanlah unsur kimia yang terbaik yang dapat membebaskan manusia dari
segala resiko demi terjaminnya kualitas lingkungan
hidup yang bersih dan sehat. Bukan. Bahkan klorin merupakan salah satu
bahan kimia terbahaya yang pernah ada (lihat judul Ada Apa Dengan Klorin
?). Klorin sangat merusak hajat hidup makhluk hidup di panet bumi ini.
Waspadalah. Apalagi keadaan ini tidak didukung oleh baiknya teknologi yang
digunakan oleh industri pulp dan paper. Teknologi usang yang kita gunakan
sudah ketinggalan 25 tahun, sama dengan satu generasi. Teknologi pemrosesan
pulp atau paper dapat saja diantisipasi dengan sistem sistem pengolahan
limbah yang baik. Namun dari beberapa pengalaman yang pernah ada, baiknya
sistem pengolahan limbah, belum menjamin terjadinya clean production
(produksi yang bersih). Kenapa ? Sistem pengolahan limbah yang baik itu
sendiri jika difungsikan memakan biaya yang tidak kecil, seperti PT.IIU,
untuk pengoperasian unit pengolahan limbahnya, rata-rata menghabiskan biaya
Rp 10.000.000/hari. Ini berarti sebulan 300 juta rupiah. Biaya ini cukup
untuk mengamankan pihak-pihak yang merongrong eksistensi perusahaan.
Persoalannya, ternyata dibutuhkan kesadaran baru para industriawan bahwa
produksi bersih merupakan kehendak dunia.

Perlu Terus Dipertanyakan
Banyaknya sisi lemah yang mengakibaatkan industri pulp dan paper menjadi
industri yang sangat potensil mencemari lingkungan, maka kita perlu terus
mempertanyakan seberapa penting dan startegisnya industri pulp dan paper
bagi peningkatan devisa negara ? Pertanyaan ini diikuti dengan beberapa
pertanyaan seperti berikut.

 

1. Sejauh mana industri pulp dan paper dapat menjamin kualitas lingkungan
   hidup yang bersih dan sehat ?
2. Apakah benar industri pulp, paper dan rayon dapat mengentaskan
   kemiskinan, karena industri ini tetap memanfaatkan fasilitas umum dan
   kemudahan-kemudahan dalam praktek bisnis ?
3. Sebandingkah devisa dan bentuk pajak-pajak lainnya yang dikeluarkan
   PT.IIU dengan kerusakan (tidak hanya fisik, melainkan juga psikososial,
   sosial budaya dan pola perekonomian rakyat) yang diakibatkannya ?
4. Sejauh ini, bagaimana law enforcment dilaksanakan pemerintah, baik dalam
   pengontrolannya maupun dalan penegakan hukum yang ada, efektifkah ?
5. Apakah sistem audit lingkungan dapat dijadikan alat kontrol yang efektif?
6. Seyogyanya pemerintah transparan kepada publik terhadap hasil temuan-
   temuan yang didapat, terutama bagi perusahaan yang sudah go-public.
   Karena kalau tidak, pertanyaannya, pembangunan untuk siapa ?
7. Dan pertanyaan lain yang secara spesifik merpertanyakan tentang sistem
   HTI, PIR, TPTI, HPH, Total Free Chlorine, sistem management waste,
   perburuhan, dsb.

Sehingga menjadi jelas bahwa pengalaman pahit yang dialami oleh PT.IIU pada
tanggal 5 Nopember 1993 adalah pelajaran berharga bagi Pemerintah, Industri
dan terutama masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Tapanuli Utara :
betapa meledaknya tabung bleaching penyimpan klorin membuat gegar dan
keheboan di Indonesia.

Ulah PT.IIU

Gegar nasional akibat ulah pabrik milik PT.Inti Indorayon Utama terjadi
pada bulan Nopember 1993. Pendulumnya adalah meledaknya tangki bleaching
penyimpan klorin PT.IIU pada 5 Nopember barusan. Rakyat protes secara
spontanitas dengan melakukan unjuk rasa ke pabrik PT.IIU di Porsea, Taput
pada tanggal 6 Nopember dinihari. Kemarahan rakyat tak terbendung, segala
yang mereka lihat menjadi milik PT.IIU mereka luluh lantak, tak terkecuali
rumah karyawan yang tanpa dosa harus menerima kenyataan pahit dari sebuah
akumulasi kemarahan yang telah diderita selama lima tahun, sejak PT.IIU
beroperasi. Sebuah fenomena pembangunan yang tak bersahabat dengan
lingkungan masyarakat sekitarnya, menjadi berakibat tak menguntungkan bagi
sebuah industri hilir yang menghasilkan pulp dan rayon.

Dilain pihak, adanya tindakan antisipasi untuk membuat kesepakatan bersama
dengan masyarakat yang terjadi pada tanggal 6 Nopember bukanlah jawaban
yang tepat. Bukti dari stuasi ini, adanya tekanan dari masyarakat kepada
tokoh masyarakat yang menandatangani hasil kesepakatan dengan PT.IIU. Bukti
lain adanya kesepakatan baru yang dibuat pada tanggal 9 Nopember 1993
antara tokoh masyarakat di Porsea dengan Muspida Tingkat II Taput, yang
isinya lebih kontekstual dan lebih menjawab kehendak masyarakat jika
dibandingkan dengan hasil kesepakatan tanggal 6 Nopember 1993 (lihat box :
Hasil Kesepakatan, Menyelesaikan Masalahkah ?).

Kebencian masyarakat Taput terhadap arogansi pejabat PT.IIU, menjadikan
berbagai protes muncul di banyak tempat. Tercatat sampai tanggal 8 Nopember
1993, rakyat membuat barikade di simpang tiga desa Siraituruk untuk
menyetop setiap truk PT.IIU, setiap komponen yang menurut logika rakyat
dapat memperlancar berjalannya proses produksi pulp dan rayon. Tidak hanya
itu, protes rakyat ke Pemerintah Daerah Tingkat I (baca : Gubernur) adalah
fenomena kurangnya penghargaan PT.IIU terhadap Pemda maupun Muspida
Tingkat II, Taput selaku pejabat yang seharusnya sangat kompeten terhadap
ulah PT.IIU.

Tidak hanya rakyat Taput yang protes. Beberapa organisasi seperti DPD
Persatuan Insinyur Indonesia-Sumut, DPP Bina Lingkungan Hidup (BLH) maupun
beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat dan kaum intelektual turut menyesalkan
tindakan pejabat PT.IIU yang kurang peduli terhadap keresahan yang terjadi
selama ini di Taput, seperti adanya praktek terselubung prostitusi di
Porsea, disintegrasi antara karyawan PT.IIU dengan rakyat sekitar pabrik
dan sebagainya.

Protes terus terjadi, sejumlah protes mahasiswa dari berbagai perguruan
tinggi di Sumut, menginginkan PT.IIU ditutup. Protes yang dilakukan tidak
hanya ke kantor PT.IIU di Uniland, melainkan juga ke kantor DPRD Tingkat I,
ke kantor Gubernur Tk.I Sumut, bahkan sempat ke Konsulat Jenderal Amerika
di Jl. Imam Bonjol, Medan.

Masyarakat Taput tahu dan paham bahwa PT.IIU tak membantu mereka untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Apalagi mereka faham bahwa PT.IIU
terlalu banyak menyusahkan mereka (lihat Dosa-dosa PT.IIU), terutama
mereka yang saat ini tinggal dan hidup disekitar Kecamatan Porsea, dimana
pabrik pulp dan rayon milik PT.IIU beroperasi. Sebuah dilemma bagi Pemda
Sumatera Utara : devisa atau kesejahteraan rakyat ?
KLORIN

Penggunaan Klorin oleh industri pulp dan paper adalah manifestasi dari
kurangnya perhatian industriawan turut berpartisipasi dalam pembangunan
berkelanjutan, pembangunan yang berwawasan lingkungan. Terlalu banyak hal
yang harus dikorbankan. Lihat saja kasus Indah Kiat di Riau, dan kasus
Indorayon di Sumut yang belakangan ini banyak membuat gegar Nasional di
tahun 1993. Semuanya sangat meresahkan masyarakat, karena merusak hajat
hidup orang banyak.

Beberapa pernyataan dari pemerintah maupun industriawan tentang klorin,
bagi kami adalah sesuatu yang menyesatkan bagi kelangsungan pembangunan
yang berwawasan lingkungan. Oleh sebab itu, agar tidak terjadi pemahaman
yang salah tentang klorin, maka kami mencoba menginformasikan beberapa hal
yang kami fahami berdasarkan informasi yang pernah kami peroleh dari
beberapa sumber.

SEJARAH KLORIN

Lebih satu abad, klorin digunakan untuk memutihkan kertas, karena kertas
yang diproduksi secara alami (tanpa penggunaan unsur kimia hasil rekayasa
manusia) berwarna coklat muda. Umumnya pabrik pulp dan kertas membuang
limbah klorin ke air dan membuat banyak senyawa berbahaya, misalnya dioxin
(senyawa kimia berbahaya yang termasuk dalam kelompok organoklorin). Begitu
berbahayanya klorin bagi lingkungan hidup, sehingga membuat kelompok-
kelompok masyarakat di dunia maju melakukan tekanan dan protes keras untuk
pabrik yang menggunakan klorin. Di kebanyakan dunia maju, pemerintahnya
sedang dan sudah membuat undang-undang untuk membatalkan penggunaan klorin
dan akibat darinya. Di Swedia, negara negara lain di Skandanavia, Kanada,
dan Jerman, saat ini sudah diberlakukan undang-undang sekaligus law
enforcement (penegakan hukum lingkungan) untuk pabrik pulp dan kertas.
Dapat dipastikan, sudah banyak perusahaan di negara tersebut menjadi
industri yang bebas klorin (chlorine free), karena lebih sesuai dengan
pasar, lebih efektip sebagai strategi jangka panjang, dan dengan sendirinya
menjadi lebih ekonomis. Apalagi masyarakatnya dengan mudah dapat
mengidentifikasi dan mengenal bahaya yang disebabkan oleh klorin. Dulu,
klorin digunakan sebagai gas beracun pada Perang Dunia I oleh Jerman (masa
Hitler).

CIRI CIRI KLORIN

Sebenarnya klor adalah elemen kimia (Cl) biasa di cakrawala, tapi gas
klorin (Cl2) adalah hasil penemuan dan rekayasa dari peradaban manusia.
Dalam bentuk gas, klorin berwarna hijau-kuning dan dalam bentuk cairan
berwarna kuning sawo . Klorin lebih berat dari udara. Klorin dibuat dari
proses elektrolisa air asin dan di simpan dalam bentuk cair atau gas di
bawah tekanan tertentu. Sehingga klorin merupakan bahan kimia dengan ciri
ciri yang sangat reaktif dan bisa bereaksi dengan senyawa lain.Secara
kimia, klorin mempunyai nama dan ciri-ciri :SINOMIN: klorin molekul
(molecular chlorine), klorin cair (liquid chlorine)
KELUARGA KIMIA: halogen
FORMULA MOLEKUL: Cl2
BERAT MOLEKUL: 70.90
KEPADATAN GAS DI UDARA: 2.47 (udara = 1)
TEKANAN GAS: 4,800 mm Hg di 20 C.
STRUKTUR KIMIA: CI-CI
RUPA DAN BAU: gas hijau-kuning, bau tajam, menggangu mata dan
                         mengakibatkan mata berair bila terjadi kontak di
                         udara
MUDAH TERBAKAR: non-flammable (tidak mudah terbakar) tetapi
                         menyokong pembakaran; terkenal dapat mengakibatkan
                         risiko bakar yang serius.

PENGGUNAAN KLORIN

Klorin adalah unsur kimia ketujuh tertinggi yang diproduksi di dunia.
Digunakan sebagai alat pemutih pada industri kertas, pulp, dan tekstil.
Digunakan untuk manufaktur pestisida dan herbisida, misalnya DDT, untuk
alat pendingin, obat farmasi, vinyl (pipa PVC), plastik , bahan pembersih,
dan untuk perawatan air dan air limbah. Supaya bisa dipakai, klorin sering
dikombinasikan dengan senyawa organik (bahan kimia yang mempunyai unsur
karbon) yang biasanya menghasilkan organoklorin. Organoklorin itu sendiri
adalah senyawa kimia yang beracun dan berbahaya bagi kehidupan karena dapat
terakumulasi dan persisten di dalam tubuh makhluk hidup.

PENGGUNAAN KLORIN PADA PRODUKSI PULP

Di dalam industri pulp, kertas dan tekstil, klorin mempunyai dua kegunaan :
pertama, untuk bahan pemutih dan penghalus pulp, dan kedua, untuk mendrop
oksigen pada senyawa sulfur yang berada di liquor hitam (black liquor).
Dalam proses produksi pulp dan kertas, klorin banyak digunakan, karena
dalam proses pemutihan (bleaching), klorin dipakai di dalam tingkat terawal
pada stage I yang disebut juga klorin dan klorin dioksid stage atau
klorinisasi, serta stage terahkir (stage IV) yang disebut juga klorin
dioksid stage .

Dari prosess produksi industri tersebut, klorin dan bahan lainnya keluar
dalam bentuk limbah cair dan padat. Sementara bau yang keluar dari semua
industri pulp dan kertas adalah akibat dari proses pemasakan chips kayu
dengan kimia sodium/natrium hidrosida (NaOH) dan sodium/natrium sulfida
(Na2S). Sulfida dari unsur Na2S dapat bereaksi langsung dengan klorin.
Selain itu, gas klorin dapat bereaksi keras dengan bahan yang mudah
terbakar maupun bahan kimia lain, termasuk karbon, dan logam, sehingga
dapat menimbulkan ledakan. Begitu juga bila bereaksi dengan gas-gas
hydrokarbon (metan, asetilen, etan), baik dalam bentuk cair maupun gas,
terhadap senyawa nitrogen dan senyawa yang non-logam seperti phospor, boron
dan silikon.

TOKSIN (RACUN) PADA GAS DAN CAIRAN KLORIN

Klorin, baik berbentuk gas atau cairan dinilai mengandung “racun yang
tinggi”, dan diklasifikasikan sebagai bahan kimia yang mampu mengakibatkan
kematian atau cacat permanent (tetap) dari penggunaan yang normal (setiap
hari pada industri) sekalipun”. EPA di A.S (Agency Proteksi Lingkungan
Hidup Amerika) menyatakan bahwa klorin masuk kelompok kimia yang “punya
potensi untuk mengakibatkan kematian pada penduduk yang tak memiliki alat
perlindungan (unprotected populations) sesudah terjadi kebocoran dalam
waktu relatif singkat” (Citizen Enviromental Coalition). Pendapat yang
hampir sama “klorin adalah salah satu kimia yang menjadikan manusia
tidak punya kemampuan apapun karena beracun” (Sax, 1984). Klorin merupakan
bahan kimia yang terklasifikasi sebagai “Extremely Hazardous Substances
(EHS), atau bahan yang berbahaya sekali, yang mengandung amonia, hydrogen
fluorida dan hydrogen klorida. Campuran gas atau cairan klorin dengan air,
baik air hujan maupun udara lembab,akan memproduksikan asam hydroklorik dan
hypoklorous yang berbahaya kepada manusia, ternak, dan vegetasi.

BAHAYA KLORIN TERHADAP MANUSIA

Seperti yang dimaksud di atas klorin “sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia”. Klorin, baik dalam bentuk gas maupun cair mampu mengakibatkan
luka yang permanen, terutama kematian. Pada umumnya luka permanen terjadi
disebabkan oleh asap gas klorin. Klorin sangat potensial untuk terjadinya
penyakit di kerongkongan, hidung dan trakt respiratory (saluran
kerongkongan didekat paru-paru). Akibat-akibat akut untuk jangka pendek :
1. Pengaruh 250 ppm selama 30 menit kemungkinan besar berakibat fatal
   bagi orang dewasa.
2. Terjadi irritasi tinggi waktu gas itu dihirup dan dapat menyebabkan
   kulit dan mata terbakar.
3. Jika berpadu dengan udara lembab, asam hydroklorik dan hypoklorus
   “dapat mengakibatkan peradangan jaringan tubuh yang terkena. Pengaruh
   14 s/d 21 ppm selama 30 s/d 60 menit menyababkan penyakit pada paru-
   paru seperti pnumonitis, sesak nafas, emphisema dan bronkitis.”
   (Waldbott, 1978)

B. Akibat-akibat yang kronis/sublethal untuk jangka panjang :
Untuk jangka panjang dari pengaruh gas klorine, ada kemungkinan “menjadi
tua sebelum waktunya, menimbulkan masalah dengan cabang tenggorok,
pengkaratan pada gigi dan besar kecenderungan munculnya penyakit paru-paru
seperti tbc dan emphisema.” (Chlorine Institute, 1980).

INDIKASI GANGGUAN UNTUK MANUSIA BILA MENGHISAP KLORIN
0,2 ppm: hidung terasa gatal
1,0 ppm: krongkongan gatal atau rasa kering, batuk, susah nafas
1,3 ppm (untuk 30 menit): sesak nafas berat dan kepala sangat pening
5 ppm : peradangan hidung, pengkaratan gigi dan sesak nafas.
10,0 ppm: trakt respiratori (?) menjadi sangat diganggu
15-20 ppm: batuk lebih keras, terasa tercekik, sesak di dada
30 ppm: berbahaya untuk kehidupan selanjutnya atau untuk sehat seperti
            batuk hebat, tercekik, sesak nafas dan muntah-muntah
250 ppm: kemungkinan besar fatal (orang mati) 1000 ppm: pasti mati

 

 

 

______________________________________
[Originated from NusaNet <nusa.or.id>]

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: