Tempat Pembunuhan massal Manusia di German.

Budaya

Holocaust: Berharap Ke Depan dari Kebrutalan Masa Lalu
Oleh : Yermias Degei

07-Jan-2007, 20:11:51 WIB – [http://www.kabarindonesia.com]

Judul               : Hana’s  Suitcase
Penulis            : Karen Levine
Penerjemah     : Yohan Rahmat Santoso
Penerbit           : Kanisius 2006
Tebal              :143 halaman

Hana’s Suitcase adalah kisah nyata yang terjadi di tiga benua dalam kurun waktu tujuh puluh tahun. Karen Levine mengisahkan pengalaman gadis kecil dan keluarganya di kota Nove Mesto, Provinsi Moravia Negara Cekoslovakia pada masa Perang Dunia II (tahun 1930 sampai 1944). Masa sekarang (tahun 2000) tentang seorang perempuan muda (Fumiko Ishioka) dan sekelompok anak di Tokyo, Jepang serta seorang laki-laki tua (George Brady) di Torondo Kanada. Perang Dunia II berkecamuk 1 September 1939 sampai 14 Agustus 1945. Diktator Nazi yang bernama Adolf Hitler ingin bangsa Jerman menguasai dunia.Visi utamanya adalah pemusnahan orang-orang Yahudi dari muka bumi ini. Untuk menyiksa “musuh-musuhnya” ia membanguan banyak kamp konsentrasi di seluruh benua Eropa yang kemudian para perempuan, laki-laki, dan anak-anak Yahudi diusir dari rumah mereka dan dikirim ke kam tersebut.

Lebih dari lima puluh ribu orang mati dengan mengerikan (Wikipedia Indonesia). Ketika peperangan berakhir tanggal 14/15 Agustus 1945 seluruh dunia mengetahui kekejaman yang terjadi di kam konsentrasi. Ketika itu banyak orang mencoba untuk memahami yang tentang yang sekarang disebut dengan “Holocaust”, yaitu pembantain masal atau pemusnahan suatu ras dalam sejarah umat manusia di dunia ini.

Sejarah mencatat bahwa Jepang adalah sebuah negara yang dulu menjadi sekutu Jerman pada masa Perang Dunia II  dan perhatian mereka pada Holocaust  terhitung baru. Namun usaha Jepang untuk mengingat kebrutalan masa lalu dan memberi harapan baru untuk masa depan adalah usaha yang luar biasa. Jepang merasa bahwa toleransi dan pemahaman global tentang kebrutalan masa lalu penting, maka tidak heran sekarang kita kenal dengan Holocaust Education Rosourse  Center di Tokyo, Jepang.Lembaga tersebut adalah salah satu usaha  Jepang untuk untuk memberikan pemahaman tentang pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi kepada generasi muda di Tokyo, Jepang.  Lembaga ini di danai oleh sebuah lembaga di Tokyo dengan direktur seorang perempuan muda bernama berjiwa petualang, Fumiko Ishioka.

Pada bulan Maret 2000 sebuah kopor tiba di lembaga tersebut. Pada bagian luar kopor itu tertulis Hana Brady, 16 Mei 1931, Waisenkind (yatim piatu dalam bahasa Jerman). Anak-anak Jepang bertanya-tanya. Siapakah Hana Brady? Apa yang terjadi padanya? Mereka lalu meminta direktur Holocaust Education Center untuk menemukan jawabannya.

Pada halaman 23 buku ini, penulis mengisahkan perjuangan nyata Fumiko yang mengirimkan surat ke museum-museum pembantaian Yahudi di seluruh Dunia (Polandi, Jerman, Amerika Serikat, dan Israel) untuk diperbolehkan meminjam artefak milik anak-anak korban pembantaian, terutama tentang Hana. Walaupun orang-orang yang dikirimi surat menolak permintaannya, “…Fumiko bukan tipe orang yang mudah menyerah”, tulis Levin halaman 24. Misteri kopor itu membawa Fumiko pada masa kekejaman Perang Dunia II yang merengut kebahagiaan Hana Brady di daerah  perbukitan  kota Nove Mesto, Provinsi Moravia, Negara Cekoslovakia (sekarang Cheska).

***

Secara sederhana, Keren Levine menghadirkan kehidupan masa kecil Hana Brady selama Perang Dunia II. “Ini tidak adil. Aku benci keadaan ini, aku ingin seperti dulu. Untuk apa semua ini. Itu bodoh. Sekarang aku tidak akan bertemu teman-temanku lagi!  Dan nanti aku tidak bisa jadi guru saat aku besar nanti,”  tangis Hana (halaman 47). Bencana benar-benar datang bulan Maret 1941, Ibu Hana ditahan oleh Gestapo, kesatuan polisi kota. “Kalian harus menjadi anak yang baik saat ibu tidak ada di rumah.  Dengarlah kata-kata ayah dan patuhilah ayah kalian. Ibu akan menulis surat buat kalian,” kata ibu Hana kepada kedua anaknya (Hana dan George).

Akhir bulan September 1941, sebuah mobil hitam yang dikemudikan  petugas Nazi  berhenti di depan rumah Hana. Petugas Nazi membentak ayah Hana untuk segera keluar rumah. Hana dan George tidak bisa mempercayai apa yang mereka hadapi. Mereka berdiri lemas, takut, dan hanya diam. Ayah Hana memeluk kedua anaknya agar berani. Lalu ayah Hana pergi (halaman 58).

Musim dingin tahun 1941-1942 hanya tinggal dua anak kecil tanpa orang tua. George kakaknya memeluk Hana yang baru berusia sepuluh tahun dan berjanji akan merawatnya. Ketakutan terus menghantui Hana, dia takut kejadian ayah dan ibunya terjadi pada dirinya dan George. Bulan Mei tahun 1942, kejadian yang Hana takutkan benar-benar terjadi. Hana dan George mengemas barang-barang mereka berdua di kopor. “Kasihan, anak-anak ini. Mereka harus mengalami semua ini tanpa orang tua mereka,” pikir orang-orang tua yang di tahan bersama-sama. Di bawah matahari pagi  Hana dan George  bersama orang-orang dewasa menuju ke kereta yang gelap sambil membawa beratnya kopor.

Kini yang membuat hati Hana berdebar ketakutan di kereta adalah perpisahan dengan George. Kereta sampai di stasiun Bohusivic. Hana dan George bersama orang-orang lain turun dari Kereta. Mereka diperintahkan menuju ke kam Theresientadt. Setelah sampai di kam tersebut, kekawatiran Hana benar-benar terjadi. “Kamu ke kiri!” perintahnya kepada George. “Kamu ke kanan!” perintahnya kepada Hana. “Apakah saya bisa bersama kakakku? Tolonglah!” kata Hana memohon. “Cepat jalan sekarang!” perintah tentara itu. Dengan air mata berlinang Hana mengambil kopor dan mengikuti anak perempuan lainya menuju sebuah barak besar yang menjadi rumah Hana selama dua tahun.

Tanggal 23 Oktober 1944, setelah dua tahun di Kinderheim L4010, kereta yang mereka naiki dua tahun lalu itu berhenti dan tiba di Auschwitz (sebuah kam konsentrasi tempat banyak orang menderita dan mati selama Perang Dunia II). “Tinggalkan kopor-kopor kalian di peron!” perintah para tentara. Hana dan teman-teman perempuan seumurnya berbaris melewati pintu gerbang besi di bawah ancaman anjing-anjing buas dan para tentara. Mereka melewati barak yang luas dan melihat para tahanan yang mengenakan seragam bergaris-garis yang wajahnya sudah seperti tengkorak. Mereka dipaksa masuk ke sebuah bangunan yang besar dan pintu ditutup dengan keras (halaman108).

***

Bulan April 2000, Fumiko hampir tidak percaya ketika sebuah paket tiba dari Museum Ghetto di Terezin, Republik Cheska di kantornya, Tokyo Jepang. Paket itu berisi beberapa lukisan. Di sudut kanan atas masing-masing lukisan tertulis sebuah nama , ‘Hana Brady”. Fumiko mempunyai lukisan Hana, kaos kakinya, sepatunya, baju hangatnya,  dan tentu saja kopornya. Pada halaman 34, penulis menghadirkan kembali reaksi anak-anak Tokyo di Holocaust Education Center.  

“Akira berusia sepuluh tahun yang biasanya bergurau dan mengolok-olok temannya, tidak tahu bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu.” Lalu Fumiko merasa inilah waktunya yang tepat untuk membuka pameran yang ia beri nama “Penyiksaan Yahudi di Mata Anak-anak”.

Bulan Juli 2000, Fumiko sampai di museum Yahudi (Praha) untuk akhir perjuangannya. “Ini yang anda cari. Saya sangat senang anak-anak di Jepang ingin tahu tentang pembantaian orang Yahudi,” kata ahli sejarah, Kurt Katouc yang ditemui Fumiko dengan perjuangan yang sungguh menegangkan. Fumiko kembali ke Jepang dan mengadakan pertemuan dan menceritakan petualangannya kepada anak-anak.

“Hana telah tewas di Auschwitz. Tapi, aku punya kajutan yang bagus,” kata Fumiko. Wajah anak-anak yang murung tiba-tiba cerah.”Hana punya kakak laki-laki dan dia masih hidup!” Anak-anak terus bertanya-tanya di mana dia dan berapa umurnya? Mereka mengirimkan surat kepada George kakak Hana di Torondo untuk meminta keterangan tentang Hana. Melalui surat balasannya, George menitipkan beberapa buah foto Hana. Fumiko membacakan surat George tentang rencana kedatangannya di Holocaust Education Center kepada anak-anak. George Brady bersama anak perempuannya yang berumur tujuh belas tahun tiba di Tokyo, Jepang bulan Maret tahun 2001. Ketika George melihat kopor Hana, dia menjadi sedih dan membiarkan air matanya berlinang. Beberapa menit kemudian, George mengangkat majahnya, lalu memandang putrinya. Ia juga memandang Fumiko yang bekerja keras menemukan dirinya dan menemukan Hana yang kehilangan ibu, ayah, teman-tamannya, kakak tercinta, sekolah, barang-barangnya termasuk kopornya, hingga akhirnya kehilangan dirinya.

George juga memandang wajah anak-anak Jepang  yang penuh harapan, yang telah menjadikan Hana begitu berarti bagi hidup mereka. George akhirnya menyadari bahwa Hana telah menjadi kenyataan. Hana telah menjadi seorang guru. Karena Hana, karena kopor Hana, dan kisah hidupnya, ribuan anak di Jepang dapat belajar tentang nilai-nilai yang sangat penting di dunia ini. Walaupun memang  ternyata kopor tersebut adalah sebuah replika yang dikirimkan dari museum Auschwitz.  

Cerita ini adalah kisah nyata. Pencarian Fumiko adalah pekerjaan mulia untuk kampanye perdamaian dan toleransi di masa kini, terutama anak-anak di Tokyo yang terus bertanya-tanya tentang kopor Hana. Kejadian masa lalu (sejarah) betapapun menyakitkan sangat penting untuk masa kini. “…bahwa sejarah sangatlah penting…” begitulah kata penulis  (halaman 143). Ternyata memang, di samping kejahatan besar yang ada di dunia ini, masih ada orang-orang dan perbuatan-perbuatan baik yang dapat kita lakukan untuk menjadikan dunia menjadi lebih baik.

Buku ini mendapatkan banyak penghargaan, di antaranya Book of the Year untuk buku anak-anak dari Canadian Library Assocition, Silver Birch dari Ontario Library Assocition, buku Yahuda Canada, Golden Oak dari Ontario Library Association. Keren Levine juga telah memenangkan banyak program untuk acara radio, dua di antaranya adalah penghargaan tertinggi dan salah satunya adalah program  Documenter Children of the Holocaust. Levin adalah produser eksekutif program As it Hapenes. Buku ini disusun berdasarkan program dokumenternya yang berjudul Hana’s Suitcase yang muncul di The Sunday Edition.

Buku ini tidak membutuhkan waktu banyak untuk membaca, namun nilai-nilai yang ditawarkan cukup berarti. Hana’s Suitcase adalah sebuah kisah yang telah menjadi buku terlaris dunia tentang pembantaian orangYahudi untuk pembaca remaja. Namun, buku ini disukai pembaca semua golongan. Kata-katanya sederhana. Ketika, toleransi dari sebuah bangsa yang majemuk mulai remuk, buku ini hadir umtuk menebar nilai-niali toleransi, rasa hormat, rasa simpati, dan keinginan untuk saling membantu. Tugas kita untuk terus menjaga perdamaian dunia. Menebar nilai-nilai toleransi antarsesama manusia. Levin mengisahkan tentang kesedihan juga kegembiraan. Cerita ini adalah sebuah pengingat akan kebrutalan masa lalu dan harapan baru untuk masa depan. Selamat membaca!

Penulis adalah Sekretaris Komunitas Pendidikan Papua (KPP)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: